Friday, 16 February 2018

Menyentuh Aroma Sejarah Kerajaan Jawa di Museum Ullen Sentalu

February 16, 2018 6 Comments
foto museum ullen sentalu
Sumber foto: Google ( bagian luar museum), hiks gadget saya hilang yang isinya foto ini 

Museum adalah satu kata yang identik dengan kuno, ketinggalan zaman dan juga tua. Lekat dengan frasa tua, maka museum menjadi tempat yang jarang menarik minat pengunjung apalagi untuk anak-anak dan orang muda. Memang benar karena kenyataannya museum di Indonesia itu umumnya terkesan hanya dipakai sebagai gudang barang-barang bersejarah dan dipamerkan tanpa penataan dan manajemen yang rapi. Namun meski begitu saya justru lebih tertarik mengunjungi lokasi bersejarah seperti candi, bangunan kuno atau museum selain pergi ke alam bebas. Dan sejauh ini baru ada satu museum yang membuat saya ingin kembali berkunjung yaitu Museum Ullen Sentalu.


Saya mengunjungi museum ini setahun lalu tepatnya 29 Maret 2017. Berpetualang bersama seorang sahabat saya, Devi, kami menuju ke museum yang berlokasi di kawasan Kaliurang itu berbekal Google Map dan sepeda motor. Kami mendatangi Yogyakarta dengan niatan untuk menjelajahi lokasi wisata yang berbeda dari biasanya. Jadi tak ada jadwal ke pantai-pantai dan juga mampir ke candi. . Perjalanan lumayan melelahkan, mungkin sekitar dua jam namun karena suhu udara Kaliurang yang sejuk serta pengalaman di museum yang memesona, membuat kami tak menyesal jauh-jauh ke sana.
Baca Juga: Perjalanan Serba Mendadak ke Yogya 


Sesampainya di sana, awalnya saya agak underestimate begitu waktu lihat bagian depan museum. Kok kesannya jadul banget dan juga agak seram ya? pikir saya. Terus terang sewaktu memutuskan untuk ke Ullen Sentalu, saya tak banyak browsing atau mencari informasi. Hanya berbekal sebongkah ingatan dari artikel yang pernah saya baca di surat kabar, maka saya memutuskan untuk pergi. Tapi setelah memasuki bagian loket, pesimisme saya buyar. Saya jatuh cinta dari patung perempuan yang terletak di lobi.
foto museum ullen sentalu
Dok. Pribadi (di bagian lobi museum) 

Pengunjung harus menunggu sekitar lima belas menit sekali sebelum masuk. Rombongan pun dibatasi sampai sekitar belasan orang saja. Satu rombongan akan didampingi guide. Terlihat sekali jika manajemen museum ini sangat rapi dan karena didampingi guide, pengunjung tak harus membaca label-label benda pada museum. Dan perjalanan pun terasa asyik.


Sebelum memulai perjalanan mengelilingi museum, guide memberikan peraturan yang wajib dipatuhi. Pengunjung tidak boleh sembarangan mengambil foto di dalam ruangan dan tentu saja tidak boleh merusak properti museum yang rata-rata sudah tua. Kami akan diantar memasuki ruangan-ruangan yang menjadi saksi sejarah anggota kerajaan di kawasan Jawa Tengah terutama di wilayah Mataram. Nama Ullen Sentalu adalah singkatan dari “Ulating blencong sejatine tataraning lumaku” bermakna  “Nyala lampu blencong adalah petunjuk manusia dalam melangkah dan meniti kehidupan”. Lampu blencong adalah lampu minyak yang sering digunakan di pertunjukan wayang kulit. Mungkin dari filosofinya bisa saya simpulkan jika sebuah cahaya kecil di tengah gelap akan menjadi penerang langkah manusia dan salah satunya adalah dengan memahami sejarah masa lalu agar langkah kita ke depannya bisa lebih terarah.


Kami diajak untuk memasuki satu per satu ruangan yang didesain cederung gotik namun tak meninggalkan kesan tradisionalnya. Jalanan setapak yang sudah dipaving serta bagian sisi kiri dan kanan yang ditumbuhi tanaman serta pepohonan, membuat saya seperti benar-benar terlempar ke masa lampau. Ruangan-ruangan tersebut berisikan gamelan dan seni tari yang dipentaskan di kerajaan. Koleksi gamelan di Ullen Sentalu adalah pemberian dari salah seorang pangeran di Kasultanan Yogyakarta. Terdapat juga ruangan untuk pameran lukisan para anggota kerajaan dan tokoh penting di Dinasti Mataram. Saya juga menjadi semakin mencintai batik setelah mengetahui sejarah panjang batik tradisional yang dipakai di kerajaan zaman dulu. Batik-batik itu menunjukkan derajat si pemakai dan juga akan dipakai di acara apa. Maknanya sungguh tinggi apalagi batik sudah diakui sebagai budaya bangsa Indonesia oleh UNESCO.


Di sela-sela perjalanan dari satu ruang ke ruang lain, pengunjung akan dipersilakan beristirahat sejenak sambil minum teh tradisional yang katanya diminum para puteri keraton agar tetap cantik dan awet muda. Ada campuran jahe, kayu manis, dan gula jawa. Kami diperbolehkan memotret di ruang minum teh (sedihnya gadget saya yang dipenuhi foto di ruang ini tak terselamatkan karena dicopet orang September 2017 lalu).


Yang menjadi ruang favorit saya adalah Ruang Syair dan Ruang Putri Dambaan. Di Ruang Syair, saya bisa merasakan betapa puitisnya GRAj Koes Sapariyam atau sering disebut Puteri Tineke di saat menuangkan kegundahan hatinya akan cinta. Puteri dari Pakubuwono XI, Raja Solo, ini jatuh cinta pada seorang laki-laki yang tidak disetujui kedua orang tuanya. Lewat surat yang di antaranya juga ditulis dalam bahasa Belanda ini, saya jadi merasakan bagaimana resahnya seorang putri di kalangan keraton tak bisa mencintai sekehendak hati mereka. Dan akhirnya ia rela melepas status kebangsawanannya demi bersama si pujaan hati. Surat yang ditulis untuk kerabat-kerabatnya itu dibentuk dalam sajak  indah yang menyentuh. Terlihat sekali bakat sastra sang puteri dan pendidikan yang ia terima turut memperindah bahasanya.  Satu kalimat yang saya catat dan tertancap di benak adalah

Cinta tanpa kepercayaan adalah suatu bualan terbesar di dunia ini.

