Wednesday, 11 April 2018

Menjadi Wordpreneur Telah Mendobrak Keterbatasan

April 11, 2018 2 Comments

Tak banyak orang paham dengan apa makna wordpreneur yang sering saya sebutkan. Kebanyakan mengira jika seorang wordpreneur hanya berkutat di bidang tulis-menulis saja. Padahal, wordpreneur yang saya maksud di sini adalah sebagai seorang penyuka beragam bahasa dan juga tentunya dalam dunia menulis. Wordpreneur adalah jiwa saya.


Bukankah berbicara pun merupakan bagian dari berkomunikasi? Seharusnya kita tak mengkotak-kotakkan kata wordpreneur dalam seni menulis saja, seseorang yang juga mahir mengolah kata secara verbal atau lisan seperti public speaker dan interpreter pun sepatutnya disebut juga sebagai wordpreneur. Dan saya tak bisa lepas dari bahasa asing maupun menulis. Lewat dua hal itulah saya mengalami perjalanan yang luar biasa serta mengatasi keterbatasan dalam pendidikan hingga mencari nafkah.

image source: Women.com

Saya menguasai dua bahasa asing yaitu bahasa Inggris dan Jepang, serta masih akan mempelajari bahasa-bahasa asing lain. Mulanya ketika mempelajari bahasa Jepang di masa kuliah, banyak orang yang mencemooh pilihan studi saya.

“Bahasa asing yang utama itu bahasa Inggris aja. Emang lulusan Sastra Jepang bisa kerja apa? Siapa yang mau nerima lulusan Sastra Jepang? Mau jadi TKW?”

Komentar-komentar miring itu tak membuat saya surut dalam belajar. Saya berusaha dua kali lebih keras dari kawan-kawan yang lulus dari jurusan bahasa di SMU-nya. Beasiswa yang saya peroleh adalah pada mulanya, hingga saya bisa mencari kerja sambilan di semester akhir dan terjun di dunia interpreter yang semula saya pikir akan sangat sulit dicapai. Kondisi ekonomi keluarga yang kencang di segala sisi, membuat saya tak ingin menjadi sarjana gagal yang kesulitan mencari kerja. Saya bertekad untuk menjadikan bahasa yang saya pelajari dan dunia menulis yang saya cintai sejak kecil akan menjadi ladang keberkahan. Dan itu tak semudah yang saya kira.


Awal Mula Menjadi Interpreter
Semula saya pikir jika menjadi English atau Japanese Intrepreter akan berpakaian formal dan dalam situasi meeting yang tenang. Ternyata setelah terjun di dunia interpreter yang sesungguhnya, saya harus beradaptasi dengan beragam karakter klien yang tak selalu mudah dan belajar berada di lingkungan yang tak selalu kondusif, serta mempelajari hal-hal yang semula saya hindari. Di tahun terakhir kuliah, saya mengumpulkan dana untuk skripsi, biaya bimbingan dan persiapan wisuda. Dan job sebagai Japanese Interpreter adalah sumber dana yang sangat lumayan waktu itu.

Lokasi job pertama berada di sirkuit balap motor yang juga menjadi event nasional pada 2013. Saya harus bisa bertahan di tengah cuaca Surabaya yang super panas dan menjadi satu-satunya perempuan di sirkuit. Selama kuliah, saya belajar soal budaya dan sastra, bukan soal mesin motor. Saya tak suka dengan onderdil, bahkan mengendarai sepeda motor pun tak becus, tapi kali ini saya dipaksa untuk memahami sistem kerja mesin motor serta bagian-bagiannya dalam bahasa Jepang. Apalagi saya adalah interpreter kedua, menggantikan orang sebelumnya yang demam tinggi setelah dua hari terpapar panas di sirkuit.

Blog Kata Reffi
di hari terakhir, baru ada teman perempuannya


Rasa tak percaya diri dan takut harus saya kalahkan. Jika tidak bertanya kepada teknisi dan tim lokal di situ, mana bisa saya paham dengan sistem sebuah mesin motor untuk balap? Rasanya saya ingin lari dan tidak kembali, tetapi lagi-lagi karena terdesak kebutuhan saya tak mau menyerah di tengah jalan. Jelas saja banyak sekali suara-suara menggoda dari pekerja pria, ingin mengajak saya berkenalan hingga memandang dengan sorot mata ingin tahu hanya karena saya satu-satunya perempuan. Tapi saya berusaha acuh. Malah saya merasa nyaman dengan tim klien pertama waktu itu. Karena saya dianggap sebagai tim, tak ada yang memandang saya remeh. Mereka bilang,”Meski mbak ini satu-satunya perempuan, tapi posisimu penting di sini. Teknisi utama dan pembalap kami dari Jepang. Jika kami tak bisa bekerjasama karena kendala komunikasi, maka kami sudah kalah sejak awal.”

Blog Kata Reffi
Menerjemahkan sampai malam 

Ternyata saya semakin menikmati pekerjaan sebagai interpreter di dunia yang sangat maskulin. Selepas wisuda, saya diterima bekerja di sebuah perusahaan peleburan baja. Bayangkan saja yang menjadi tempat kerja saya lingkungannya sangat panas dan juga hanya saya yang menjadi satu-satunya perempuan di lapangan. Bekerja di lingkungan yang challenging membuat saya lebih memperhatikan kondisi tubuh. Saya jadi rajin olahraga agar tidak mudah keok saat lama berdiri mendampingi tenaga kerja asing di lapangan, rajin minum air putih karena bahaya kalau sampai dehidrasi, serta belajar untuk membawa diri di tengah dunia maskulin. Rekan kerja  saya pun bersikap profesional.

