Wednesday, 13 November 2013

Pemuda Matahari- (Sebuah Kisah Yang Terselip di Antara Kisah Cinta Lainnya)


Read My Story About
MY LOVE #2

Genre : Kumpulan Cerpen 
Penulis : Boneka Lilin et Boliners 
Editor & Layout : Boneka Lilin
Design Cover : BoLin
Penerbit : Harfeey
ISBN : 978-602-1200-01-8
Tebal : Hlm, 14, 8 x 21 cm (A5)
Harga : Rp40.000,- (Harga Kontributor Rp34.000,- setiap pembelian bukunya)
CP Order : 081904162092

Sinopsis

You're simply amazing. And I just couldn't imagine my life without you. I wanna be the last one you love.

***
Kontributor:
Boneka Lilin, Waritsah Assilmi, Irpan Ilmi, Anggar Nilasari, Diah Amelia Risky, Hanifah Permatasari, Ismawati, Alzenni Manda, Mahardika, Mutia Rafif, Mery Eldiandra, Tiara Putri, Silviana Maya, Redisha, Utami Pratiwi, Airis Ahluma, Nunik Susilo Rini, Diyah Hardiyati Khasanah, Rela Sabtiana, Kasiyati, Eny Lestari, Bunga Aprilla Maharani, Dessy Purbandari


