Saturday, 24 January 2015

Jangan Jatuh Cinta Jika Masih Takut Sendiri


Mungkin kalian bingung dengan judul yang saya buat di atas. Kenapa bisa orang yang jatuh cinta itu tidak boleh takut sendiri? Bukankah hasrat untuk memiliki pendamping dan tidak ingin sendiri itulah yang mendorong seseorang untuk memiliki pasangan hidup? Memang ada benarnya pendapat tersebut, tapi dalam prakteknya kita sering sulit membedakan apakah memiliki kekasih atau pasangan yang kita nikahi itu murni karena kita mencintainya atau hanya karena kita terlalu rapuh menjalani hidup di saat sendiri?

Saya menulis judul di atas berdasarkan pengalaman yang pernah saya alami dan juga menyaring dari banyak curhatan teman mengenai masalah cintanya. Di usia muda seperti ini, mengalami fase galau, berbunga-bunga atau putus-nyambung soal cinta adalah hal yang lumrah terjadi. Sebelum benar-benar menemukan pasangan yang tepat untuk diajak hidup berumahtangga, tentunya akan banyak terjadi proses seleksi sekaligus adaptasi antara kita dan calon pasangan hidup kita.

Awal-awal pacaran, semua terasa indah lalu memasuki tahun kedua, tahun ketiga hingga seterusnya bisa timbul rasa bosan. Dalam hubungan pernikahan pun begitu. Malah katanya sampai tahun kelima pernikahan, pasangan muda akan mengalami masa-masa adaptasi yang lebih berat dibanding saat sebelum pernikahan. Siapapun yang bisa melewati masa lima tahun awal pernikahan dengan baik, dipercaya telah memiliki modal yang cukup untuk menjalani kehidupan berkeluarga di tahun-tahun berikutnya.

Namun, kalian pasti tahu bahwa tidak semua hubungan berjalan mulus. Dalam kisah cinta yang awalnya semanis apapun tetap memiliki dua kemungkinan, kalau tidak bahagia, ya putus di tengah jalan. Tidak semua orang siap untuk dikhianati hingga ditinggalkan orang yang dikasihi. Dan bagi orang-orang yang belum siap tersebut, dunia mereka akan roboh, hancur. Semangat hidup menjadi padam, lalu ujung-ujungnya melakukan suatu hal yang merugikan diri sendiri.
Jika cinta sampai merusak diri, apakah itu benar-benar cinta murni? Ataukah itu hanya sekedar obsesi?



Bukan berarti saya menyarankan kalian untuk memelihara negative thinking dalam hubungan, sama sekali tidak. Bagaimanapun kepercayaan, komunikasi yang baik dan juga rasa persahabatan akan menjadi penopang yang kuat di saat debar-debar asmara itu sudah tidak terlalu kentara lagi. Lihat saja orang tua dan kakek nenek kita. Mereka semua bisa langgeng hingga maut memisahkan karena kuatnya rasa saling percaya dan adanya unsur persahabatan itu. Ego dan cemburu hanya kuat di usia muda dan juga sekaligus menjadi penguji hubungan cinta.

Tapi tak semua orang memiliki apa yang kita harapkan. Ada kalanya orang yang paling kita cintai berpotensi menjadi orang yang paling melukai. Dan demi agar tidak ditinggalkan, kita rela-rela saja terus dihantam, ditipu serta tidak dihargai perasaaannya. Ada yang diam saja meski dihajar tubuhnya, ada yang terus memaafkan meski jelas-jelas kekasihnya telah berkhianat berkali-kali, ada juga yang rela melepas kehormatan hanya agar kekasih tidak pergi. Kemana keagungan cinta yang digembar-gemborkan itu? Tuhan memberikan anugerah cinta bukan untuk menyiksa diri sendiri.

Maka sebaiknya, sebelum benar-benar tenggelam dalam kegilaan cinta, kita harus lebih dulu mencintai diri sendiri. Kita harus kuat meski sedang jomblo. Makna cinta juga ada dalam hubungan keluarga dan persahabatan bukan? Lewat merekalah, sesungguhnya kita menerima limpahan cinta lebih dulu, tentunya selain dari Tuhan. Kita harus menjadi sosok yang tahu kapan waktu yang tepat berkata tidak pada hal-hal yang merugikan diri sendiri. Dan jika sewaktu-waktu kekasih hati itu pergi, kita juga tidak boleh limbung.

Sebelum mencintai orang lain, cintailah dirimu. Jadikan dirimu layak untuk dikasihi dan dihargai. Love is losing your heart, but not your brain. Keep learning!

4 comments:

  1. kalau takut jangan mencoba bercinta, karena menurut pendapat saya cinta itu sama dengan kesengsaraan tidak ada cinta yang tidak menimbulkan kesengsaraan itu sudah pasti, di dunia ini tidak ada yang namanya tidak ada masalah. kalau takud mendingan jangan.

    ReplyDelete
  2. Tulisan yang menarik, terima kasih telah berbagi. Persepsi orang memang berbeda-beda dalam membedah cinta dan kegalauan. Kebetulan tadi pagi saya baru menulis artikel serupa, kalau berminat silakan langsung baca di Kunci Jawaban Soal Cinta ya.. salam kenal. :)

    ReplyDelete

mohon memberi komentar dengan sopan dan tidak mengandung SARA .. terima kasih telah berkunjung ^_^