Tuesday, 16 January 2018

Karena Saya Tidak Mau Menyerah

January 16, 2018 0 Comments
Pernahkah kamu bermimpi lalu lama kelamaan mimpi itu kamu pendam karena orang lain merendahkan? Saya pernah, tapi untungnya tidak lama. Dulu di masa kecil, semua teman-teman punya impian yang setipe seperti ingin jadi dokter, ahli medis, atau pilot. Rata-rata cita-citanya keren dan berbobot.



Sebenarnya saya punya impian, suatu hari ingin menjadi ahli bahasa atau penulis. Namun, karena tak ada yang bermimpi begitu,  impian pun beralih menjadi dokter gigi.

Hobi selalu berlanjut, sampai SMU saya masuk kelas IPA karena merasa kelas IPA itu lebih dipandang, padahal jiwa saya IPS, tapi saya benci Akuntansi. Lulus SMU, pilihan pun berkubang pada Farmasi, Kesehatan Masyarakat dan jurusan lain yang sains banget. Dan saya juga memasukkan jurusan HI di kolom SNMPTN. Alhamdulillah saya tidak lolos 😁

Karena sesungguhnya saya ikut setengah hati. Ini bukan jiwa saya, lalu Papa meminta saya mengambil jurusan Sastra Inggris karena prestasi bahasa tersebut sudah cukup bagus sejak zaman SD. Tapi saya tegas menolak. Alasannya, saya sudah lumayan bisa kalau untuk berbicara, mendengar atau menulis sederhana. Kalau saya harus menekuni lagi di bangku kuliah, saya takut mati bosan.

Teringat dengan buku-buku bahasa Jepang yang tidak bisa saya pahami, iya saya hobi membeli buku bacaan dalam bahasa Jepang. Padahal buku itu setara pelajaran tingkat advance, namun saya membatin jika suatu hari nanti saya harus bisa membacanya. Saya bertekad masuk jurusan Sastra Jepang.

Berdebat dengan Papa, gondok dan agak cemas apakah saya bisa lulus tepat waktu, membuat saya bertekad kuat agar bisa menjadi yang terbaik bagaimanapun caranya.

Dan, empat tahun itu seperti membuka keran yang terlalu lama buntu. Saya bahagia meski belajar keras tiap hari demi menjaga nilai. Saya akan galau kalau ada nilai B. Pernah ada satu nilai C karena keteledoran saya, satu-satunya nilai C dalam empat tahun sukses bikin saya malas makan. Lebay? Jelas tidak. Karena saya terbantu dari beasiswa. Saya bukan anak orang kaya, uang saku pun pas-pasan. Orang tua akan selalu membiayai penuh, tapi saya ingat dengan janji di awal kalau saya akan menjadi yang terbaik. Pun melihat Papa bekerja keras demi memberi anak-anaknya pendidikan terbaik membuat saya ingin menangis. Saya tahu diri untuk tidak bersikap manja.

Di momen kelulusan, saya memberi orang tua surat undangan wisuda. Mereka terkejut karena di tahun terakhir saya sama sekali tak pernah minta uang bimbingan, uang print dan biaya-biaya tugas akhir lainnya hingga biaya wisuda. Diam-diam saya bekerja freelance dengan menulis dan menerjemahkan.

Di titik ini ketika saya sudah bekerja menggunakan bahasa asing, belajar hal baru dari bahasa asing, bisa menabung sedikit-sedikit  dan traveling dari menulis, seketika membuka mata saya. Andai saya menjadi dokter, atau sesuatu yang bukan 'jiwa' saya, apakah saya akan bahagia? Andai saya menyerah di tengah perjalanan, apakah saya akan gembira?


Tak mudah, dan banyak yang mencibir pilihan-pilihan saya. Saya belum menjadi sesukses JK Rowling atau menjadi ahli bahasa super. Tapi saya adalah orang sukses yang berhasil mencapai impian saya di tiap fase. Saya bisa sampai di titik ini berkat doa orang tua dan dukungan para sahabat. Merekalah yang menjadi bensin di saat lemah.


Saya belum sempurna, tapi sesekali menghargai pencapaian pribadi bukankah bukan hal yang salah? Jadi apapun yang sudah kamu capai hari ini, sesederhana apapun itu, busungkanlah dada namun jangan lupa untuk tetap rendah hati.

Tuesday, 9 January 2018

Review Harga Sebuah Percaya: Dongeng Panjang Mengenai Melepas Rasa

January 09, 2018 0 Comments






Penulis : Tere Liye
Jumlah halaman : 298 halaman
ISBN : 978-602-9474-121
Terbit : Mei 2017
Penerbit : Republika


“Pecinta sejati tidak akan menyerah sebelum kematian itu sendiri datang menjemput dirinya.”
Novel ini adalah salah satu karya Tere Liye yang membuat saya kagum. Sekali lagi penulis ini membuktikan jika ia bisa membuat cerita dalam kemasan yang berbeda, meski temanya masih tentang cinta. Harga Sebuah Percaya menceritakan tentang Jim, seorang pemuda lembut penggesek biola yang harus patah hati karena ditinggal cinta pertamanya. Jim jatuh cinta pada Nayla, seorang putri dari negeri Baduin yang rela mati karena tak ingin dijodohkan dengan putra pilihan orang tuanya.