Bisu. Menjadi gagu adalah salah satu ‘keistimewaan’ yang kumiliki. Aku tak sengaja bertemu dengannya sekali lagi. Tubuhnya ceking dengan kulit kuning bersih. Mata sipitnya dihiasi dengan kacamata minus- sederhana saja penampilannya. Tiap kali berpapasan dengan asisten dosen cerdas itu, aku akan kehilangan kemampuan berpikirku dan lidahku kelu serta gagu.
“Ayo dong disapa, Div. Jangan Cuma bengong kaya gitu,” Lia menyenggol tubuhku yang sedang berdiri kaku di samping laboratorium bahasa.
Setelah sepersekian detik menahan nafas, akhirnya ia berlalu juga, dan akupun bisa menghirup oksigen dengan lega,”Nggak bisa. Aku malu.”
Lia mengacak rambut sebahuku dengan gemas,”Lihat. Kamu sampai kehilangan kemampuan bicara tiap kali berpapasan dengan Kak Fendi. Mau sampai kapan kamu naksir dia diam-diam? Apa kamu nunggu sampai itik bertelur anak ayam?”
Aku hanya mengedikkan bahu tanda acuh. Sebelum aku melangkah lagi, aku sengaja menoleh ke belakang. Aih, punggung tegap itu membuatku berdebar. Sungguh aku ingin sekali sesekali bisa bersandar di punggungnya dan mendengarkan suara serak merdu itu menjelaskan teori Pengantar Akuntansi.
“PDKT yang sungguh-sungguh dong. Masa kamu mau keduluan si Tika, lihat tuh dia selalu rajin nempel sama Kak Fendi,” sergah Lia sedikit keki melihat sosok cantik Tika menyapa Kak Fendi dengan genit.
Kak Fendi memang memiliki sikap ramah. Masalahnya, aku tak punya keberanian seperti Tika atau gadis-gadis lain yang berani mendekati Kak Fendi. Bagiku ia bagai matahari yang membuat hangat orang-orang di sekitarnya, sementara aku hanyalah seseorang yang mungkin namanya saja tidak ia ingat dan hanya berani melihatnya dari sudut gelap dan teduh.
***
“Udah denger kabar terbaru? Kak Fendi berhasil menjadi mahasiswa teladan tahun ini, dan dua minggu lagi ia akan mengikuti pertukaran mahasiswa selama satu tahun di Australia,” celoteh Lia.
Dua minggu lagi? Kenapa secepat ini? Lalu mengapa aku menjadi segelisah ini? Bukannya aku hanya mengaguminya saja? Mengapa setengah hatiku berharap tidak ingin melihatnya pergi?
“Kamu harus gerak cepat,” ujar Lia seraya menatap mataku serius.
“Serius buat apa?” tanyaku.
“Kamu harus dekati Kak Fendi dan utarakan perasaanmu.”
Whaat? Aku ini cewek. Dan lagi aku ini nggak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan cewek-cewek itu,” aku memekik pelan sembari melirik Tika yang berpakaian modis dan segar serta beberapa gadis manis dan percaya diri lainnya yang juga menyukai Kak Fendi.
“Hei, kan ada aku di sini. Cukup turuti dan lakukan semua wejangan yang kuberikan. Reputasiku sebagai mak comblang sudah sangat teruji. Masa aku nggak bisa nyomblangin sobatku sendiri,”
Dan inilah jadinya diriku sekarang. Sesuai dengan arahan Lia, kacamata minusku telah berganti soft lens warna cokelat, jins gombrongku berganti skinny jeans, dan kemeja kebesaranku berganti blus yang cenderung feminin. Seketika penampilan jadulku berganti menjadi sedikit lebih modern. Tapi masalahnya, mulutku masih tak bisa kupaksa bicara. Tetap saja pribadiku yang gagu ini, tak mampu menyapa orang yang kukagumi walau hanya sepatah kata.
Memalukan. Saat aku bnar-benar berpapasan dan mampu memanggil namanya, mulutku justru tak mau bersahabat. Saraf bicaraku mengunci, enggan membuka. Kak Fendi hanya memandangku heran. Bahkan Tika dan beberapa teman lainnya memandangku aneh karena aku hanya menyapa lalu bisu seketika. Lia memanggil namaku, namun aku terlanjur pias dan malu.
“Kenapa kamu malah lari?” sembur Lia tak sabar.
“Aku malu. Penampilanku sekarang ini bukanlah gayaku sebenarnya. Memang banyak yang memuji perubahan penampilanku, tapi ini membuatku tidak nyaman. Sorry, Lia,” aku berusaha menahan tangis. Memang aku justru merasa tidak nyaman ketika menjadi perhatian orang lain. Aku masih nyaman berdiam di sudut gelap.
Lia menunjukkan raut wajah penuh penyesalan. Aku tahu ini bukan salahnya. Aku tak tahu bagaimana caranya menonjolkan diri. Aku takut akan ada sikap penolakan atau menjadi terlalu salah tingkah tingkah di hadapan Kak Fendi. Jika memang aku hanya sekedar kagum, mengapa aku bisa segelisah ini? Apakah perasaanku ini sudah naik satu tingkat menjadi cinta? Ah, tidak mungkin begitu.
“Aku ingin sendiri Li, maaf ya.” Hanya itu yang bisa kukatakan pada Lia. Lia bisa memaklumi dan meninggalkanku sendirian di gazebo dekat taman kampus.
Sudah beberapa hari aku berganti penampilan. Namun hasilnya tetap saja, aku masih merasa minder. Sementara waktu keberangkatan Kak Fendi semakin dekat, dan aku mungkin hanya akan menjadi penggemar rahasianya. Kejadian tadi membuatku semakin malu untuk bertemu dengan Kak Fendi lagi.
“Diva, boleh aku duduk di sini?” sebuah suara yang sering kurindukan membuyarkan lamunanku. Aku mengangguk mempersilahkan.
Kak Fendi menunjukkan buku catatan warna pink padaku. Itu buku catatan yang berisikan karya puisiku dan hilang seminggu yang lalu.
“Sudah lama ingin kukembalikan, aku tak sengaja menemukannya di meja kelas, tapi rasanya aku malu untuk sekedar menyapa,” tukasnya dengan senyum penuh arti.
Aku membuka buku catatan itu, ada sebuah memo kecil terselip di dalamnya. Isinya membuatku tertegun dan berbunga-bunga.
“Sudah lama aku mengamatimu. Kamu selalu tampak cantik di mataku. Buku catatan ini sebenarnya ingin kujadikan alat agar bisa ngobrol sama kamu. Emm, kamu bisa tunggu kepulanganku?” tanyanya penuh harap.
Aku tersenyum. Jawaban itu sudah tampak jelas di mataku. Ya, baru kumengerti, rupanya ini yang dinamakan rindu.


2 comments:

  1. keren endingnya deh. hehe.
    nice post

    mampir ke blog ku juga ya

    ReplyDelete
  2. @zegaisme terima kasiih sdah berkunjung ^^

    ReplyDelete

mohon memberi komentar dengan sopan dan tidak mengandung SARA .. terima kasih telah berkunjung ^_^