Thursday, 31 March 2016

Hebohnya Keluarga Besar


Berbicara tentang keluarga besar pasti saya akan merujuk pada keluarga Mama. Eyang putri atau yang selalu saya panggil dengan sebutan Mbah Uty memiliki putra dan putri sebanyak tujuh orang dan lebih hebohnya lagi, keluarga Mbah Uty dan Mbah Kung (kakek) juga berasal dari keluarga yang jumlah anaknya cukup banyak. Bisa dibayangkan betapa hebohnya saat lebaran tiba. Berbeda dengan keluarga Papa yang tidak terlalu riuh.

Saat sedang melakukan perkumpulan keluarga, hal-hal yang paling menyenangkan adalah ketika sedang bercengkerama dan melempar candaan. Keluarga Mama sebagian besar memiliki watak khas masyarakat Jawa Timur yang cenderung blak-blakan, senang bercanda, memiliki watak keras namun empati pada orang lain sangat tinggi. Saya sendiri malah  menjadi tidak terlalu berisik ketika bertemu dengan keluarga besar. Menikmati candaan kerabat yang lain, bermain bersama para sepupu yang lucu dan juga menyelami nasehat-nasehat dari para kerabat yang usianya jauh lebih tua, ialah sebuah aktivitas yang tidak membosankan.

Hal penting lainnya kenapa berkumpul bersama keluarga besar itu perlu, supaya kita mengenali saudara jauh kita sendiri, mempererat tali persaudaraan, serta tidak terputus tali silaturahminya. Bayangkan saja jika kita tidak mengenali saudara sepupu sendiri, bisa terjadi kesalahpahaman antar keluarga hanya karena keegoisan masing-masing. Jika akrab dengan keluarga besar, maka sama dengan kita menambah relasi. Menjaga hubungan baik dengan kerabat bukanlah sebuah selingan melainkan kewajiban. Cukuplah setahun sekali meluangkan waktu untuk berlibur bersama keluarga maka kesempatan untuk mengakrabkan diri pun bisa lebih banyak.

Menjaga tali silaturrahmi itu penting bukan karena hanya sebagai tuntutan agama, tetapi ada sisi humanis lain yang bisa dilanjutkan. Kalau di dalam keluarga basar saya, jika ada salah satu kerabat yang menyelenggarakan hajatan, pasti anggota keluarga lain berbondong-bondong datang untuk menawarkan bantuan bahkan yang di luar kota seperti Madiun, Kediri, hingga Balikpapan pasti akan menempatkan diri. Dari sini saya belajar betapa manusia benar-benar tidak bisa lepas dari orang lain. Yang namanya keluarga besar sesekali terjadi perselisihan itu wajar, yang paling penting adalah selalu bersikap terbuka dan menjaga sopan santun antara yang tua dan yang muda. Itulah yang diajarkan di dalam keluarga besar saya.

No comments:

Post a Comment

mohon memberi komentar dengan sopan dan tidak mengandung SARA .. terima kasih telah berkunjung ^_^