.comment-content a {display: none;}

Friday, 19 February 2016

Pembenci Kopi

Diposkan oleh Reffi Seftianti di 19:02
Response 


Darani sangat membenci kopi. Sama seperti kebenciannya pada omong kosong soal cinta. Para pecandu kopi menyatakan jika biji kopi hitam yang sudah diracik menjadi minuman panas atau hangat, bisa menimbulkan gairah, memicu kreativitas dan juga menghalau kantuk. Menurut Darani, itu adalah ocehan omong kosong. Darani berpendapat kalau semua dukungan terhadap kopi itu hanya untuk menutupi kelemahan diri.

Orang yang tidak betah begadang dan ingin sok-sokan kuat, minum kopi.
Orang yang memang dasarnya malas, menjadikan kopi sebagai stimulan.

Kalau memang benar-benar kuat, seseorang tidak butuh kopi sebagai pemicunya. Sama dengan cinta. Orang lain bilang, bahkan beberapa mantan kekasih Darani menyatakan kalau cinta membuat hidup jadi lebih berwarna. Darani tertawa tiap kali hal itu diungkapkan. Dia akan segera kehilangan ketertarikan pada pria-pria yang ia kencani jika sudah mengagung-agungkan cinta.

Orang bisa hidup karena kesedihan dan takut kehilangan. Seperti ibu Darani yang sangat takut jika putrinya tiba-tiba mati mendadak akibat asma yang diidap dari bocah, makanya ibu Darani sangat memanjakan putrinya. Sampai-sampai Darani begitu sebal.

Cinta itu hanyalah bagian dari hasrat. Hasrat ingin melindungi, hasrat ingin memiliki dan hasrat ingin menguasai. Darani hanya percaya ketulusan cinta itu pada Tuhan. Walau begitu sinis dengan hidupnya, Darani sangat percaya pada Tuhannya. Cinta Tuhan tidaklah egois. Manusia boleh memilih baik atau buruk, dan Tuhan tetap akan memberi berkah atau ujian yang ujung-ujungnya menyadarkan besarnya cinta Tuhan pada manusia.

“Pendapatmu itu salah, Ni,” ujar Awan membantah semua teori Darani di saat mereka sedang makan siang bersama di kafe dekat kantor.

Awan adalah laki-laki yang sangat percaya tentang cinta, bukan soal kopi. Mirip dengan keyakinan bahwa orang yang sedang jatuh cinta atau patah hati akan selalu mellow mendadak tiap kali hujan turun.

“Salah dari mananya? Bukannya logikaku juga ada benarnya meskipun berlawanan dengan orang kebanyakan?” sahut Darani lebih sebal lagi. Ia merasa jika Awan tertarik padanya, tapi sejauh ini Awan lebih sering membantah pendapatnya.

“Iya, memang cinta yang ada di hati manusia itu penuh dengan keinginan macam-macam, tetapi ada juga manusia yang memilih untuk mengerem keinginannya dalam diam dan melepaskan orang yang ia cintai,” kata Awan lagi.

Pikiran Awan melayang jauh di pertemuan pertamanya dengan Darani. Gadis bertubuh sedang, posturnya langsing menggoda dan juga rambut lebat hitam yang lebih sering dikuncir, sudah menjadi magnet di kantor penerbitan tempatnya bekerja. Darani juga sudah dua kali berpacaran dengan dua orang berbeda di kantor penerbitan, tetapi semuanya berakhir menyedihkan. Menyedihkan bagi mantan-mantan pacarnya karena Darani selalu menjadi pihak yang meninggalkan.

Awan sebenarnya salah satu korban magnet Darani, namun ia hanya bisa diam. Menjaga jarak terdekat agar tidak ada drama meninggalkan atau ditinggalkan. Ia menjaga jarak sampai batas ‘teman dekat’.

“Apakah ada?” tantang Darani. Ia ingin Awan segera mengakui kekalahannya.

“Ada,” jawab Awan singkat. Kuah supnya sudah mulai mendingin karena ditinggal berdebat dengan Darani.

Darani memutar-mutar pisaunya. Dory steak di hadapannya tidak membangkitkan selera.

