.comment-content a {display: none;}

Monday, 20 February 2017

Proses Kreatif Novelet Promise Lolos Seleksi Bentang Pustaka

Diposkan oleh Reffi Seftianti di 17:07
Response 
0 komentar Link ke posting ini

Menulis novelet berjudul Promise ini memberi banyak pengalaman pada saya mengenai pencapaian sebuah usaha keras yang dilakukan secara terus-menerus. Mulanya, sebelum ide menulis novelet ini muncul, saya sudah tertarik untuk mengikuti seleksi menulis untuk kategori novela atau novel mini yang diselenggarakan Bentang Pustaka sejak periode pertama tahun 2016. Tema pertama yang dimunculkan kalau tidak salah bercerita tentang jadian atau kata lainnya awal berpacaran lalu tema kedua backstreet. Saya sudah menyiapkan ide untuk menulis, namun lagi-lagi karena kesibukan, saya lupa deadline dan juga gagal memenuhi target.

Kesempatan menulis pun lenyap di dua batch tersebut. Akhirnya saat Bentang Pustaka merilis seleksi batch ketiga dengan tema Friendzone, segera deh muncul ide yangg tidak bisa dibendung lagi. Novelet ini memang sebagian kecil diambil idenya dari pengalaman pribadi saya yang pernah mengalami masa-masa friendzone. Setting saya ambil juga di kampus tercinta  saat berkuliah mengambil jurusan sastra jepang, karena masa friendzone memang terjadi saat masih kuliah.

Pasti kalau yang sudah baca sinopsisnya di Playstore langsung bertanya, apa ini cerita nyata saya? Bisa saya bilang bukan karena hanya sebagian kecil diri saya yang memang dijadikan ide, 80 persennya fiksi semua, hanya saja ide lain tersebut diolah dari curhatan banyak teman yang pernah mengalami friendzone dan juga sebagian lagi imajinasi saya pribadi. Karakter saya yang ada di tokoh Aira atau disapa Ai di novelet ini adalah sikapnya yang tidak peka. Oke, ini semacam pengakuan dosa, haha. Sebagian besar lagi diambil dari tokoh fiksi dari novel yang saya kagumi. Ada tokoh Midori dari novel Norwegian Wood karya Haruki Murakami, tokoh fiksi Stargirl dari novel Stargirl dan juga dari tokoh kartun Pippi Longstocking.

Karakter Ai ini mengusung kepribadian unik ketiga tokoh fiksi yang sangat menempel di kepala saya. Kesamaan ketiganya adalah karakter yang nyentrik, cenderung tidak ambil pusing dengan omongan orang lain, sering dianggap tidak memiliki kepribadian baik menurut anggapan orang kebanyakan, namun ternyata punya hal yang menunjukkan kebaikan dan ketulusan hati mereka. Di bab pertama diceritakan keunikan Ai yang saat sedang dilabrak gadis lain malah asyik memotong kuku, mengabaikan gerombolan gadis yang sedang marah padanya. Unik bukan? Kalau orang lain dilabrak pasti akan membela diri, si Ai malah asyik memotong kuku.

Tokoh Raka, Tia dan Nathan juga merupakan perwujudan orang-orang yang saya kenal. Deskripsi paling mudah memang kalau diambil dari orang yang nyata. Ide itu mendorong saya menulis dalam waktu 12 hari untuk menghasilkan 30 halaman. Sakitnya terjebak cinta dengan sahabat sendiri, gemasnya seseorang yang ingin memperjuangkan persahabatan agar tetap utuh dan pedihnya dikhianati ada di novelet ini. Promise saya pilih menjadi judul utama karena sebuah janji menjadi landasan utama tokoh utamanya untuk terus bergerak maju menghadapi masalah di masa remaja. Beruntungnya, karya itu terpilih menjadi salah satu yang diterbitkan setelah bersaing dengan 250 naskah lainnya. 


Penasaran sama sinopsisnya? Silakan mampir di Google Playstore dan ketik ‘Promise Bentang Pustaka’. Ada cara membelinya juga di situ. Selamat membaca!