Beralih ke Ruang Putri Dambaan, saya terkagum-kagum pada Gusti Nurul, putri tunggal Mangkunegara VII. Gusti Nurul sejak remaja hingga beranjak dewasa memang memiliki wajah cantik, anggun khas Jawa dan profil tubuh yang langsing. Tak hanya itu, ia juga sangat pandai menari sampai pernah diundang secara khusus di acara kerajaan Belanda pada tahun 1937. Nah yang membuat saya jatuh cinta berat pada sosok puteri ini adalah sikapnya yang tegas menolak beberapa tokoh hebat Indonesia, salah satunya Presiden Soekarno karena prinsip yang ia pegang. Gusti Nurul menolak poligami meski ia dibesarkan di lingkungan kerajaan yang sudah awam melakukan praktek memiliki istri lebih dari satu. Puteri ini dikaruniai otak cerdas, pandai berkuda dan pada akhirnya ia memilih untuk menikah dengan seorang pria biasa yang bukan dari kalangan pejabat atau bangsawan.


Di akhir perjalanan, saya menyempatkan diri untuk berfoto di depan relief besar yang dipasang miring bersama Devi. Menurut guide, hal itu menunjukkan jika generasi masa mendatang akan berisiko mengalami pergeseran perilaku dan lupa akar budayanya. Sebagai generasi penerus kita wajib melestarikan budaya dan mengenali sejarah agar tak terlupakan.

Dok. Pribadi (miring-miring dikit) 


Mengunjungi museum ini membuat saya makin menyukai budaya Jawa yang selalu kaya denga filosofinya. Ah nanti kalau ke Yogya lagi, saya pasti akan berkunjung ke Ullen Sentalu lagi dan menjelejahi wisata Kaliurang lainnya.

foto museum ullen sentalu
Narsis bareng novel saya yang terbit tahun lalu 'Secret Heart' 😆


Tuesday, 6 February 2018

Rumput Tetangga Lebih Hijau Itu Ada Manfaatnya

February 06, 2018 2 Comments

Social media is a toxic. Kita akan dengan mudah mengetahui seseorang membeli jam bermerk, liburan ke luar negeri atau barangkali malah mendapatkan pekerjaan mentereng tanpa perlu duduk berbincang dengan si empunya cerita. Semua bentuk kesenangan itu akan mudah terekam di media sosial. Mengapa media sosial bisa menjadi racun? Karena baik bagi si pengunggah dan juga pengikut medsosnya, akan terkena sindrom ‘rumput tetangga selalu lebih hijau’.

Saya juga terkena racun itu. Meski dari luar terlihat happy-happy saja dengan hidup saat ini dan malah terkesan tidak ada masalah, diam-diam saya berdecak iri melihat kawan-kawan yang menorehkan prestasi hebat. Di dalam lubuk hati kadang-kadang bisa terlintas cemburu pada kesempatan yang saya inginkan namun malah diperoleh orang lain dengan mudahnya. Walau tak sampai membuat saya membenci atau mengubah saya menjadi hater,  sepertinya racun itu tak bisa saya hindari. Saya tak bisa benar-benar suci, jadi yang dapat saya lakukan adalah berhenti mengikuti akunnya atau menyibukkan diri dengan proyek pribadi.

BLOG KATA REFFI

Benar atau tidak, kebiasaan berselancar di media sosial itu terjadi ketika kita memiliki terlalu banyak waktu luang atau mungkin tidak ada kesibukan berarti. Parahnya meski sedang tenggelam dalam kesibukan pun, mengupload sesuatu atau sekadar searching itu tak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari. Yang bisa kita kontrol hanya frekuensinya. Tidak update sama sekali  media sosial juga akan membuat kita jadi kuper. Kalau berlebihan dalam berenang di dunia maya, akibatnya kehidupan nyata dengan kesibukannya akan terabaikan. Yang berlebihan itu tak pernah baik.
(Baca juga: Etika Curhat)

Nah, setelah melewati banyak renungan panjang, yang sebelumnya saya menganggap sindrom ‘rumput tetangga lebih hijau’ itu dalam konotasi negatif, kini ada sedikit pergeseran. Perasaan iri itu kalau diolah dalam takaran yang cukup malah bisa mendorong kita untuk bisa lebih maju. Bagaimana bisa?

Pada dasarnya manusia itu sombong
Sebelum melempari saya dengan jutaan dalil dan khotbah, coba renungkan, apakah tiap tindak-tanduk kita itu benar-benar tulus tak ingin dinilai baik oleh orang lain meski hanya setitik? Istri berdandan cantik karena ingin dilihat suami, murid belajar rajin supaya dapat nilai paling bagus dan dipuji, pemuda berdandan rapi untuk memikat lawan jenis dan lain-lain. Asal komposisi sombongnya tidak sampai sundul langit alias over, itu sih tak masalah. Jadi ketika ada teman yang punya kendaraan baru atau gadget baru misalnya, bolehlah kita iri dan berniat ingin memiliki barang yang sama. Tapi please sombonglah pada dirimu dengan bilang,”Aku nggak butuh gadget canggih yang ganti tiap dua bulan sekali demi dinilai tajir, toh aku kan kerja buat nafkahin ortu dan adek. Duitku mah lebih berfaedah daripada beli gawai yang enam bulan berikutnya harganya anjlok.” Sombonglah dengan pencapaianmu meski hanya pada diri sendiri. Jangan berpikir jika apa yang dicapai orang lain itu diraih dengan cara instan. Mereka boleh pamer, anda juga. Namun yang membedakan adalah anda tak perlu koar-koar.