Perkembangan karakter Jim diceritakan dengan indah, karena memang formatnya dongeng. Jim yang sangat lemah dan pengecut bertemu dengan Sang Penandai, pria misterius yang disebut sebagai penjaga dongeng. Jim tidak berani membawa Nayla pergi meski sang kekasih hati sudah meminta untuk diajak kabur, rasa takut Jim melebihi rasa cintanya. Setelah melihat tubuh kaku Nayla pasca minum racun, baru penyesalan hebat melanda Jim. Pemuda itu ingin bunuh diri, namun ia juga tak mau. Sang Penandai pun meminta agar Jim mengikuti kapal penjelajah yang dipimpin Laksamana Ramirez demi mencari Tanah Harapan.

Saya sampai gemas membaca karakter Jim yang begitu lemah. Sebagai laki-laki, ia tak kuat memperjuangkan cintanya dan baru menyesal ketika perempuannya pergi. Ia mendaftar menjadi pelaut meski hatinya hancur berantakan. Selama bulan-bulan pertama ia akan menyepi dan menangis sampai dijuluki sebagai Kelasi Yang Menangis. Pete, sahabatnya, berusaha mengerti meski tangisan Jim sering mengganggu tidurnya. Dan petualangan demi petualangan seru sampai yang hampir mencabut nyawa membuat Jim mulai terlupa pada patah hatinya. Jim tumbuh semakin kuat dan tangguh dan Laksamana Ramirez pun mulai dekat dengan sang kelasi yang juga berani bertarung melawan perompak bengis.

Seperti halnya dongeng, keajaiban secara pasti datang tiap kali masalah menimpa tokohnya tetapi penulis bisa meramu ending yang unik serta tidak terduga. Secara filosofis kita akan belajar tentang bagaimana mengambil risiko untuk terus melanjutkan hidup meski hati sedang patah. Justru dengan terlalu memeluk kesedihan dan tidak mau melangkah maju, kesedihan akan semakin kuat mencengkeram dan menyedot semangat hidup. Sesekali Jim jatuh hati pada sosok perempuan lain yang ia temui di tengah perjalanan berlayar, namun ia tetap ingin mendampingi kawan-kawannya karena tak ingin hidup dalam kebahagiaan semu. Bertarung, melawan musuh, berjuang bersama kawan seperjalanan membuat Jim lebih bijak. Novel ini layak dibaca para pecinta atau penyuka dongeng. Selamat membaca!

Monday, 8 January 2018

5 Tips Menulis Bagi Pekerja Sibuk

January 08, 2018 5 Comments



Menjadi penulis adalah salah satu hal yang menjanjikan dewasa ini. Anda cukup duduk di depan laptop atau komputer, menuangkan banyak ide menjadi tulisan yang menghibur atau bermanfaat, lalu mengirimkannya pada media. Anda juga bisa menerbitkan tulisan menjadi buku sehingga mendapat materi. Banyak yang berpikir jika menulis begitu mudah dilakukan, tetapi ketika sudah  benar-benar serius terjun di dalamnya, tak banyak yang mampu bertahan. Alasan yang banyak berdatangan adalah karena kurangnya waktu, lelah dan capek, writer’s block dan juga segudang alasan yang membuat seseorang kepayahan dalam meneruskan tulisannya sampai tidak ingin lagi berkarya. Niat saja tidak cukup jika Anda tidak memiliki komitmen yang super kuat.

Lantas bisa jadi ada hambatan lain yang bisa juga muncul. Rasa putus asa di tengah proses  menulis karena dianggap sebagai kegiatan membuang-buang waktu saja misalnya, terutama bagi Anda yang masih memiliki pekerjaan utama, akan menghentikan kecintaan dalam dunia tulisan jika tak menemukan waktu untuk menulis. Anda pasti familiar dengan penulis terkenal Ika Natassa yang populer dengan genre metropopnya. Ika Natassa adalah sorang bankir profesional, Jika Anda terinspirasi dan ingin menjadi seperti Ika Natassa, inilah beberapa tips menulis bagi Anda yang sibuk bekerja.

tips menulis pekerja sibuk


·         Tentukan tujuan menulis
Apa yang paling Anda inginkan dari tulisan? Mengawali sesuatu dengan niat kuat memang sangat penting, namun menentukan tujuan akan memberi pedoman buat Anda jika ingin profesional di bidang kepenulisan. Misalnya, Anda berniat menjadi blogger yang profesional selain sibuk bekerja di kantor dari pagi hingga sore hari. Pertama, temukan apa tujuan anda menulis blog. Blog seperti apa yang ingin Anda buat, apakah bertemakan traveling, lifestyle ataukah soal kuliner? Jika Anda ingin menulis banyak hal di dalam blog, oke-oke saja, tetapi blog yang campuran pun akan dilirik klien jika isinya informatif serta berkualitas. Temukan tujuan ngeblog, salah satunya untuk menyajikan informasi yang berguna buat pembaca, sehingga tulisan apapun yang akan Anda buat pasti bisa menarik pembaca jika ditulis dari hati dan untuk tujuan yang baik.

·         Temukan waktu dan lokasi pas untuk menulis
Menentukan kapan dan dimana Anda akan menulis juga menjadi sebuah hal penting. Ada yang nyaman menulis di ruang kerja dan dekat dengan jendela hingga bisa menatap ke luar sesekali, atau ada pula yang lebih nyaman menulis di kamar. Temukan spot di tempat tinggal Anda yang paling enak digunakan untuk menulis. Anda bisa memilih akan menulis di pagi sebelum bekerja atau malam setelah pulang kerja. Waktu yang paling baik biasanya jam 4 sampai jam 6 pagi, di saat otak masih fresh. Tetapi tak semua orang bisa menulis di pagi hari. Yang perlu diingat, meskipun Anda menulis di malam hari, jangan lupa untuk tetap menyeimbangkannya dengan cukup istirahat.

