.comment-content a {display: none;}

Monday, 23 February 2015

Berujung Gelap

Diposkan oleh Reffi Seftianti di 19:06
Response 
Vanya memaksaku untuk memakan benda berwarna gelap itu ke mulutku. Sekuat tenaga aku tidak ingin membuka bibir, tapi nyatanya gadis itu jauh lebih bertenaga. Satu suapan yang kutelan dan membuat perutku bergolak.

“Kata mamaku ini enak banget lho. Semua takarannya sudah pas. Aku nggak bikin terlalu manis, masih ada rasa pahitnya meski nggak terlalu kentara. Ini sebagai perayaan anniversary kita. Bittersweet like our relationship,” katanya memulai teori soal hubungan lagi.

“Iya, iya, nih aku makan semua,” ujarku sambil berusaha mengunyah dengan sabar.

Aku sama sekali tidak menyukai benda yang katanya lambang cinta itu. Perutku mual tiap kali mencium aromanya. Sayangnya, kekasihku terobsesi untuk membuatku menyukai makanan favoritnya.

“Kamu kan nggak suka kopi, jadi jangan paksa aku makan ini,” omelku biasanya tiap kali ia memaksaku menyantap makanan kesukaannya itu. Padahal aku tak pernah memaksa Vanya untuk meminum kopi.

Hanya saja kali ini aku mengalah. Aku tak ingin memulai pertengkaran di hari jadi yang pertama. Kemudian ada sesuatu yang menyakiti tenggorokanku. Panas dan menyakitkan. Apa jangan-jangan kali ini pengaruhnya bertambah parah gara-gara makanan itu?

“Enak kan? Dengan ini pasti kamu akan merasa lebih nyaman sekaligus cepat ke surga,” kata Vanya.

Aku sama sekali tak mengerti. Pandanganku mulai mengabur. Vanya berdiri dengan tatapan marah.

“Semoga kamu lekas bertemu dengan bayi kita yang sudah kamu tolak kehadirannya.” ujar Vanya dingin.

3 komentar:

How Haw on 24 February 2015 at 11:34 said...

anjirr... dibunuh dengan halus. Keren ini FF-nya.

scb on 25 February 2015 at 19:48 said...

widih, saiko ini,

komburkali on 25 February 2015 at 19:49 said...

ih suka suka, ini sepertinya menikmati sekali saat membunuhnya yaa, kejam

Post a Comment

mohon memberi komentar dengan sopan dan tidak mengandung SARA .. terima kasih telah berkunjung ^_^


 

Kata Reffi Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos

badge