Beberapa tahun bekerja di perusahaan peleburan baja, saya pindah ke sebuah perusahaan Jepang yang memproduksi part mesin traktor. Meski tak sepanas di tempat kerja pertama, saya harus sering naik turun tangga untuk mengecek kondisi lapangan dan menyelesaikan pekerjaan berbau administrasi di kantor. Saya tak hanya menjadi interpreter tetapi juga mempelajari bidang kerja lain seperti soal General Affair dan Purchasing. Jelas saja ilmu saya makin bertambah. Uniknya, ketika menjadi pekerja, saya jadi lebih jarang sakit ketimbang saat masih kuliah. Mungkin karena menyadari jika lingkungan kerja sangat menantang, maka saya jadi tak sembrono soal kesehatan

Blog Kata Reffi
Maskulin banget ya seragam kerja saya, di kantor terkini :D


Menulis Membawa Petualangan Baru
Menulis telah membawa saya ke banyak petualangan baru. Tak hanya merasakan senang ketika buku atau artikel terbit lalu disukai pembaca, tetapi juga saya bisa menjadi seorang trainer di dunia yang saya sukai. Beberapa kesempatan menarik seperti menjadi trainer untuk mengajari anak-anak menulis, menjadi trainer online kepenulisan fiksi atau bisa berinteraksi dengan pembaca lewat blog adalah hal-hal yang saya impikan. Dulu saya bepikir jika untuk menjadi trainer harus menunggu umur lebih tua, tetapi saya kini bisa merasakan menjadi seorang writing trainer di usia yang terhitung masih muda.
Blog Kata Reffi
Menjadi writing trainer Kumon English di Surabaya

Saya yang dulu sempat menjadi pemalu tapi punya ide berlebih yang menunggu dibicarakan, kini juga bisa menyalurkan semua ide serta pengalaman lewat sharing kepenulisan. Saya menjadi lebih percaya diri dan bersemangat untuk terus menulis agar memiliki pengalaman yang bisa dibagikan. Tak harus menunggu usia tua untuk memberi pelatihan.

Blog Kata Reffi
Menjadi pembicara di sharing session Polyglot Surabaya tentang Interpreter

Itulah pengalaman saya menjadi wordpreneur. Ada yang mengira saya bekerja sebagai full-time writer, ada pula yang penasaran saya ini bekerja sebagai interpreter di perusahaan apa karena saya tak pernah menyantumkan nama perusahaan di medsos,  kecuali akun LinkedIn. Memang saya ingin dikenal dari kemampuan saya berbahasa asing serta menulis, bukan dari bekerja di perusahaan tertentu.  Keterbatasan bisa saya atasi dengan tak takut untuk belajar dan menghadapi kesulitan dengan semangat. Perempuan pun bisa berkarya pada bidang apapun yang ia cintai.


Penulis:
Reffi Dhinar, seorang wordpreneur (Japanese Interpreter, blogger, public speaker, writing trainer, penulis buku). Tulisan ini diikutkan dalam kompetisi Perempuan Juara di Lingkungan Kerja.

Saturday, 7 April 2018

Mini Ebook: How To Be The Interpreter

April 07, 2018 2 Comments

Apakah kamu suka belajar bahasa asing? Tidak salah memang jika kemampuan bahasa asing disebut sebagai salah satu skill yang dibutuhkan di zaman globalisasi saat ini. 

Bagaimana jika kamu sudah menguasai satu atau dua bahasa asing lalu ingin mengubahnya menjadi pekerjaan? 

Peluang karir terbuka lebar buat kamu yang gemar dan piawai berbahasa asing, saya pun sudah merasakan banyak manfaatnya. 

How to be interpreter

Manfaatnya antara lain: 
 1. Bisa membuka kursus bahasa asing. Ini cocok sekali buat kamu yang punya jiwa entrepeneur dan buat perempuan yang nantinya ingin membuka bisnis dari rumah. 
 2. Menjadi interpreter. Saya sudah merasakan banyak manfaat ketika terjun menjadi seoran interpreter. Pekerjaan satu kece lho, dan buat yang menjadi freelancer interpreter berpengalaman bisa dapat banyak rupiah per harinya. Atau jika bekerja di perusahaan, bisa menambah skill ilmu lain di luar bahasa asing. 
 3. Menjadi translator. Banyak buku asing, film dan serial yang butuh translator untuk menerjemahkan. Kesempatannya pun terbuka lebar.

Oke kan? Nah lewat artikel ini, saya akan berbagi salah satu materi saya tentang pengalaman merintis karir sebagai seorang Japanese Interpreter. Materi ini sudah pernah saya sampaikan di acara meet up Polyglot Surabaya tahun lalu. 
(Baca Juga: Interpreter Journey)  

Silakan download di sini buat kamu yang ingin tahu rahasia menjadi interpreter ya. Kalau ingin bertanya bisa juga tuh kirim email ke saya, ada di kolom contact blog ini ya. ^_^ 













Tuesday, 3 April 2018

5 Tools Menjadi Orang Sukses

April 03, 2018 0 Comments


Siapapun kalau ditanya ingin jadi apa, jawabannya beragam, namun intinya adalah INGIN MENJADI ORANG SUKSES. Nah, jika mendefinisikan kesuksesan, ingin menjadi orang yang sukses seperti apa? Pastinya, kesuksesan itu harus dijalani dengan cara yang positif dan tidak merugikan orang lain atau bertentangan dengan norma hukum. Betapa banyak orang, contohnya para pejabat tinggi negara kita yang berhasil memegang kekuasaan, sukses menurut kacamata masyarakat, namun ujung-ujungnya tersandung kasus korupsi milyaran sampai triliyunan. Itulah contoh orang-orang sukses yang menghalalkan segala cara dan ingin cepat berhasil tanpa proses berlelah-lelah ria.

