.comment-content a {display: none;}

Saturday, 20 August 2016

Keterasingan, Tema Manusia Modern Saat Ini

Diposkan oleh Reffi Seftianti di 00:46
Response 
0 komentar Link ke posting ini
Kali ini di siang akhir pekan yang cerah di Ruang Semanggi Jawa Pos, diselenggarakan  bedah buku mengundang sastrawan besar Budi Dharma. Kumpulan cerpen Orang-orang Bloomington ini ditulis di tahun 70-an lalu diterbitkan ulang oleh Penerbit Noura, lini Penerbit Mizan. 

Budi Dharma menceritakan kembali kilas balik Blomington di abad 17. Di abad tersebut berkembang paham puritanisme. Paham tersebut menyebutkan orang puritan menganggap diri sebagai orang kristen sejati yg bisa berhubungan langsung dengan Tuhan, lantas orang kristen non-puritan disebut orang kafir. Tindakan ekstremnya adalah orang puritan tersebut melakukan tindakan anarkhis pada orang kristen di luar pahamnya. Akibatnya perang saudara terjadi,  orang puritan diperangi orang kristen lainnya, hingga terdesak keluar dari Inggris. 



Orang puritan keluar dari Inggris dan berlayar hingga ke tanah baru yang disebut New England, kini berkembang menjadi Massachusets, Amerika Serikat. Orang puritan memerangi suku indian, hingga muncul rencana keji untuk membunuh suku indian dengan penyakit cacar. Gelombang pendatang berikutnya, yang cinta damai mencari kota lainnya, hingga menemukan sebuah tanah dengan bunga-bunga bermekaran, kota itu disebut Blooming Town, kini disebut Bloomington. Negara bagiannya disebut Indiana, karena penduduk asli tersebut bisa berdamai dengan suku Indian. Mereka tidak suka peperangan  dan juga tidak ingin diganggu. Hingga tahun 70-an masih banyak penduduk keturunan pendatang pertama di Bloomington. Mereka menjunjung tinggi privacy. Kedamaian terjaga namun privacy yang terlalu dijaga ketat hingga muncullah budaya alienasi. Dimana satu sama lain tidak saling mengenal baik karena terlalu mengagungkan privacy. Bloomington serba teratur dan damai. Budi Dharma menganalogikan justru ketenangan yang terlalu itu bisa menyimpan sesuatu yg dalam.

Alienasi itu menyebababkan hubungan orang-orang Bloomington menjadi kurang humanis dan kurang hangat. Hal itu membuat masalah muncul meski Bloomington terkenal sangat damai. Seiring bertambahnya tahun, rumah penduduk Bloomington terus bertambah. Hal itu terjadi karena di tengah keluarga bisa muncul perselisihan yang memicu perceraian. Para single parent membangun rumah sendiri, dan inilah fenomena yang terjadi akibat buruknya suasana humanisme setelah muncul fenomena alienasi. 

Sastrawan besar sekaligus Guru Besar Unesa tersebut menuturkan latar belakang penulisan Orang-orang Bloomington dengan sangat baik. Pada dasarnya cerpen dalam karyanya ingin menghubungkan sejarah masa lalu dengan kehidupan modern orang Bloomington. Meskipun cinta damai, pada dasarnya sisi konflik itu masihlah terwariskan. Jika dahulu berupa konflik fisik, kini lebih berkembang menjadi konflik batin.
Orang-orang Bloomington diterbitkan pertama kali tahun 1980 oleh Penerbit Sinar Harapan. Menurut cerpenis Shoim Anwar, karya sastra yang baik adalah karya sastra yg tak lekang oleh waktu. Buku ini tidak memiliki gap kebahasaan, dan fenomena yang terjadi juga sering terjadi di sekitar kita. 7 cerita pendek dalam  kumcer ini mengangkat isu yang tak jauh dri kita. Shoim Anwar berpendapat jika tema cerita utama atau ciri khas Budi Dharma adalah kesendirian. Konflik yang  terjadi berujung pada perselisihan antara dunia soliter dengan dunia solider. Dimana tokoh 'saya' yang  ingin dekat dengan orang lain namun yang  didekati tak ingin didekati atas nama privacy. Konflik batin menjadi sebuah racun utama dalam hubungan. Kegagalan repetitif tokoh utama dalam mendekatkan diri dengan  orang lain adalah tema utama yang sering muncul dalam  cerpen. Shoim mengulas dengan kocak namun cerdas dan mengena.

