Renungan Tengah Tahun, Apa Saja yang Harus Dilepas atau Dilanjutkan?

Renungan Tengah Tahun, Apa Saja yang Harus Dilepas atau Dilanjutkan?




Sekarang, bulan Juli akan usai. Saya mendadak merenung. Apa saja yang sudah saya dapatkan di pertengahan tahun sebelumnya? Tiap awal tahun, saya membuat target per semester. Sudah sejak 2018 saya tidak lagi membuat resolusi tahunan. Saya lebih nyaman menyusun maksimal tiga target untuk enam bulan sekali dan lebih seringnya per empat bulan.

Banyak orang bilang jika ingin disebut sebagai orang sukses, maka kita perlu memiliki titel, karya yang berhasil dengan gemilang, uang yang banyak, atau simbol keberhasilan nyata (kendaraan, tas atau baju bermerek, liburan ke luar negeri).

Tidak ada yang salah dengan tujuan-tujuan semacam itu. Namun, akhirnya saya sadar jika kadang kala keberhasilan terbaik itu munculnya sesuai dengan kebutuhan kita saat ini, bukan hanya karena lapar mata atau iri dengan kehidupan orang lain.

Strategi Terbaik: Siap Melepas, Konsisten Melanjutkan

"Bagaimana caranya agar bisa meningkatkan prosentase pencapaian lebih baik?"

Dengan gamblang, saya pasti bilang kalau kita butuh memiliki sistem. Nah, ketika sedang menyusun sistem, ada hal-hal yang harus kita lepas atau kita lanjutkan. Bukan melihat dari betapa sempurnanya kegiatan yang kita jadikan sebuah sistem. 

Sistem itu seharusnya bisa disesuaikan dengan kondisi. Sebuah sistem yang berjalan baik untuk penulis A, belum tentu bagus digunakan penulis B.

Makanya, strategi terbaik untuk menyusun goal-goal yang saya buat adalah siap melepas dan melanjutkan.

Di tahun ini, saya berniat untuk menyelenggarakan rencana Wordholic Academy bersama beberapa mentor. Tentu saja, saya belajar untuk membimbing dan merencanakan silabus bersama para mentor. Yang saya lanjutkan adalah aktivitas untuk melakukan pertemuan rutin bersama mereka sambil membahas perkembangan atau diskusi jika ada kesulitan.

Alhasil, saya pun harus merelakan tidak mengikuti banyak kompetisi menulis. Praktis, hanya satu lomba menulis blog yang saya ikuti di Indscript Creative dan syukurlah saya jadi salah satu pemenangnya. (Baca Juga: Menulis Itu Side Hustle Menjanjikan)

Saya menyukai banyak konten medsos yang mengumumkan kompetisi menulis cerpen atau novel, tetapi dengan berat hati, saya sadar diri kalau tidak ada cukup waktu untuk mengurusi semuanya.

Sistem Itu Juga Berlaku untuk Menata Hidup

Sebagai seorang penulis kreatif, mulanya saya kurang suka dengan kata 'sistem'. Saya tidak suka sesuatu yang terlalu kaku sampai membuat ide-ide tidak bisa dialirkan.

Sampai suatu hari, saya mengalami burnout ketika menerima banyak job menulis dan muak melihat buku atau laptop.

Hidup berantakan, ide yang biasanya mengalir jadi buntu. Saya paham kalau ada sesuatu yang harus diperbaiki. Mulailah saya mencoba menyusun sistem.


Catatan untuk rencana-rencana saya, ini
saat bikin podcast


1. Belajar menyusun batasan

Tentunya, melanjutkan tradisi sebelumnya agar saya tidak lagi kewalahan dalam menjalani impian, maka saya juga belajar menyusun batasan.

Impian dan target per 4 bulan yang saya buat selalu saya batasi dengan jam istirahat dan kesibukan. 
Kalau badan capek dan sedang banyak kegiatan, maka aktivitas menulis pun jadi saya kurangi. Namun, saya akan tetap menjalankan aktivitas menulis untuk klien.

Batasan lainnya adalah kapan saya perlu jalan-jalan. Ini penting. Karena saya juga mendapatkan klien-klien privat baru, saya tidak serakah membuka kesempatan belajar privat demi memiliki waktu traveling atau staycation.

2. Menyusun rencana hal baru dan menghubungkan dengan hal lama

Saya punya minat yang sangat beragam. Selain membaca buku dan menulis, saya juga suka belajar bahasa asing. Ditambah lagi, saya punya ketertarikan tinggi dengan mitologi Yunani, anime, Mesir, dan AI. Terlihat random, bukan?

Agar waktu saya tidak sampai habis untuk eksplorasi yang terlalu berlebihan, saya punya kebiasaan untuk menyusun rencana baru sambil menghubungkan dengan hal lama yang sedang saya tekuni. Ternyata, ini membuka banyak hal menarik untuk wawasan dan skill saya sendiri.

Tahun ini, saya sedang menyukai novel-novel Korsel yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris atau diadaptasi menjadi manhwa. Topik yang sangat saya sukai berkaitan dengan fantasi dan historikal. Dari novel-novel itu, saya belajar cara networking dengan jejaring yang lebih pandai atau punya banyak pengalaman. Siapa sangka, saya bertemu dengan orang-orang keren dengan cara itu.





3. Belajar mengontrol keserakahan

Ini yang menjadi tantangan terberat tiap tahun. Ketika karier menulis makin berkembang, godaan untuk menerbitkan buku lebih banyak dan menerima klien privat tanpa jeda tentu saja mengusik.

Keserakahan ini kalau tidak dikontrol, pasti akan melahap habis diri. Saya sudah pernah merasakannya sampai burnout, bukan berarti gangguan itu tidak akan pernah muncul lagi. Selama manusia hidup, virus-virus laten di jiwa manusia sedang menunggu dalam gelap dan siap menerkam ketika kita lengah.

Perjuangan ini membuat saya juga berusaha untuk tetap 'sadar'. Kalau sempat 'terpeleset', setidaknya tidak sampai membuat sata terjebak lagi ke situasi yang menghabiskan semangat kreatif.


Kita pasti punya hal-hal yang ingin dicapai, tetapi tetaplah ingat kalau ingin menjadi sosok yang bisa sampai di tujuan itu, kita harus tahu apa saja yang harus dilepas atau dilanjutkan? Siapkah kamu sekarang?




Tidak ada komentar