.comment-content a {display: none;}

Wednesday, 19 February 2014

Pergulatan Hati dalam Cinta dan Keraguan

Diposkan oleh Reffi Seftianti di 08:23
Response 



Judul : Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis
Penulis : Paulo Coelho
Alih Bahasa : Rosi L. Simamora
Jumlah Halaman : 222 halaman
Tahun Terbit : Cetakan kedelapan, November 2013
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Magis dan selalu menggelitik pertanyaan dari pikiran, itulah salah satu keistimewaan karya Paulo Coelho. Penulis yang tenar dengan karyanya yang berjudul “The Alchemist” ini menggelitik hati pembacanya tentang serba-serbi cinta lewat sebuah novel berjudul “By The River Piedra I Sat and Wept” atau dalam versi bahasa Indonesianya “Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis”. Metamorfosa hati dua anak manusia dengan tokoh sentral seorang gadis bernama Pilar.

Kisah ini dimulai ketika Pilar mendapatkan surat dari teman masa kecilnya. Teman masa kecil Pilar ini telah menjelajah dan keluar dari desa mereka yang kecil dan tanpa disangka kini menjadi seorang religius yang cukup disegani. Pilar diundang dalam acara ceramah sahabatnya, sekaligus sebagai sebuah reuni menyenangkan setelah bertahun-tahun tak berjumpa.

Tak diduga pertemuan kedua sahabat lama tersebut membawa cerita baru dalam hubungan mereka. Sahabat masa kecil  itu menyatakan cinta pada Pilar. Rupanya selama bertahun-tahun perjalanan, si pemuda selalu mengenang Pilar dan rutin mengirimkan kartu pos serta surat pada gadis pujaannya. Sementara itu Pilar berusaha mencari makna kebahagiaan hidup  dengan bekerja keras dan kuliah serta mencari cinta sejati, namun hanya hampa yang ia dapat.  Si Pemuda mengajak Pilar dalam perjalanan penuh pengakuan serta sentuhan nurani.

Si Pemuda yang tumbuh dalam perjalanan religiusnya bahkan sempat mengenyam pendidikan seminari, memutuskan untuk mengambil risiko dengan menemui Pilar. Pengakuan cintanya tidak serta merta meluruhkan hati Pilar. Pilar telah terlanjur apatis memandang cinta. Bagi gadis cerdas itu, cinta akan sangat memabukkan pada awalnya, namun karena diri menjadi pecandu maka cinta dapat menjerumuskan dalam sakit yang tak berkesudahan.

Semua permasalahan dalam cinta, dikupas Paulo dalam metafora yang menarik. Ketakutan Pilar sangat lazim terjadi pada orang-orang yang sudah mengalami patah hati. Akibat luka masa lalu, manusia menjadi lebih berhati-hati dalam menjatuhkan pilihan dan terkadang terkesan takut untuk melangkah maju. Hati manusia pada dasarnya menyukai kestabilan dan kedamaian, namun hidup yang indah justru berjalan jika kita melangkah dengan penuh keberanian. Di tengah perjalanan, akhirnya Pilar memilih untuk mengikuti kata hati dan menyerahkan hatinya pada si pemuda.

Konflik terjadi saat si Pemuda mengungkapkan keinginannya berjuang di jalan agama. Kemampuannya menyembuhkan orang sakit dan ingin menyebarkan paham sisi feminin pada Tuhan Kristiani, membuat Pilar dilanda gamang. Bayangan Pilar untuk merenda masa depan bersama dan hidup berdua bersama pemuda yang dicintainya, luntur seketika. Sepasang kekasih yang baru saja saling menyatakan cinta itu pun sempat terpisah.

Konsep kesabaran dalam cinta dengan menunggu, telah dilakukan Pilar. Tetapi kisah cintanya harus menghadapi satu batu besar lagi, kali ini ia berhadapan dengan jalan Tuhan. Pilar telah menemukan pengertian, jika mencintai dengan bebas dan tulus, sama dengan mengimani keberadaan Tuhan. Seberapa dalam luka masa lalu, maka pasti akan sembuh setelah mendekatkan diri pada Tuhan.

Akhir cerita, si Pemuda menemukan keyakinannya. Ia mencari Pilar dan ingin berjuang bersama Pilar. Pasangan kekasih itu berniat untuk memperjuangkan keyakinan mereka serta memperjuangkan hidup di jalan Tuhan. Cinta diam-diam yang memberikan kekuatan. Trauma yang hanya bisa diobati dengan jatuh cinta lagi. Menumbuhkan sifat kanak-kanak untuk terus bersikap berani dan mendengarkan kata hati, karena cinta adalah oksigen bagi hidup manusia.

7 komentar:

Fandhy Achmad Romadhon on 19 February 2014 at 09:08 said...

wahh paulo coelho :D
aku tau nya the alchemist :D
nice share kak :)

http://fandhyachmadromadhon.blogspot.com/2014/02/mengenal-kampung-fiksi.html

Edi Padmono on 19 February 2014 at 15:28 said...

Goods anding

Euisry Noor on 19 February 2014 at 15:59 said...

Aku juga udah baca novel ini. Tapi cover-nya beda versi. Ehm, meski karya Paulo Coelho ini sering sarat makna & dalam, entah kenapa aku kok kayak kurang cocok sama gayanya. Hehe, kecuali yg Alcemist, ttp jd favorit :)

Reffi Seftianti on 19 February 2014 at 20:11 said...

baca yang lain juga,,keren2 lho ^^

Reffi Seftianti on 19 February 2014 at 20:15 said...

memang seringkali ada unsur kristianinya, tapi paulo tetap menjaga tidak timbul SARA pada tulisannya...dewasa dan harus penuh pemikiran mnedalam dalam membaca karyanya, Alchemist tetap juara :D

Titis Ayuningsih on 19 February 2014 at 20:51 said...

Cinta diam-diam yang memberikan kekuatan. Trauma yang hanya bisa diobati dengan jatuh cinta lagi < nih bener banget. Lebih baik jika jatuh cinta lagi berani mengatakannya ya :)

Arif Fajar Nasucha on 20 February 2014 at 05:32 said...

penting bangett
#Blogwalking dari saya-pekok.blogspot.com
Rgopoker.com Bandar Judi Poker Situs Poker Online Terpercaya.
http://goo.gl/ms9UUY
http://goo.gl/H8ArDV
Afatogel.com Bandar Terbesar Situs Togel Online Terpercaya
http://goo.gl/FC2anS
http://goo.gl/fFiwuZ
Superwash Laundry Bisnis Franchise Waralaba Murah di Indonesia
http://goo.gl/FA0clm

Post a Comment

mohon memberi komentar dengan sopan dan tidak mengandung SARA .. terima kasih telah berkunjung ^_^


 

Kata Reffi Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos

badge