Biar tidak malas
Melihat teman bisa jalan-jalan ke kota lain atau luar negeri misalnya lantas membuat hati remuk-redam. Daripada sibuk nyinyir dan menganggap jika mereka terlalu menghamburkan uang, kenapa tidak memotivasi diri supaya tidak malas bekerja dan menabung lalu pergi ke kota yang sama? Tempelkan foto kota atau negara tujuan yang ingin dikunjungi di dinding kamar. Pandangi tiap mau tidur  dan bangun pagi. Bekerjalah lebih giat,  jangan hanya sibuk meratap di atas kasur.

BLOG KATA REFFI


Asah kelebihan lebih keras
Tiap orang lahir dengan keunikan masing-masing. Kita takkan bisa sama dengan mereka atlet nasional yang sudah berhasil mengharumkan nama bangsa lewat raihan medali emas. Saya selalu iri dengan artis atau siapapun yang berhasil meraih beasiswa luar negeri. Kesempatan itu belum saya miliki meski saya bisa berbahasa Jepang lancar dan lumayan bisa berbahasa Inggris. Realitanya saya punya kemampuan menulis. Jadi kemampuan berbahasa asing itu saya asah menjadi profesi dan menulis sebagai jalan menyalurkan ide di kepala. Tanpa sadar, passion tersebut memberikan saya jalan untuk berprestasi. Di saat saya menganggap mereka yang mendapat beasiswa itu super keren, ternyata banyak pembaca tulisan saya yang ingin belajar menulis pada saya. Malah ada yang terang-terangan menyatakan kekaguman pada tulisan saya meski hanya sekadar status iseng di media chat. Daripada meratapi hal yang belum bisa kita miliki, lebih baik asah kelebihan dan passion yang kita cintai. (Baca Juga: Tanda Kita Belum Sepenuhnya Merdeka)


Hidup lempeng tanpa motivasi itu sangat membosankan. Datar-datar saja tanpa impian juga sangat sia-sia buat waktu. Bolehlah bermimpi, asal jangan sampai menyiksa diri sendiri pada angan-angan semu. Hadapi realita, disiplin untuk berkarya dan jangan lupa rendah hati jika sudah dianggap memiliki prestasi.

Saturday, 3 February 2018

Cara Pintar Memilih Apartemen

February 03, 2018 0 Comments

Tinggal di kota besar itu membutuhkan tips dan trik agar bisa survive. Jika anda tinggal di kota besar untuk bekerja terutama, maka memilih hunian tinggal juga membutuhkan strategi tersendiri. Jika  masih hidup lajang, mungkin memilih tempat tinggal yang tak terlalu besar, asal bersih dan nyaman pasti akan lebih mudah ketimbang jika anda sudah berkeluarga.  Padatnya perkotaan dan juga tanah yang terbatas seringkali membuat biaya kontrak atau membeli tempat tinggal menjadi melambung. Nah, jika anda berniat untuk memiliki hunian sekaligus ingin berinvestasi, maka membeli apartemen bisa menjadi salah satu pilihan.

 Ada beberapa hal yang harus dicermati agar anda bisa memilih apartemen dengan cermat.

1. Pelajari track record penyedia  apartemen
Akhir-akhir ini banyak terjadi kasus penipuan berkedok perumahan yang sudah merugikan pembeli. Tak hanya perumahan, apartemen juga umumnya menggunakan jasa developer untuk melakukan penjualan. Anda wajib menyelidiki latar belakang dan track record developer apartemen sebelum deal soal pembelian. Anda bisa juga mengecek di Asosiasi Perhimpunan Penghuni Rumah Susun Seluruh Indonesia (APERSSI). Jika sebuah developer memiliki rekam kerja buruk seperti menelantarkan apartemen yang belum jadi misalnya, maka sebaiknya anda berpikir ulang sebelum membeli.

2. Periksa surat kelengkapan bangunan
Jika anda hendak membeli apartemen untuk tempat tinggal, maka pastikan juga seluruh dokumen kepemilikan tak ada masalah. Baik membeli rumah atau apartemen pada developer, perlu ditanyakan  surat HGB (Hak Guna Bangunan), surat izin prinsip developer dalam membangun kompleks apartemen, IMB (Izin Mendirikan Bangunan) dan SIPPT (Surat izin Penggunaan Peruntukan Tanah). Jangan sampai setelah membeli ternyata dokumen-dokumen tersebut bermasalah atau malah tidak diterima. Pastikan sebelum membeli.


3. Mengenali kebutuhan 
Bagaimana jika dana yang dimiliki masih belum cukup untuk mencicil apartemen? Anda bisa menyiasatinya dengan menyewa. Sewa apartemen murah sudah mudah ditemukan di dunia maya. Anda juga bisa mencari informasi melalui iklan baris surat kabar. Kenali kebutuhan sebelum menyewa apartemen contohnya apakah lokasinya ingin dekat dengan tempat kerja, akses ke jalan raya seperti apa dan fasilitas yang ingin didapat penghuni di dalam apartemen.

4. Faktor keamanan
Menyewa apartemen tak hanya dalam hitungan bulan atau tahun. Fasilitas sewa apartemen harian juga disediakan oleh pihak ketiga atau agen apartemen. Jika anda memiliki apartemen, maka menyewakan apartemen juga dapat menjadi bisnis yang menggiurkan. Namun perhatikanlah tingkat keamanan apartemen baik di lingkungan dan di dalam. Cek sistem penjagaannya dan juga CCTV di dalam apartemen.


Inilah beberapa tips yang bisa anda terapkan untuk membeli atau menyewa apartemen. Pintar-pintarlah sebelum menyetujui perjanjian dengan developer. Semoga bermanfaat!