Saturday, 11 February 2017

Perlawanan, Perjuangan dan Cinta yang Mengenaskan

Diposkan oleh Reffi Seftianti di 08:27
Response 
0 komentar Link ke posting ini



Judul Novel        : Entrok
Penulis                 : Okky Madasari
Jumlah Halaman : 282 halaman
Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama



  Entrok adalah sebuah potret kaum marginal yang dibuat dalam potongan cerita dari dua sudut pandang permepuan berbeda generasi. Rahayu dan Marni sukses mengajak saya untuk menyelami dua kisah dengan latar belakang sosial dan politik di kehidupan mereka masing-masing. Tulisan Okky Madasari ini sesungguhnya mengusung isi yang sangat padat, sangat lugas dalam menyindir, namun masih renyah untuk dibaca.

Cerita ini dibuka dari kehidupan Rahayu dan ibunya, Marni yang menderita sakit jiwa. Bab pertama belumlah menceritakan semuanya. Baru di bab kedua, kita akan diajak berkenalan dengan masa kecil Marni yang hanya tinggal dengan ibu kandung yang ia panggil Simbok. Masa kecil yang sangat sederhana mulanya dilalui Marni tanpa pernah banyak bertanya. Baru saat ia mulai beranjak remaja dengan pertumbuhan fisik yang makin kentara, mendorong satu keinginan kecil Marni yang tidak bisa dipenuhi Simbok. Ia ingin memiliki entrok, atau bahasa indonesianya bra.

Entrok yang banyak dijual di pasar, tidak bisa dibeli oleh Simbok. Marni sangat ingin memiliki entrok seperti sepupunya dan juga temannya yang cantik. Terbayang-bayang entrok mendorong pikiran Marni untuk mencari uang lebih banyak. Pada tahun limapuluhan, perempuan bekerja hanya diupah bahan makanan, amat sangat jarang yang menerima uang. Marni tak puas hanya menjadi pengupas kulit singkong seperti Simbok, ia pun menawarkan jasa sebagai kuli di pasar. Setelah perjuangan keras, entrok pertama bisa ia beli. Pundi-pundi uang yang dihasilkan Marni, dikumpulkan untuk mulai berdagang.

 Tak pernah ada cita-cita lain yang diturunkan orangtuaku selain bisa makan hari ini. Tapi aku mempunyai harapan dan mimpi. Setidaknya untuk entrok. (Halaman 45)

Insting bisnis Marni sudah terasah sejak remaja. Ia menikah dengan Teja, laki-laki yang malah tidak banyak berkontribusi banyak untuk perekonomian rumah tangga. Marni tumbuh sebagai perempuan pemuja aliran animisme dan dinamisme yang umum dipercaya warga desa di masa itu. Perekonomian yang baik, memiliki anak gadis yang cerdas, tidak diikuti keharmonisan dalam keluarga.

Rahayu, putri semata wayang Marni, tumbuh dengan rasa malu dan kebencian pada ibu kandungnya. Selain berdagang, Marni juga beralih profesi menjadi seorang rentenir. Para tetangga desa yang sukarela meminjam dan mau diberi bunga, di mata Rahayu sebagai sumber kejahatan ibunya. Namun Marni merasa tidak melakukan kesalahan karena para peminjam datang tanpa dipaksa. Ditambah lagi Rahayu sangat membenci kepercayaan yang ia anut. Rahayu beriman sebagai muslim serta menghindari semua praktek kepercayaan leluhur.

Novel ini memotret secara cerdas sebuah fragmen kehidupan warga desa yang sampai sekarang masih bisa kita temui. Budaya rasan-rasan, satu cerita kecil dibumbui dengan cerita lain dan juga prasangka terhadap kemajuan yang datang karena rasa iri. Rahayu memberontak pada ibunya dan menyebut jika ibunya sebagai kaum murtad. Ia memilih untuk jarang pulang ke rumah ketika mulai mengenyam bangku kuliah. Di sisi lain Rahayu juga miris dengan ketidakkonsistenan warga desa yang menghujat ibunya. Mereka menuduh ibunya memiliki pesugihan dan juga menghina profesi Marni sebagai rentenir, namun mereka masih saja terus datang meminta utangan.

