.comment-content a {display: none;}

Sunday, 12 October 2014

Berani Menghadapi Kenyataan

Diposkan oleh Reffi Seftianti di 20:30
Response 
Banyak sekali orang yang menginginkan kerabat, sahabat atau belahan hatinya senantiasa bersikap jujur meski itu menyakitkan. Sebuah kebohongan yang meski kecil jika terus ditumpuk dan tidak disampaikan, lama-lama bisa menjadi magma yang akan melahap siapapun tanpa kenal ampun. Seseorang yang terus menyimpan kebohongan, akan menderita tekanan psikologis, apalagi jika orang yang disayang begitu mempercayai.

Bagaimana dengan white lies? Berbohong demi kebaikan adalah alasan yang sering digunakan seseorang untuk menjaga perasaan orang lain. Misalnya, masa lalu yang buruk seorang perempuan yang ingin ditutupi agar suami dan keluarga mertuanya tidak menanggung aib. Tetapi akan ada saatnya masa lalu yang disimpan tersebut akan muncul ke permukaan dalam sebuah peristiwa yang tidak bisa diespektasikan. 



source: www.clker.com

Lantas bagaimana caranya agar kita siap menyampaikan sebuah kejujuran atau sebaliknya siapkah kita menerima  pengakuan jujur dari orang yang sangat kita percayai?

Pertama, kita mungkin perlu berkonsultasi dengan orang lain yang bisa memberikan pandangan netral dan tidak menjudge semua curahan hati kita. Terlebih lagi jika saat ini anda sudah berusaha menjadi orang yang lebih baik dibandingkan saat lalu. Kesalahan atau mungkin ketidakjujuran yang kita ucapkan pasti akan sangat melukai. Cobalah cari seseorang yang bisa memberikan pandangan tentang kapan dan bagaimana seharusnya cara kita menyampaikan rahasia tersebut.

Kedua, sampaikan kejujuran anda hanya dengan orang yang bersangkutan. Siapkan mental jika orang tersebut marah, menghujat atau memaki sekalipun. Sampaikan setelah ia tenang, bahwa anda sudah berusaha memperbaiki diri selama ini dan biarkan dia menilai apakah anda sudah tampak berubah lebih baik sekarang. Jika orang yang pernah anda bohongi ingin waktu sendirian, turuti saja. Tetapi selalu sampaikan permintaan maaf tiap hari dan anda harus kuat untuk terus memperbaiki diri. Jangan sampai mengulangi kesalahan dan kebohongan yang sama.

Sebaliknya, jika anda yang menghadapi kenyataan bahwa pasangan, keluarga atau sahabat anda ternyata pernah berbohong, belajarlah untuk tidak terlalu lepas kendali. Mungkin sangat sulit, tetapi bukankah lebih baik kita menerima kejujuran dibandingkan damai dalam kebohongan? Diskusikan perasaan anda, hargai niatnya untuk memperbaiki diri, dan beri jeda untuk sendiri dahulu. Jangan diam terlalu lama. Tetapi jika suatu hari kesalahan itu terulang kembali, maka kita berhak untuk tidak memberikan kepercayaan lagi. 

Kita sering berkata bahwa kejujuran lebih baik, meskipun itu pahit. Namun, sering juga kita malah menyalahkan kejujuran itu karena takut dengan kenyataan pahit yang akan melukai diri kita. Hadapi saja dengan berani. Biarkan Tuhan menyelesaikan semuanya, gantungkan harapan hanya kepadaNYA.

2 komentar:

Tanpa Lipstick on 12 October 2014 at 20:59 said...

Kejujuran sekalipun itu pahit pasti akan ada manisnya juga.

Reffi Seftianti on 13 October 2014 at 00:20 said...

benar sekali...karena seteah jujur semua perasaan akan lebih plong, lega

Post a Comment

mohon memberi komentar dengan sopan dan tidak mengandung SARA .. terima kasih telah berkunjung ^_^


 

Kata Reffi Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos

badge