Ada banyak teori yang bisa diterapkan untuk menjadi sukses. Beragam cara agar cepat kaya, berhasil menembus universitas idaman, menjadi pribadi yang lebih disukai, dan cara menarik lainnya telah dibahas di banyak buku atau internet. Tapi kadang masih saja kita masih belum bisa menerapkan atau mendapatkan hal terpenting apa yang bisa membimbing langkah menuju kesuksesan.



Dari berbagai tips dan trik ada beberapa tools penting dan mendasar agar kita menjadi magnet bagi kesuksesan.
·         Memiliki goal yang jelas
Tak hanya ingin sekadar menjadi sukses, tapi kita harus bisa menentukan secara spesifik apa dan seperti apa yang ingin kita capai. Mulailah dari hal sederhana, misalnya ingin menurunkan berat badan. Jangan hanya berangan-angan ingin tubuhnya semacam Jennifer Lopez saja, tapi konsultasikanlah dengan ahli gizi atau dokter Anda (jika Anda memang obesitas), lalu pilih diet yang tepat.

Tentukan goal ingin turun berapa kilo dalam beberapa bulan. Buatlah goal yang masuk akal. Goal besar itu lalu dipecah menjadi goal bulanan, kemudian diturunkan kembali menjadi goal harian. Misalnya, mengurangi jatah nasi putih dan mengganti dengan nasi merah dan berolahraga dua puluh menit sehari. Merasa sibuk? Olahragalah di rumah dengan bangun lebih pagi. Ada banyak video yang bisa diunduh mengenai cara berolahraga di rumah tanpa harus pergi ke gym. Kuatkan tekad dan tulis pencapaian harian hingga membuat diri kita bangga. Terapkan cara itu untuk mencapai impian yang lain.

·         Seni berkomunikasi
Siapapun tak peduli orang itu pendiam, pemalu atau introvert bisa menjadi komunikator ulung. Komunikasi itu sangat dibutuhkan agar kita bisa menjalin relasi bisnis yang baik, memiliki kualitas hubungan yang oke atau mendapatkan kesempatan untuk unjuk kebolehan. Orang yang sukses adalah orang yang paham untuk berkomunikasi dengan orang lain sesuai kepribadian masing-masing. Tak hanya soal berbicara, namun juga bagaimana kita mendengarkan orang lain. Menurut banyak penelitian dan pendapat, kita berbicara secara verbal hanya sekitar 10 sampai 20%, sisanya dikomunikasikan dari gerak tubuh dan mimik wajah.

Jika ingin memikat lawan bicara dan bisa membuat pendapat kita didengar hingga disetujui, kemampuan berkomunikasi ini wajib kita miliki. Tetapi jangan untuk digunakan sebagai alat manipulasi ya.

·         Leadership
Seorang leader yang baik bisa membimbing timnya atau orang lan yang bekerjasama dengannya dalam hubungan yang harmonis untuk mencapai tujuan bersama. Jiwa leadership ini penting apalagi jika Anda ingin memiliki perusahaan atau bisnis sendiri yang nantinya pasti akan membutuhkan bantuan orang lain. Atau bisa jadi Anda menjadi leader dari sebuah event di perusahaan serta komunitas? Leadership itu tak hanya soal memimpin dan membina tetapi juga tahu caranya untuk mendistribusikan tugas sesuai visi misi yang sudah dibuat. Menjadi orang tua yang oke juga harus belajar soal leadership, lho. Jadi semua ini penting untuk segala hal di hidup kita.

·         Curiousity
Rasa ingin tahu atau curiousity itu akan mendorong kita agar mau terus belajar. Semakin banyak hal kita pelajari, maka kita menjadi merasa tidak tahu banyak. Jika sudah memiliki goal yang spesifik dan rentang waktu yang dicanangkan, tekuni dengan membaca banyak buku, mengikuti kelas atau mencari sumber di internet soal passion yang kita dalami.

·         Good attitude
Empat hal di atas sudah kita miliki namun bagaimana kalau tingkah kita menyebalkan? Hmm, pasti orang lain akan malas berurusan dengan kita. Padahal untuk menjadi sukses, kita harus memiliki kualitas hubungan yang baik. Attitude adalah hal terpenting. Kita akan mudah membuka kesempatan baik dan semakin dekat dengan kesukesan jika bersikap rendah hati dan mau menerima kritik serta saran tanpa mengecam.

Itulah lima hal yang menurut saya menjadi hal mendasar agar kita bisa menjadi daya tarik kesuksesan.  Saya pun masih terus belajar agar bisa menjadi magnet kesuksesan, salah satu caranya adalah mengikuti kelas soft skill. Kelas soft skill yang  menurut saya oke yaitu diprakarsai oleh Upgrade Learning Center di Surabaya. Penekanan pembelajarannya tidak pada teori saja, tapi bagaimana kita bisa meng-upgrade diri supaya bisa mendapatkan hasil yang diinginkan.


Saya telah mengikuti beberapa kelasnya dan masih akan mengikuti kelas yang belum sempat saya ikuti di batch sebelumnya. Insight mengenai tools dalam menjadi diri kita lebih berdaya dan sukses diajarkan lewat sharing yang menarik. Suasana kelasnya santai, friendly dan jumlah peserta yang tak terlalu banyak di tiap kelas membuat saya bisa lebih fokus. Dan hasilnya memang tak terlihat secara kasat mata, namun ada wawasan yang saya ketahui untuk mencapai goal yang saya idamkan meski untuk hal-hal kecil.

sumber foto: IG @upgrade_now 


Jika tertarik untuk belajar, ikutilah kelas terbarunya dengan mengunjungi akun instagram @upgrade_now. Selamat belajar! 

