.comment-content a {display: none;}

Sunday, 1 November 2015

Reminder

Diposkan oleh Reffi Seftianti di 07:08
Response 



Buatku, suara deruman motor itu adalah lagu kebangsaan yang indah. Melebihi khidmatnya para atlet nasional yang larut dalam lagu Indonesia Raya ketika mereka berhasil mengharumkan nama negara di luar negeri, mengalahkan histeria saat diriku terhanyut dengan lagu-lagu rock yang akrab di telinga tiap kali aku sedang suntuk. Tidak ada yang bisa mengalahkan gejolak andrenalin yang timbul tiap kali starter motor kunyalakan, dan kugas kencang-kencang.

“Kamu itu pengecut, bukannya pemberani. Orang lain boleh kagum dengan kemampuanmu menyalip motor lain atau mengendarai dengan kecepatan di luar rata-rata. Buatku kamu hanyalah pengecut yang melarikan diri dari kenyataan pahit dengan deruman motormu.” Kata Angel, sahabat baikku.

Aku menertawakan pendapatnya. Bisa dibilang, bibir merahnya itu sangat hobi mencerewetiku. Kebiasaan mengendarai motor kebut-kebutan tiap kali masalah dengan Ayah muncul lagi, adalah hal yang sangat tidak disukai Angel.

Ia hanya menasehatiku, tapi tidak memaksaku berubah. Hmm, mungkin ini yang bisa disebut dengan sebuah ketulusan persahabatan.

Kalau aku jadi dia, pasti sudah kutinggalkan orang bebal yang susah dinasehati atau dikhawatirkan. Masalahnya, tiap kali mulutnya itu mencerewetiku, diriku malah ingin tertawa. Wajahnya yang sangat ekspresif dan jujur, sudah cukup menyiratkan semua kecemasannya. 

“One, two, three, mulaai!” Ipang melambaikan bendera amarah tanda balapan dimulai.

Motor merah yang kukendarai menggerum kencang membelah malam yang sudah semakin dini. Kesunyian dipecahkan suara-suara gas motor yang sedang bersaing menuju garis finish.  Baru mulai balapan, peluhku sudah menggeranyangi dahiku. Sial, udara Surabaya yang begitu panas sudah membuat kenyamananku berkurang. Aku paling tidak suka berkeringat. Ah ya, keringat, aku sangat tidak menyukainya karena ketika berkeringat, berarti ada dua hal yang terjadi padaku, kalau bukan udara yang panas berarti aku sedang ketakutan.

Ketakutan terbesarku bukanlah kematian. Ketakutan terbesarku adalah amarah Ayah yang tak pernah berhenti menuntutku menjadi orang lain, sosok favoritnya.

“Kenapa nilai ujianmu jelek lagi? Bukannya kamu sudah Ayah leskan mahal-mahal? Guru privat yang datang itu adalah lulusan universitas terbaik di kota. Kerjaanmu cuma keluyuran saja. Tidak mau belajar!” suara keras Ayah sangat lantang tiap kali murka. 

Seember air dingin akan disiramkan padaku. Tak peduli meski tubuh kurusku sudah menggigil. Bahkan ketika Ibu berlari dengan membawa handuk besar untuk melindungiku, keringat dingin justru membanjiri tubuhku. Aku sangat ketakutan. Rasa takut yang sedemikian besar hingga mendorongku untuk mulai memberontak. Pemberontakan yang kutemukan lewat balapan motor liar.

Ayah selalu mengharapkanku menjadi seorang Dokter, seperti impiannya yang gagal ia raih karena kekurangan biaya. Laki-laki yang sudah berhasil menyekolahkan ketiga anaknya di sekolah-sekolah tebaik itu, memang bekerja keras speanjang hari sebagai pegawai tingkat terendah hingga kini menjadi General Manager di sebuah hotel ternama. Impiannya tidak pernah padam, namun sayangnya aku wajib mewujudkannya sebagai anak sulung yang digadang-gadang sejak kelahirannya.

Aku adalah seorang anak perempuan, tetapi ayahku mendidik selayaknya aku seorang anak laki-laki. Ia tidak ingin aku tumbuh menjadi gadis manja, begitu alasan di balik pukulan dan tendangan yang sering disarangkan di tubuh keringku.

“Awaaas!” beberapa orang yang menonton balap liar dari tepi jalan berteriak padaku dan juga pembalap motor lainnya. 

Ajaib. Hujan gerimis mulai turun. Suasana gerah pun mulai menyusut. Kesialan berikutnya adalah, aku tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi situasi turunnya hujan. Persetan dengan hal itu. Kutingkatkan kecepatan motor, dan kusalip beberapa pembalap lainnya yang kecepatannya sedikit berkurang akibat hujan yang turun semakin deras.

“Apa yang membuatmu terus bertahan di rumah meski Ayahmu bersikap begitu keras, Ar?” tanya Angel suatu siang selepas kuliah.

Aku tidak langung menjawab. Mataku waktu itu menerawang ke langit-langit kafetaria fakultas kedokteran yang mulai ramai pengunjung. Angel masih menunggu jawabanku, kedua tangannya bertumpu di atas tumpukan buku tebal yang menjadi sahabatnya kemana-mana.