Tuesday, 16 January 2018

Karena Saya Tidak Mau Menyerah

January 16, 2018 4 Comments
Pernahkah kamu bermimpi lalu lama kelamaan mimpi itu kamu pendam karena orang lain merendahkan? Saya pernah, tapi untungnya tidak lama. Dulu di masa kecil, semua teman-teman punya impian yang setipe seperti ingin jadi dokter, ahli medis, atau pilot. Rata-rata cita-citanya keren dan berbobot.



Sebenarnya saya punya impian, suatu hari ingin menjadi ahli bahasa atau penulis. Namun, karena tak ada yang bermimpi begitu,  impian pun beralih menjadi dokter gigi.

Hobi selalu berlanjut, sampai SMU saya masuk kelas IPA karena merasa kelas IPA itu lebih dipandang, padahal jiwa saya IPS, tapi saya benci Akuntansi. Lulus SMU, pilihan pun berkubang pada Farmasi, Kesehatan Masyarakat dan jurusan lain yang sains banget. Dan saya juga memasukkan jurusan HI di kolom SNMPTN. Alhamdulillah saya tidak lolos 😁

Karena sesungguhnya saya ikut setengah hati. Ini bukan jiwa saya, lalu Papa meminta saya mengambil jurusan Sastra Inggris karena prestasi bahasa tersebut sudah cukup bagus sejak zaman SD. Tapi saya tegas menolak. Alasannya, saya sudah lumayan bisa kalau untuk berbicara, mendengar atau menulis sederhana. Kalau saya harus menekuni lagi di bangku kuliah, saya takut mati bosan.

Teringat dengan buku-buku bahasa Jepang yang tidak bisa saya pahami, iya saya hobi membeli buku bacaan dalam bahasa Jepang. Padahal buku itu setara pelajaran tingkat advance, namun saya membatin jika suatu hari nanti saya harus bisa membacanya. Saya bertekad masuk jurusan Sastra Jepang.

Berdebat dengan Papa, gondok dan agak cemas apakah saya bisa lulus tepat waktu, membuat saya bertekad kuat agar bisa menjadi yang terbaik bagaimanapun caranya.

Dan, empat tahun itu seperti membuka keran yang terlalu lama buntu. Saya bahagia meski belajar keras tiap hari demi menjaga nilai. Saya akan galau kalau ada nilai B. Pernah ada satu nilai C karena keteledoran saya, satu-satunya nilai C dalam empat tahun sukses bikin saya malas makan. Lebay? Jelas tidak. Karena saya terbantu dari beasiswa. Saya bukan anak orang kaya, uang saku pun pas-pasan. Orang tua akan selalu membiayai penuh, tapi saya ingat dengan janji di awal kalau saya akan menjadi yang terbaik. Pun melihat Papa bekerja keras demi memberi anak-anaknya pendidikan terbaik membuat saya ingin menangis. Saya tahu diri untuk tidak bersikap manja.

Di momen kelulusan, saya memberi orang tua surat undangan wisuda. Mereka terkejut karena di tahun terakhir saya sama sekali tak pernah minta uang bimbingan, uang print dan biaya-biaya tugas akhir lainnya hingga biaya wisuda. Diam-diam saya bekerja freelance dengan menulis dan menerjemahkan.

Di titik ini ketika saya sudah bekerja menggunakan bahasa asing, belajar hal baru dari bahasa asing, bisa menabung sedikit-sedikit  dan traveling dari menulis, seketika membuka mata saya. Andai saya menjadi dokter, atau sesuatu yang bukan 'jiwa' saya, apakah saya akan bahagia? Andai saya menyerah di tengah perjalanan, apakah saya akan gembira?


Tak mudah, dan banyak yang mencibir pilihan-pilihan saya. Saya belum menjadi sesukses JK Rowling atau menjadi ahli bahasa super. Tapi saya adalah orang sukses yang berhasil mencapai impian saya di tiap fase. Saya bisa sampai di titik ini berkat doa orang tua dan dukungan para sahabat. Merekalah yang menjadi bensin di saat lemah.


Saya belum sempurna, tapi sesekali menghargai pencapaian pribadi bukankah bukan hal yang salah? Jadi apapun yang sudah kamu capai hari ini, sesederhana apapun itu, busungkanlah dada namun jangan lupa untuk tetap rendah hati.

Tuesday, 9 January 2018

Review Harga Sebuah Percaya: Dongeng Panjang Mengenai Melepas Rasa

January 09, 2018 0 Comments






Penulis : Tere Liye
Jumlah halaman : 298 halaman
ISBN : 978-602-9474-121
Terbit : Mei 2017
Penerbit : Republika


“Pecinta sejati tidak akan menyerah sebelum kematian itu sendiri datang menjemput dirinya.”
Novel ini adalah salah satu karya Tere Liye yang membuat saya kagum. Sekali lagi penulis ini membuktikan jika ia bisa membuat cerita dalam kemasan yang berbeda, meski temanya masih tentang cinta. Harga Sebuah Percaya menceritakan tentang Jim, seorang pemuda lembut penggesek biola yang harus patah hati karena ditinggal cinta pertamanya. Jim jatuh cinta pada Nayla, seorang putri dari negeri Baduin yang rela mati karena tak ingin dijodohkan dengan putra pilihan orang tuanya.

Perkembangan karakter Jim diceritakan dengan indah, karena memang formatnya dongeng. Jim yang sangat lemah dan pengecut bertemu dengan Sang Penandai, pria misterius yang disebut sebagai penjaga dongeng. Jim tidak berani membawa Nayla pergi meski sang kekasih hati sudah meminta untuk diajak kabur, rasa takut Jim melebihi rasa cintanya. Setelah melihat tubuh kaku Nayla pasca minum racun, baru penyesalan hebat melanda Jim. Pemuda itu ingin bunuh diri, namun ia juga tak mau. Sang Penandai pun meminta agar Jim mengikuti kapal penjelajah yang dipimpin Laksamana Ramirez demi mencari Tanah Harapan.

