.comment-content a {display: none;}

Wednesday, 28 May 2014

Jangan Sepenuhnya Menyalahkan Kurawa (Renungan Iseng-Iseng Serius)

Diposkan oleh Reffi Seftianti di 07:02
Response 
Kurawa adalah tokoh-tokoh yang dilabeli sikap jahat, licik dan bengis dalam kisah epik Mahabaratha. Para penggemar kisah pewayangan dan kisah sastra klasik yang sempat membacanya, rata-rata sepakat menganggap Duryudana dan saudara-saudaranya sebagai simbol sisi gelap hati manusia. Pandawa Lima dianggap sebagai simbol keberanian, kecerdasan dan beragam simbol unggul manusia lainnya.

Sebagai salah satu penggemar kisah Mahabaratha yang sekarang sedang booming di tengah masyarakat, pada mulanya saya juga mengikuti pendapat awam. Kurawa adalah tokoh jahat yang harus dikalahkan. Tapi, tunggu dulu. Makin mengamati jalan ceritanya, perlahan pendapat saya sedikit bergeser. Tidak seharusnya kita menyalahkan Kurawa. Ada beberapa poin penting yang bisa dijadikan cerminan pembentukan kepribadian baik justru dari Kurawa. Bukan berarti saya menyetujui perilaku jahat Kurawa. Poin-poin penting tersebut menunjukkan penyebab utama sikap jahat Kurawa dan mungkin dapat dijadikan sebagai pengubah sikap buruk manusia sendiri. Poin ini juga perlu dicermati oleh para orang tua.



Untuk Menyembuhkan Watak Jahat Kurawa, Cuci Otak Sengkuni!
Sejak masa kanak-kanak, Duryudana dan saudara-saudaranya mendapat pengaruh negatif dari mulut Sengkuni.  Untuk bisa menyembuhkan penyakit yang ditimbulkan dari mulut Sengkuni, Bisma yang sangat ditakuti Sengkuni, bisa melakukan cara-cara yang lebih cerdas untuk balik mencuci otak si mulut berbisa. Atau, Bisma harusnya lebih intens mendekati Kurawa, jangan biarkan Sengkuni berkeliaran bebas di sekitar Kurawa. Untuk cara bagaimana mempengaruhi Sengkuni sendiri, itu urusan Bisma dan Widura yang lebih cerdas dan bijak dari saya. :p

Anggapan Negatif Telah Membentuk Sikap Jahat Kurawa
 Tiap anak memiliki hak untuk  lahir. Saya setuju dengan anggapan awal ini, Duryudana harus dikorbankan agar ia tak melakukan kejahatan di muka bumi. Anggapan negatif tersebut membentuk mindset para petinggi Astina bahwa jika tidak dikorbankan, pasti si jabang bayi akan menjadi super jahat. Tiap bayi punya hak untuk hidup. Buruk atau baiknya karakter seorang anak, dibentuk oleh keluarga dan lingkungan terdekatnya. Seharusnya Drestarastha tidak mudah mengumbar kata-kata penuh amarah di depan anaknya. Seorang anak akan meniru sikap orang tuanya. Mereka belum mempunyai filter tentang apa itu baik dan buruk.

Dalam sebuah adegan, digambarkan betapa murkanya Drestarastha pada Duryudana karena putra sulungnya telah bekerjasama dengan Sengkuni untuk meracuni Bima. Drestarastha menasehati anaknya dengan menyebutkan jika Pandawa adalah saudara yang harus dilindungi. Dengan sigap, Duryudana membalas nasehat ayahnya. Kurang lebih begini,"Ayah sendiri yang berkata, siapapun yang menghalangi jalan kita, maka ia pantas disebut sebagai musuh. Pandawa akan menjadi penghalangku untuk menjadi putera mahkota, itulah sebabnya mereka pantas disebut sebagai musuh!"

Drestarastha hanya diam. Ia merasa bersalah. Tapi bubur tak akan bisa menjadi nasi, cerita terus berjalan dan sifat jahat Kurawa semakin mengakar kuat.


Jadi, jangan sepenuhnya menyalahkan Kurawa. Sikap bengis itu tumbuh akibat pengaruh negatif lingkungan. Drestarastha tak seharusnya terlalu memanjakan putera-puteranya. Bisma seharusnya lebih tegas sejak awal pada Sengkuni. Untuk para orang tua atau calon orang tua, coba perhatikan baik-baik dua poin di atas. Mari lebih memanusiakan anak-anak. Mereka harus tumbuh alami sesuai dengan perkembangan usianya. Jangan berbicara dan berperilaku sembarangan, karena orang tua adalah cermin bagi anak-anaknya.

0 komentar:

Post a Comment

mohon memberi komentar dengan sopan dan tidak mengandung SARA .. terima kasih telah berkunjung ^_^


 

Kata Reffi Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos

badge