“Ibu dan kedua adikku.” Jawabku akhirnya.

Angel melengkungkan senyum manisnya. Pantas saja banyak laki-laki di kampus, termasuk juga beberapa yang kutaksir, bisa bertekuk lutut di depannya.

“Kalau begitu, berjuanglah buat mereka, jangan malah menyakiti diri sendiri.” Lanjut Angel.

“Menyakiti diri sendiri?” tanyaku.

Angel segera menyahut lagi,”Ya anggap saja kalau dengan mengingat Ibu dan adik-adikmu, mereka  bisa menjadi reminder, semacam pengingat kalau kamu mulai mau balapan lagi. Aku nggak nyalahin kamu sebagai cewek yang hobi balapan, masalahnya aku tahu apa alasannya kamu ngelakuin itu.”

“Mulai deh ceramahnya,” tukasku membuat lengkungan senyum Angel berubah lurus. Sebal.

“Kalau kamu tidak berhati-hati waktu naik motor, dan malah menantang maut dengan balapan liar, aku rasa kamu tidak benar-benar menyayangi keluargamu. Semua omonganmu itu omong kosong. Kalau kamu sampai celaka lalu tewas, habis perkara. Tapi ada air mata yang akan terus jatuh, itu air mata ibumu dan adikmu yang kamu sayang.”

Semua omonganmu itu omong kosong.
Aku rasa kamu tidak benar-benar menyayangi keluargamu.

Seolah waktu terhenti ketika ucapan Angel terngiang terus-menerus. 

“Hei, hati-hati!” seorang pembalap motor sport hijau mengumpat keras setelah aku hampir menyerempet motornya.

Luar biasa lucu sekali. Seseorang yang sedang memacu kecepatan motornya di jalanan, mengumpat keras ketika motornya tak sengaja diserempet. Apakah mereka juga masih takut mati? Kendali motorku semakin tidak stabil, ini pasti gara-gara aku sulit berkonsentrasi.

One second left, rodaku mulai selip.
Third second  left, pandanganku mulai mengabur akibat kaca helm mengembun gegara hujan.

“Satu koma? Nilai IP macam apa ini? Kamu bisa terancam DO kalau begini terus? Sebenarnya apa yang kamu inginkan?” teriakan Ayah kali ini lebih kencang dari biasanya.

Sebuah surat peringatan dari kampus kuberikan pada Ayah. Tentu saja ia tahu apa yang kuinginkan. Aku ingin belajar bahasa dan sastra, bukannya mempelajari nama-nama penyakit dan juga anatomi tubuh manusia yang membuatku muak.

“Kurasa Ayah sudah tahu.” Ujarku dengan mata menantang. 

Tak perlu dijelaskan lagi bagaimana Ayah menampar pipiku. Semua itu sudah bukan lagi menjadi cerita sedih. Hanya saja tatapan iba Ibu dan juga sorot takut dari mata adik-adikku, kali ini tidak menyurutkan kakiku untuk mengambil kunci motor dan menembus malam sunyi.

Kali ini, maut jenis apa yang akan menyapaku? Patah kaki karena terserempet truk sudah pernah kucicipi. Kepala nyaris hancur akibat terserempet aspal juga sudah pernah kurasakan. Semuanya tidak berhasil mengantarkanku menuju dunia berikutnya. Buat apa aku hidup lama-lama jika untuk bermimpi pun dilarang? Bukankah orang yang tidak mempunyai mimpi dan dipaksa menjalani hidup orang lain sama dengan zombie? Aku lebih pantas mati.

Bruuk. Sebuah benturan keras mengembalikanku lagi di dunia nyata. Ada kilat-kilat cahaya menerobos mataku. Hujan deras mengalir di pipiku, bibir dan tubuhku kuyup oleh bulir hujan sekaligus air mata.

Kalau kamu sampai celaka lalu tewas, habis perkara. Tapi ada air mata yang akan terus jatuh, itu air mata ibumu dan adikmu yang kamu sayang.

Tubuh pembalap yang memakiku tadi terguling-guling di jalan setelah ban motornya selip. Kakiku mengerem mendadak. Kalimat Angel seolah menjadi hymne di kepalaku.

Bukan tubuhku yang sedang bersimbah darah itu, namun ketakutanku kali ini telah mengalahkan rasa amarahku. Siluet wajah Ibu, adik-adikku, Angel, sibuk bergantian menghantui pikiranku. 

“Kendarai motormu dengan benar. Gunakan helm dan juga jaga kecepatannnya, jangan menggunakan emosi ketika mengendarainya.” Itu yang  selalu dipesankan Angel padaku.

Kali ini, aku patuh padanya. Karena kematian itu sedang terwujud di depan mataku. Darah itu milik orang lain, namun aku sudah sedemikian gemetar ketika melihatnya.




(Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen 'Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.' #SafetyFirst. Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Honda Motor dan NulisBuku.com)

0 komentar:

Post a Comment

mohon memberi komentar dengan sopan dan tidak mengandung SARA .. terima kasih telah berkunjung ^_^


 

Kata Reffi Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos

badge