Sunday, 1 April 2018

Belajar Bahasa Asing dan Menulis Membuat Hidupku Berubah

April 01, 2018 10 Comments
Aku adalah anak aktif yang juga dikenal memiliki rasa ingin tahu tinggi. Prestasi di sekolah  kucapai sejak sekolah dasar, namun karena beberapa kejadian, secara perlahan aku memilih untuk tidak terlalu menonjolkan diri. Ya, aku adalah si kutu buku yang tidak memiliki teman dekat.

Sahabat-sahabatku yang baru kutemukan di bangku SMU, meyakinkanku untuk terus menggali kemampuan bahasa asing dan percaya jika suatu hari aku akan menjadi penulis seperti yang kucita-citakan, walau banyak orang berkata jika semua kegemaran itu tidak ada faedahnya.

Selain mencintai buku, aku tergila-gila dengan menulis. Hobi lainnya adalah menekuni bahasa asing. Aku serius belajar bahasa Inggris sampai lumayan fasih lalu berhasrat untuk menguasai bahasa Jepang. Andai ada kelas bahasa di SMU dulu, pasti aku akan masuk kelas itu.

Ketika aku bercerita mengenai hal ini kepada orang tua, yang terlontar dari mereka adalah,”Untung di sekolahmu nggak ada kelas bahasa. Yang bagus itu masuk kelas IPA. Kam mau jadi apa kalau masuk kelas bahasa?”

Mendengar itu aku jadi sedikit kecewa. Selama ini orang tuaku memang tidak melarangku untuk ikut les bahasa asing atau menulis cerita di sela waktu belajar, tetapi jika menjadikan kedua hobi itu sebagai tujuan hidup agaknya akan menimbulkan perdebatan. Profesi yang keren itu selalu identik dengan hal-hal berbau eksakta seperti dokter dan insinyur. Kelas IPA atau Sains dianggap lebih prestisius.

Image Source: Fanpop.com 


Belajar Bahasa Jepang Disebut Mau Jadi TKW
Lulus SMU, aku diminta Ayah untuk masuk ke jurusan-jurusan berbau ilmu eksakta. Hasilnya gagal semua. Yang ada di benakku adalah aku ingin menjadi orang yang fasih berbahasa asing dan juga menjadi penulis yang inspiratif. Setelah gagal di berbagai ujian masuk, kunyatakan keinginan kepada orang tua jika ingin masuk jurusan Sastra Jepang. Respons yang kuterima sudah bisa kutebak.

“Mau lulus jadi apa? Anak-anaknya teman Ayah yang masuk jurusan itu bilang kalau Sastra Jepang itu gampang masuknya, sulit keluarnya. Banyak yang mutung di tengah jalan.”

Kecemasan itu memang ada benarnya. Apalagi keluargaku bukanlah keluarga kaya sehingga jika ingin menguliahkanku pasti  harus rela mengencangkan ikat pinggang. Singkat cerita, aku berkuliah di jurusan impianku setelah berjanji kepada Ayah,”Lihat deh, Yah. Aku akan menjadi yang terbaik. Aku akan lulus dengan presatasi terbaik.”

Yang menyakitkan adalah kata-kata dari kenalan yang bilang,”Mau apa belajar bahasa Jepang? Mau kerja jadi pembantu di sana? Mau jadi TKW?”

Pikiran orang-orang yang tidak tahu dan awam menghujat pilihan kuliahku. Aku tak peduli. Aku belajar jauh lebih keras dari mahasiswa lain yang berasal dari kelas bahasa dan sempat mengenyam bahasa Jepang lebih lama. Aku pernah ikut kursus bahasa Jepang ketika SMP tetapi hanya sebatas tata bahasa paling dasar dan akhirnya lupa karena kursusnya bubar di tengah jalan. Kuliah bahasa Jepang tak hanya belajar huruf kanji, tata bahasa ratusan, budaya dan sastranya tetapi juga sedikit ilmu psikologi. Kupakai waktu malamku untuk belajar. Hampir tiap hari selalu ada kuis atau tes kecil yang mempengaruhi indeks prestasi. Syukurnya, aku bisa melaluinya dengan sangat baik. Tiap semester aku mendapat nilai terbaik bahkan pernah mendapat indeks prestasi sempurna dua kali. Nilai IP  tidak pernah di bawah 3,6. Beasiswa pun sering kuperoleh.
(Baca Juga: Lancar Berbahasa Asing di Komunitas Polyglot Surabaya)

Profesi Penerjemah dan Penulis
Sejak tahun terakhir kuliah, aku mencari banyak pekerjaan freelance, dari menerjemahkan di event, menerjemahkan naskah tertulis dan menulis artikel. Hanya 4 jam waktu tidurku selama sehari sampai tubuhku ambruk karena maag akut dan sinus akut. Profesi penerjemah pun kuperoleh selepas lulus kuliah. Aktivitas menulisku semakin meningkat dari yang hanya sebagai penulis antologi meningkat menjadi penulis buku atas nama sendiri dan blogger. Aku pun belajar content writing secara perlahan. Kini tulisan-tulisanku dan juga kemampuanku dalam berbahasa asing sudah memberiku rezeki yang cukup. Malah kini aku dipercaya untuk sesekali mengisi workshop mengenai kepenulisan. Sungguh sebuah keajaiban!
(Bacs Juga: Berkarya dengan Bahasa Asing)

Dengan menjadi penerjemah, aku juga belajar hal baru di kantor. Mulai dari ilmu manufaktur, bisnis, manajemen dan lainnya. Penerjemah di dunia perusahaan juga dituntut memiliki kemampuan di luar bahasa asingnya.

Kini mulai banyak yang berkeinginan mengasah kemampuan bahasa asingnya dan ingin belajar menulis. Duniaku semakin meluas. Mereka yang dulu mencibir kini bertanya padaku apa aku dulu sudah tahu soal kemungkinan bahasa asing serta menulis akan menjadi kebutuhan saat ini? Jelas saja aku menjawab tidak. Aku tak pernah bisa meramal bagaimana dunia akan berputar. Yang kumiliki adalah rasa percaya dan ketekunan agar dua passionku benar-benar bermanfaat.

