Monday, 1 August 2016

Menjadi Penulis, Jangan Serakah


Setelah beberapa kali menerbitkan buku lalu mendapatkan proyek dari blog, muncullah yang namanya fase jenuh. Menurut banyak artikel kepenulisan yang saya baca, jika benar seseorang itu mencintai dengan tulus aktivitas kepenulisannya, maka rasa jenuh atau writers block hanyalah isapan ibu jari belaka. Maka dengan ini saya nyatakan, jika ada penulis baik pemula atau profesional yang tidak pernah jenuh dengan kegiatan menulis atau tidak pernah malas, saya katakan mereka sebagai manusia super. Karena secinta-cintanya terhadap suatu hal, pasti akan ada masanya titik jenuh. Bahkan saat mencintai manusia yang tak bisa ditebak hati dan pikirannya saja kita bisa jenuh jika sudah berhubungan dalam rentang waktu lama, apalagi benda mati seperti kertas, pena dan komputer.

Di satu titik setelah beberapa tulisan saya mendapatkan respon yang cukup baik dari pembaca buku, antologi atau blog, semangat saya semakin terpacu untuk terus menulis. Saya mencoba untuk mengikuti berbagai lomba, proyek menulis atau menargetkan untuk membuat buku lagi. Hampir tiga minggu ini saya selalu menyempatkan waktu untuk menulis buku baru lagi, setelah novel keempat rilis. Ya, satu buku teenlit selesai, lalu muncul hasrat lagi untuk membuat novel tentang pencarian jati diri, mendadak di tengah perjalanan saya ingin menulis dongeng karena saya pecinta dongeng. Semua ide dan keinginan bercampur aduk. Hasil akhirnya saya lelah, bingung tak tentu arah. Hmm, rupanya saya terlalu serakah.

Saya memang mencintai tantangan. Meski sebenarnya genre tulisan favorit saya adalah fiksi fantasi dan juga dongeng, maka saya menulis romance yang galau atau teenlit inspiratif. Saya merasa bangga ketika pembaca senang dengan karya yang saya buat. Namun lama-kelamaan, ada sesuatu yang kosong. Saya seolah menjadi penulis yang sekadar menuruti hasrat penggemar, tetapi mengabaikan perasaan saya sendiri. Kejenuhan pun melanda. Wah, ini sinyal bahaya kalau saya sampai ogah menulis.

Maka saya pilah dan pilih lagi. Beberapa lomba menulis saya sortir lagi, supaya saya tidak terkungkung deadline padahal saya juga disibukkan aktivitas di kantor. Satu karya teenlit yang baru selesai, akan saya edit lagi supaya lebih sempurna. Proyek selanjutnya, saya akan menulis dongeng sepertinya, sudah lama saya memimpikan untuk memiliki buku dongeng sendiri. Oya, proyek buku di wattpad juga harus saya lanjutkan, karena draftnya sudah finish tinggal posting. Saya akan menjalankan proyek menulis yang tidak banyak membuat saya berpikir keras atau merasa terpaksa mengerjakannya.

Maka setelah perenungan, saya yakin penulis yang baik memang penulis yang menulis dengan disiplin namun yang paling utama adalah mencurahkan hati dan pikiran sepenuhnya dalam tulisan. Ambisi untuk diterbitkan atau menang kompetisi memang tidak salah, tapi jangan sampai bertentangan dengan hati kecil. Bisa jadi kita terlalu berambisi, sampai lupa badan juga dapat kelelahan. Menulis seharusnya menjadi kegiatan menyenangkan. Well, mari berhenti menjadi penulis serakah sampai-sampai semua hal ingin ditulis. Fokus pada karakter menulis kita. Jangan terpukau dengan gaya tulisan orang lain. Be the happy writer!

3 comments:

  1. Aku baru dimuat tiga cerpen di jaman baheula duluu, udah mandeg, kalah dengan kesibukan kerja & berumah tangga. Jadi belum sempat serakah :D
    Sekarang baru mulai memacu diri lagi, nulis, nulis, jangan dikalahkan melulu sama kesibukan lain

    ReplyDelete
  2. Jangan jadi penulis serakah #noted

    ReplyDelete
  3. all: makasih sudah mampir.. hmm ini sebagai self reminder saya juga :D

    ReplyDelete

mohon memberi komentar dengan sopan dan tidak mengandung SARA .. terima kasih telah berkunjung ^_^