Saya sampai gemas membaca karakter Jim yang begitu lemah. Sebagai laki-laki, ia tak kuat memperjuangkan cintanya dan baru menyesal ketika perempuannya pergi. Ia mendaftar menjadi pelaut meski hatinya hancur berantakan. Selama bulan-bulan pertama ia akan menyepi dan menangis sampai dijuluki sebagai Kelasi Yang Menangis. Pete, sahabatnya, berusaha mengerti meski tangisan Jim sering mengganggu tidurnya. Dan petualangan demi petualangan seru sampai yang hampir mencabut nyawa membuat Jim mulai terlupa pada patah hatinya. Jim tumbuh semakin kuat dan tangguh dan Laksamana Ramirez pun mulai dekat dengan sang kelasi yang juga berani bertarung melawan perompak bengis.

Seperti halnya dongeng, keajaiban secara pasti datang tiap kali masalah menimpa tokohnya tetapi penulis bisa meramu ending yang unik serta tidak terduga. Secara filosofis kita akan belajar tentang bagaimana mengambil risiko untuk terus melanjutkan hidup meski hati sedang patah. Justru dengan terlalu memeluk kesedihan dan tidak mau melangkah maju, kesedihan akan semakin kuat mencengkeram dan menyedot semangat hidup. Sesekali Jim jatuh hati pada sosok perempuan lain yang ia temui di tengah perjalanan berlayar, namun ia tetap ingin mendampingi kawan-kawannya karena tak ingin hidup dalam kebahagiaan semu. Bertarung, melawan musuh, berjuang bersama kawan seperjalanan membuat Jim lebih bijak. Novel ini layak dibaca para pecinta atau penyuka dongeng. Selamat membaca!

Monday, 8 January 2018

5 Tips Menulis Bagi Pekerja Sibuk

January 08, 2018 6 Comments



Menjadi penulis adalah salah satu hal yang menjanjikan dewasa ini. Anda cukup duduk di depan laptop atau komputer, menuangkan banyak ide menjadi tulisan yang menghibur atau bermanfaat, lalu mengirimkannya pada media. Anda juga bisa menerbitkan tulisan menjadi buku sehingga mendapat materi. Banyak yang berpikir jika menulis begitu mudah dilakukan, tetapi ketika sudah  benar-benar serius terjun di dalamnya, tak banyak yang mampu bertahan. Alasan yang banyak berdatangan adalah karena kurangnya waktu, lelah dan capek, writer’s block dan juga segudang alasan yang membuat seseorang kepayahan dalam meneruskan tulisannya sampai tidak ingin lagi berkarya. Niat saja tidak cukup jika Anda tidak memiliki komitmen yang super kuat.

Lantas bisa jadi ada hambatan lain yang bisa juga muncul. Rasa putus asa di tengah proses  menulis karena dianggap sebagai kegiatan membuang-buang waktu saja misalnya, terutama bagi Anda yang masih memiliki pekerjaan utama, akan menghentikan kecintaan dalam dunia tulisan jika tak menemukan waktu untuk menulis. Anda pasti familiar dengan penulis terkenal Ika Natassa yang populer dengan genre metropopnya. Ika Natassa adalah sorang bankir profesional, Jika Anda terinspirasi dan ingin menjadi seperti Ika Natassa, inilah beberapa tips menulis bagi Anda yang sibuk bekerja.

tips menulis pekerja sibuk


·         Tentukan tujuan menulis
Apa yang paling Anda inginkan dari tulisan? Mengawali sesuatu dengan niat kuat memang sangat penting, namun menentukan tujuan akan memberi pedoman buat Anda jika ingin profesional di bidang kepenulisan. Misalnya, Anda berniat menjadi blogger yang profesional selain sibuk bekerja di kantor dari pagi hingga sore hari. Pertama, temukan apa tujuan anda menulis blog. Blog seperti apa yang ingin Anda buat, apakah bertemakan traveling, lifestyle ataukah soal kuliner? Jika Anda ingin menulis banyak hal di dalam blog, oke-oke saja, tetapi blog yang campuran pun akan dilirik klien jika isinya informatif serta berkualitas. Temukan tujuan ngeblog, salah satunya untuk menyajikan informasi yang berguna buat pembaca, sehingga tulisan apapun yang akan Anda buat pasti bisa menarik pembaca jika ditulis dari hati dan untuk tujuan yang baik.

·         Temukan waktu dan lokasi pas untuk menulis
Menentukan kapan dan dimana Anda akan menulis juga menjadi sebuah hal penting. Ada yang nyaman menulis di ruang kerja dan dekat dengan jendela hingga bisa menatap ke luar sesekali, atau ada pula yang lebih nyaman menulis di kamar. Temukan spot di tempat tinggal Anda yang paling enak digunakan untuk menulis. Anda bisa memilih akan menulis di pagi sebelum bekerja atau malam setelah pulang kerja. Waktu yang paling baik biasanya jam 4 sampai jam 6 pagi, di saat otak masih fresh. Tetapi tak semua orang bisa menulis di pagi hari. Yang perlu diingat, meskipun Anda menulis di malam hari, jangan lupa untuk tetap menyeimbangkannya dengan cukup istirahat.

·         Gunakan timer atau alarm ketika menulis
Cara ini sangat ampuh terutama jika Anda memiliki waktu luang sangat sempit. Anda bisa melakukan aktivitas menulis bebas sampai tulisan selesai dan lakukan editing belakangan. Setengah jam sehari sudah cukup. Matikan internet, nyalakan alarm, setel alarm sepuluh menit atau lima belas menit sekali. dan ketika alarm dinyalakan Anda bisa menulis secepat mungkin. Tuangkan ide di kepala, tanpa berpikir soal struktur kalimat serta typonya. Jika alarm berbunyi, beristirahatlah sejenak, selang semenit atau dua menit untuk melemaskan jari-jari atau minum. Jika sudah rileks, lanjutkan lagi sampai alarm terakhir. Jangan berpikir untuk mengedit tulisan ketika karyanya belum selesai. Hal ini akan membantu Anda untuk  menulis cepat dan juga memupuk kebiasaan menulis di dalam waktu yang sempit.