·         Gunakan timer atau alarm ketika menulis
Cara ini sangat ampuh terutama jika Anda memiliki waktu luang sangat sempit. Anda bisa melakukan aktivitas menulis bebas sampai tulisan selesai dan lakukan editing belakangan. Setengah jam sehari sudah cukup. Matikan internet, nyalakan alarm, setel alarm sepuluh menit atau lima belas menit sekali. dan ketika alarm dinyalakan Anda bisa menulis secepat mungkin. Tuangkan ide di kepala, tanpa berpikir soal struktur kalimat serta typonya. Jika alarm berbunyi, beristirahatlah sejenak, selang semenit atau dua menit untuk melemaskan jari-jari atau minum. Jika sudah rileks, lanjutkan lagi sampai alarm terakhir. Jangan berpikir untuk mengedit tulisan ketika karyanya belum selesai. Hal ini akan membantu Anda untuk  menulis cepat dan juga memupuk kebiasaan menulis di dalam waktu yang sempit.

·         Tulis semua ide namun setialah pada satu naskah
Karena waktu menulis Anda sangatlah terbatas, maka jangan menulis banyak judul sampai tidak adan satupun naskah yang selesai. Ketika Anda memutuskan untuk terlibat dalam satu proyek menulis, buatlah deadline yang pasti dan usahakan untuk setia sampai menulis kata tamat. Apabila banyak ide bermunculan sehingga membuat Anda terdistraksi, catat saja semua ide tersebut di gadget atau notes. Jangan terburu-buru membuat naskah baru.

·         Beri penghargaan kecil setelah naskah selesai
Tak peduli seberapa panjang naskah yang sudah Anda selesaikan, meski hanya dua lembar puisi dan satu halaman cerita pendek misalnya, jika sudah menyentuh kata tamat, berilah penghargaan kecil-kecilan untuk diri Anda sendiri. Hiburan itu bisa dengan menonton film, membaca buku favorit dan traveling tanpa menulis sama sekali.  Sesekali hiburlah diri Anda dan berilah waktu untuk tidak menulis agar pikiran bisa kembali tercerahkan.


Inilah beberapa tips supaya Anda tetap bisa menulis meski bekerja penuh waktu atau sibuk beraktivitas selain menulis. Jika Anda rutin menulis, maka menerbitkan buku tak akan lagi menjadi impian kosong. Let’s start to write!

Friday, 5 January 2018

Menjelajahi Potongan Keindahan Tersembunyi di Kota Blitar

January 05, 2018 4 Comments

Liburan panjang Natal dan Tahun Baru sudah menggelitik banyak orang untuk menjadwalkan liburan ke tempat-tempat baru, termasuk saya juga. Saya, Devi, Sari dan juga Metha, empat orang  gadis yang senang traveling kebetulan memiliki jadwal libur yang sama meski tempat kerja kami berbeda-beda. Jadi setelah mencocokkan tanggal, diputuskanlah liburan dari tanggal 23 sampai 25 Desember 2017 lalu kami menjelajahi kota Blitar.


Kota Blitar bukanlah kota yang asing buat saya. Sejak kecil, saya sudah beberapa kali pergi ke kota tersebut tetapi ujung-ujungnya hanya mengunjungi makam dan bekas rumah tokoh Proklamator Nasional, Bung Karno. Ikon utama wisata Blitar lainnya tak sepopuler kompleks makam Bung Karno. Oleh sebab itu, berbekal  sedikit pengetahuan dan gambar-gambar dari instagram, kami menyusun itinerary sendiri menuju tempat wisata yang tak kalah menariknya. Hotel dan juga mobil beserta driver sudah didapat, kami juga sudah membayar uang muka sewa peralatan kemah. Di hari kedua nantinya, kami berencana untuk berkemah di kebun teh, dan hanya di hari pertama saja menginap di hotel.


Semua persiapan sudah selesai, tinggal membeli tiket kereta api. Blitar dianggap sebagai kota dalam jangkauan jarak dekat dari Surabaya sehingga tidak bisa dipesan online. Repotnya, bila ingin naik kereta dalam jarak dekat, pembeli harus antre di stasiun sejak pagi. Singkat cerita, hal ini membuat saya dan teman-teman jadi kapok naik kereta dalam jarak dekat. Karena apa? Kami mendapat tiket berdiri, tanpa tempat duduk! Kalau mau naik bus pun rasanya sangat tidak mungkin, mengingat saat ini jalur darat Surabaya-Malang-Blitar sudah sangat macet dan salah satu kawan saya memiliki fobia naik bus. Kami pun pasrah dan tetap gembira karena yang mendapat tiket tanpa tempat duduk tidak hanya kami berempat, tetapi ratusan penumpang.


Cobaan belum berhenti sampai di situ. Tiket keberangkatan sudah ada di tangan dan kami akan berangkat pukul 8.30 pagi pada tanggal 23. Lucunya, Sari malah baru berangkat pukul 7.30 dari rumahnya menuju Stasiun Gubeng. Entah mungkin karena sedang apes, Sari yang menaiki taksi Uber sampai berganti naik ojek online karena mobil yang tak bisa merangsek kemacetan. Hasilnya, dia tertinggal kereta. Dan harus rela naik bus sendirian dari Terminal Purabaya.