Diskusi buku ini membuka pandangan tentang peristiwa yang muncul di tengah  era modern sekarang, dimana hubungan antar manusia  terancam rusak menjadi alienasi, hak untuk menikmati kehidupan sendiri menjadi dewa, atau bahkan kesenjangan hubungan akibat teknologi. Sejarah Bloomington yang  baru saya ketahui juga sangat menarik untuk ditelusuri. Karya sastra yang bisa dijadikan refleksi kehidupan kita, adalah sebuah tema besar yg diusung Budi Dharma dalam karyanya.

Sunday, 14 August 2016

Penghargaan, Ketika Kami Mematahkan Kemustahilan

Diposkan oleh Reffi Seftianti di 05:20
Response 
4 komentar Link ke posting ini

Setahun lalu saya masih ingat, saat satu tim tari kreasi atau dance dari salah satu induk perusahaan yang berhasil menjadi salah satu grand finalis kompetisi, sedang beraksi di depan seluruh peserta jalan sehat. Mata saya tidak bisa lepas dari kelincahan ketiga grand finalis dan juga tubuh saya ikut bergoyang menikmati musik yang menghentak ceria.

Induk perusahaan saya, Indoprima Group,rutin mengadakan kompetisi antar anak perusahaan dalam berbagai bidang olahraga. Menjelang bulan Agustus, tiap perusahaan berlomba-lomba mengirimkan kandidat terpilihnya untuk lomba tenis meja, voli, futsal, dan salah satunya adalah senam kreasi. Semenjak saya melihat penampilan menarik para grand finalis senam kreasi, entah kenapa saya membayangkan jika tim dari PT Jatim Taman Steel dimana saya bekerja, nantinya juga pasti bisa tampil memikat seperti itu.

“Kalau kamu berani tampil seperti itu sama temen-temen yang lain, aku dukung deh Ref,” ujar salah seorang kawan sekantor saya.

Saya terbahak. Musik dan tarian adalah salah satu yang selalu bisa menghibur saya di saat sedang jenuh menulis, bekerja atau saat ingin rileks. Dari zaman sekolah, saya ingin sekali bisa tampil menari dengan iringan musik menghentak di depan banyak orang. Bukan untuk gaya-gayaan, tetapi karena menari dalam sebuah tim itu memiliki kesulitan tersendiri. Dan tentunya juga sangat asyik. Tantangan yang belum pernah saya lakukan, menggelitik saya untuk sesekali mencobanya.
Pidato di depan umum dengan bahasa asing? Sudah sering.
Mengikuti lomba debat? Sudah pernah juga.
Ikut lomba mendongeng? Iya itu lomba yang saya senangi saat SD.
Menjadi pembawa acara sebuah event? Sudah terlalu sering.
Bernyanyi iseng-iseng di depan food court sebuah mal? Meski dengan membaca lirik, beberapa kali saya sudah mencobanya.

Dan kalau untuk menari dengan tim di depan orang banyak, ini baru dua kali saya coba namun bukan dalam bentuk kompetisi. Awalnya saya suka dengan kegiatan ini adalah saat di SMP dulu ada sebuah kegiatan untuk membuat gerakan senam dengan musik pilihan sendiri. Lalu aktivitas kesenian beregu yang harus dipilih saat ujian akhir sekolah seperti membentuk band atau dance. Pilihan saya dan beberapa kawan waktu itu adalah membentuk tim dance. Meski tidak terlalu berbakat, setelah beberapa kali latihan, gerakan saya sudah cukup baik mengikuti irama. Berkeringat dengan cara menyenangkan, itulah sisi asyiknya dari dance.
Makanya saya sempat mengikuti pemilihan anggota cheerleader ketika menjadi siswi SMU. Meskipun terpilih sebagai salah satu anggota inti, nyatanya Papa melarang saya menjadi anggota cheerleader. Katanya saya takut tidak fokus belajar dan malah asyik menari.