Kini aku bukan lagi anak kutu buku yang menutup diri dari dunia. Aku memiliki banyak impian dan semuanya berkat dua hobi yang kujadikan energi dalam hidup, selain karena ingin membahagiakan orang tua. Cintai impian kita dengan tulus, bekerja keras, dan lihat keajaiban apa yang akan kita terima.
Image Source: quora.com 


Monday, 5 March 2018

Menjadi Pemenang Atau Pecundang Itu Masalah Mental

March 05, 2018 6 Comments

Seperti biasa saya menjadi tempat curhatan kawan-kawan yang sedang galau dengan masalah hidupnya. Ada yang masalah pekerjaan dan mayoritas soal cinta. Saya sadar kebutuhan curhat adalah sebuah kebutuhan biologis bagi kaum perempuan agar bisa mengosongkan sebagian sampah di pikiran dan perasaannya. Saya sendiri juga pasti akan mencari kawan dekat untuk curhat jika sedang dilanda keresahan. Dari banyaknya curhatan itu muncul rasa miris di pikiran saya. Bersedih adalah hal wajar, namun jika sampai membuat rasa percaya diri runtuh, galau berbulan-bulan hingga menutup diri dari segala hal baru rasanya mulut ini gatal ingin berteriak,”Why do you like to be a looser?”

Tiap kali saya memberikan pesan supaya beberapa orang yang hobinya tenggelam dalam kesedihan sampai ratusan hari itu supaya memilih bahagia, jawaban yang saya dapatkan hampir seragam.

“Kamu enak, karena kamu nggak ada di posisiku.”“Kamu itu kan emang  cewek yang punya sisi maskulin, makanya nggak cewek-cewek banget kalau lagi ada masalah perasaan.”

tips menjadi wanita keren

Kalau sudah begitu biasanya saya hanya akan diam lalu bertindak sebagai pendengar saja tanpa memberi pesan apa-apa. Jika orang yang sama datang lagi beberapa minggu kemudian masih dengan masalah yang sama, saya akan memberi ketegasan yang contohnya begini,”Kan sudah kubilang tempo hari, kusaranin kaya gini. Kalau kamu masih menderita karena kamu nggak mau beranjak dan nendang tuh orang brengsek ya itu salahmu, bukan salah dia.”

Rasanya lucu tiap kali mendengar orang yang menganggap saya jauh dari yang namanya kegalauan dan masalah patah hati. Saya adalah orang yang mudah cemas. Patah hati berat sudah pernah saya alami dan jujur waktu itu saya sampai kehilangan semangat untuk beraktivitas apalagi berkarya. Yang menyembuhkan diri saya adalah curhat pada sahabat dan keluarga, membaca banyak buku pengembangan diri, mengunjungi tempt-tempat baru lalu mulai banyak berkarya. Apa yang membuat saya merasa berarti dan saya cintai, pelan-pelan menghapus rasa sedih itu. Efeknya, orang yang menyakiti sampai mengemis untuk diizinkan memasuki kehidupan saya kembali dan karena otak saya sudah sepenuhnya waras, maka permintaan tersebut saya tolak mentah-mentah. Satu hal yang orang itu katakan adalah.

“Ternyata kamu terlihat jauh lebih bahagia ketika jauh dari saya.”

Langsung saya bertepuktangan di dalam hati. Well, I never decided to take a revenge, I chose to move forward step by step. Ketika bersedih dalam hal apapun seharusnya kita bergerak.

Saat sedih dengan berat badan yang terus naik, harusnya kita mulai berolahraga serta menjaga pola makan. Ketika kita dikhianti kekasih atau perasaan kita dipermainkan orang lain, maka cara terbaik adalah tinggalkan orang brengsek itu. Saat orang-orang di tempat kerja sudah banyak memfitnah dan tidak menghargai etos kerja kita, maka carilah tempat baru dengan atmosfer yang lebih baik. Kuncinya adalah bergerak dan berpindah atau kata lainnya hijrah. Hijrah tak harus selalu berpindah ke  tempat jauh. Hijrah adalah sebuah bentuk untuk melepas keburukan dan memperbaiki diri.


tips menjadi wanita keren
Add caption

Dari sumber bacaan yang saya dapat dan juga pengalaman para pejuang kehidupan tangguh yang saya kenal, hidup bahagia itu tanggung jawab kita. Dan menjadi tangguh itu masalah mental.

1.       You may act selfish
Kalau soal memilih kebahagiaan, kita berhak bersikap egois. Bukan berarti egois di sini adalah menghalalkan segala cara dan mengambil hak orang lain lho. Bersikap selfish di sini maksudnya tahu mana yang baik dan buruk untuk diri. Contohnya, kalau seorang perempuan di-PHP gebetannya yang baru saja kenal, lalu sedih terlalu dalam, itu bukan salah pria sepenuhnya. Manusia itu punya dua karakter di dalam hidupnya yaitu menjadi penguji orang lain serta pemberi kebahagiaan buat orang lain. Kita yang unyu-unyu ini bisa jadi pernah menyakiti hati orang lain meski tapa disadari.

 Hanya saja ada orang-orang yang hatinya terlanjur mati karena tak mau menerima nasihat hingga bertindak sengaja terus menyakiti orang-orang di sekitarnya. Kalau sudah begini seharusnya perempuan yang merasa disakiti, tak perlulah meratap berlama-lama. Sedihlah satu sampai dua hari, maksimal seminggu. Mulai asah bakat dan belajar banyak hal baru.  Masa diri yang cantik dan berharga ini mau menye-menye hanya untuk laki-laki yang kepribadiannya rendah? Please, know your time to act selfish when someone teases you like a sh*t.