·         Tulis semua ide namun setialah pada satu naskah
Karena waktu menulis Anda sangatlah terbatas, maka jangan menulis banyak judul sampai tidak adan satupun naskah yang selesai. Ketika Anda memutuskan untuk terlibat dalam satu proyek menulis, buatlah deadline yang pasti dan usahakan untuk setia sampai menulis kata tamat. Apabila banyak ide bermunculan sehingga membuat Anda terdistraksi, catat saja semua ide tersebut di gadget atau notes. Jangan terburu-buru membuat naskah baru.

·         Beri penghargaan kecil setelah naskah selesai
Tak peduli seberapa panjang naskah yang sudah Anda selesaikan, meski hanya dua lembar puisi dan satu halaman cerita pendek misalnya, jika sudah menyentuh kata tamat, berilah penghargaan kecil-kecilan untuk diri Anda sendiri. Hiburan itu bisa dengan menonton film, membaca buku favorit dan traveling tanpa menulis sama sekali.  Sesekali hiburlah diri Anda dan berilah waktu untuk tidak menulis agar pikiran bisa kembali tercerahkan.


Inilah beberapa tips supaya Anda tetap bisa menulis meski bekerja penuh waktu atau sibuk beraktivitas selain menulis. Jika Anda rutin menulis, maka menerbitkan buku tak akan lagi menjadi impian kosong. Let’s start to write!

Friday, 5 January 2018

Menjelajahi Potongan Keindahan Tersembunyi di Kota Blitar

January 05, 2018 6 Comments

Liburan panjang Natal dan Tahun Baru sudah menggelitik banyak orang untuk menjadwalkan liburan ke tempat-tempat baru, termasuk saya juga. Saya, Devi, Sari dan juga Metha, empat orang  gadis yang senang traveling kebetulan memiliki jadwal libur yang sama meski tempat kerja kami berbeda-beda. Jadi setelah mencocokkan tanggal, diputuskanlah liburan dari tanggal 23 sampai 25 Desember 2017 lalu kami menjelajahi kota Blitar.


Kota Blitar bukanlah kota yang asing buat saya. Sejak kecil, saya sudah beberapa kali pergi ke kota tersebut tetapi ujung-ujungnya hanya mengunjungi makam dan bekas rumah tokoh Proklamator Nasional, Bung Karno. Ikon utama wisata Blitar lainnya tak sepopuler kompleks makam Bung Karno. Oleh sebab itu, berbekal  sedikit pengetahuan dan gambar-gambar dari instagram, kami menyusun itinerary sendiri menuju tempat wisata yang tak kalah menariknya. Hotel dan juga mobil beserta driver sudah didapat, kami juga sudah membayar uang muka sewa peralatan kemah. Di hari kedua nantinya, kami berencana untuk berkemah di kebun teh, dan hanya di hari pertama saja menginap di hotel.


Semua persiapan sudah selesai, tinggal membeli tiket kereta api. Blitar dianggap sebagai kota dalam jangkauan jarak dekat dari Surabaya sehingga tidak bisa dipesan online. Repotnya, bila ingin naik kereta dalam jarak dekat, pembeli harus antre di stasiun sejak pagi. Singkat cerita, hal ini membuat saya dan teman-teman jadi kapok naik kereta dalam jarak dekat. Karena apa? Kami mendapat tiket berdiri, tanpa tempat duduk! Kalau mau naik bus pun rasanya sangat tidak mungkin, mengingat saat ini jalur darat Surabaya-Malang-Blitar sudah sangat macet dan salah satu kawan saya memiliki fobia naik bus. Kami pun pasrah dan tetap gembira karena yang mendapat tiket tanpa tempat duduk tidak hanya kami berempat, tetapi ratusan penumpang.


Cobaan belum berhenti sampai di situ. Tiket keberangkatan sudah ada di tangan dan kami akan berangkat pukul 8.30 pagi pada tanggal 23. Lucunya, Sari malah baru berangkat pukul 7.30 dari rumahnya menuju Stasiun Gubeng. Entah mungkin karena sedang apes, Sari yang menaiki taksi Uber sampai berganti naik ojek online karena mobil yang tak bisa merangsek kemacetan. Hasilnya, dia tertinggal kereta. Dan harus rela naik bus sendirian dari Terminal Purabaya.


Karena banyaknya penumpang kereta menuju Blitar yang tidak mendapat tempat duduk, alhasil mendadak kami bertemu dengan banyak orang yang siap duduk bergantian. Tidak ada egoisme di sini. Saya yang memiliki gangguan skoliosis ringan di  pinggang kiri, pasti akan merasa nyeri jika terlalu lama berdiri. Dan sebuah keluarga baik di dalam kereta, mau duduk dan berdiri bergantian sampai di kota Blitar. Sementara itu ternyata perjalanan Sari jauh lebih melelahkan lagi. Bus kota yang ia tumpangi dari terminal Purabaya terjebak kemacetan parah di Malang, sehingga bus itu berbalik ke terminal Arjosari dan membuat Sari harus berganti bus. Ia baru sampai jam tiga sore di Blitar sementara saya dan teman-teman lainnya sudah selesai makan siang serta berfoto-foto di kawasan Candi Penataran.
Di kereta bergantian duduk 


Nah, lokasi makan siang dekat Stasiun Blitar itu bernama Ayam Bakar Bu Mamik. Makanannya sangat enak dan termasuk murah. Sambal yang mantap dan bumbu meresap sampai ke daging ayam membuat lidah saya seperti merasakan masakan buatan koki paling hebat. Teman-teman saya pun mengamini jika makanan restoran yang berlokasi di Jalan Kalimantan 11A Blitar  itu memiliki rasa yang enak. Perjalanan dari tempat makan  sampai Candi Penataran hanya memakan waktu 30 menit. Kebetulan saat itu cuacanya agak panas dan lembab. Tiket masuk ke candi juga gratis. Pengunjung hanya mengisi buku tamu lalu boleh menjelajah masuk ke kawasan candi.