Itulah sebabnya, ketika tahun ini saya memiliki kesempatan untuk bisa mengikuti kompetisi senam kreasi atau kata lainnya tari kreasi, saya segera mendaftarkan diri. Mencari 4 anggota lainnya, lalu mencari instruktur yang tepat adalah tantangan berikutnya. Bukan penghargaan yang saya cari, namun bagaimana merasakan atmosfer kompetisi tari seperti yang saya idam-idamkan selama ini.


Berkumpulnya Para Anggota

Akhirnya saya mendapatkan empat kawan lainnya yang mau saya ajak menjadi tim tari kreasi, walau ada yang juga dengan sedikit paksaan, hahahah. Peraturan dari grup adalah anggota harus lima orang, tidak boleh lebih dan kurang. Tema musik dan tarian adalah etnik dengan unsur hip hop. Pada tanggal 6 Agustus, seluruh tim tari dari anak cabang Indoprima Group akan bertanding untuk memperebutkan posisi tiga besar menuju grand final. 

Setelah berkumpul dengan tim, saya langsung berkata begini,”Tim Jatim Taman Steel (JTS) harus bisa dapat tiga besar!”

Kontan saja teman-teman satu tim saya sedikit terkejut. Hanya satu orang di dalam anggota kami yang terbiasa menari di depan umum yaitu menari yosakoi. Saya sendiri tak punya pengalaman ikut kompetisi dance, hanya menari tradisional di zaman TK. Malah salah seorang kawan setim ada yang sulit mengkordinasikan tubuh dengan musik, dan agak bingung dengan arah kanan atau kiri. Singkatnya, kami bukanlah tim yang ideal. Tentu saja dengan target yang saya pasang dan pengalaman perusahaan kami yang tidak pernah lolos tiga besar sebelumnya, sedikit membuncahkan rasa pesimis.

“Jangan ketinggian pasang targetnya, takutnya kita malah stres,” kata salah satu kawan lainnya.

“Nggak boleh loyo. Pokoknya JTS harus tiga besar. Biar kita bisa tampil di acara grand final!” pungkas saya masih penuh semangat. 


Latihan dan Ancaman Kegagalan

Perusahaan sudah memberikan dana untuk biaya instruktur dan juga membeli kostum. Masalah utamanya adalah kami tidak ahli membuat gerakan dance dengan tema etnik dan hip hop. Kami masih awam. Bisa dibilang saya lebih pandai meniru gerakan daripada menciptakannya. Lebih mudah menulis dan ngeblog daripada membuat kreasi tarian. Alhasil kami menyusun budget lebih banyak agar bisa lebih sering latihan bersama instruktur.

Latihan dimulai dua bulan sebelum perlombaan. Dari latihan pertama, wow gerakannya sangat banyak sekali dan juga tak mudah dihapalkan. Lucu sekali jika mengingat awal-awal latihan. Kadang saya lupa gerakan, kaki kram mendadak, salah membaca arah atau tubuh yang terlampau kaku untuk mengikuti arahan instruktur. Beruntungnya kami, instruktur dance yang biasa kami sapa Mbak Meli itu sangat sabar dalam melatih. Dia adalah seorang instruktur profesional dengan jam terbang tinggi, makanya variasi gerakan dan pilihan musik pun sangatlah cermat.

Setelah beberapa kali pertemuan, eh ada salah satu anggota yang terancam tidak bisa ikut karena larangan orang tua. Saya jadi ingat pengalaman di masa SMU. Gara-gara larangan orang tua saya pun batal mengikuti hasrat saya untuk berlatih dance. Saya dan rekan satu tim berusaha mencari calon pengganti, tetapi hasilnya NIHIL.

Tidak banyak yang memiliki kepercayaan diri untuk tampil di depan umum. Saya jadi sedikit cemas. Apakah target yang saya canangkan sebagai kordinator tim itu terlalu tinggi? Apakah ini karena saya terlalu berambisi? 

