Sunday, 14 August 2016

Penghargaan, Ketika Kami Mematahkan Kemustahilan


Setahun lalu saya masih ingat, saat satu tim tari kreasi atau dance dari salah satu induk perusahaan yang berhasil menjadi salah satu grand finalis kompetisi, sedang beraksi di depan seluruh peserta jalan sehat. Mata saya tidak bisa lepas dari kelincahan ketiga grand finalis dan juga tubuh saya ikut bergoyang menikmati musik yang menghentak ceria.

Induk perusahaan saya, Indoprima Group,rutin mengadakan kompetisi antar anak perusahaan dalam berbagai bidang olahraga. Menjelang bulan Agustus, tiap perusahaan berlomba-lomba mengirimkan kandidat terpilihnya untuk lomba tenis meja, voli, futsal, dan salah satunya adalah senam kreasi. Semenjak saya melihat penampilan menarik para grand finalis senam kreasi, entah kenapa saya membayangkan jika tim dari PT Jatim Taman Steel dimana saya bekerja, nantinya juga pasti bisa tampil memikat seperti itu.

“Kalau kamu berani tampil seperti itu sama temen-temen yang lain, aku dukung deh Ref,” ujar salah seorang kawan sekantor saya.

Saya terbahak. Musik dan tarian adalah salah satu yang selalu bisa menghibur saya di saat sedang jenuh menulis, bekerja atau saat ingin rileks. Dari zaman sekolah, saya ingin sekali bisa tampil menari dengan iringan musik menghentak di depan banyak orang. Bukan untuk gaya-gayaan, tetapi karena menari dalam sebuah tim itu memiliki kesulitan tersendiri. Dan tentunya juga sangat asyik. Tantangan yang belum pernah saya lakukan, menggelitik saya untuk sesekali mencobanya.
Pidato di depan umum dengan bahasa asing? Sudah sering.
Mengikuti lomba debat? Sudah pernah juga.
Ikut lomba mendongeng? Iya itu lomba yang saya senangi saat SD.
Menjadi pembawa acara sebuah event? Sudah terlalu sering.
Bernyanyi iseng-iseng di depan food court sebuah mal? Meski dengan membaca lirik, beberapa kali saya sudah mencobanya.

Dan kalau untuk menari dengan tim di depan orang banyak, ini baru dua kali saya coba namun bukan dalam bentuk kompetisi. Awalnya saya suka dengan kegiatan ini adalah saat di SMP dulu ada sebuah kegiatan untuk membuat gerakan senam dengan musik pilihan sendiri. Lalu aktivitas kesenian beregu yang harus dipilih saat ujian akhir sekolah seperti membentuk band atau dance. Pilihan saya dan beberapa kawan waktu itu adalah membentuk tim dance. Meski tidak terlalu berbakat, setelah beberapa kali latihan, gerakan saya sudah cukup baik mengikuti irama. Berkeringat dengan cara menyenangkan, itulah sisi asyiknya dari dance.
Makanya saya sempat mengikuti pemilihan anggota cheerleader ketika menjadi siswi SMU. Meskipun terpilih sebagai salah satu anggota inti, nyatanya Papa melarang saya menjadi anggota cheerleader. Katanya saya takut tidak fokus belajar dan malah asyik menari.

Itulah sebabnya, ketika tahun ini saya memiliki kesempatan untuk bisa mengikuti kompetisi senam kreasi atau kata lainnya tari kreasi, saya segera mendaftarkan diri. Mencari 4 anggota lainnya, lalu mencari instruktur yang tepat adalah tantangan berikutnya. Bukan penghargaan yang saya cari, namun bagaimana merasakan atmosfer kompetisi tari seperti yang saya idam-idamkan selama ini.


Berkumpulnya Para Anggota

Akhirnya saya mendapatkan empat kawan lainnya yang mau saya ajak menjadi tim tari kreasi, walau ada yang juga dengan sedikit paksaan, hahahah. Peraturan dari grup adalah anggota harus lima orang, tidak boleh lebih dan kurang. Tema musik dan tarian adalah etnik dengan unsur hip hop. Pada tanggal 6 Agustus, seluruh tim tari dari anak cabang Indoprima Group akan bertanding untuk memperebutkan posisi tiga besar menuju grand final. 

Setelah berkumpul dengan tim, saya langsung berkata begini,”Tim Jatim Taman Steel (JTS) harus bisa dapat tiga besar!”

Kontan saja teman-teman satu tim saya sedikit terkejut. Hanya satu orang di dalam anggota kami yang terbiasa menari di depan umum yaitu menari yosakoi. Saya sendiri tak punya pengalaman ikut kompetisi dance, hanya menari tradisional di zaman TK. Malah salah seorang kawan setim ada yang sulit mengkordinasikan tubuh dengan musik, dan agak bingung dengan arah kanan atau kiri. Singkatnya, kami bukanlah tim yang ideal. Tentu saja dengan target yang saya pasang dan pengalaman perusahaan kami yang tidak pernah lolos tiga besar sebelumnya, sedikit membuncahkan rasa pesimis.

“Jangan ketinggian pasang targetnya, takutnya kita malah stres,” kata salah satu kawan lainnya.

“Nggak boleh loyo. Pokoknya JTS harus tiga besar. Biar kita bisa tampil di acara grand final!” pungkas saya masih penuh semangat. 