Karena banyaknya penumpang kereta menuju Blitar yang tidak mendapat tempat duduk, alhasil mendadak kami bertemu dengan banyak orang yang siap duduk bergantian. Tidak ada egoisme di sini. Saya yang memiliki gangguan skoliosis ringan di  pinggang kiri, pasti akan merasa nyeri jika terlalu lama berdiri. Dan sebuah keluarga baik di dalam kereta, mau duduk dan berdiri bergantian sampai di kota Blitar. Sementara itu ternyata perjalanan Sari jauh lebih melelahkan lagi. Bus kota yang ia tumpangi dari terminal Purabaya terjebak kemacetan parah di Malang, sehingga bus itu berbalik ke terminal Arjosari dan membuat Sari harus berganti bus. Ia baru sampai jam tiga sore di Blitar sementara saya dan teman-teman lainnya sudah selesai makan siang serta berfoto-foto di kawasan Candi Penataran.
Di kereta bergantian duduk 


Nah, lokasi makan siang dekat Stasiun Blitar itu bernama Ayam Bakar Bu Mamik. Makanannya sangat enak dan termasuk murah. Sambal yang mantap dan bumbu meresap sampai ke daging ayam membuat lidah saya seperti merasakan masakan buatan koki paling hebat. Teman-teman saya pun mengamini jika makanan restoran yang berlokasi di Jalan Kalimantan 11A Blitar  itu memiliki rasa yang enak. Perjalanan dari tempat makan  sampai Candi Penataran hanya memakan waktu 30 menit. Kebetulan saat itu cuacanya agak panas dan lembab. Tiket masuk ke candi juga gratis. Pengunjung hanya mengisi buku tamu lalu boleh menjelajah masuk ke kawasan candi.

Ayam bakar Bu Mamik 

Candi Penataran adalajh kompleks candi yang cukup megah di Jawa Timur dan terletak tak jauh dari Gunung Kelud. Seperti candi hindu lainnya, desainnya pun cenderung ramping memanjang tanpa adanya stupa seperti candi beragama Buddha. Dari prasasti yang ditemukan di sekitar candi, kemungkinan Candi Penataran dibangun pada saat Raja Srengga dari Kerajaan Kediri memimpin, sekitar tahun 1200 Masehi. UNESCO menetapkan candi ini sebagai salah satu calon situs warisan dunia pada tahun 1995. Candi ini dibentuk secara simetris. Ada bagian halaman depan di bagian sisi barat laut Candi Penataran yang dibangun arca. Ada beberapa candi dalam kompleks ini dan yang sering menjadi jujukan para wisatawan, termasuk saya adalah candi induknya. Dari candi yang dibangun paling besar ini, saya bisa melihat keseluruhan kompleks candi yang sangat menghijaukan mata. Sangat indah apalagi jika dilihat dari atas. Rupanya ada relief cerita Ramayana di bagian tubuh candi induk, letaknya di bagian teras utama.


Berfoto di kompleks Candi Penataran membuat saya seolah terlempar ke masa lalu. Begitu banyak menghasilkan banyak renungan masa silam. Di zaman dulu, nenek moyang kita memiiki cita rasa seni tinggi dan begitu menghargai arsitektur asli Indonesia. Seharusnya kita sebagai generasi muda bisa turut melestarikan atau menciptakan karya yang bisa dikenang hingga anak cucu. Mengunjungi candi atau gedung bersejarah memang saya usahakan masuk dalam agenda jalan-jalan jika berkunjung ke sebuah kota.


Setelah puas mengelilingi Candi Penataran, jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Sari mengirim pesan lewat chat room jika dia sudah hampir sampai Terminal Blitar. Kami pun bersiap-siap dan beranjak meninggalkan candi. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Sari sampai di terminal dengan wajah pucat dan agak lelah. Kami tertawa karena baru pertama kali ini mengalami kesialan saat hendak traveling,”Namanya traveling, ini yang  bikin kenangannya berkesan.” Kata saya. Perjalanan tak terduga dan masalah yang mendadak muncul di tengah perjalanan, melatih kita agar lebih tangguh lagi.
Setelah berkumpul, perjalanan dilanjutkan untuk menuju hotel. Kami memesan Patria Garden Hotel sebagai tempat bermalam di hari pertama. Di luar ekspektasi, hotel ini ternyata sangat nyaman dan bisa dihuni sampai enam orang. Dengan nuansa Bali dan juga tempat yang nyaman, saya dan teman-teman seolah tinggal di rumah kontrakan, bukannya hotel. Konsep penginapannya sendiri memang tidak dibuat per kamar namun dibentuk seperti perumahan. Ada tiga kamar tidur dengan dua bed di masing-masing kamar. Ada dua kamar mandi, satu dapur dan juga satu televisi.
Suasana kamar Patria Garden Hotel 


Di hari kedua kami meluncur ke Gua Luweng. Objek wisata ini kami ketahui dari postingan instagram mengenai Blitar. Lucunya, driver kami tidak tahu soal wisata ini dan kami pun hanya mengandalkan Google Map. Bisa dibilang, technology had saved our holiday. Berputar-putar selama dua jam lebih, dan melewati jalan berliku sampai lewat persawahan dan hutan (saya pikir kami salah jalan), akhirnya kami pun sampai.