Mengingat semangat kawan-kawan satu tim yang meluangkan waktu setelah jam kerja dan berlatih sampai malam, membuat pikiran trenyuh. Jangan sampai kali ini gagal lagi. Kami sudah mempersiapkan diri jauh lebih lama dari tim-tim di tahun sebelumnya. Sudah tinggal satu bulan sebelum hari kompetisi.

Tim Dance JTS


Sebelum dan Saat Kompetisi

Syukurlah, salah satu kawan saya yang terancam batal ikut masih bisa melanjutkan latihan. H-1 lomba, kami berlatih dengan semangat. Kostum pun sudah kami persiapkan. Saat sedang serius berlatih, praak, topeng putih milik saya tidak sengaja terinjak teman lainnya saat menari. Semuanya langsung diam. Topeng itu adalah salah satu properti penting  di gerakan pembuka. Jam sudah menunjukan angka setengah delapan malam, sudah tidak ada toko topeng yang buka di jam selarut itu.

Kami berhenti latihan dan segera mengumpulkan pecahan topeng. Di sini kesabaran kami diuji. Rekahan itu ditempelkan dengan double tape dan lem. Saya berterima kasih untuk teman-teman yang rela pulang malam demi menyusun topeng saya.

Ini topeng saya yang retak dan dilem ulang

Dan tibalah harinya. Kami mendapat giliran tampil ketiga. Dengan kostum celana batik dan kaus putih dengan make up cukup heboh, kami maju dengan gembira. Musik menghentak, seluruh audiens bisa menikmati musik dan juga nampak terhibur dengan penampilan kami. Tak ada pikiran takut salah, hanya menari dengan enjoy yang kami lakukan.

Tim lainnya tampil dengan kostum yang keren dan tarian yang tak kalah kompak. Kami berusaha tenang, apalagi saat pengumuman tiga besar. 

“Daan tiga tim terbaik yang akan tampil di acara puncak adalaah, hmm yang pertama melaju dari Jatim Taman Steel!!!” pekikan MC membuat kami melonjak girang.

keceriaan setelah pengumuman tiga besar

Ini melebihi sebuah pengumuman juara. Perjuangan saya dan kawan-kawan terbayar. Tiga besar yang semula terlihat mustahil, kini sudah berada di dalam genggaman. Saya menganalogikan begini, sebuah keberhasilan dari perjuangan yang awalnya terlihat mustahil ibarat kita hendak berbelanja barang yang sulit dicari lalu tiba-tiba mendapat kesempatan voucher belanja Sodexo cuma-cuma. Bisa jadi perjuangan mencari barang belanjaan itu rumit sekali, namun usaha terbayar dengan adanya voucher. Begitupula dengan keberhasilan tim kami. Kami berlatih keras dulu, baru mendapat golden ticket menuju grand final. Penghargaan terbaik bagi pembeli adalah merchant yang berkualitas seperti merchant Sodexo. Dan penghargaan terbaik untuk pendukung tim tari kami adalah penampilan yang menghibur. Penghargaan lebih bermakna jika diperoleh dari sebuah perjuangan keras dan juga dukungan dari hati yang tulus. Semoga tim saya mendapat jawara utama. 




Wednesday, 10 August 2016

Rekomendasi 5 Aplikasi Edit Foto Terpopuler

Diposkan oleh Reffi Seftianti di 01:25
Response 
3 komentar Link ke posting ini


Siapa sih yang tidak gemar mengambil foto? Apalagi saat ini dengan makin berkembangnya teknologi, kita tidak perlu repot menggunakan kamera profesional dengan harga yang mahal untuk mendapatkan kualitas gambar yang bagus. Kita bisa hanya menggunakan kamera ponsel saja loh karena saat ini berbagai macam merk ponsel sudah didukung dengan kamera yang bagus. Tapi jika kamu belum punya ponsel yang memadai untuk mendukung hobi fotografimu, MatahariMall punya promo HP Samsung terbaru, kamu bisa langsung cek di websitenya untuk mendapatkan penawaran menarik.

Selain kamera yang bagus, kita juga memerlukan aplikasi edit foto loh untuk menambah cantik hasil jepretan kita sebelum dipamerkan di media sosial yang kita punya. Apa saja aplikasi edit foto tersebut? Simak ya!



