Wednesday, 4 July 2018

Supaya Tak Menjadi Penulis Baper


tips menulis profesional



Menulis memang cara terbaik untuk meluapkan ide, keresahan atau sekadar ingin berbagi pengalaman. Ketika tulisan sudah dipublikasikan dan dibaca banyak orang, sejak saat itulah karya kita akan mendapat penilaian beragam. Ada yang bilang bahwa menulis merupakan pekerjaan yang melalui dua tahap. Pertama, tahap penciptaan yang tentu saja tidak sebentar waktu yang dihabiskan. Dimulai dari penggodokan ide, proses menulis, editing, mengendapkan naskah, mengecek kembali tulisan hingga baru diterbitkan baik melalui penerbit indie atau mayor. Tahap kedua adalah publikasi. Sebelum diumumkan di khalayak umum, penerbit dan penulis berdiskusi mengenai naskah apakah ada yang perlu direvisi atau tidak, desain layout dan kover serta harga. Sangat panjang dan cukup melelahkan, bukan?

Setelah naskah kita terbit, akan ada yang akan menyukai, mengkritik atau malah membenci habis-habisan. Lantas bagaimana agar kita tak menjadi penulis baper yang berpikiran negatif?


 1. Jangan Mencintai Karya Membabibuta

 Boleh saja seorang penulis itu mencintai karyanya, namun jangan sampai tutup mata dengan kekurangannya. Cinta yang berlebihan itu tetap tidak baik. Ketika ada kritik soal gaya bahasa, alur yang kurang baik atau tokoh kurang kuat misalnya, cobalah untuk menggali naskah kita lagi. Nantinya kritik tersebut akan membangun kualitas kepenulisan kita.

2. Jangan Defensif, Berpikirlah Logis
Ketika menerima kritikan super pedas, berpikirlah logis. Kalau kalimatnya berisikan kritik atas teknis dan susunan cerita, kita masih boleh peduli. Tetapi kalau sudah bernada ejekan kurang bermutu, hanya bilang jelek karena beda selera bacaan atau secara pribadi menyerang Anda, abaikan saja. Penghina atau haters akan makin senang jika diperhatikan. Buktikan saja dengan membuat karya baru yang lebih baik. Bersikap defensif juga kurang baik. Belajarlah open minded namun saring kembali masukan-masukan yang didapat.

tips menulis profesional



 3. Berinteraksi dengan Kelompok Positif
 Ketika ragu apakah karya Anda bagus atau mungkin tidak tahu di mana letak kekurangannya, carilah teman sesama penulis atau yang sekiranya bisa memberikan input.  Yang bukan penulis namun bisa memberi saran secara obyektif juga bisa dijadikan pembaca. Kalau di dalam kelompok hanya terjadi debat kusir, tinggalkan saja.



 4. Ikut Kompetisi 
Lho apa tidak berisiko malah menguatkan sikap baper? Kalau kalah kan bisa menimbulkan kurang pede? Mungkin pertanyaan itu akan muncul di dalam pikiran, namun justru dengan berkompetisi kita akan memaksa diri untuk bersikap ksatria, membaca peta persaingan serta belajar rendah hati. Apabila naskah kita menjadi menang atau misalnya menjadi salah satu naskah terpilih misalnya, bersikaplah ramah jika ada yang memuji atau bertanya tentang tips-tips kepenulisan, berikanlah saran semampu kita. Jikalau kalah, bacalah karya pemenang itu dengan membeli bukunya. Keuntungan lain dari mengikuti kompetisi menulis adalah kita akan mempunyai stok naskah dan bekerja sesuai deadline. Beberapa novel saya beruntung di kompetisi lain atau terpilih diterbitkan satu dan dua tahun berikutnya.


Sudah siap untuk menjadi penulis profesional? Seperti halnya berbisnis, ada banyak hal yang perlu dikembangkan di luar teknik menulis. Kalau buku sudah terbit pun,  seorang penulis juga perlu berlajar teknik digital marketing, branding, dan lain-lain. Be the great professional writer!

2 comments:

  1. Informasi yang sangat berguna, membuat kita-kita jadi berfikiran terbuka untuk tidak terlalu meresahkan tulisan yang tidak bikin hati senang. Heheee terimakasih! :D
    willynana.blogspot.com

    ReplyDelete

mohon memberi komentar dengan sopan dan tidak mengandung SARA .. terima kasih telah berkunjung ^_^