“Anda sudah sampai.” Kata si Google Map. Saya celingukan mencari papan nama atau spanduk bertuliskan Gua Luweng. Mulai deh ada perasaan janggal, jangan-jangan kami tersesat dan si Google Map itu salah? Setelah bertanya pada penduduk sekitar dengan bahasa Jawa halus sebisanya, saya tahu jika lokasi Gua Luweng sudah dekat. Namun tidak akan ada guide yang membawa kami hari itu. Katanya, semua guide sedang bekerja. Hah? Kalau begitu objek wisata ini tidak terurus dong? Pikir saya.


Karena sudah melewati perjalanan yang cukup jauh, kami semua nekat untuk pergi ke lokasi gua tanpa pemandu. Jalur pertama saja sudah bikin deg-degan. Kami harus melalui jalur sungai yang pasti licin dan pastinya akan sangat berbahaya kalau sampai jatuh. Setelah itu perjalanan dilanjutkan melewati jalan setapak dan semak-semak. Kami menemukan banner lusuh yang bertuliskan Gua Luweng. Sampai di sana, kami takjub. Ada air terjun kecil dan mata air yang mengalir masuk  ke dalam gua. Sebenarnya sangat indah apalagi kami bisa bebas menikmati pemandangan dari ketinggian. Namun karena tidak ada pemandu dan tidak membawa perlengkapan safety, kami tidak bisa menjelajah masuk ke ceruk gua. Posisi paling indah dan misterius berada di dalam ceruk gua karena ada lubang di langit-langit yang menjadi terobosan cahaya matahari. Mungkin karena tidak diurus dengan baik, tempat ini jadi kehilangan peminat dan benar-benar sepi saat ini. Tidak ada pengunjung lain selain rombongan kami. Puas berfoto-foto sebentar, perjalanan dilanjutkan ke kebun teh Sirah Kencong.
Jalur pertama Gua Luweng
Masih belum sampai Gua Luweng

Air terjun Gua Luweng 


Di pikiran saya, jalan menuju  Sirah Kencong itu mungkin hanya seperti dataran tinggi biasa. Tak berliku dan sangat menyenangkan. Kenyataannya, saya dan teman-teman benar-benar salah duga lagi. Jaraknya tak terlalu jauh, tetapi belokannya sangat banyak dan curam. Ditambah lagi mobil kami baru mencapai daerah Sirah Kencong ketika magrib menjelang. Saya banyak berdoa di dalam hati. Ada bagian jalan yang sedang diperbaiki sehingga kami seperti sedang naik mobil off-road. Seru tapi juga cemas. Saya bisa bernapas lega saat mencapai pos pertama kebun teh Sirah Kencang. Kami turun untuk melakukan registrasi, yang mencengangkan rupanya perjalanan menuju tempat kemah masih super jauh lagi.


“Kalau mau ke atas, kalian bisa trekking, tapi jalurnya cukup jauh dan ini sudah malam. apa kalian berani?” kata  salah satu di antara bapak-bapak di pos utama. Katanya jarak menuju tempat kemah masih delapan kiloan lagi. Mobil pribadi tidak akan bisa naik ke atas karena jalurnya berbatu besar-besar, tidak ada penerangan dan juga sama sekali tidak ada aspal. Otomatis hanya mobil jenis jip hartop seperti yang digunakan di Bromo saja yang bisa naik. Dengan membayar biaya tambahan untuk satu kali naik dan satu kali turun keesokan paginya, kami berempat naik. Driver pun kami ajak karena dia tidak pernah kemping. Ternyata gila! Jalannya benar-benar membuat kami harus berusaha menjaga keseimbangan. Tempat duduk yang keras dan berusaha supaya barang-barang perkemahan yang kami sewa tidak berhamburan membuat perjalanannya sangat tidak nyaman. Tetapi saya dan teman-teman bisa tertawa lepas karena sama sekali tidak menduga jika perjalanan hari ini jauh dari kata nyaman.  Awan yang bebas polusi dipenuhi bintang-bintang. Udaranya pun semakin dingin. Jarang-jarang bisa kami dapatkan di kota.


Sesampainya di lokasi, kami berlima termangu. Terus ini cara membangun tenda bagaimana? Kami membolak-balik tenda yang pasrah, udara semakin dingin karena sudah semakin larut. Untungnya ada beberapa bapak pendaki yang mau membantu. Setelah pusing selama setengah jam, tenda pun berdiri. Beberapa pendaki Gunung Butak sudah melanjutkan perjalanannya. Perut yang keroncongan mendorong kami untuk meyalakan kompor portable.
“Eh kompornya nggak bisa nyala,” seru kami kecewa. Entah kenapa kompor portable ini mendadak ngambek. Badan sudah capek dan lapar membuat kami berusaha mencari ide. Ada bekas api unggun yang bisa kami nyalakan. Dan kami pun memasak air panas untuk menyeduh mi cup yang sudah kami bawa.


Saya sangat menikmati momen ini. Tidak ada sinyal ponsel dan tidur di tengah alam bebas itu adalah hadiah buat saya. Ketinggian adalah tempat yang selalu membuat saya ingin kembali. Ketika mata semakin mengantuk, saya dan teman-teman menuju matras dan sleeping bag masing-masing. Karena mudah tidur di mana saja, saya segera terlelap. Di spot yang dinamai Wukir Negoro masih belum ada fasilitas MCK. Jadi saat di tengah malam buta saya ingin buang air kecil, saya keluar sendirian dari tenda dan mencari lokasi yang sudah dibuat sebagai lokasi MCK. Hanya berupa lubang dengan WC tanpa air dan tutupan dari seng. Berdoa terus saya lakukan dalam hati. Maklum lokasi di alam bebas begini dan tanpa ada orang lain yang menemani juga membuat saya sedikit was-was. Saya membawa air mineral untuk membersihkan diri dan cuci tangan.