2.       Move, Walk, Run
“Masalahnya aku belum nemu cinta dan pacar baru, mana bisa aku move on?” Sering dengar keluhan macam begini? Kalau kalimat itu ditelaah dalam-dalam, kesannya yang saya dapat ialah kebahagiaan itu ditentukan dari kita memiliki pasangan baru atau tidak. Padahal meskipun punya kekasih baru namun perasaan masih bertahan pada mantan, masih sering kepo ke media sosialnya, apa tidak kasihan pada kekasih baru yang tidak tahu menahu soal kepahitan hati kita? Lama-lama tindakan kita pun berisiko menyakiti pasangan baru. Lingkaran setan tak akan putus. Ya, tiap orang punya masa berkabungnya sendiri-sendiri. Bahkan di saat sudah menjadi pribadi yang lebih berkilau pun, bisa saja terselip rasa pahit akibat masa lalu yang buruk. Bergeraklah, carilah orang-orang dan kawan baru yang mendorong kita berani bermimpi. Sama dengan saat kita mengeluh bahwa tubuh ini gendut. Carilah cara agar bisa langsing dengan cara sehat. Bergerak, berjalan lalu berlari sampai kita bisa menertawakan masa lalu tanpa mengorbankan perasaan orang lain.

3.       Berpegang pada Tuhan
Terdengar klise memang, namun inilah bentuk kepercayaan tertinggi tiap kali saya mengalami kesedihan dalam hidup. Saat saya memiliki masalah berat di dalam pekerjaan, saya terus curhat pada Tuhan sampai menemukan ketenangan. Mulailah saya mencari pekerjaan baru. Lucunya setelah sempat menolak untuk bekerja di tempat baru, tenyata Tuhan mengalihkan saya pada tempat itu lagi. Maka berpindahlah saya ke lingkungan baru dan wajah saya yang terlihat kusam akibat stres mulai menunjukkan keceriaannya kembali. Sebelum itu saya memang beberapa kali dipanggil interview di beberapa perusahaan lain namun masih di lingkungan yang sama dengan tempat kerja baru saya.

tips menjadi wanita keren


Seperti ada getaran yang saya rasa,”Kayanya aku bakal kerja di sini deh.” Sama dengan hubungan yang saya gagal di masa lalu. Tuhan sudah memberikan pertanda dan jawaban dari doa saya. Kami memang tidak cocok dan tidak berjodoh makanya Tuhan menunjukkan ketidakjujurannya pada saya lewat mimpi. Terkesan lucu ya? Alhamdulillah, meski bukan kaum religius yang ndakik-ndakik, saya percaya jika Tuhan akan selalu memberikan apa yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan. Berpegang pada Tuhan akan selalu menyelamatkan dibanding menggantungkan kebahagiaan pada sesama manusia.

Mental pemenang atau pecundang itu bisa dipilih. Jikalau masih merasa lemah, maka kita wajib berlatih. Train your mental state,  choose your own happiness!

Friday, 16 February 2018

Menyentuh Aroma Sejarah Kerajaan Jawa di Museum Ullen Sentalu

February 16, 2018 6 Comments
foto museum ullen sentalu
Sumber foto: Google ( bagian luar museum), hiks gadget saya hilang yang isinya foto ini 

Museum adalah satu kata yang identik dengan kuno, ketinggalan zaman dan juga tua. Lekat dengan frasa tua, maka museum menjadi tempat yang jarang menarik minat pengunjung apalagi untuk anak-anak dan orang muda. Memang benar karena kenyataannya museum di Indonesia itu umumnya terkesan hanya dipakai sebagai gudang barang-barang bersejarah dan dipamerkan tanpa penataan dan manajemen yang rapi. Namun meski begitu saya justru lebih tertarik mengunjungi lokasi bersejarah seperti candi, bangunan kuno atau museum selain pergi ke alam bebas. Dan sejauh ini baru ada satu museum yang membuat saya ingin kembali berkunjung yaitu Museum Ullen Sentalu.


Saya mengunjungi museum ini setahun lalu tepatnya 29 Maret 2017. Berpetualang bersama seorang sahabat saya, Devi, kami menuju ke museum yang berlokasi di kawasan Kaliurang itu berbekal Google Map dan sepeda motor. Kami mendatangi Yogyakarta dengan niatan untuk menjelajahi lokasi wisata yang berbeda dari biasanya. Jadi tak ada jadwal ke pantai-pantai dan juga mampir ke candi. . Perjalanan lumayan melelahkan, mungkin sekitar dua jam namun karena suhu udara Kaliurang yang sejuk serta pengalaman di museum yang memesona, membuat kami tak menyesal jauh-jauh ke sana.
Baca Juga: Perjalanan Serba Mendadak ke Yogya 


Sesampainya di sana, awalnya saya agak underestimate begitu waktu lihat bagian depan museum. Kok kesannya jadul banget dan juga agak seram ya? pikir saya. Terus terang sewaktu memutuskan untuk ke Ullen Sentalu, saya tak banyak browsing atau mencari informasi. Hanya berbekal sebongkah ingatan dari artikel yang pernah saya baca di surat kabar, maka saya memutuskan untuk pergi. Tapi setelah memasuki bagian loket, pesimisme saya buyar. Saya jatuh cinta dari patung perempuan yang terletak di lobi.
foto museum ullen sentalu
Dok. Pribadi (di bagian lobi museum) 

Pengunjung harus menunggu sekitar lima belas menit sekali sebelum masuk. Rombongan pun dibatasi sampai sekitar belasan orang saja. Satu rombongan akan didampingi guide. Terlihat sekali jika manajemen museum ini sangat rapi dan karena didampingi guide, pengunjung tak harus membaca label-label benda pada museum. Dan perjalanan pun terasa asyik.


