Short Solo Trip ke Dataran Tinggi Dieng





Dieng adalah kawasan dataran tinggi yang menggelitik telinga saya ketika pertama kali mendengarnya. Beberapa tahun lalu, saya pernah juga diajak ke dataran tinggi terindah di kota Wonosobo ini namun memang belum pas waktunya. Lalu di bulan September 2018 lalu, sahabat saya Devi mencetuskan ide untuk pergi bersama tiga orang kawan lainnya untuk traveling ke Dieng. Rencananya kami akan menjelajah daerah Dieng sambil mendaki Gunung Prau, tentunya dengan guide berpengalaman di sana.

Persiapan fisik pun dimulai, saya juga memperhitungkan budget untuk membeli sepatu gunung, tas carrier, dana selama traveling dan lainnya. Karena baru pertama kali melakukan pendakian di Gunung Prau di musim penghujan dan jarak yang tidak bisa dicapai dengan kereta api, untuk mempermudah kami melakukan private trip dengan sebuah agen travel. Agen travel Explore Dieng membantu kami nantinya selama perjalanan.

Sayangnya, perjalanan saya terancam batal karena Devi jatuh sakit sampai harus opname. Dua orang lainnya pun memutuskan untuk membatalkan perjalanan. Uang muka yang sudah dibayar pada agen tidak bisa direfund. Berhubung dari pertengahan tahun 2018 saya berpikir ingin sekali-sekali melakukan perjalanan sendirian, maka saya spontan memutuskan untuk tetap lanjut ke Dieng. Tentu saja minus mendaki Gunung Prau karena timnya kurang, namun yang paling penting akhirnya saya akan berangkat sendiri.

Naik Transportasi Favorit
Nah, segala persiapan sudah saya susun. Saya tetap membeli tas carrier dan sepatu gunung karena masih ada rencana mendaki bukit ketika di Dieng. Orang tua saya tahunya kalau traveling kali ini pergi berempat. Mereka belum saya beritahu jika yang lainnya batal. Memang biayanya jadi lebih membengkak, tetapi tidak masalah. Untungnya saya juga bekerja sebagai freelance content writer, fee dari menulis saya sisihkan sebagai tabungan traveling. Tanggal 24 Desember 2018, saya berangkat dari Stasiun Gubeng menuju Stasiun Lempuyangan Yogyakarta. Hello, I will ride a train again, my best transportation ever!


Ini pertama kalinya saya bepergian jauh keluar kota sendirian. Biasanya untuk traveling minimal saya pergi bersama seorang kawan. Ya jelas agak gugup dan norak (meski dalam hati) :p. Sekitar 6 jam naik kereta, saya dijemput Mas Wahyu dan Mas Amin dari tim Explore Dieng yang akan mendampingi saya selama di Dieng. Mas Wahyu yang nanti  mengemudikan mobil dan Mas Amin menjadi pemandunya.


Dealing With The Breeze

Setelah menempuh enam jam perjalanan kereta dan lima jam perjalanan darat menggunakan mobil dari Yogyakarta ke dataran tinggi Dieng di WOnosobo, akhirnya saya sampai juga di penginapan pukul setengah delapan malam. Suasana cukup ramai sampai mobil harus berjalan pelan karena padatnya pengunjung serta mobil. Saya beristirahat sehabis makan malam. Udara di Dieng jelas sangat dingin, aplikasi temperatur di gawai saya menunjukkan angka 12 derajat.
Sesampainya di puncak Sikunir




Sebelum ke Dieng ini saya mempersiapkan kondisi fisik cukup serius. Seminggu minimal tiga kali saya berolahraga senam aerobik. Karena semula saya mengira akan pergi mendaki gunung, olahraga itu saya lakukan untuk menjaga kondisi tubuh. Saya adalah penginap sinusitis plus sering mengalami asam lambung naik kambuhan jika terlalu stres atau makan tidak teratur. Persiapan sebelum trekking atau hiking akan mencegah penyakit itu muncul.








Syukurlah, tak ada hambatan berarti ketika perjalanan dimulai. Obyek wisata pertama yang saya datangi di Dieng adalah Bukit Sikunir. Dipandu oleh guide, saya berangkat jam 1 pagi. Keberangkatan lebih awal itu supaya kita bisa memperoleh tempat parkir dekat pintu masuk. Karena bukitnya tidak terlalu tinggi, maka saya menunggu di warung setempat sampai sekitar jam 3 pagi. Kesempatan ini saya pakai untuk berbincang dengan salah satu pemilik warung yang juga memproduksi carica, minuman khas Dieng.


Tak dapat sunrise di Sikunir tetap asyik


Bukit Sikunir atau Puncak Sikunir sebenarnya menjadi tempat paling ciamik untuk berburu golden sunrise. Dari puncak bukit ini kita bisa melihat puncak Gunung Sindoro, Merapi, Merbabu dan Gunung Ungaran. Saya mendaki jam 3 dan sampai sekitar satu setengah jam kemudian. Jalurnya tidak terlalu berbahaya, hanya saja penerangan minim sehingga kita harus membawa senter. Sesampainya di puncak, saya dan ratusan pendaki lain menunggu momen sunrise dengan sabar. Sayangnya, penantian itu sia-sia. Sampai jam 5, kami hanya mendapati kabut tebal.


Momen terbaik untuk mendapat sunrise itu pada musim kemarau, mungkin karena Desember masuk musim penghujan makanya kabut menghalangi jarak pandang. Meski kecewa karena tidak mendapat momen golden sunrise, saya merasa gembira karena menikmati cuaca dingin dari ketinggian itu menjadi semacam terapi buat otak dan pikiran saya. Saya juga berbincang singkat dengan pendaki lain dari berbagai kota. Sebaiknya gunakan sepatu gunung dan bawa jas hujan. Ketika perjalanan turun, gerimis menemani perjalanan dan jalanan jadi agak becek dan cukup berbahaya jika hanya menggunakan sandal  jepit atau sepatu keds yang tidak memadai.