Berfoto dari pos pantau

Happy Camping

Beautiful Landscape 


Dan Sirah Kencong menjadi lokasi favorit saya di Blitar kali ini. Setelah matahari terbit. Terlihat pemandangan menakjubkan dari Wukir Negoro. Ada beberapa spot perkemahan di Sirah Kencong, Wukir Negoro adalah spot tertinggi kedua, dan yang paling rendah adalah Brak Papat. Di sini kami bisa mencoba berfoto dari pos pantau yang membuat seluruh panorama kebun teh dan juga pegunungan tertangkap mata. Kopi nikmat dibuatkan seorang bapak pendaki yang baru pulang dari Gunung Butak. Saya merasakan betapa hangat rasa persaudaraan meski kami tak saling mengenal. Jauh dari keluarga dan keramaian, namun menemukan banyak orang yang mau membantu itu juga hal yang indah, bukan?

Kopi buatan bapak pendaki 

 Rasanya semalaman di kebun teh hingga jam 9 pagi, membuat saya enggan pulang. Namun hari terakhir liburan sudah tiba. Dan kami harus segera menuju tempat terakhir sebelum bersiap-siap pulang. Setelah mengembalikan perlengkapan kemah, kami menuju Kampung Coklat, sebuah wisata oleh-oleh dari cokelat yang sangat tersohor di Blitar. It is a paradise for me!! Saya adalah penggemar banyak makanan, tapi cokelat dan es krim adalah camilan favorit  sejak balita hingga selamanya. Sesudah kalap belanja cokelat untuk diri sendiri dan juga keluarga, kami mencari lokasi untuk makan siang sekaligus mandi. Sejak satu malam sebelumnya hingga pulang dari Sirah Kencong, saya dan teman-teman masih belum sempat mandi. Jadi dengan celana training dan kaus lusuh beserta muka kucel, kami belanja di tengah-tengah ibu-ibu yang berdandan cantik.

Suasana Kampung Cokelat 


Surga cokelat


Liburan ke Blitar kali ini sangat menantang terutama dari banyak kejadian di luar dugaan yang membuat kita tertawa, jengkel tapi sekaligus gembira. Pulang ke Surabaya pun tiket yang kami terima masih tanpa tempat duduk namun kami bisa bercakap-cakap berisik sampai terpingkal-pingkal membicarakan banyak hal. Sekali lagi saya bersyukur kepada Tuhan karena bisa diberi kesempatan untuk mengulik keindahan tersembunyi di kota Blitar. Semoga potongan keindahan itu lebih diperhatikan masyarakat dan pemerintah setempat supaya tidak terabaikan. Happy traveling!!

Wednesday, 3 January 2018

Perempuan Penguat

January 03, 2018 0 Comments
Ma, aku mencintaimu, itu sungguh. Namun dulu di saat aku masih sangat kecil, ketika aku belum mengetahui apa itu hitam dan putih, aku pernah tidak menyukaimu. Dulu di saat aku baru duduk di sekolah dasar, Mama sangat membatasi ruang gerakku untuk bermain di luar rumah. Di saat teman-temanku bermain bebas sepulang sekolah, Mama akan mengawasiku supaya aku segera tidur siang. Di sore hari pun begitu. Aku wajib mengikuti kelas mengaji di salah satu TPQ dekat rumah. Praktis, hampir tidak ada waktu bermain buatku kecuali saat istirahat di sekolah.

Aku juga tidak akan pernah lupa saat Mama mengajariku mengenali kata dan mengenal angka. Mama akan berteriak keras jika aku tak bisa juga memahami bahkan jika aku berbuat kenakalan, Mama tak segan mencubit kakiku. Iya, Mama tak pernah memukul bagian tubuhku yang lain karena beranggapan itu bisa membuat cedera yang berbahaya. Tetapi meski hanya kaki, aku sangat marah waktu itu. Aku hanya anak kecil, kenapa harus memiliki jadwal ketat untuk belajar dan mengaji dan tidak boleh bermain bebas di siang hari? Kenapa ibu-ibu temanku lainnya bebas membiarkan anak-anaknya berkeliaran? Aku tak bisa meluapkan amarah itu hingga sengaja kutuangkan lewat tulisan. Tulisan pertamaku adalah keluhan-keluhan tentang sifat keras dan kedisiplinan Mama.

Dan semua itu berubah dalam satu kejadian yang tak akan pernah kulupakan.