Sebelum memulai perjalanan mengelilingi museum, guide memberikan peraturan yang wajib dipatuhi. Pengunjung tidak boleh sembarangan mengambil foto di dalam ruangan dan tentu saja tidak boleh merusak properti museum yang rata-rata sudah tua. Kami akan diantar memasuki ruangan-ruangan yang menjadi saksi sejarah anggota kerajaan di kawasan Jawa Tengah terutama di wilayah Mataram. Nama Ullen Sentalu adalah singkatan dari “Ulating blencong sejatine tataraning lumaku” bermakna  “Nyala lampu blencong adalah petunjuk manusia dalam melangkah dan meniti kehidupan”. Lampu blencong adalah lampu minyak yang sering digunakan di pertunjukan wayang kulit. Mungkin dari filosofinya bisa saya simpulkan jika sebuah cahaya kecil di tengah gelap akan menjadi penerang langkah manusia dan salah satunya adalah dengan memahami sejarah masa lalu agar langkah kita ke depannya bisa lebih terarah.


Kami diajak untuk memasuki satu per satu ruangan yang didesain cederung gotik namun tak meninggalkan kesan tradisionalnya. Jalanan setapak yang sudah dipaving serta bagian sisi kiri dan kanan yang ditumbuhi tanaman serta pepohonan, membuat saya seperti benar-benar terlempar ke masa lampau. Ruangan-ruangan tersebut berisikan gamelan dan seni tari yang dipentaskan di kerajaan. Koleksi gamelan di Ullen Sentalu adalah pemberian dari salah seorang pangeran di Kasultanan Yogyakarta. Terdapat juga ruangan untuk pameran lukisan para anggota kerajaan dan tokoh penting di Dinasti Mataram. Saya juga menjadi semakin mencintai batik setelah mengetahui sejarah panjang batik tradisional yang dipakai di kerajaan zaman dulu. Batik-batik itu menunjukkan derajat si pemakai dan juga akan dipakai di acara apa. Maknanya sungguh tinggi apalagi batik sudah diakui sebagai budaya bangsa Indonesia oleh UNESCO.


Di sela-sela perjalanan dari satu ruang ke ruang lain, pengunjung akan dipersilakan beristirahat sejenak sambil minum teh tradisional yang katanya diminum para puteri keraton agar tetap cantik dan awet muda. Ada campuran jahe, kayu manis, dan gula jawa. Kami diperbolehkan memotret di ruang minum teh (sedihnya gadget saya yang dipenuhi foto di ruang ini tak terselamatkan karena dicopet orang September 2017 lalu).


Yang menjadi ruang favorit saya adalah Ruang Syair dan Ruang Putri Dambaan. Di Ruang Syair, saya bisa merasakan betapa puitisnya GRAj Koes Sapariyam atau sering disebut Puteri Tineke di saat menuangkan kegundahan hatinya akan cinta. Puteri dari Pakubuwono XI, Raja Solo, ini jatuh cinta pada seorang laki-laki yang tidak disetujui kedua orang tuanya. Lewat surat yang di antaranya juga ditulis dalam bahasa Belanda ini, saya jadi merasakan bagaimana resahnya seorang putri di kalangan keraton tak bisa mencintai sekehendak hati mereka. Dan akhirnya ia rela melepas status kebangsawanannya demi bersama si pujaan hati. Surat yang ditulis untuk kerabat-kerabatnya itu dibentuk dalam sajak  indah yang menyentuh. Terlihat sekali bakat sastra sang puteri dan pendidikan yang ia terima turut memperindah bahasanya.  Satu kalimat yang saya catat dan tertancap di benak adalah

Cinta tanpa kepercayaan adalah suatu bualan terbesar di dunia ini.

Beralih ke Ruang Putri Dambaan, saya terkagum-kagum pada Gusti Nurul, putri tunggal Mangkunegara VII. Gusti Nurul sejak remaja hingga beranjak dewasa memang memiliki wajah cantik, anggun khas Jawa dan profil tubuh yang langsing. Tak hanya itu, ia juga sangat pandai menari sampai pernah diundang secara khusus di acara kerajaan Belanda pada tahun 1937. Nah yang membuat saya jatuh cinta berat pada sosok puteri ini adalah sikapnya yang tegas menolak beberapa tokoh hebat Indonesia, salah satunya Presiden Soekarno karena prinsip yang ia pegang. Gusti Nurul menolak poligami meski ia dibesarkan di lingkungan kerajaan yang sudah awam melakukan praktek memiliki istri lebih dari satu. Puteri ini dikaruniai otak cerdas, pandai berkuda dan pada akhirnya ia memilih untuk menikah dengan seorang pria biasa yang bukan dari kalangan pejabat atau bangsawan.


Di akhir perjalanan, saya menyempatkan diri untuk berfoto di depan relief besar yang dipasang miring bersama Devi. Menurut guide, hal itu menunjukkan jika generasi masa mendatang akan berisiko mengalami pergeseran perilaku dan lupa akar budayanya. Sebagai generasi penerus kita wajib melestarikan budaya dan mengenali sejarah agar tak terlupakan.

Dok. Pribadi (miring-miring dikit) 


Mengunjungi museum ini membuat saya makin menyukai budaya Jawa yang selalu kaya denga filosofinya. Ah nanti kalau ke Yogya lagi, saya pasti akan berkunjung ke Ullen Sentalu lagi dan menjelejahi wisata Kaliurang lainnya.

foto museum ullen sentalu
Narsis bareng novel saya yang terbit tahun lalu 'Secret Heart' 😆


Tuesday, 6 February 2018

Rumput Tetangga Lebih Hijau Itu Ada Manfaatnya

February 06, 2018 2 Comments

Social media is a toxic. Kita akan dengan mudah mengetahui seseorang membeli jam bermerk, liburan ke luar negeri atau barangkali malah mendapatkan pekerjaan mentereng tanpa perlu duduk berbincang dengan si empunya cerita. Semua bentuk kesenangan itu akan mudah terekam di media sosial. Mengapa media sosial bisa menjadi racun? Karena baik bagi si pengunggah dan juga pengikut medsosnya, akan terkena sindrom ‘rumput tetangga selalu lebih hijau’.