Gardu Pandang, Telaga Warna dan Kawah Sikidang

 Sepulang dari Bukit Sikunir, saya kembali ke penginapan untuk beristirahat sebentar dan membersihkan diri. Perjalanan berkutnya menuju Dieng Platheau Theathre. Di dekat teater tersebut terdapat gardu pandang untuk spot foto. Hanya menaiki anak tangga tak terlalu banyak, saya bisa mendapat pemandangan menakjubkan Telaga Warna dan hijaunya dataran tinggi Dieng. Dieng tak hanya dikenal dari tanaman buah carica tetapi juga sebagai salah satu produsen kentang terbaik di Indonesia. Pantas saja di Dieng banyak sekali penjual makanan dari kentang.



Memandangi Telaga Warna dari Gardu Pandang 







Puas berfoto-foto dan menikmati pemandangan, lalu saya masuk ke Dieng Platheau Theathre. Oya, saat sedang menikmati pemandangan di Gardu Pandang, saya tenggelam dalam irama musik perkusi dan angklung yang dimainkan oleh sekelompok anak muda. Sungguh lengkap. Di dalam Dieng Platheau Theathtre pengunjung akan diajak mengenal Dieng di masa lalu dan awal mula perkembangannya. Pernah terjadi tragedi di mana penduduk Dieng tewas karena racun belerang. Oleh sebab itu hingga kini rutin dilakukan pengecekan para ahli untuk mendeteksi level bahaya belerang di kawah sulfur Dieng. Lokasi yang berbahaya juga tidak boleh dihuni.

Gua Semar





Setelah menikmati Telaga Warna dari atas, kini saya dan guide beralih untuk menjelajahi Telaga Warna dari jarak dekat. Telaga Warna ini  mempunyai keunikan fenomena yaitu warnanya bisa berubah-ubah karena pengaruh kandungan sulfur serta cahaya matahari yang menimpa. Telaga Warna tak hanya mempunyai pemandangan telaga dan sekitar yang cantik, tetapi juga ada beberapa gua serta arca yang memiliki nilai sejarah. Gua-gua yang cukup terkenal yaitu Gua Semar, Batu Tulis dan Gua Jaran. Mantan Presiden Soeharto juga disebut sering bersemadi di Gua Semar pada masa kekuasaannya.



Sejuknya Telaga Warna 




Dari Telaga Warna ke daerah gua, pemandangannya keren


Kunjungan terakhir adalah ke Kawah Sikidang. Tak seperti kawah lain yang sering dijumpai di kawah gunung berapi, Kawah Sikidang berada di tanah yang datar sehingga mudah diakses pengunjung. Lumpur panas dan bau belerang yang berpadu udara sejuk adalah daya tarik utama kawah ini. Bahkan ketika saya berkunjung, ada beberapa pengunjung yang merebus telur di kawah. Sayangnya, penataan lokasi penjual masih belum rapi sehingga terkesan membuat sekitar obyek wisata kumuh. Seharusnya penjual diposisikan di luar kawasan kawah, bukannya mendekati obyek utama.


Cuaca mendung dan hujan yang mendadak turun membuat saya harus cepat-cepat kembali ke mobil. Niatnya saya akan melanjutkan penjelajahan di hari ketiga yaitu ke kawsan Candi Arjuna sekaligus jalan pulang. Nyatanya hujan masih terus turun cukup deras sehingga saya langsung meninggalkan Dieng sekitar jam 9 pagi.


Di musim hujan memang curah hujan wilayah DIeng sangat tinggi. Untungnya, saya masih bisa mendaki ke Bukit Sikunir meski tak mendapatkan matahari terbit. Saya tak terlalu kecewa sebab jika ada rezeki dan waktu, berikutnya saya ingin kembali. Dieng menjadi salah satu tempat favorit selain Semarang saat ini. Saya mampir untuk makan mi ongklok, makanan khas Wonososbo. Mi yang dibuat dari mi kuning ini disiram kuah kental menyerupai karamel dan rasanya lezat. Ada sensasi manis, asin, dan gurih. Dilengkapi sate dan tempe mendoan serta segelas teh manis hangat, membuat perjalanan saya terasa lengkap.

Mi Ongklok Longkrang yang paling terkenal di Wonosobo




Inilah solo trip saya ke Dieng yang cukup berkesan. Sebaiknya jika ingin berunjung, pilihlah bulan Juli-Oktober di mana minim hujan dan cuaca lebih stabil. Semoga saya bisa menikmati solo trip lagi di lokasi yang tak kalah bagusnya dari Dieng. Happy traveling!
 

You Might Also Like

12 comments

  1. wih aku kemarin gak naik ke bukit sikunir waktunya terbatas sih

    ReplyDelete
  2. Jadi penasaran difoto sama siapa Mbak ? hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. kan sama guidenya 1 orang, jadi yg motoin si guide hahaha

      Delete
  3. Kereeen nih travelling sendirian

    ReplyDelete
  4. Waduh, kalau nyunrise pas musim hujan kemungkinan kehalang kabut..
    Ke Dieng cuman pas ke Prau aja.. Semoga bisa eksplor semuanya besok.. hehe

    ReplyDelete
  5. tempatnya asik, pemandangannya indah.. keren

    ReplyDelete
  6. Replies
    1. yah kok unknown? yang manggil aku pakai suku kata nama terakhir biasanyaa, Ichi :D

      Delete

mohon memberi komentar dengan sopan dan tidak mengandung SARA .. terima kasih telah berkunjung ^_^