“Ada yang lagi ngedeketin aku, Wan. Namanya Billy, anak bank sebelah yang gajinya berjut-jut itu. Ganteng, pendiam, cool, ah kayanya ini cocok buat dijadikan suami,” lagi-lagi Darani curhat soal laki-laki yang mendekatinya.

Awan berusaha tampil tenang. Dan aktingnya memang tak pernah terbongkar selama ini.

“Serius mau kamu jadiin suami? Bukannya tiap cowok yang ngedeketin kamu selalu kamu puji-puji kaya gini, sebelum kamu bosan dan ninggalin mereka dengan segala macam alasan,” sindir Awan.

Darani berhenti mengunyah. Bibir tipis merah mudanya mengerucut,”Please deh Wan, napa kamu sinis banget sih sama aku? Mantan-mantanku kuputusin kan karena emang bikin aku ilfil. Ada yang males banget nggak punya visi, ada yang berantakan banget rumahnya dan kalau kusuruh buat beres-beres malah sebel, aku nggak mungkin hidup sama orang yang nggak sevisi,” omel Darani.

“Jadi tujuanmu itu apa dalam relationship? Habis manis, ilfil dibuang?” balas Awan, kali ini ia benar-benar kehilangan selera makan.

“Pergi deh kamu, males banget punya temen yang nggak support kaya kamu!” Darani menghentakkan garpunya sampai piring steak berdenting.

Awan mengangkat tubuhnya, sudah tidak tahan lagi,”Kamu memang selalu ingin menang sendiri, Ni.”

Darani tercenung. Baru kali ini Awan bisa semarah itu sampai tega meninggalkannya sendirian. Biasanya Awan akan melayani dengan sabar semua kecerewetan Darani. 

Kini ia mulai membenci Awan, sama seperti kebenciannya pada kopi.

Esok harinya, babak baru Darani dimulai. Awan tidak lagi mengajaknya makan siang bersama. Awan membiarkan Darani sendirian. Darani juga tak merasa kehilangan, sebab Billy sudah siap menjadi tukang antarnya kemana-mana.

No more late night call with him.
No more useless debate with him.
No more holding arms when she is sad.

Billy tidak suka kopi sama seperti Darani. Billy menyukai semua pendapat Darani, bahkan ia tak pernah marah meskipun Darani sering berkomentar pedas. Laki-laki idaman bukan?

Namun gejala bosan mulai mendera ketika Billy bicara soal cinta. Ini seperti kutukan, dan Darani mulai ketakutan.

Apa yang dirasa ketika kita kehilangan seseorang? Sesak, kegilaan tahap awal, dan hasrat untuk selalu bisa melihat wajahnya. Padahal orang  itu pergi atas permintaan kita sendiri. Darani mengalami semua itu. Kekosongan di tiap makan siang. Terus melihat ke arah ponsel seperti orang gila tiap malam, berharap Awan akan menghubunginya bukannya Billy.

Jadi di hari keduapuluhsatu perang dinginnya dengan Awan, Darani nekat naik taksi mengunjungi kontrakan Awan. Kakinya berat. Pikirannya sibuk komentar macam-macam. Tahu-tahu  Darani sudah mengetuk pintu dan melihat Awan sedang membaca majalah.

“Ada apa, Ni?” tanya Awan singkat. Dingin.

“Jangan pergi, jangan meninggalkan. Aku sudah tahu rasa sakitnya,” ucap Darani. Kalut.

“Tapi Billy? Nanti kamu juga sama bosannya sama aku kalau kita melangkah lebih jauh,”

“Billy udah kuputusin. Sst, udah jangan kebanyakan omong,” Darani meletakkan telunjuknya di bibir Awan.

Awan memeluk Darani. Berjanji tidak akan melepaskannya lagi.
Darani tidak ingin pergi.

 






2 komentar:

Dedaunan Hijau on 21 February 2016 at 22:35 said...

ini buat lomba FF ya mb
semoga menang ya, bagus ceritanya

Reffi Seftianti on 22 February 2016 at 06:30 said...

iya mbak, amiin makasih doanya hehe :D

Post a Comment

mohon memberi komentar dengan sopan dan tidak mengandung SARA .. terima kasih telah berkunjung ^_^


 

Kata Reffi Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos

badge