.comment-content a {display: none;}

Wednesday, 29 May 2013

Pelajaran Budaya Beda Negara

Diposkan oleh Reffi Seftianti di 01:04
Response 



Kali ini saya akan membagi sedikit pengalaman saya mengenai budaya asing yang saya pelajari serta refleksi apa yang menginspirasi saya mengenai pemahaman  budaya negeri sendiri. Kebetulan saat ini saya berkuliah di jurusan sastra Jepang di Universitas Dr. Soetomo, Surabaya. Di sini saya tidak hanya belajar bahasanya saja, tapi juga belajar budaya Jepang dengan lebih menyeluruh.

Kebetulan fakultas sastra di kampus saya memiliki kesempatan untuk bekerjasama dengan ibu-ibu Nihonjin (orang Jepang) untuk bertemu dalam satu acara rutin tiga bulan sekali yang bernama Kondankai. Dalam acara ini mahasiswa sastra Jepang dan para Nihonjin saling berinteraksi dalam bentuk percakapan, pertunjukan seni, atau lainnya untuk saling mengenal budaya masing-masing negara.

Kondankai ke-50 yang baru saja diselenggarakan pada tanggal 28 Mei lalu membawa kesan tersendiri bagi saya. Tiap pertemuan pasti akan membahas tema berbeda, dan tema Kondankai ke-50 lalu adalah tentang ‘Alat Musik Indonesia dan Jepang’. Beberapa alat musik tradisional seperti suling bambu seperti gamelan bambu, ketipung, suling bambu, gong dan rebana  diperkenalkan pada ibu-ibu Nihonjin tersebut. Mahasiswa dan Nihonjin dibagi dalam beberapa kelompok kecil untuk saling berinteraksi dan para mahasiswa berkesempaetan untuk mempraktekkan langsung bahasa Jepangnya.

Saya bertanya pada ibu-ibu Nihonjin tersebut apakah mereka ada yang bisa memainkan alat musik tradisional Jepang mengingat Jepang adalah negara yang terkenal dengan budaya tradisinya. Cukup mengejutkan sekali saat mendengar jawaban mereka, kurang lebih saya rangkum seperti ini.

“Kami belum pernah menyentuh alat tradisional seperti Koto, Sakuhachi, atau Samishen. Apalagi bagi anak-anak dan remaja Jepang sekarang, alat-alat musik tradisional tersebut mungkin tidak begitu dikenal. Yang memainkan alat-alat musik tersebut hanyalah para kakek atau nenek atau saat pertunjukan seni seperti Enka. Yang populer karena seperti alat musik Taiko saja itu karena sering dimainkan dalam sebuah festival seperti Festival Obon dan Undoukai (festival olahraga). Rata-rata alat musik tradisional tersebut dibuat dari tangan sehingga harganya sangat mahal. Anak-anak diperkenalkan alat musik modern saja di sekolah seperti piano.”

Kemudian mereka bertanya,”Apakah di Indonesia musik tradisional sangat dikenal di antara kaum mudanya? Dalam bahasa Indonesia apakah ada tingkatan bahasa sopan seperti pada bahasa Jepang?”

Saya dan teman-teman saya bergantian menjawab. Ada juga sekolah yang mengajarkan alat musik tradisional kepada siswanya seperti seni Karawitan yang mempelajari seluk beluk musik gamelan Jawa. Bahasa Indonesia juga memiliki bahasa sopan tapi tak serumit bahasa Jepang, yang lebih mendekati adalah bahasa Jawa yang memiliki tingkatan bahasa mirip bahasa Jepang. Ditambah lagi bahasa Jawa memiliki huruf sendiri yang disebut aksara jawa.