Aku sebenarnya heran. Kalau orang-orang bilang berdosa, kenapa Pak Waji yang guru agama meminjam uang padanya? Kalau dia bilang Ibu pemuja leluhur, kenapa dia mau minta tolong pada Ibu?. (Halaman 83)

Suasana politik di Orde Baru yang diceritakan lewat sudut pandang Rahayu juga sangat menarik. Bagaimana pongahnya para tentara pada masa itu dan juga bagaimana politik disetir oleh partai penguasa diumbar tanpa sungkan oleh penulis. Gara-gara bersinggungan dengan ketidakadilan jugalah, Rahayu sampai harus mengalami masa pahit hingga terpisah lama dari keluarga serta melihat kematian suaminya.

Novel ini memiliki klimaks yang baik, walau tidak semenggelegar yang diharapkan sebab ending cerita sudah diungkap di bab awal. Hal ini menjadi sedikit kelemahan agar kita mau membaca di bab akhir. Tetapi penulis sangat piawai dalam menyajikan cerita mengenai kekuatan perempuan, ketidakberdayaan mereka, serta bagaimana mengolah perasaan setelah tahu jika mencintai bisa berakhir mengenaskan, bahkan cinta seorang ibu pada putrinya. Tulusnya cinta juga bisa mengobati semua permusuhan di masa lalu meski harus melalui episode terpisah dalam kehidupan mereka.

Thursday, 2 February 2017

Mengapa Menulis Buku Harian Itu Penting

Diposkan oleh Reffi Seftianti di 15:42
Response 
0 komentar Link ke posting ini

Ingat saat zaman SD dulu? buku harian banya dibeli anak-anak karena jenis dan juga koverya yang lucu serta unik. Buku harian berwarna cerah dengan motif kartun dan juga bergembok, sedang ngetrend di masa dulu. Bahkan saya dan kawan-kawan pun memiliki buku harian masing-masing yang berbeda warna. Buku harian seolah menjadi salah satu barang penting sama dengan kertas file atau memo yang banyak macamnya.

Yang menarik adalah, tidak semua kawan-kawan saya semasa kecil mengisi buku hariannya dengan cerita-cerita keseharian. Sebagian mengizinkan kawan-kawan sekelas untuk menuliskan biodata pribadi, sampai makanan dan minuman favorit serta pesan dan kesan untuk si pemilik buku harian. Ada juga yang memilih untuk menuliskan di buku agenda atau kertas file di dalam binder. Kalau saya sudah mulai menuliskan banyak hal di buku harian. Bahkan lucunya, aktivitas menulis buku harian tersebut bertahan hingga SMU.

Tak terasa, banyak manfaat yang saya rasakan semenjak aktif menulis di buku harian. Makanya menuis buku harian sebaiknya menjadi kebiasaan sehari-hari.

1.       Menulis untuk curahan hati
Masa kecil hingga remaja pasti memiliki banyak cerita yang menarik untuk dituliskan. Saya merasa sangat terbantu dengan menuliskan kekesalan dan juga amarah di buku harian. Menulis membuat perasaan kesal menjadi lebih lega. Curhat pada sahabat memang baik, tapi bisa jadi mulut seseorang tidak bisa dipercaya, makanya curhat lewat tulisan di buku harian itu jauh lebih aman.

