.comment-content a {display: none;}

Saturday, 11 February 2017

Perlawanan, Perjuangan dan Cinta yang Mengenaskan

Diposkan oleh Reffi Seftianti di 08:27
Response 



Judul Novel        : Entrok
Penulis                 : Okky Madasari
Jumlah Halaman : 282 halaman
Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama



  Entrok adalah sebuah potret kaum marginal yang dibuat dalam potongan cerita dari dua sudut pandang permepuan berbeda generasi. Rahayu dan Marni sukses mengajak saya untuk menyelami dua kisah dengan latar belakang sosial dan politik di kehidupan mereka masing-masing. Tulisan Okky Madasari ini sesungguhnya mengusung isi yang sangat padat, sangat lugas dalam menyindir, namun masih renyah untuk dibaca.

Cerita ini dibuka dari kehidupan Rahayu dan ibunya, Marni yang menderita sakit jiwa. Bab pertama belumlah menceritakan semuanya. Baru di bab kedua, kita akan diajak berkenalan dengan masa kecil Marni yang hanya tinggal dengan ibu kandung yang ia panggil Simbok. Masa kecil yang sangat sederhana mulanya dilalui Marni tanpa pernah banyak bertanya. Baru saat ia mulai beranjak remaja dengan pertumbuhan fisik yang makin kentara, mendorong satu keinginan kecil Marni yang tidak bisa dipenuhi Simbok. Ia ingin memiliki entrok, atau bahasa indonesianya bra.

Entrok yang banyak dijual di pasar, tidak bisa dibeli oleh Simbok. Marni sangat ingin memiliki entrok seperti sepupunya dan juga temannya yang cantik. Terbayang-bayang entrok mendorong pikiran Marni untuk mencari uang lebih banyak. Pada tahun limapuluhan, perempuan bekerja hanya diupah bahan makanan, amat sangat jarang yang menerima uang. Marni tak puas hanya menjadi pengupas kulit singkong seperti Simbok, ia pun menawarkan jasa sebagai kuli di pasar. Setelah perjuangan keras, entrok pertama bisa ia beli. Pundi-pundi uang yang dihasilkan Marni, dikumpulkan untuk mulai berdagang.

 Tak pernah ada cita-cita lain yang diturunkan orangtuaku selain bisa makan hari ini. Tapi aku mempunyai harapan dan mimpi. Setidaknya untuk entrok. (Halaman 45)

Insting bisnis Marni sudah terasah sejak remaja. Ia menikah dengan Teja, laki-laki yang malah tidak banyak berkontribusi banyak untuk perekonomian rumah tangga. Marni tumbuh sebagai perempuan pemuja aliran animisme dan dinamisme yang umum dipercaya warga desa di masa itu. Perekonomian yang baik, memiliki anak gadis yang cerdas, tidak diikuti keharmonisan dalam keluarga.

Rahayu, putri semata wayang Marni, tumbuh dengan rasa malu dan kebencian pada ibu kandungnya. Selain berdagang, Marni juga beralih profesi menjadi seorang rentenir. Para tetangga desa yang sukarela meminjam dan mau diberi bunga, di mata Rahayu sebagai sumber kejahatan ibunya. Namun Marni merasa tidak melakukan kesalahan karena para peminjam datang tanpa dipaksa. Ditambah lagi Rahayu sangat membenci kepercayaan yang ia anut. Rahayu beriman sebagai muslim serta menghindari semua praktek kepercayaan leluhur.

Novel ini memotret secara cerdas sebuah fragmen kehidupan warga desa yang sampai sekarang masih bisa kita temui. Budaya rasan-rasan, satu cerita kecil dibumbui dengan cerita lain dan juga prasangka terhadap kemajuan yang datang karena rasa iri. Rahayu memberontak pada ibunya dan menyebut jika ibunya sebagai kaum murtad. Ia memilih untuk jarang pulang ke rumah ketika mulai mengenyam bangku kuliah. Di sisi lain Rahayu juga miris dengan ketidakkonsistenan warga desa yang menghujat ibunya. Mereka menuduh ibunya memiliki pesugihan dan juga menghina profesi Marni sebagai rentenir, namun mereka masih saja terus datang meminta utangan.

Aku sebenarnya heran. Kalau orang-orang bilang berdosa, kenapa Pak Waji yang guru agama meminjam uang padanya? Kalau dia bilang Ibu pemuja leluhur, kenapa dia mau minta tolong pada Ibu?. (Halaman 83)

Suasana politik di Orde Baru yang diceritakan lewat sudut pandang Rahayu juga sangat menarik. Bagaimana pongahnya para tentara pada masa itu dan juga bagaimana politik disetir oleh partai penguasa diumbar tanpa sungkan oleh penulis. Gara-gara bersinggungan dengan ketidakadilan jugalah, Rahayu sampai harus mengalami masa pahit hingga terpisah lama dari keluarga serta melihat kematian suaminya.

Novel ini memiliki klimaks yang baik, walau tidak semenggelegar yang diharapkan sebab ending cerita sudah diungkap di bab awal. Hal ini menjadi sedikit kelemahan agar kita mau membaca di bab akhir. Tetapi penulis sangat piawai dalam menyajikan cerita mengenai kekuatan perempuan, ketidakberdayaan mereka, serta bagaimana mengolah perasaan setelah tahu jika mencintai bisa berakhir mengenaskan, bahkan cinta seorang ibu pada putrinya. Tulusnya cinta juga bisa mengobati semua permusuhan di masa lalu meski harus melalui episode terpisah dalam kehidupan mereka.

0 komentar:

Post a Comment

mohon memberi komentar dengan sopan dan tidak mengandung SARA .. terima kasih telah berkunjung ^_^


 

Kata Reffi Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos

badge