.comment-content a {display: none;}

Sunday, 6 March 2016

Ketika Ulat Belajar Menjadi Kupu-kupu

Diposkan oleh Reffi Seftianti di 08:15
Response 

sumber : sertomabutterflyhouseandmarinecove.org

Manusia itu seringkali terjebak dalam pikirannya sendiri. Keraguan, rasa takut, trauma, kesedihan berlarut, selalu menjadi bayangan gelap yang siap menerkam manusia dari sisi belakang. Dari suatu tempat dan waktu yang tidak kita ketahui, maka semua kegelapan yang meringkus hati dan juga mengeruhkan otak akan datang. Tidak bisa dihindari sama sekali.

Adakah yang pernah berpikir untuk menyerah dalam menjalani impiannya? Berhenti berdoa karena lelah, menganggap Tuhan masih belum juga mengabulkan permohonannya? Atau mungkin ada yang sedang berjibaku dengan masa lalunya? Selamat, jika anda mengalaminya maka anda-anda benar manusia.

Saya pun pernah mengalaminya. Tiap orang punya sisi atau cerita yang akan membentuk watak dan perilaku di masa kini. Dulu sekali, sewaktu masih anak-anak, saya adalah seorang anak yang bising dengan banyak pertanyaan dan juga sangat ingin memiliki teman sebanyak mungkin, sampai pada suatu titik mengalami kejadian tidak enak dalam pertemanan. Berkali-kali sampai rasa percaya itu menurun drastis, sampai minus. Anak kecil yang semula ceria, akhirnya memilih untuk mengurung diri dalam dunia tulisan dan juga buku pelajaran. Perpustakaan adalah tempat sunyi yang menjadi tempat favorit. Ada beberapa kawan baik, namun semuanya tidak diberi kesempatan untuk saya jadikan sahabat yang bisa mengetahui semua rahasia atau keluhan saya.

Manusia adalah makhluk yang berpotensi saling menyakiti. Namun manusia juga punya kemampuan untuk saling menyembuhkan.

Rupanya Tuhan punya cara untuk memaksa saya untuk tidak diam saja di pojokan. Rangkaian peristiwa tak terduga yang semula saya pikir bukanlah peristiwa penting, membuka selubung yang saya bangun beberapa tahun sejak lulus sekolah dasar. Di sekolah menengah pertama terbaik di daerah saya, tiba-tiba saja saya dicalonkan menjadi kandidat ketua OSIS yang harus mengampanyekan visi dan misi di depan ribuan orang saat upacara sekolah. Saya pernah ikut lomba mendongeng, tapi berpidato bukanlah ranah saya. Sudah cukup nyaman dalam dunia tulisan yang tidak mengharuskan saya tampil di depan umum. Gila? Ini bukanlah seratus persen tujuan saya untuk bersekolah. Singkat cerita, saya berpidato, dan teman-teman sekelas bahkan sampai membentuk tim sukses sambil berusaha menggalang suara untuk memenangkan saya.

Hasilnya, memang saya tidak menang. Namun saya menjadi tim inti OSIS menjabat sebagai bendahara. Setahun kemudian, tiba-tiba saja rutinitas saya berubah. Tidak hanya rumah, sekolah, tempat les, dan tempat mengaji. Kini bertambah lagi satu rutinitas yaitu aktivitas OSIS dan juga kesibukan menyelenggarakan acara-acara sekolah.

Waktu saya harus melakukan pidato di depan ribuan orang, apa yang saya rasakan? Gemetar sekali. Saya sampai ingin pingsan saking takutnya. Dan keanehan berikutnya, saya memiliki teman-teman yang menyenangkan. Dan kenangan selama duduk di bangku sekolah menegah pertama adalah titik balik buat si gadis remaja pendiam yang kartu pinjaman buku di perpustakaan paling penuh di kelas.

Selanjutnya, di sekolah menengah atas, saya malah mengalami kejutan lagi. Setelah mulai bisa berteman akrab lagi, muncul tiga orang cuek yang punya karakter berbeda-beda menjadi sahabat saya. Dua orang lagi di masa kuliah dan satu lagi di tempat kerja. Tidak semua orang yang tertawa bersama saya atau pernah berlibur bersama bisa saya anggap sebagai soulmate. Kawan akrab mungkin iya, tetapi tidak terlalu menjadi bagian emosi yang penting. Beberapa orang yang saya anggap soulmate itu, memahami semua karakter, kelebihan dan juga kekurangan saya dengan amarah, kesabaran sekaligus berpadu kepedulian. Saya seperti diberi hadiah tidak terduga. Sahabat sejati itu benar-benar ada. Meski saya sempat menganggapnya tidak eksis.

Dari segala macam kondisi dimana saya ‘terpaksa’ melakukan, malah mendekatkan saya pada satu pembentukan baru. Ulat memang sudah seharusnya menjadi kupu-kupu. Manusia yang sinis dan apatis sekalipun, sudah seharusnya belajar membuka diri. Terpaksa berpidato, malah membuka bakat berbicara saya. Dan bagi orang-orang yang pernah berada pada satu event dengan saya, tidak akan menyangka jika gadis yang sangat senang menjadi MC ini dulunya sempat takut bicara di depan umum.

Tidak ada manusia gagal, yang ada hanyalah manusia yang tidak mau memahami dirinya sendiri. Ada pepatah lama mengatakan, manusia benar-benar dekat dengan Tuhan ketika mampu mengenali dirinya sendiri. Anda siap memilih, anda siap menghadapi kesalahan, lalu anda mau belajar untuk tidak lari dari ketidakberhasilan. Itulah tugas manusia, makanya kita punya hati dan akal. Saya dan anda juga perlu belajar jadi kupu-kupu.
sumber ; www.thequotepedia.com
sumber : geniusquotes.org


2 komentar:

Bulan Kecil on 6 March 2016 at 23:45 said...

Sangat inspiratif, saya sangat setuju. Manusia juga bermetamorfosis dalam hidupnya ya, kita gak perlu takut gagal, tapi takut untuk berhenti mencoba. Have a fabulous day!

Blogwalking juga yuk ke diaryofsyf.blogspot.com

Reffi Seftianti on 6 March 2016 at 23:57 said...

selamat bermetamorfosis :)

Post a Comment

mohon memberi komentar dengan sopan dan tidak mengandung SARA .. terima kasih telah berkunjung ^_^


 

Kata Reffi Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos

badge