.comment-content a {display: none;}

Sunday, 26 May 2013

Belajarlah Menjadi Anak Kecil

Diposkan oleh Reffi Seftianti di 09:39
Response 



Hari ini adalah hari yang sangat menyenangkan. Setelah mengikuti kopdar rutin salah satu komunitas menulis yang saya ikuti, saya pergi jalan-jalan ke sebuah mal untuk melepas penat. Ramai sekali hari pengunjung mal hari ini. Banyak sekali pengunjung mal yang datang bersama keluarganya  dan mengajak serta adik-adik kecil lucu yang kelihatannya sangat menikmati waktu jalan-jalannya. Ada yang membuat saya tertarik ketika saya melihat sekelompok anak kecil, kira-kira mungkin berusia enam tahunan sedang bermain bersama. Kelompok itu terdiri dari dua orang bocah laki-laki dan satu anak perempuan yang berdiri agak jauh dari mereka.

Saya yang saat itu sedang di duduk di kursi food court dan menunggu makanan, merasa tertarik melihat anak-anak itu bermain. Ketiga anak tersebut rupanya sedang asyik main otoped yang mereka bawa sendiri. Setelah saya perhatikan lagi, mereka ternyata adalah anak-anak penjual makanan dan penjaga stand food court yang diajak serta orang tuanya, mungkin karena hari Minggu dan si orang tua masing-masing ingin mengawasi buah hatinya maka mereka diajak ke mal dimana mereka bekerja.

Ada dua bocah laki-laki berbeda warna kulit yang sedang memperebutkan mainan otoped. Bocah berkulit putih dan matanya sipit seperti etnis tionghoa menuntut gilirannya untuk menggunakan otoped yang sedang dipakai bocah laki-laki berkulit coklat dan wajahnya sangat njawani sekali. Bocah tionghoa itu terus menuntut haknya hingga si bocah kulit coklat marah-marah dan menghardik, untungnya anak perempuan yang sedikit lebih tua daripada mereka, mau meminjamkan otoped itu kepada si bocah tionghoa. Berikutnya terjadi keributan lagi. Dua bocah laki-laki itu saling berebut balon sampai hampir terjadi perkelahian. Untungnya ada yang melerai dan mereka bisa saling bersalaman dan bermain bersama lagi, aih lucunya.

Sedetik kemudian tiba-tiba saya tersadar. Andaikan orang dewasa yang mengaku 'dewasa' itu bisa bersikap seperti anak-anak itu, saling memaafkan dan mengalah demi tujuan bersama, alangkah indahnya dunia ini. Ada beberapa hal yang bisa saya ambil setelah melihat anak-anak lucu itu, dan bisa menjadi bahan renungan untuk saya dan anda yang merasa sudah 'lebih dewasa'. 

  • Cepat Memaafkan. Sebagai orang dewasa, kita seringkali dihadapkan dengan berbagai masalah dari tipe-tipe orang yang berbeda. Masalah itu bisa timbul di lingkungan rumah, sekolah atau kantor. Tanpa sadar kita seringkali menggunakan kacamata yang hanya sebelah untuk menilai seseorang dan melihat dari sosok luarnya saja. Kita juga tidak bisa meminta semua orang untuk menyukai diri kita. Tetapi alangkah indahnya bila kita belajar dari ketulusan anak-anak yang mampu memaafkan dan bekerjasama kembali dengan riang tanpa mengungkit segala bentuk ketidak sukaan, kecemburuan dan penyakit hati yang lain. Jangan penuhi lagi pikiran dan hati dengan cara bagaimana mengalahkan orang lain. Wajar jika kita mengalami sakit hati dalam sebuah hubungan, namun adanya gesekan juga menguji kematangan emosi kita sendiri.
  • Enjoy di Segala Medan. Pasti banyak di antara kita yang sering merasa kesal karena tekanan pekerjaan atau penat karena masalah yang menimpa. Rehatlah sebentar dan tolehkan kepala anda sejenak ke sekelompok anak-anak yang bermain di segala medan. Anak-anak yang saya lihat di mal itu harus bermain di tengah hiruk pikuk pengunjung dan tidak ada satupun yang merengek minta dibelikan sesuatu. Mungkin anda juga sering melihat liputan di TV yang melaporkan tentang bencana banjir, anak-anak di daerah banjir malah tertawa gembira dan bermain sesuka hati, tidak meratapi bencana mereka. Sesekali tumbuhkanlah jiwa anak-anak dalam hati anda. Yah, anggap saja ruwetnya pekerjaan dan masalah itu sebagai bentuk permainan yang asyik diselesaikan. Anda bisa istirahat sejenak dan lakukan hal2 menarik yang bisa membangkitkan mood.
  • Jangan Matikan Daya Imajinasi. Kita mungkin sering berkata seperti ini pada diri sendiri"Ah,kan udah gede, masa aku mau main ke Timezone dan saingan sama anak-anak kecil dan ABG?" Come on, apa salahnya anda menikmati waktu dan enjoy mencoba berbagai permainan di time zone, nonton kartun atau main game. Tak ada batasan usia di sini. Anda bisa melepaskan stres anda dan meledakkan daya imajinasi yang sering kita matikan hanya demi sebuah 'kedewasaan'. Dewasa itu memang diperlukan dalam bersikap dan berpikir, tapi jangan matikan jiwa anak kecil anda, karena seperti yang kita ketahui, anak-anak adalah manusia yang selalu penuh energi, mereka belajar dari permainan-permainan yang mereka lakukan. Be Mature but Fun...
Jadi, banyak hal yang bisa kita dapat dari anak-anak kecil. Saya maupun anda adalah pembelajar terbaik di dunia, sama seperti semua anak-anak kecil di dunia yang nantinya juga menjadi dewasa.

0 komentar:

Post a Comment

mohon memberi komentar dengan sopan dan tidak mengandung SARA .. terima kasih telah berkunjung ^_^


 

Kata Reffi Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos

badge