Ayam bakar Bu Mamik 

Candi Penataran adalajh kompleks candi yang cukup megah di Jawa Timur dan terletak tak jauh dari Gunung Kelud. Seperti candi hindu lainnya, desainnya pun cenderung ramping memanjang tanpa adanya stupa seperti candi beragama Buddha. Dari prasasti yang ditemukan di sekitar candi, kemungkinan Candi Penataran dibangun pada saat Raja Srengga dari Kerajaan Kediri memimpin, sekitar tahun 1200 Masehi. UNESCO menetapkan candi ini sebagai salah satu calon situs warisan dunia pada tahun 1995. Candi ini dibentuk secara simetris. Ada bagian halaman depan di bagian sisi barat laut Candi Penataran yang dibangun arca. Ada beberapa candi dalam kompleks ini dan yang sering menjadi jujukan para wisatawan, termasuk saya adalah candi induknya. Dari candi yang dibangun paling besar ini, saya bisa melihat keseluruhan kompleks candi yang sangat menghijaukan mata. Sangat indah apalagi jika dilihat dari atas. Rupanya ada relief cerita Ramayana di bagian tubuh candi induk, letaknya di bagian teras utama.


Berfoto di kompleks Candi Penataran membuat saya seolah terlempar ke masa lalu. Begitu banyak menghasilkan banyak renungan masa silam. Di zaman dulu, nenek moyang kita memiiki cita rasa seni tinggi dan begitu menghargai arsitektur asli Indonesia. Seharusnya kita sebagai generasi muda bisa turut melestarikan atau menciptakan karya yang bisa dikenang hingga anak cucu. Mengunjungi candi atau gedung bersejarah memang saya usahakan masuk dalam agenda jalan-jalan jika berkunjung ke sebuah kota.


Setelah puas mengelilingi Candi Penataran, jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Sari mengirim pesan lewat chat room jika dia sudah hampir sampai Terminal Blitar. Kami pun bersiap-siap dan beranjak meninggalkan candi. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Sari sampai di terminal dengan wajah pucat dan agak lelah. Kami tertawa karena baru pertama kali ini mengalami kesialan saat hendak traveling,”Namanya traveling, ini yang  bikin kenangannya berkesan.” Kata saya. Perjalanan tak terduga dan masalah yang mendadak muncul di tengah perjalanan, melatih kita agar lebih tangguh lagi.
Setelah berkumpul, perjalanan dilanjutkan untuk menuju hotel. Kami memesan Patria Garden Hotel sebagai tempat bermalam di hari pertama. Di luar ekspektasi, hotel ini ternyata sangat nyaman dan bisa dihuni sampai enam orang. Dengan nuansa Bali dan juga tempat yang nyaman, saya dan teman-teman seolah tinggal di rumah kontrakan, bukannya hotel. Konsep penginapannya sendiri memang tidak dibuat per kamar namun dibentuk seperti perumahan. Ada tiga kamar tidur dengan dua bed di masing-masing kamar. Ada dua kamar mandi, satu dapur dan juga satu televisi.
Suasana kamar Patria Garden Hotel 


Di hari kedua kami meluncur ke Gua Luweng. Objek wisata ini kami ketahui dari postingan instagram mengenai Blitar. Lucunya, driver kami tidak tahu soal wisata ini dan kami pun hanya mengandalkan Google Map. Bisa dibilang, technology had saved our holiday. Berputar-putar selama dua jam lebih, dan melewati jalan berliku sampai lewat persawahan dan hutan (saya pikir kami salah jalan), akhirnya kami pun sampai.


“Anda sudah sampai.” Kata si Google Map. Saya celingukan mencari papan nama atau spanduk bertuliskan Gua Luweng. Mulai deh ada perasaan janggal, jangan-jangan kami tersesat dan si Google Map itu salah? Setelah bertanya pada penduduk sekitar dengan bahasa Jawa halus sebisanya, saya tahu jika lokasi Gua Luweng sudah dekat. Namun tidak akan ada guide yang membawa kami hari itu. Katanya, semua guide sedang bekerja. Hah? Kalau begitu objek wisata ini tidak terurus dong? Pikir saya.


Karena sudah melewati perjalanan yang cukup jauh, kami semua nekat untuk pergi ke lokasi gua tanpa pemandu. Jalur pertama saja sudah bikin deg-degan. Kami harus melalui jalur sungai yang pasti licin dan pastinya akan sangat berbahaya kalau sampai jatuh. Setelah itu perjalanan dilanjutkan melewati jalan setapak dan semak-semak. Kami menemukan banner lusuh yang bertuliskan Gua Luweng. Sampai di sana, kami takjub. Ada air terjun kecil dan mata air yang mengalir masuk  ke dalam gua. Sebenarnya sangat indah apalagi kami bisa bebas menikmati pemandangan dari ketinggian. Namun karena tidak ada pemandu dan tidak membawa perlengkapan safety, kami tidak bisa menjelajah masuk ke ceruk gua. Posisi paling indah dan misterius berada di dalam ceruk gua karena ada lubang di langit-langit yang menjadi terobosan cahaya matahari. Mungkin karena tidak diurus dengan baik, tempat ini jadi kehilangan peminat dan benar-benar sepi saat ini. Tidak ada pengunjung lain selain rombongan kami. Puas berfoto-foto sebentar, perjalanan dilanjutkan ke kebun teh Sirah Kencong.
Jalur pertama Gua Luweng
Masih belum sampai Gua Luweng

Air terjun Gua Luweng 


Di pikiran saya, jalan menuju  Sirah Kencong itu mungkin hanya seperti dataran tinggi biasa. Tak berliku dan sangat menyenangkan. Kenyataannya, saya dan teman-teman benar-benar salah duga lagi. Jaraknya tak terlalu jauh, tetapi belokannya sangat banyak dan curam. Ditambah lagi mobil kami baru mencapai daerah Sirah Kencong ketika magrib menjelang. Saya banyak berdoa di dalam hati. Ada bagian jalan yang sedang diperbaiki sehingga kami seperti sedang naik mobil off-road. Seru tapi juga cemas. Saya bisa bernapas lega saat mencapai pos pertama kebun teh Sirah Kencang. Kami turun untuk melakukan registrasi, yang mencengangkan rupanya perjalanan menuju tempat kemah masih super jauh lagi.