Apakah Mama pernah ingat ketika aku mengalami kekalahan perlombaan untuk pertama kali? Aku dikenal sebagai siswi pintar dan selalu meraih juara kelas, sehingga pihak sekolah selalu mengirimku untuk ikut lomba akademik. Beberapa kali aku mendapat juara, dan saat itu aku sedang tidak beruntung. Aku kalah, tidak kudapatkan satu nomor juara sekalipun. Ternyata kalah itu tidak enak. Aku kehilangan nafsu makan. Buku-bukuku juga sama sekali tak kusentuh. Kukunci kamar dan menangis seharian. Lalu Mama mencoba membujukku, tapi bukan kalimat penghiburan yang keluar dari bibirmu. Mama malah berkata,”Kamu kalah di bidang Matematika, kan? Jangan menangis! Kalah itu biasa. Tunggu di rumah, Mama akan segera kembali.”

perempuan kuat


Lalu Mama keluar rumah mengendarai sepeda tua kita, menerobos hujan deras entah akan pergi ke mana. Hampir sejam aku menunggu. Setelah Mama pulang, aku bertanya-tanya. Mama menepuk kepalaku dengan kasih sayang dan bilang,”Aku sudah menemukan guru privat Matematika terbaik buatmu. Mulai besok kamu bisa datang ke rumahnya untuk les privat. Perbaiki kekuranganmu. Kalah itu biasa. Jika kalah, kamu harus mengetahui apa yang kurang lalu perbaiki. Bukannya sedih sampai tidak makan. Jadi, ayo makan sekarang.”

Ajaib. Kesedihanku terangkat seketika. Nafsu makanku pun kembali dan aku semangat belajar lagi. Berikutnya aku belajar lebih giat dan predikat juara bisa kuraih, meski bukan di perlombaan yang sama. Semangat untuk berkompetisi namun juga siap jika tidak menang sudah kutumbuhkan sejak kecil. Berkompetisi adalah ajang untuk mengasah mental sekaligus belajar rendah hati. Mama mengajarkan itu padaku.

Kini, di  saat aku sudah memasuki kehidupan dewasa, aku selalu terharu jika mengingat Mama. Mama adalah sosok perempuan yang siap mendidik anak-anak sekaligus menjadi istri yang selalu dirindukan Papa. Aku melihat betapa Papa selalu memandang Mama dengan penuh kasih sayang. Mungkin Mama bukanlah perempuan lembut yang selalu bermanja-manja, namun kau adalah sosok perempuan kuat bersuara lantang yang tak bisa diremehkan. Mama jugalah yang pertama kali mendukung impian-impianku. Katamu,”Perempuan memang harus bisa menjadi seorang ibu yang cerdas, istri yang pengertian namun tidak mudah tumbang.”

Jika Mama mudah putus asa, pasti Mama akan pergi dari rumah ketika Papa mengalami kebangkrutan. Namun Mama malah berdiri mendukung Papa, menguatkan hingga ekonomi kita membaik kembali. Terlalu banyak kata-kata cinta yang ingin kusampaikan pada Mama. Terlalu banyak pesan dan nasihat dari Mama yang menjadi penguat prinsipku. Jadi lewat tulisan ini, ingin kusampaikan, maaf aku pernah salah memahami caramu mencintaiku. Aku sekarang tahu jika Mama ingin agar aku tumbuh menjadi kuat meski aku perempuan. Mama ingin aku tumbuh menjadi cerdas agar anak-anakku kelak bisa kudidik dengan baik. Mama, aishiteru. Aku mencintaimu, selalu.

Monday, 1 January 2018

Apa Yang Kuinginkan, Apa Yang Kubuang, Apa Yang Kupertahankan

January 01, 2018 0 Comments
Apa yang kuinginkan?

Aku ingin terbang bebas membawa impian, tak peduli segala macam kalimat bernada hinaan.
Aku melangkah satu demi satu, tanpa membawa masa lalu yang buruk, berani berjalan maju.
Aku mendengarkan suara Semesta yang menjadi refleksi cita-citaku dan sering kubisikkan tiap kali sebelum tertidur.
Aku semakin mudah berbicara dengan Allah SWT.
Aku menjadi lebih banyak mendengar, bukan hanya berbicara.
Aku ingin menjadi semakin kaya. Kaya waktu untuk berbagi ilmu, kaya ilmu untuk saling bertukar pikiran, dan kaya kebijaksanaan di dalam pikiran agar bisa menghargai perbedaan. Uang akan menjadi nilai tukar yang baik untuk berbagi, namun tidak untuk membeli kebahagiaan.
Aku bisa bertemu dengan banyak orang yang juga sedang berjuang mencapai impiannya, untuk saling menguatkan.
Aku bertualang lebih jauh.
Aku diberi kelapangan dan bahu yang kuat agar bisa terus tersenyum meski dipenuhi baret luka (aku tak tahu kapan dan di mana cobaan datang, tapi aku tahu aku tidak sendirian).
Apa yang kukerjakan memberi manfaat.
Aku membuat keluarga dan sahabat-sahabatku memiliki waktu menyenangkan ketika bersamaku.
Aku berjumpa dengan belahan hatiku.

Apa yang kubuang?

Hal-hal yang membuatku sering marah, kesal dan tidak tulus dalam mengerjakannya.
Keingintahuan tak penting dengan masalah-masalah orang lain yang tidak menjadi urusanku.
Keraguan dan rasa takut untuk mempelajari hal yang kuinginkan.
Benci pada hal-hal tak penting.
Kecemasan berlebih untuk hal-hal yang belum tentu terjadi.


Apa yang kupertahankan?

Rasa syukurku dan berusaha untuk tetap rendah hati meski banyak dipuji.
Tidak kepayahan meski banyak diuji.