2.       Catatan kenangan di masa depan
Tanpa harus memotret satu per satu kenangan berkesan atau menyebalkan di masa lalu, saya bisa membaca kembali kejadian dahulu lewat buku harian. Saya akan tertawa saat membaca cerita pertama kali jatuh cinta di masa remaja. Bagaimana sensasi berdebar itu itu dimulai, malu-malu, sampai pahitnya patah hati. Kadang ada coretan asal dimana saya hanya menuliskan nama orang yang tidak saya sukai. Puisi-puisi romantis yang menjadi bentuk pelampiasan kerinduan pada seseorang, hingga berganti orang lagi, mungkin sudah lapuk di ingatan tapi menjadi kenangan lucu di masa mendatang. Saya bisa tahu jika kesusahan di masa lalu tetap bisa dilewati.

sumber gambar: mycardous.com

3.       Latihan untuk menulis lebih terstruktur
Secara tidak langsung, hobi menulis di buku harian membuat saya belajar untuk menulis secara runtut. Coretan yang awalnya hanya berupa curhat, makin lama makin berkembang menjadi rangkaian opini, esai pendek, dan cerita pendek. Saya juga bisa praktek menulis dalam bahasa Inggris di buku harian. Hal ini menjadi dasar yang bagus buat saya di masa kini dimana menjadikan menulis sebagai pekerjaan sampingan.

4.       Menyehatkan pikiran serta perasaan
Karena menuliskan perasaan keruh lewat tulisan, maka efek sampingnya adalah perasaan lebih lega dan juga pikiran pun fresh. Tak jarang saya malah menemukan solusi untuk pemecahan masalah saya sendiri setelah menulis di buku harian. Misalnya saat sedang patah hati, maka saya menuliskan puisi atau catatan perasaan di buku harian. Setelah membaca berulang kali, saya jadi semakin sadar, mengapa harus lelah berlama-lama bersama orang yang tidak menghargai keberadaan saya? Perlahan catatan sedih itu malah menguatkan saya dan mengingatkan agar tidak kembali pada orang yang sama dan juga belajar lebih kuat.


5.       Kumpulan ide
Buku harian bisa dijadikan tempat menampung ide-ide. Saya biasa menuliskan dengan segera ide tulisan di buku harian sebelum mengolahnya menjadi tulisan yang lebih panjang. Ingatan manusia ada batasan, maka mencatat adalah hal yang baik agar ide tidak menguap percuma. 


Beragam manfaat dari menulis buku harian juga saya imbangi dengan membaca berbagai genre buku. Kalau belajar menulis fiksi, saya banyak membaca buku dari pengarang favorit. Jika tertarik penulisan buku nonfiksi, saya merekomendasikan anda untuk mengunjungi TipsMenulisBuku.com. Di blog tersebut, anda akan mendapatkan kiat-kiat menulis buku nonfiksi berkualitas seperti mencari ide buku, riset referensi, membuat kerangka buku, dan membuat judul buku yang menarik. Mari budayakan menulis sejak dini dimulai dengan menulis di buku harian.

Wednesday, 1 February 2017

Sabar Adalah Pelajaran Hidup yang Tak Mudah

Diposkan oleh Reffi Seftianti di 15:25
Response 
0 komentar Link ke posting ini

Sabar, adalah satu kata yang mudah diucap namun tidak mudah untuk mengaplikasikannya. Betapa banyak orang bahkan mungkin termasuk saya dan anda yang dengan gampangnya berujar kepada orang lain agar berperilaku lebih sabar saat menghadapi masalah, tetapi saat diri sendiri tertimpa masalah kesabaran dibilang selalu ada batasnya. Kita menjadi tidak sabar karena disakiti orang lain, kita menjadi pemarah akibat tingkah orang lain yang dianggap menjengkelkan, kita juga menjadi begitu hilang akal setelah ditimpa ujian hidup bertubi-tubi. Sabar memang tidak mudah saat diri kita yang dicoba kelapangan hatinya.

Saya juga pernah berkali-kali ditimpa ujian kesabaran. Mulai hal sederhana di lingkup pergaulan seperti dikhianati sahabat, dibohongi, dimarahi orang tua dan atasan sampai ujian paling hebat dahulu adalah dikhianati calon pendamping hidup. Butuh waktu lama agar rasa meledak-ledak bisa diatasi. Karena saya adalah orang yang moody dan juga tidak sabaran, cara paling cepat agar rasa jengkel tidak meluap adalah meninggalkan hal atau orang yang menguji rasa marah. Namun toh itu saja tidak cukup. Beberapa kali emosi tetap tidak bisa diatasi dan akhirnya ungkapan kekesalan tetap terucap. Saya belum lulus dalam ujian kesabaran.