Vsco

sumber: pinterest
Vsco merupakan salah satu aplikasi edit foto yang booming di kalangan anak muda. Aplikasi rilisan Visual Supply Co. ini memang mempunyai banyak filter favorit yang membuat hasil foto kamu tidak kalah kece dari fotografer professional. Tampilannya yang minimalis dan mudah dipakai juga menjadi factor yang membuat Vsco menjadi favorit. Meskipun aplikasi ini dapat didownload gratis di appstore maupun google play, tapi jika kamu menginginkan filter yang lebih banyak, kamu dapet membelinya di fitur store yang ada di dalam aplikasi.

Afterlight
Meskipun aplikasi berbayar, tapi afterlight juga cukup populer dan banyak dipakai untuk mengedit foto. Fitur frame polaroidnya menjadi daya tarik tersendiri untuk pengguna aplikasi ini karena dengan fitur tersebut hasil foto kita bisa seolah-olah terlihat seperti hasil foto dari kamera Polaroid. Selain itu Afterlight juga memiliki beragam filter yang oke punya. Kamu wajib coba ya aplikasi ini!




Camera360
Kalo kamu suka selfie pasti sudah tidak asing lagi dengan aplikasi yang satu ini. Camera360 punya banyak filter ‘ajaib’ yang bisa bikin wajah di foto kamu makin kinclong. Nggak heran kalo aplikasi ini masih menjadi pilihan favorit banyak penggunanya terutama wanita.


 


PicsArt
Untuk kamu yang kreatif dan suka mengeksplore dalam mengedit foto, PicsArt cocok banget untuk kamu pakai. Karena selain bisa menambahkan filter, kamu juga bisa mengedit fotomu dengan menambah tulisan, sticker dan lainnya. Dijamin foto kamu akan terlihat berbeda dari teman-temanmu.

Snapseed
Snapseed merupakan aplikasi edit foto keluaran Google. Aplikasi ini tidak kalah populer dengan aplikasi edit foto lainnya terbukti saat ini jumlah downloadernya sudah mencapai lebih dari 400ribu. Snapseed juga menyediakan beragam filter, tapi yang membuat aplikasi ini menjadi populer adalah keunggulannya dalam hal editing cahaya karena hasilnya akan terlihat lebih ‘smooth’ dibanding aplikasi lain. Jadi fotomu akan terlihat keren dengan pencahayaan yang bagus tapi terlihat natural.

Itulah 5 Aplikasi edit foto paling populer, kamu sering pakai yang mana?

Thursday, 4 August 2016

Semarang Day 3: Hirup Udara Purbakala dan Kenangan di Jalur Kereta

Diposkan oleh Reffi Seftianti di 12:07
Response 
3 komentar Link ke posting ini

Sebenarnya saya dan juga kawan seperjalanan saya, Devi, sudah mengagendakan jadwal kepulangan di hari keempat. Namun rasa-rasanya perjalanan di hari ketiga ini akan menjadi puncak perjalanan yang paling kami tunggu. Jika selama dua hari sebelumnya kami menikmati suasana dalam kota serta mengunjungi wisata gedung bersejarahnya, maka di hari ketiga ini pun tak jauh berbeda. Kami menjelajah ke daerah selatan kota Semarang yaitu daerah Bandungan yang lokasinya sekitar satu jam lebih dengan kendaraan bermotor. Memasuki daerah Ungaran, suhu udara jauh lebih sejuk dan juga udara terasa lebih segar. Bisa dibilang Bandungan adalah kawasan peristirahatan yang sejenis dengan kawasan Trawas atau Tretes di Jawa Timur.

kompleks awal Candi Gedong Songo
Tujuan kali ini adalah Candi Gedong Songo. Yang memilih destinasi ini adalah saya. Saat berada di Semarang, saya mencari informasi melalui internet, kira-kira objek wisata apa yang populer di Semarang selain wisata dalam kotanya. Setelah berselancar di internet dan mendapat referensi dari salah satu rekan, maka saya jatuh cinta pada Candi Gedong Songo sejak awal melihat foto-fotonya. Mungkin bagi sebagian orang, situs purbakala atau gedung bersejarah hanyalah bangunan tua yang tak terlalu menarik. Tetapi berbeda untuk saya. Gedung tua apalagi candi, tak hanya sekadar bangunan biasa. Ada cerita menarik saat bangunan tersebut masih difungsikan. Manusia-manusia modern adalah keturunan masyarakat zaman dahulu, tentu akan sangat menarik jika kita menelusuri sejarah kita sendiri. Salah satu medianya adalah mengunjungi wisata bersejarah.