Sidoarjo, di awal tahun 2018 dan hujan turun



Wednesday, 27 December 2017

Seperti Jong Hyun, Kita Punya Pertarungannya Masing-Masing

December 27, 2017 6 Comments

Saya adalah penggemar drama korea meski tak sampai menjadi penggemar K-Pop. Namun saya bisa memahami bagaimana shock dan terpukulnya fans Jong Hyun, salah satu personel boyband Shinee yang sudah terkenal di dunia internasional. Jong Hyun dikenal tak hanya karena penampilan fisik yang menawan, khas seorang idol, namun juga suara dan talenta menulis lagunya sudah sangat dikenal di dunia musik Korea Selatan. Karena banyaknya postingan mengenai mendiang Jong Hyun yang ditengarai wafat bunuh diri di usia cukup muda, masih 27 tahun, akhirnya saya turut membaca mengenai kiprahnya selama hidup. Hal yang menyentuh hati ialah ia sudah bertarung melawan depresi cukup lama hingga akhirnya pertarungan itu diakhiri dengan sebuah keputusan yang tragis, bunuh diri.


Bagi agama manapun, bunuh diri dianggap sebagai tindakan bodoh dan neraka adalah ganjarannya. Saya tak menepis hal tersebut. Tetapi alangkah sedihnya ketika membaca komentar-komentar tak bernada simpati dan cenderung menghina mendiang Jong Hyun di tengah para fansnya yang sedang berduka. Kita tak tahu bagaimana sedihnya sang idola dan beban berat seperti apa yang ia tanggung sampai mengambil keputusan yang terlalu mendadak. Depression is a silent killer.

Sumber gambar: Pinterest 

Secara fisik seorang penderita mental health bisa jadi terlihat sangat sehat dan ceria, tetapi jauh di dalam hati dan pikirannya, depresi akan menggerogoti kestabilan emosi sampai tidak bisa berpikir dengan jernih. Seharusnya mereka tak dihina atau dicacimaki, sepatutnya kita yang jauh lebih kuat mau memberikan dukungan.


Manusia memiliki pertarungannya sendri-sendiri. Seperti halnya saya yang kadang mengalami kecemasan berlebih jika sedang dirundung banyak masalah. Pertama kali saya merasakan hal itu adalah saat kuliah di semester akhir. Banyaknya tugas, bekerja freelance rangkap-rangkap dan juga adanya masalah pribadi membuat saya sering insomnia, sulit makan sampai mengalami mood swing yang parah. Hal itu bisa saya atasi dengan beribadah, curhat atau mendengarkan musik favorit. Masalah bisa terulang jika saya memiliki banyak deadline menulis secara bersamaan, dan karena sikap perfeksionis akan sebuah pekerjaan, hal itu bisa sangat mengganggu. Maka segera saya lepas hal-hal yang memang membebani dan mencoba mengambil pekerjaan dengan deadline yang tidak menyiksa. Saat ini mood saya juga bisa lebih terkontrol.


Apa yang saya alami barangkali hanyalah hal kecil jika dibandingkan dengan orang-orang yang sedang menjalani pertarungan dengan sisi gelap dirinya. Seorang kawan baik saya mengaku jika ia mengalami sindrom baby blues hingga sempat membenci bayinya sendiri. Padahal ia sangat menanti kehadiran si buah hati dan menjalani persalinan yang cukup sulit. Katanya,”Aku nggak tahu kenapa benci sama bayiku. Rasanya tiap kali dia nangis, aku pengen kabur dan marah. Aku takut melahirkan lagi. Aku takut mengalami sakit yang parah seperti dulu.” Beruntungnya, kawan saya memiliki suami yang siap sedia untuk ikut merawat bayi mereka dan juga tidak memaksa kawan saya dengan cara yang kasar. Secara perlahan ia membuat kawan saya belajar menjadi seorang ibu. Coba bayangkan jika si suami menyalahkan kawan saya dan menyebutnya sebagai ibu tak becus. Ada kalanya, laki-laki tak mau ikut campur dengan tetek-bengek merawat bayi dan menyerahkan sepenuhnya kepada istri. Betapa banyak kasus seorang ibu yang tega membunuh darah dagingnya karena sindrom baby blues atau tekanan rumah tangga yang tak tertangguhkan. Menurut para ahli, perempuan lebih rentan mengalami depresi.



Pertarungan dengan depresi sebenarnya sudah dirasakan nyata oleh penderitanya, hanya saja ketakutan akan pandangan sosial jika seseorang berkonsultasi ke psikiater sebagai pengidap kegilaan juga menjadi salah satu faktor enggan memeriksakan diri. Pemicu depresi bisa berbeda-beda, misalnya seorang anak bisa depresi dan bunuh diri jika mendapatkan nilai yang jauh dari harapan orang tua, seorang pria bisa depresi jika tak kunjung mendapat pekerjaan, seorang remaja bisa depresi karena putus cinta. Penyebab depresi bisa jadi terkesan sepele di kacamata orang lain. Namun tidak pantas jika kita meremehkannya, mengguruinya dan hanya menasehati mereka tanpa mau rendah hati untuk lebih banyak menjadi pendengar. Mereka butuh pelukan dan pengertian, bukannya penghakiman.


Jadi, mulailah untuk lebih mengerti. Bagi anda yang sedang mengalami kelelahan hebat dengan diri sendiri, segeralah cari pertolongan. Dan bagi kita yang sedang dimintai pertolongan, luangkanlah waktu untuk menjadi tempat keluh kesah sementara dan peluklah mereka bukan seperti pasien sakit jiwa, melainkan sebagai manusia yang membutuhkan banyak siraman kasih sayang. Tuhan pun akan selalu ada untuk kita yang sedang membutuhkan pendampingan.