Friday, 1 May 2015

Mengapa Buku Ini Tidak Dijual?

Judul : Buku Ini Tidak Dijual
Penulis : Henny Alifah
Tahun Terbit : Cetakan Pertama, Maret 2015
ISBN : 978-602-1614-48-8
Penerbit : Indiva Media Kreasi

Marah. Itulah yang dirasakan Padi, seorang pria yang begitu kesal setelah mengetahui buku-buku koleksinya selama bertahun-tahun dijual oleh ayahnya sendiri. Bahkan putranya, Gading, juga sangat heran mengapa ayah yang dilihatnya hanya pernah menangis satu kali yaitu saat kematian ibunya itu kini menangisi buku-buku yang dijual tanpa seizinnya. Akhirnya dari satu perintah Padi, Gading  pun terlibat dalam perjalanan melelahkan untuk mendapatkan kembali buku-buku itu  bersama sepupunya, Kingkin.

Novel yang menjadi pemenang pertama lomba menulis novel inspiratif Indiva pada tahun 2014 ini, memberikan tema yang lain sekaligus segar. Lewat perjalanan melelahkan Gading dan Kingkin, kita diajari banyak hal-hal yang bersinggungan dengan humanisme, kritik sosial dan juga sebuah ikatan cinta yang tersembunyi di balik buku-buku koleksi Padi. Bahasa yang digunakan juga sederhana, tetapi akan menggiring pembaca untuk terus penasaran hingga di lembar terakhir.

Meskipun sebagian besar buku-buku milik Padi adalah buku pelajaran sejak sekolah dasar, ia bersikeras untuk mempertahankan bukunya. Salah satu alasan kuatnya adalah agar bisa membaca kembali  sebuah pengetahuan penting dari buku pelajaran jika suatu hari anak atau cucunya bertanya tentang sains dan lainya. Hal ini tentu jarang ada di pikiran kita. Buku pelajaran lama seringkali akan diwariskan saja pada saudara atau tetangga, atau jalan lainnya malah dijual. Padahal bisa jadi anak kita nanti bertanya tentang bagaiamana proses terjadinya petir lalu kita bisa mencari jawabannya dari buku pelajaran pengetahuan alam sekolah dasar.

Perjalanan Gading dan Kingkin pun tak berjalan mulus. Setelah sampai di tempat pengepul barang bekas, mereka harus menghadapi kenyataan jika buku-buku pelajaran itu sudah dijual di sebuah sekolah dasar. Dengan berbekal sepeda motor matik, dua saudara itu menuju sekolahnya, kemudian hati nurani mereka diuji. Sekolah yang membeli buku-buku ayah Gading adalah sekolah swasta yang memiliki sistem pendidikan bagus namun minim fasilitas. Dengan buku-buku milik Padi, kepala sekolah merasa senang karena anak didiknya akan mendapat tambahan wawasan baru.

“Buku-buku ini untuk mereka. Sekolah kami adalah sekolah swasta. Cukup sulit bagi kami untuk memiliki sebuah perpustakaan yang lengkap, karena tidak mendapat dana dari pemerintah..” ini adalah potongan dialog dari Pak Saidi di halaman 67, kepala sekolah yang membeli buku-buku Padi. Sebuah potret sosial yang menjadi gambaran miris pendidikan di tanah air kita. Betapa gaung pendidikan bermutu dan kurikulum yang selalu diperbaharui sistemnya, seringkali hanya menyentuh sekolah-sekolah di perkotaan besar saja. Sementara sekolah-seolah di daerah pinggiran bahkan pelosok masih harus mengalami kondisi serba minim dan fasilitas yang tidak selengkap di kota.

Penulis membawa pembaca ke petualangan yang menegangkan sampai kita bisa jadi lupa, bahwa Gading dan Kingkin hanya sedang berusaha mendapatkan buku-buku yang sudah dijual. Di tengah perjalanan pun, kedua remaja tesebut harus bersinggungan dengan maut hanya gara-gara berusaha memepertahankan dua karung buku.  Konflik yang memanas antara kakek dan Padi juga membuat pembaca ikut terkuras emosinya. Apalagi ketika Gading dan Kingkin tak juga kembali hingga hari beranjak petang, membuat keluarga mereka cemas dan firasat buruk mulai menyelubungi. Di sini kita belajar tentang apa itu makna keluarga. Meski sering terjadi perselisihan paham antara orang tua dan anak, di hati mereka masih selalu tersimpan impian baik untuk masing-masing. Kakek berpikiran jika menjual buku akan memberi manfaat bagi orang lain, sementara Padi bepikiran untuk mempertahankan bukunya demi terjaganya ilmu yang pernah didapatkannya semasa sekolah.

Hingga misteri terpecahkan di akhir bab mengapa Padi begitu berat melepaskan buku-bukunya. Misteri tersebut berhubungan dengan mendiang ibu Gading. Alhasil, buku ini membuka sebuah pencerahan baru bagi saya dan mungkin bagi anda para penikmat dan pecandu buku. Buku tak hanya kumpulan kertas yang direkatkan jadi satu dan berisi tulisan. Ada harta tersembunyi di dalamnya. Saya menyukai sebuah kalimat dari Padi di halaman 185 yang akan menjadi kutipan berharga bagi kita.

“Orang yang pandai itu bukan mereka yang banyak menyandang gelar akademik. Tetapi, orang yang pandai adalah mereka yang banyak membaca buku,”

3 comments:

  1. Ternyata ada buku yang ceritanya begini. O_o *baru tahu*
    Pengin baca buku ini.

    ReplyDelete
  2. penasaran nih, jadi pengen baca buku ini

    ReplyDelete

mohon memberi komentar dengan sopan dan tidak mengandung SARA .. terima kasih telah berkunjung ^_^