Walaupun merasa belum menjadi orang penybar, masih banyak kejadian yang bisa saya atasi tanpa harus melempar pisau kepada orang yang membuat saya marah. Sabar itu tak hanya menahan diri dari amarah, namun juga mengolah pikiran agar tidak down saat kesusahan dan berusaha berpikir positif setelah kegagalan. Ada beberapa cara agar kita bisa menjadi lebih bersabar.

sumber gambar: http://www.sabarhadi.com/2016/04/sabar-dan-ikhlas-dalam-penantian-dan.html


·         Menganggap Orang Yang Menjengkelkan Memang Tidak Tahu

Ada pelajaran menarik dari salah satu senior saya tentang kesabaran. Beliau adalah tipe orang yang sangat jarang marah walau orang lain melabrak, mencaci dan mengkritiknya habis-habisan. Yang sering ia lakukan adalah tersenyum dan mencairkan suasana. Katanya, supaya kita bisa lebih mudah menghadapi amarah orang lain, meskipun kadang bukan kita penyebabnya, adalah dengan menganggap orang tersebut memang tidak tahu. Orang yang tidak tahu subjek masalah sebenarnya, tidak bisa disalahkan sepenuhnya jika kemudian marah atas ketidaktahuannya. Orang yang menyebalkan, barangkali memang tidak tahu jika komentarnya membuat telinga dan hati panas. Kita harus belajar membangun pengertian karena kita tahu jika tindakan itu tidak bagus kalau ditimpali dengan amarah juga.

·         Mengerti Bahwa Tiap Manusia Bukanlah Nabi

Manusia memang secara lahiriah selalu ingin dimengerti. Nah, seharusnya jika kita ingin dimengerti orang lain, maka kita juga harus belajar mengerti. Marah adalah hal yang wajar karena kita bukanlah nabi. Namun jangan sampai marah menjadi ciri khas karakter kita. Mari belajar mengerti tiap orang memiliki masalahnya sendiri, sehingga kadang bertingkah menyakiti tanpa disadari bisa saja terjadi sebab dia punya masalah berat yang tak dibagi. Misalnya, seorang rekan kerja yang omongannya pedas, mungkin karena di rumah sedang menghadapi masalah keluarga berat hingga membuatnya stres berat dan tidak bsa mengontrol emosi saat berbicara. Cobalah analisis sebentar sebelum meladeni komentar pedasnya.

·         Sabar Adalah Ketegasan

Sabar bukanlah menahan diri untuk terus-menerus diinjak dan juga dikhianati. Jika usaha anda untuk tidak membalas perilaku buruk orang lain dan juga kejujuran anda agar orang tersebut berubah tidak ditanggapi, maka lebih baik kitalah yang tegas mengatakan untuk tidak mau lagi disakiti. Tegas untuk kebahagiaan diri sendiri juga bentuk kesabaran. Daripada membuat hati dan pikiran keruh, maka bersabar untuk terus maju tanpa perlu dibayangi hal-hal buruk juga lebih baik. Pikiran positif bisa lebih mudah dibangun jika kita berada di lingkungan dan di tengah orang-orang yang sama positifnya.


Saya pernah berselisih pendapat dengan orang tua, contohnya ketika memilih jurusan kuliah. Namun dengan tekat dan juga kesabaran saat belajar di bangku kuliah yang saya pilih, syukurlah hasilnya sangat memuaskan. Orang tua saya tidak tahu jika jurusan saya juga sangat menjanjikan selama ilmunya dipelajari sungguh-sungguh. Pelajaran kesabaran adalah pelajaran seumur hidup. Kadangkala membaca  kata-kata motivasi di TipsPengembanganDiri.com juga bisa menumbuhkan semangat untuk lebih bersabar. Mari terus belajar.

 

Kata Reffi Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos

badge