.comment-content a {display: none;}

Thursday, 24 April 2014

Semarak Kisah dalam Satu Jilid Menawan

Diposkan oleh Reffi Seftianti di 08:03
Response 



Judul Buku : Semarak ECA
Penulis        : Reffi Dhinar, Rere Z. & ECA Lovers
Jumlah halaman : 214 halaman
Tahun terbit : Cetakan Pertama, Maret 2014
Penerbit : AE Publishing

Ingin mendapatkan cerita dengan beragam tema tanpa membeli buku lebih dari satu, maka buku Semarak ECA ini layak anda baca. Dari grup menulis ECA (Es Campur) yang dikelola oleh AE Publishing, buku ini terlahir dengan beraneka keunikan. Dari audisi menulis yang diselenggarakan sejak awal Januari 2014 lalu dan diikuti ratusan penulis dari Indonesia, grup ECA menyeleksi secara bertahap dan memberi tema yang berbeda untuk tiap peserta yang lolos di tiap tingkatannya.

Audisi pertama membebaskan penulis untuk posting flash fiction dengan batasan yang telah ditentukan. Ratusan karya lalu disaring menjadi tiga puluh karya saja yang lolos. Cerita-cerita yang dibuat memiliki twist menarik dan mengundang rasa ingin tahu untuk membaca hingga habis. Coba saja buka halaman 4, cerpen berjudul Bayang karya Zezana Andari. Dalam cerpen tersebut, pembaca akan dibawa hanyut dengan kesedihan tokoh utamanya yang tidak mendapat cinta dari suaminya. Di akhir cerita pembaca akan dibuat terkejut karena tokoh Aku ternyata telah meninggal. Sebuah kisah cinta dramatik tragedi yang menunjukkan pada kita. Hargailah orang yang tulus mencintai kita, sebab bisa jadi kita akan menyesal jika orang tersebut telah pergi tanpa pernah kembali lagi.

Tak melulu tema cinta yang menjadi topik favorit di audisi tahap pertama. Tema horor hingga filosofis juga diangkat dan dieksekusi dengan cantik oleh penulisnya. Coba baca cerpen karya Daruz Armedia yang berjudul Kiri Kanan Kulihat Saja, Banyak Pohon Terluka di halaman 40, yang mengangkat tema penebangan hutan. Baca juga cerpen berjudul Bimbel Angker karya Gemintang Halimatussadiah, bulu kuduk dibuat merinding setelah menyelesaikan cerpen singkat tersebut.

Audisi tahap ketiga menyaring penulis hingga tersisa dua puluh orang. Penulis yang lolos diwajibkan untuk  membuat tema cerpen baru dengan tema misteri. Betapa serunya saat pembaca dibuat menebak-nebak misteri apa yang tersembunyi di tiap cerita. Setelah melihat judul cerpen, pembaca akan penasaran untuk mencari jawaban dari misteri yang dikisahkan. Cerpen karya Dian Kartina di halaman 59 yang berjudul Bangunan Tua, mengangkat misteri dari mitos masyarakat setempat. Anggapan bahwa bangunan kosong adalah tempat yang angker, menumbuhkan kesan jika ada banyak arwah penasaran yang menghuninya. Ternyata tempat tersebut riuh karena anak-anak gelandnagan tinggal di dalamnya. Cukup menyentuh. Penggemar cerita hantu masih akan menemukannya di beberapa cerpen menarik seperti di halaman 104 karya Nur Cahyani dalam cerpen berjudul Ting.

Tensi tegang sedikit diturunkan dengan tema cerpen di audisi berikutnya yakni patah hati. Cinta dan patah hati adalah tema universal yang menjadi tema favorit penulis manapun. Dan meskipun ada alur cerita yang mirip, penulis terpilih di audisi tahap ketiga ini dapat mengolah ceritanya tetap otentik dan menyentuh. Sebut saja cerpen karya Utep Sutiana yang berjudul Annabella Orchid di halaman 114. Cerpen tersebut memiliki kekhasan dari pemilihan diksi dalam narasinya. Tokoh Aku seolah sedang melakukan monolog dengan kilasan flashback yang tercermin dalam petikan-petikan dialognya. Sebuah teknik yang cukup mengesankan.

Lepas dari suasana mengharu biru dan penuh luka akibat patah hati, ketegangan pembaca dicoba untuk dinaikkan lagi dengan tema thriller. Beberapa cerpen dalam tema ini sepertinya terinspirasi dari film thriller khas hollywood dengan adegan sadis, seperti cerpen karya Maya Luca Izecson yang berjudul Diari Kematian dan cerpen berjudul Revenge karya Rere Zivago. Tak hanya mengedepankan unsur ketegangan dan sadisme, tiap cerpen membawa pesan terselubung yang tetap membawa perenungan. Betapa dendam adalah sebuah bibit penyakit membahayan dalam hati manusia. Prasangka buruk yang dibiarkan tanpa memiliki tendensi yang jelas juga dapat membahayakan nyawa orang lain.

Tiba pada audisi terakhir, pembaca akan dibawa untu menjelajah melampaui satu abad, menuju abad 23. Lima penulis terpilih ditantang untuk mengembangkan imajinasinya. Pembaca akan dibuat terkejut, betapa liarnya imajinasi yang dibuat oeh para penulis. Cerpen The Grounder karya Reffi Dhinar di halaman 171, mengisahkan perbedaan cara hidup manusia bawah tanah dan yang tinggal di atas tanah. Empat cerpen lainnya juga akan membawa dunia baru dengan detil yang indah. Kita akan diajak menuju dunia dimana manusia berjuang hidup dengan teknologi super canggih. Benar sekali jika buku ini sangat semarak. Isinya tak bisa dianggap remeh. Pembaca dapat menemukan tak hanya cerita dengan beragam tema dan gaya bahasa tetapi juga fenomena kecil hingga besar yang sering terjadi di lingkungan masyarakat kita. Selamat membaca.

0 komentar:

Post a Comment

mohon memberi komentar dengan sopan dan tidak mengandung SARA .. terima kasih telah berkunjung ^_^


 

Kata Reffi Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos

badge