Candi Gedong Songo dibangun di sekitar abad ke-9 pada masa Dinasti Syailendra berkuasa. Candi ini termasuk candi agama Hindu. Sempat terabaikan dan tidak diketahui keberadaannya sampai akhirnya pada tahun 1804 dibuka kembali oleh Raffles, Gubernur Jenderal pada masa kolonial Inggris di Indonesia waktu itu. Sesuai dengan namanya, Gedong Songo yang artinya sembilan bangunan, candi ini terdiri dari sembilan kompleks candi.

Untuk menjelajah dari candi Gedong 1 sampai Gedong 9, pengunjung bisa memilih dua alternatif. Kita bisa jalan kaki atau naik kuda didampingi pemandu. Karena saya sering melakukan traveling dengan cara tracking atau hiking, maka saya mencoba untuk jalan kaki saja (dan tentunya jalan kaki lebih murah biayanya, hehehe). Candi Gedong Songo termasuk destinasi yang wajib dikunjungi para pecinta sejarah. Selain aroma purbakala yang tersirat, saya juga bisa memandang hamparan padang rumput yang menyejukkan mata. Kompleks candi dibangun di daerah perbukitan dengan jalur yang tak terlalu sulit, hanya terus menanjak karena memang berada di area pegunungan.  Banyak keluarga yang berkunjung sekaligus berpiknik bersama. Sayangnya karena penjual makanan diizinkan berjualan sampai di daerah atas, banyak sampah berceceran. Seharusnya pengunjung juga lebih sadar lingkungan. Keindahan candi dan alamnya sedikit terganggu dengan sampah makanan atau plastik di sekitar kompleks candi.

Yang lebih menarik lagi, di antara kompleks Candi Gedong 3 dan 4, terdapat kawah pemandian air panas dengan bau belerang yang masih menyengat. Sayangnya karena mungkin sudah memasuki musim kemarau, debit air panas sangatlah sedikit. Candi, perbukitan, udara sejuk lalu eksotisme kawah menjadi gabungan unik objek wisata ini. 

kawah air panas Gedong Songo
Dan saya dan Devi hanya sanggup berjalan sampai di Candi Gedong 4. Untuk berjalan sampai candi terkhir, kaki saya sudah sangat lelah. Maka kami putuskan untuk turun lalu berkunjung ke tujuan berikutnya yaitu Museum Kereta Api Ambarawa.

Museum Ambarawa memiliki koleksi kereta api kuno yang diproduksi pada masa penjajahan. Sisi menarik dari museum ini adalah adanya fasilitas untuk berkeliling desa dengan kereta api kuno di hari Minggu dan hari libur nasional. Sayangnya kami datang di hari Selasa sehingga kami hanya bisa menikmati pameran kereta api saja. Saya membayangkan betapa kerasnya penderitaan rakyat saat zaman penjajahan karena mereka harus membangun jalur kereta yang panjang di tengah daerah dataran tinggi. Apalagi, kereta api pada masa itu sudah sangat canggih. Kenangan berbalut aroma sedih sekaligus kekaguman pada desain dan ketelitian para insinyur masa kolonial itu, membuat saya sibuk mereka-reka adegan-adegan di masa lalu.

di Museum Kereta Api Ambarawa

Setelah menjelajahi museum, kami kembali ke kota Semarang dengan hati puas. Rasanya kami tidak ingin kembali dan masih betah berlama-lama di sana. Semoga lain kali kami bisa berkunjung. Dan di kunjungan berikutnya, saya harus naik kuda di Gedong Songo serta naik kereta wisata di Museum Ambarawa.
 

Kata Reffi Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos

badge