Monday, 21 July 2014

Bercengkerama dengan Malam

Derik jangkrik dan suara burung malam yang menemaniku terjaga membuatku merasa tak sendirian. Aneh sekali ya. Banyak orang mengasosiasikan malam sebagai simbol kesepian, kegelapan hingga yang paling buruk, kejahatan. Bukankah dari tutur tinular orang tua dan orang-orang tua di atasmu mengatakan ketika bulan sedang berubah menjadi gerhana, berarti sedang ada Bathara Kala yang melahapnya. Bathara Kala, lambang kejahatan dan keserakahan. Semuanya terjadi taktala malam telah menguasai satu titik dunia.

Malam adalah gerbang kemaksiatan. Itu menurut orang kebanyakan. Pub, diskotik hingga rumah bordil dibuka lebar untuk manusia-manusia gelisah yang ingin membuang rasa kecewanya. Rasa kecewa terhadap keluarga yang tak memberikan perhatian penuh, mendorong seorang remaja berjoget dan minum sebotol Jack Daniels sampai teler di satu sudut pub. Seorang gadis muda terpaksa bekerja dengan mengangkangkan kaki bagi para lelaki tersesat karena kehormatannya telah disesap habis kekasih tercinta. Melodrama itu memang nyata, namun bagiku malam adalah gerbang pikiran. Sumbat-sumbat yang memblokir pikiranku di pagi sampai sore, akan terbuka secara ajaib di malam hari. Dongeng, harapan atau sekedar tulisan curhat akan menemukan muara kata-kata magis ketika bintang mulai bersemarak menutupi langit gelap. Sayangnya, di sini bintang-bintangku terhalang gedung tinggi.

Coba tajamkan pendengaranmu. Matikan keran air dan musik yang mengalun dari MP3. Hentikan sejenak waktu bergombal ria dengan pujaan hati. Menyepilah di ruang pribadimu dan hayati keberadaan malam yang memabukkan. Gemerisik daun dan deru angin yang menyapu peluh, menciptakan ikatan batin antara dirimu dengan dunia yang tak ada cahaya. Apa kau takut hantu yang bergentayangan mencari mangsanya? Jangan membuatku terbahak. Setan paling menakutkan itu telah beralih rupa menjadi manusia. Orang-orang yang tega membunuh bayinya sendiri, laki-laki yang berani menyiksa istri atau anak muda yang mampu dan mau menghilangkan nyawa kekasihnya. Semua itu adalah setan yang tak terikat malam.

Maafkan pemikiranku, wahai Malam. Sunyi yang membungkus tubuhku saat bercengkerama denganmu, menyentuh sukmaku. Ketiadaan adalah keabadian dari kehidupan. Semua yang hidup akan tiada, dan semua yang awalnya tiada akan menjadi ada setelah Sang Pencipta meniupkan ruhnya. Malam ialah perlambang kekuatan. Kekuatan menyadari bahwa diri tak segagah di pagi hari dan tak sekuat di siang hari. Singgahilah, singgasana Malam.

No comments:

Post a Comment

mohon memberi komentar dengan sopan dan tidak mengandung SARA .. terima kasih telah berkunjung ^_^