Mereka cukup terpukau setelah mengetahui bahwa kebudayaan Indonesia khususnya Jawa juga memiliki ciri khas unik seperti negaranya. Dari sini saya memiliki pemikiran mengenai pola pendidikan budaya yang dapat diambil dari Jepang serta budaya Jawa yang seharusnya tetap dilestarikan.
·         Setiap sekolah di Indonesia sebaiknya menjadikan budaya tradisional sebagai salah satu mata peajaran khusus dan wajib. Tidak hanya sekedar selingan saja. Di Jepang pelajaran shodo atau seni menulis kaligrafi Jepang telah menjadi mata pelajaran khusus bagi siswa sekolah dasar.
Dari situ selain belajar huruf kanji, anak-anak Jepang juga bisa belajar salah satu aliran seni yang telah berusia berabad-abad lamanya. Coba saja pelajaran bahasa daerah seperti bahasa Jawa dibuat dalam satu mata pelajaran khusus yang tidak hanya berhenti diajarkan di SMP saja, tapi juga bisa diajarkan hingga perguruan tinggi, diadakan lomba menulis aksara jawa dan lain-lain mungkin huruf aksara Jawa dan pembelajaran bahasa daerah akan tetap lestari bagi anak muda.

·         Di Jepang sangat banyak dikenal festival-festival tradisional di setiap musim yang memiliki ciri khasnya tersendiri dan tetap dilestarikan di tengah gempuran modernisasi dari berbagai bidang. Seandainya tiap provinsi di Indonesia menyelenggarakan acara budaya rutin khas daerah masing-masing yang bisa diikuti oleh masyarakat setempat dengan penuh sukacita, tentunya budaya-budaya tradisional itu akan tetap bernilai serta mampu menarik perhatian masyarakat asing.

·         Kesenian, tradisi dan bahasa daerah adalah salah satu elemen penting budaya yang wajib dilestarikan. Jangan sampai kita seperti kaum muda Jepang yang sama sekali tak pernah menyentuh alat musik tradisionalnya sendiri dan lebih mengenal alat musik modern seperti piano dan biola. Indonesia sudah memiliki modal yang baik dengan diajarkannya kesenian daerah di sekolah. Semoga hal positif tersebut tetap bisa dilanjutkan dan dikembangkan lebih baik lagi.

Saya sendiri sebagai generasi muda tidak terlalu menguasai bahasa Jawa dalam tingkatan sopan sehingga lebih sering menggunakan bahasa Indonesia saat berbicara dengan orang tua. Ya mungkin para orang tua juga perlu mengajari buah hatinya dengan bahasa daerah yang baik tidak hanya bahasa asing dan budaya asing.

4 komentar:

Miss Rochma on 29 May 2013 at 06:12 said...

sayangnya, di Gresik, pelajaran bahasa jawa malah hanya dapat jatah 2 jam pelajaran dan dianggap sebagai muatan lokal. dan kalau sudah dinamakan muatan lokal, maka perhatian sekolah tidak terlalu banyak ke arah sana.

padahal, dari pelajaran ini, kita akan tahu sekali tentang ragam bahasa jawa yang banyak itu, tulisan jawa, kesenian jawa. sayangnya itu seh. pemerintah sendiri malah yang membuat budaya kita terkikis dari pandangan anak-anak muda

Reffi Seftianti on 29 May 2013 at 20:50 said...

benar juga mbak...agak miris juga melihat budaya daerah mulai terkikis. coba seandainya pelajaran daerah dijadikan sebagai salah satu mata pelajaran UNAS, pasti akan lebih asyik krn bahasa daerah masing-masing dipelajari lebih intens hingga lulus SMA

wihikan mawi wijna on 29 May 2013 at 22:26 said...

Budaya lokal pelan-pelan mulai tergerus mbak. Mungkin karena bangsa kita memiliki beraneka-ragam budaya jadinya susah untuk membuat kebijakan yang seragam mengenai pendidikan budaya lokal. Atau malah, budaya asing dipandang sebagai budaya modern untuk melengserkan budaya lokal? Ah, jadi ingat perbedaan budaya lokal pun kerap memicu terjadinya konflik.

Reffi Seftianti on 31 May 2013 at 22:18 said...

yaa,,seharusnya warga Indonesia lebih dulu memperkuat rasa persatuan dan nasiolismenya terlebih dahulu, setidaknya dengan penguatan pendidikan budaya di tiap daerah dengan pengawasan pemerintah pusat setidaknya menjadi sebuah oase untuk memperhatikan eksistensi budaya lokal yang sering hampir dicuri negara lain :)

Post a Comment

mohon memberi komentar dengan sopan dan tidak mengandung SARA .. terima kasih telah berkunjung ^_^


 

Kata Reffi Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos

badge