Latihan dan Ancaman Kegagalan

Perusahaan sudah memberikan dana untuk biaya instruktur dan juga membeli kostum. Masalah utamanya adalah kami tidak ahli membuat gerakan dance dengan tema etnik dan hip hop. Kami masih awam. Bisa dibilang saya lebih pandai meniru gerakan daripada menciptakannya. Lebih mudah menulis dan ngeblog daripada membuat kreasi tarian. Alhasil kami menyusun budget lebih banyak agar bisa lebih sering latihan bersama instruktur.

Latihan dimulai dua bulan sebelum perlombaan. Dari latihan pertama, wow gerakannya sangat banyak sekali dan juga tak mudah dihapalkan. Lucu sekali jika mengingat awal-awal latihan. Kadang saya lupa gerakan, kaki kram mendadak, salah membaca arah atau tubuh yang terlampau kaku untuk mengikuti arahan instruktur. Beruntungnya kami, instruktur dance yang biasa kami sapa Mbak Meli itu sangat sabar dalam melatih. Dia adalah seorang instruktur profesional dengan jam terbang tinggi, makanya variasi gerakan dan pilihan musik pun sangatlah cermat.

Setelah beberapa kali pertemuan, eh ada salah satu anggota yang terancam tidak bisa ikut karena larangan orang tua. Saya jadi ingat pengalaman di masa SMU. Gara-gara larangan orang tua saya pun batal mengikuti hasrat saya untuk berlatih dance. Saya dan rekan satu tim berusaha mencari calon pengganti, tetapi hasilnya NIHIL.

Tidak banyak yang memiliki kepercayaan diri untuk tampil di depan umum. Saya jadi sedikit cemas. Apakah target yang saya canangkan sebagai kordinator tim itu terlalu tinggi? Apakah ini karena saya terlalu berambisi? 

Mengingat semangat kawan-kawan satu tim yang meluangkan waktu setelah jam kerja dan berlatih sampai malam, membuat pikiran trenyuh. Jangan sampai kali ini gagal lagi. Kami sudah mempersiapkan diri jauh lebih lama dari tim-tim di tahun sebelumnya. Sudah tinggal satu bulan sebelum hari kompetisi.

Tim Dance JTS


Sebelum dan Saat Kompetisi

Syukurlah, salah satu kawan saya yang terancam batal ikut masih bisa melanjutkan latihan. H-1 lomba, kami berlatih dengan semangat. Kostum pun sudah kami persiapkan. Saat sedang serius berlatih, praak, topeng putih milik saya tidak sengaja terinjak teman lainnya saat menari. Semuanya langsung diam. Topeng itu adalah salah satu properti penting  di gerakan pembuka. Jam sudah menunjukan angka setengah delapan malam, sudah tidak ada toko topeng yang buka di jam selarut itu.

Kami berhenti latihan dan segera mengumpulkan pecahan topeng. Di sini kesabaran kami diuji. Rekahan itu ditempelkan dengan double tape dan lem. Saya berterima kasih untuk teman-teman yang rela pulang malam demi menyusun topeng saya.

Ini topeng saya yang retak dan dilem ulang

Dan tibalah harinya. Kami mendapat giliran tampil ketiga. Dengan kostum celana batik dan kaus putih dengan make up cukup heboh, kami maju dengan gembira. Musik menghentak, seluruh audiens bisa menikmati musik dan juga nampak terhibur dengan penampilan kami. Tak ada pikiran takut salah, hanya menari dengan enjoy yang kami lakukan.

Tim lainnya tampil dengan kostum yang keren dan tarian yang tak kalah kompak. Kami berusaha tenang, apalagi saat pengumuman tiga besar. 

“Daan tiga tim terbaik yang akan tampil di acara puncak adalaah, hmm yang pertama melaju dari Jatim Taman Steel!!!” pekikan MC membuat kami melonjak girang.

keceriaan setelah pengumuman tiga besar

Ini melebihi sebuah pengumuman juara. Perjuangan saya dan kawan-kawan terbayar. Tiga besar yang semula terlihat mustahil, kini sudah berada di dalam genggaman. Saya menganalogikan begini, sebuah keberhasilan dari perjuangan yang awalnya terlihat mustahil ibarat kita hendak berbelanja barang yang sulit dicari lalu tiba-tiba mendapat kesempatan voucher belanja Sodexo cuma-cuma. Bisa jadi perjuangan mencari barang belanjaan itu rumit sekali, namun usaha terbayar dengan adanya voucher. Begitupula dengan keberhasilan tim kami. Kami berlatih keras dulu, baru mendapat golden ticket menuju grand final. Penghargaan terbaik bagi pembeli adalah merchant yang berkualitas seperti merchant Sodexo. Dan penghargaan terbaik untuk pendukung tim tari kami adalah penampilan yang menghibur. Penghargaan lebih bermakna jika diperoleh dari sebuah perjuangan keras dan juga dukungan dari hati yang tulus. Semoga tim saya mendapat jawara utama. 




4 comments:

  1. Perjuangan sebetulnya sudah dimulai ketika kita menyanggupi. Ceritanya bikin saya jadi ikut semangat.. ^_^.

    ReplyDelete
  2. makasih sudah mampir, semoga sama2 semangatnya :D

    ReplyDelete
  3. Selalu haus dengan tantangan baru dan berani pasang target.

    ReplyDelete

mohon memberi komentar dengan sopan dan tidak mengandung SARA .. terima kasih telah berkunjung ^_^