Saturday, 13 June 2015

Sebuah Renungan Tentang ‘Keluarga’ dari Azka Corbuzier


Bocah cilik berumur delapan tahun itu adalah putra mentalis kebanggaan Indonesia sekaligus telah memiliki prestasi internasional, Deddy Corbuzier. Jika ia populer karena nama ayahnya, hak itu bukanlah hal yang luar biasa. Yang membuat banyak orang terkejut bahkan saya sendiri pun menangis ialah kepolosannya dan juga kejujurannya dalam mendefinisiskan makna sebuah keluarga bahagia dari sudut pandang anak-anak yang kedua orang tuanya bercerai.

Azka Corbuzier membuat slide video via Youtube dari gambar buatannya yang juga diberi catatan berbahasa Inggris mengenai kehidupan keluarganya. Ia memberi opening dengan keromantisan lewat cerita bagaimana kedua orang tuanya bertemu, jatuh cinta hingga akhirnya memutuskan untuk menikah. Sampai enam tahun usianya, keluarganya adalah keluarga yang bahagia. Namun, keretakan mulai terjadi, ayah dan ibunya sering berdebat hingga akhirnya ketidakcocokan itu berujung perceraian.

Di sinilah klimaksnya mulai berjalan. Seorang anak yang harus menghadapi perceraian orang tuanya, pasti akan mnegalami guncangan emosi. Beruntungnya, Azka memiliki ayah ibu hebat yang memang bukan pasangan yang saling mencintai lagi tetapi sangat menyayangi anak semata wayangnya. Azka tak kehilangan figur dan kasih sayang orang tua. Hubungan ayah dan ibunya justru lebih baik setelah perceraian.
Hal yang sabgat menyentuh adalah penuturan Azka justru merumuskan makna keluarga sesungguhnya.

Memang keluarga broken home kebanyakan akan memberi efek tidak baik untuk psikologis anak. Semuanya  terjadi sebab pasangan yang bercerai sudah mengedepankan ego masing-masing, memilih untuk jarang bertemu dan tidak mempedulikan kebutuhan anak akan orang tua lengkap. Dan bisa jadi, sebuah rumah yang terdiri dari ayah dan ibu pun bisa menjadi tidak menyenangkan bagi keluarga jika suasananya tidak harmonis.

Azka lebih gembira dengan perpisahan orang tuanya. Ia tak kehilangan cinta ayah ibunya. Pertengkaran itu tidak pernah terjadi lagi dan kedua orang tuanya bisa bersahabat dengan sangat baik. Perceraian memang bukanlah hal yang baik, tetapi kita tidak pernah tahu bagaimana hidup akan berujung bukan? Seorang bocah delapan tahun membuka mata saya dan mungkin mata kita semua, bahwa keluarga yang bahagia akan menjadi rumah ternyaman. Tak hanya sekedar anggota keluarga yang lengkap, tapi jika ada rasa saling menghargai, empati, dan juga ketulusan di dalamnya. Bercerai aau tidak, seorang anak berhak memperoleh kasih sayang utuh dari orang tuanya. Terima kasih Azka, I always hope for your own happiness.

3 comments:

  1. Aska, kenapa lebih baik saat orang tua bercerai dari pada bersama dlm satu rumah :(

    ReplyDelete
  2. mungkin Aska sudah sangat lelah dan takut dengan pertengkaran kedua orang tuanya

    ReplyDelete
  3. good artikel
    http://www.sinidomino.com/

    ReplyDelete

mohon memberi komentar dengan sopan dan tidak mengandung SARA .. terima kasih telah berkunjung ^_^