.comment-content a {display: none;}

Monday, 24 July 2017

Review The Monstrumologist: Pemburu Monster Kesepian

Diposkan oleh Reffi Seftianti di 07:17
Response 





Judul Buku                          :  The Monstrumologist
Penulis                                 : Rick Yancey
Alih bahasa                         : Nadya Andwiani
Jumlah halaman                   : 476 halaman
Tahun Terbit                      : Cetakan kedua, Mei 2017
Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Tak banyak yang bisa disajikan dalam sebuah buku dengan tema fiksi misteri selain ketakutan, thriller, efek suspense dan tentunya teka-teki yang bisa membuat pembaca penasaran. Apalagi jika berkaitan dengan cerita tentang monster dan makhluk dari dunia geap lainnya. Namun dalam novel The Monstrumologist ini, Rick Yancey seolah mampu mematahkan mitos tentang novel thriller. Dia bisa menyajikan sebuah drama relationship yang mengena, meski terjadi antara seorang ilmuwan ambisius dan anak remaja yang baru saja kehilangan keluarga.

Cerita dibuka dari seorang penulis yang dipanggil pemilik panti. Pemilik panti tersebut menunjukkan buku harian milik salah satu penghuni panti jompo yang wafat, bernama Will Henry. Singkat kata, cerita dalam novel ini diambil dari catatan yang ditulis Will Henry sejak ia masih pra-remaja. Dan isi catatannya sangat mengerikan, absurd  serta susah ditelisik kebenarannya.

Will Henry remaja harus kehilangan kedua orang tua dalam peristiwa kebakaran. Dalam sekejap ia kehilangan segalanya. Sepeninggal kedua orang tuanya, Will tinggal bersama Dr. Warthrop, seorang monstrumolog. Ayah Will begitu memuji sang dokter misterius. Setelah Will tinggal berdua dengan Dr. Warthrop, ia baru mengetahui apa saja yang dikerjakan ayahnya hingga jarang pulang ke rumah bahkan pernah juga meninggalkan rumah sampai beberapa minggu.

Dr. Warthrop selalu menyebut dirinya sebagai seorang ilmuwan namun merahasiakan apa yang sesungguhnya ia teliti. Sang Dokter sangat terobsesi untuk meneliti monster. Dan kali ini yang menjadi fokus utama penelitiannya adalah Anthropophagi, spesies ganas yang hobi makan daging manusia. Di suatu malam, seorang pencuri mayat membawa jasad seorang gadis yang hampir habis dimakan Anthropophagi. Sebuah misteri dimulai. Dr Warthrop curiga jika spesies yang stak pernah diketahui manusia itu jangan-jangan sudah memiliki habitat di tengah hirup-pikuk manusia. Hal itu bisa menjadi tanda bahaya.

 Seperti novel misteri lainnya, penulis pintar mempermainkan rasa penasaran dan juga intensitas ketegangan yang pasti membuat kita seolah ikut di dalam ceritanya. Ketakutan di mana kita tidak tahu akan adanya bahaya yang sedang mengintai dari dalam tanah. Anthropophagi adalah makhluk nokturnal yang  bergerak di malam hari dan tidur di siang hari. Daging selain manusia tidak menarik bagi spesies tersebut. Novel ini menyajikan keseruan yang pasti membuat perut ikut tegang meski hanya dengan membaca.

Yang paling menarik dari novel ini juga bagaimana hubungan antara Dr Warthrop berkembang dari majikan-pembantu atau ilmuwan-asisten menjadi seperti keluarga. Dr Warthrop sebenarnya memiliki masa muda yang membuat Will iba. Ia jauh dari ayah kandungnya dan selalu mengirim surat dari Paris meski si Ayah lebih sibuk dengan pekerjaannya. Will yang merasa kesepian, meski sering benci dengan tindakan acuh sang dokter, lambat laun dapat memahami sisi kesepian sang muncul. Mereka berdua tak jauh berbeda. Will dan si monstrumolog seolah tak menggubris satu sama lain, kesepian yang tanpa ada rasa saling memperdulikan.
mo
Meski ada banyak tokoh lain yang lebih menyebalkan, tapi kita harus menjaga cerita ini tetap intens dari awal hing akhir. Novel ini juga memiliki seri kelanjutannya. Apakah spesies pemakan manusia itu bisa dimusnahkan dan bagaimana sang dokter menyelamatkan desa dengan kemampuan bertarung nyaris nol, hanya bisa dinikmati jika anda mau melahap novel ini.

0 komentar:

Post a Comment

mohon memberi komentar dengan sopan dan tidak mengandung SARA .. terima kasih telah berkunjung ^_^


 

Kata Reffi Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos

badge