Saya juga terkena racun itu. Meski dari luar terlihat happy-happy saja dengan hidup saat ini dan malah terkesan tidak ada masalah, diam-diam saya berdecak iri melihat kawan-kawan yang menorehkan prestasi hebat. Di dalam lubuk hati kadang-kadang bisa terlintas cemburu pada kesempatan yang saya inginkan namun malah diperoleh orang lain dengan mudahnya. Walau tak sampai membuat saya membenci atau mengubah saya menjadi hater,  sepertinya racun itu tak bisa saya hindari. Saya tak bisa benar-benar suci, jadi yang dapat saya lakukan adalah berhenti mengikuti akunnya atau menyibukkan diri dengan proyek pribadi.

BLOG KATA REFFI

Benar atau tidak, kebiasaan berselancar di media sosial itu terjadi ketika kita memiliki terlalu banyak waktu luang atau mungkin tidak ada kesibukan berarti. Parahnya meski sedang tenggelam dalam kesibukan pun, mengupload sesuatu atau sekadar searching itu tak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari. Yang bisa kita kontrol hanya frekuensinya. Tidak update sama sekali  media sosial juga akan membuat kita jadi kuper. Kalau berlebihan dalam berenang di dunia maya, akibatnya kehidupan nyata dengan kesibukannya akan terabaikan. Yang berlebihan itu tak pernah baik.
(Baca juga: Etika Curhat)

Nah, setelah melewati banyak renungan panjang, yang sebelumnya saya menganggap sindrom ‘rumput tetangga lebih hijau’ itu dalam konotasi negatif, kini ada sedikit pergeseran. Perasaan iri itu kalau diolah dalam takaran yang cukup malah bisa mendorong kita untuk bisa lebih maju. Bagaimana bisa?

Pada dasarnya manusia itu sombong
Sebelum melempari saya dengan jutaan dalil dan khotbah, coba renungkan, apakah tiap tindak-tanduk kita itu benar-benar tulus tak ingin dinilai baik oleh orang lain meski hanya setitik? Istri berdandan cantik karena ingin dilihat suami, murid belajar rajin supaya dapat nilai paling bagus dan dipuji, pemuda berdandan rapi untuk memikat lawan jenis dan lain-lain. Asal komposisi sombongnya tidak sampai sundul langit alias over, itu sih tak masalah. Jadi ketika ada teman yang punya kendaraan baru atau gadget baru misalnya, bolehlah kita iri dan berniat ingin memiliki barang yang sama. Tapi please sombonglah pada dirimu dengan bilang,”Aku nggak butuh gadget canggih yang ganti tiap dua bulan sekali demi dinilai tajir, toh aku kan kerja buat nafkahin ortu dan adek. Duitku mah lebih berfaedah daripada beli gawai yang enam bulan berikutnya harganya anjlok.” Sombonglah dengan pencapaianmu meski hanya pada diri sendiri. Jangan berpikir jika apa yang dicapai orang lain itu diraih dengan cara instan. Mereka boleh pamer, anda juga. Namun yang membedakan adalah anda tak perlu koar-koar.

Biar tidak malas
Melihat teman bisa jalan-jalan ke kota lain atau luar negeri misalnya lantas membuat hati remuk-redam. Daripada sibuk nyinyir dan menganggap jika mereka terlalu menghamburkan uang, kenapa tidak memotivasi diri supaya tidak malas bekerja dan menabung lalu pergi ke kota yang sama? Tempelkan foto kota atau negara tujuan yang ingin dikunjungi di dinding kamar. Pandangi tiap mau tidur  dan bangun pagi. Bekerjalah lebih giat,  jangan hanya sibuk meratap di atas kasur.

BLOG KATA REFFI


Asah kelebihan lebih keras
Tiap orang lahir dengan keunikan masing-masing. Kita takkan bisa sama dengan mereka atlet nasional yang sudah berhasil mengharumkan nama bangsa lewat raihan medali emas. Saya selalu iri dengan artis atau siapapun yang berhasil meraih beasiswa luar negeri. Kesempatan itu belum saya miliki meski saya bisa berbahasa Jepang lancar dan lumayan bisa berbahasa Inggris. Realitanya saya punya kemampuan menulis. Jadi kemampuan berbahasa asing itu saya asah menjadi profesi dan menulis sebagai jalan menyalurkan ide di kepala. Tanpa sadar, passion tersebut memberikan saya jalan untuk berprestasi. Di saat saya menganggap mereka yang mendapat beasiswa itu super keren, ternyata banyak pembaca tulisan saya yang ingin belajar menulis pada saya. Malah ada yang terang-terangan menyatakan kekaguman pada tulisan saya meski hanya sekadar status iseng di media chat. Daripada meratapi hal yang belum bisa kita miliki, lebih baik asah kelebihan dan passion yang kita cintai. (Baca Juga: Tanda Kita Belum Sepenuhnya Merdeka)


Hidup lempeng tanpa motivasi itu sangat membosankan. Datar-datar saja tanpa impian juga sangat sia-sia buat waktu. Bolehlah bermimpi, asal jangan sampai menyiksa diri sendiri pada angan-angan semu. Hadapi realita, disiplin untuk berkarya dan jangan lupa rendah hati jika sudah dianggap memiliki prestasi.