“Kalau mau ke atas, kalian bisa trekking, tapi jalurnya cukup jauh dan ini sudah malam. apa kalian berani?” kata  salah satu di antara bapak-bapak di pos utama. Katanya jarak menuju tempat kemah masih delapan kiloan lagi. Mobil pribadi tidak akan bisa naik ke atas karena jalurnya berbatu besar-besar, tidak ada penerangan dan juga sama sekali tidak ada aspal. Otomatis hanya mobil jenis jip hartop seperti yang digunakan di Bromo saja yang bisa naik. Dengan membayar biaya tambahan untuk satu kali naik dan satu kali turun keesokan paginya, kami berempat naik. Driver pun kami ajak karena dia tidak pernah kemping. Ternyata gila! Jalannya benar-benar membuat kami harus berusaha menjaga keseimbangan. Tempat duduk yang keras dan berusaha supaya barang-barang perkemahan yang kami sewa tidak berhamburan membuat perjalanannya sangat tidak nyaman. Tetapi saya dan teman-teman bisa tertawa lepas karena sama sekali tidak menduga jika perjalanan hari ini jauh dari kata nyaman.  Awan yang bebas polusi dipenuhi bintang-bintang. Udaranya pun semakin dingin. Jarang-jarang bisa kami dapatkan di kota.


Sesampainya di lokasi, kami berlima termangu. Terus ini cara membangun tenda bagaimana? Kami membolak-balik tenda yang pasrah, udara semakin dingin karena sudah semakin larut. Untungnya ada beberapa bapak pendaki yang mau membantu. Setelah pusing selama setengah jam, tenda pun berdiri. Beberapa pendaki Gunung Butak sudah melanjutkan perjalanannya. Perut yang keroncongan mendorong kami untuk meyalakan kompor portable.
“Eh kompornya nggak bisa nyala,” seru kami kecewa. Entah kenapa kompor portable ini mendadak ngambek. Badan sudah capek dan lapar membuat kami berusaha mencari ide. Ada bekas api unggun yang bisa kami nyalakan. Dan kami pun memasak air panas untuk menyeduh mi cup yang sudah kami bawa.


Saya sangat menikmati momen ini. Tidak ada sinyal ponsel dan tidur di tengah alam bebas itu adalah hadiah buat saya. Ketinggian adalah tempat yang selalu membuat saya ingin kembali. Ketika mata semakin mengantuk, saya dan teman-teman menuju matras dan sleeping bag masing-masing. Karena mudah tidur di mana saja, saya segera terlelap. Di spot yang dinamai Wukir Negoro masih belum ada fasilitas MCK. Jadi saat di tengah malam buta saya ingin buang air kecil, saya keluar sendirian dari tenda dan mencari lokasi yang sudah dibuat sebagai lokasi MCK. Hanya berupa lubang dengan WC tanpa air dan tutupan dari seng. Berdoa terus saya lakukan dalam hati. Maklum lokasi di alam bebas begini dan tanpa ada orang lain yang menemani juga membuat saya sedikit was-was. Saya membawa air mineral untuk membersihkan diri dan cuci tangan.


Berfoto dari pos pantau

Happy Camping

Beautiful Landscape 


Dan Sirah Kencong menjadi lokasi favorit saya di Blitar kali ini. Setelah matahari terbit. Terlihat pemandangan menakjubkan dari Wukir Negoro. Ada beberapa spot perkemahan di Sirah Kencong, Wukir Negoro adalah spot tertinggi kedua, dan yang paling rendah adalah Brak Papat. Di sini kami bisa mencoba berfoto dari pos pantau yang membuat seluruh panorama kebun teh dan juga pegunungan tertangkap mata. Kopi nikmat dibuatkan seorang bapak pendaki yang baru pulang dari Gunung Butak. Saya merasakan betapa hangat rasa persaudaraan meski kami tak saling mengenal. Jauh dari keluarga dan keramaian, namun menemukan banyak orang yang mau membantu itu juga hal yang indah, bukan?

Kopi buatan bapak pendaki 

 Rasanya semalaman di kebun teh hingga jam 9 pagi, membuat saya enggan pulang. Namun hari terakhir liburan sudah tiba. Dan kami harus segera menuju tempat terakhir sebelum bersiap-siap pulang. Setelah mengembalikan perlengkapan kemah, kami menuju Kampung Coklat, sebuah wisata oleh-oleh dari cokelat yang sangat tersohor di Blitar. It is a paradise for me!! Saya adalah penggemar banyak makanan, tapi cokelat dan es krim adalah camilan favorit  sejak balita hingga selamanya. Sesudah kalap belanja cokelat untuk diri sendiri dan juga keluarga, kami mencari lokasi untuk makan siang sekaligus mandi. Sejak satu malam sebelumnya hingga pulang dari Sirah Kencong, saya dan teman-teman masih belum sempat mandi. Jadi dengan celana training dan kaus lusuh beserta muka kucel, kami belanja di tengah-tengah ibu-ibu yang berdandan cantik.

Suasana Kampung Cokelat 


Surga cokelat


Liburan ke Blitar kali ini sangat menantang terutama dari banyak kejadian di luar dugaan yang membuat kita tertawa, jengkel tapi sekaligus gembira. Pulang ke Surabaya pun tiket yang kami terima masih tanpa tempat duduk namun kami bisa bercakap-cakap berisik sampai terpingkal-pingkal membicarakan banyak hal. Sekali lagi saya bersyukur kepada Tuhan karena bisa diberi kesempatan untuk mengulik keindahan tersembunyi di kota Blitar. Semoga potongan keindahan itu lebih diperhatikan masyarakat dan pemerintah setempat supaya tidak terabaikan. Happy traveling!!