Wednesday, 23 May 2018

Inspirasi dari JK Rowling

May 23, 2018 0 Comments
JK Rowling
Image Source: https://www.goalcast.com/2017/05/16/top-jk-rowling-quotes-strength-adversity/



Siapa sih yang tidak kenal dengan JK Rowling? Perempuan yang popular dengan serial Harry Potter-nya ini menjadi penulis milyarder internasional. Tiap karya terbarunya ditunggu seluruh penggemar fanatic berbagai negara. Saya pun sangat mengidolakannya dan sudah membaca sebagian besar karyanya, namun tak hanya karena JK Rowling Sukses, penulis asal Inggris ini memiliki kisah perjuangan yang tak mudah sampai akhirnya bisa sukses seperti sekarang.

Harry Potter adalah karya yang idenya didapat ketika ia melakukan perjalanan dari kota Manchester ke London dengan naik kereta di tahun 1990. Kehidupan pernikahan pertama JK Rowling harus berakhir dengan perpisahan. Daam kondisi keuangan yang sangat sulit dan kewajiban menghidupi putri pertamanya, JK Rowling masih terus menulis ide ceritanya. Ia menjalani beberapa pekerjaan dan terus mengeluarkan ide sampai ada sebuah kisah di saat ia menulis di atas tisu.

Manuskrip pertama Harry Potter tak langsung diterima penerbit. Sampai sebuah penerbit kecil berkenan menerbitkannya,dan yang tidak disangka-sangka Harry Potter and The Sorcerer’s Stone (Harry Potter dan Batu Bertuah) menjadi bestseller di Inggris. Kesuksesan itu diikuti dengan diterjemahkannya novel tersebut di dalam banyak bahasa dan membentuk basis penggemar trio penyihir muda Harry-Ron-Hermione.

Hermione
Source: giphy.com


JK Rowling adalah penulis yang tak mudah berpuas diri. Meski novel Harry Potter dan filmnya laku keras, ia berusaha membuat karya yang berbeda. Lalu diterbitkanlah novel Casual Vacancy yang menawarkan banyak karakter serta jalinan cerita bak puzzle. Sangat jauh berbeda dengan seri Harry Potter yang bisa dinikmati dari anak-anak hingga dewasa, Casual Vacancy memberikan jalinan cerita yang cukup rumit.

Gebrakan berikutnya adalah JK Rowling menerbitkan seri detektif bernama Cormoran Strike yang disebut-sebut memiliki karakter memikat, tak kalah dengan Sherlock Holmes. Menariknya, di awal buku tersebut diluncurkan, JK Rowling menggunakan nama pena, Robert Gilbraith. Tujuan penggunaan nama itu adalah ingin mengetes pasar apakah tanpa nama besarnya buku tersebut bisa diterima pembaca? Ternyata meski sempat tidak diketahui pembaca, Cuckoo’s Calling, debut Cormoran Strike sukses meraup hati pembacanya tanpa nama besar sang penulis. Lama-kelamaan publik pun tahu siapa Robert Gilbraith sesungguhnya. Serial ini sudah ditayangkan sebagai serial TV di BBC. Menyusul kesuksesan berikutnya adalah ditayangkannya Fantastic Beast sebagai film layar lebar.

JK Rowling adalah sosok penulis yang tidak mau berputusasa. Semangatnya bisa kita tiru agar terus berkarya meski di dalam posisi yang sangat sulit sekalipun.

Tuesday, 22 May 2018

5 Profesi yang Butuh Kemampuan Menulis

May 22, 2018 4 Comments

tips menulis blog kata reffi


Menulis adalah salah satu kemampuan dasar yang dibutuhkan tiap orang untuk bekerja. Kalau Anda masih sangsi, coba menjelajahlah ke toko buku dan berselancar di internet. Betapa banyak tips dan trik agar orang bisa menulis email bisnis, membuat presentasi dan karya ilmiah. Terbukti jika menulis merupakan skill dasar yang harus dipelajari tak hanya oleh pelajar tetapi juga semua kalangan.

Dan di dunia serba digital ini, mulai bermunculan alternatif pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah, hanya bermodal internet, dan bisa mendapatkan rezeki. Semuanya tidak jauh dari menulis. Ingin tahu apa saja profesi itu? Coba simak uraian di bawah ini.


 1. Penerjemah Naskah
 Skill utama seorang penerjemah memang harus bisa menguasai bahasa asing tertentu, tetapi kemampuan lainnya adalah mampu merangkai kata yang enak dibaca. Jika seorang penerjemah hanya mampu mengalihbahasakan per kata tetapi tidak mampu menafsirkannya menjadi kalimat yang pas, maka sudah bisa dikatakan hasil terjemahannya jelek. Banyak penerbit yang butuh penerjemah freelance dan pekerjaan ini bisa dikerjakan dari mana saja. Kemampuan menulis dengan struktur kalimat yang baik, akan menjadi modal yang bagus untuk seorang penerjemah.

tips menulis blog kata reffi
sumber: gifer.com


2. Blogger
Tentu saja blogger harus punya skill menulis. Asal bisa SEO dan adsense saja, bukan jaminan konten blog berkualitas. Pernah membaca artikel blog yang berada di halaman awal Google tapi waktu dibaca malah membuat pening? Konten yang baik adalah kunci agar blog kita bisa mendatangkan klien serta bisa lebih bermanfaat bagi pembaca.


tips menulis blog kata reffi
sumber: gifer.com


3. Buzzer
Buzzer adalah pekerjaan untuk menggaungkan sebuah produk lewat rangkaian status atau tweet. Biasanya buzzing dilakukan di twitter dan instagram dengan hashtag tertentu. Buzzer akan membuat postingan dengan bahasa sehari-hari dan membuat cerita berkaitan sebuah produk.

 4. Copywriter
 Membuat kalimat-kalimat promosi dengan teknik copywriting yang bagus tentunya butuh latihan. Malah saat ini copywriting juga dilakukan lewat blog, contohnya membuat artikel tentang produk lewat cerita traveling. Menulis artikel soft selling juga salah satu teknik bagus untuk mempromosikan sebuah produk atau jasa.

 5. Pekerja
 Pekerja ini bisa saja karyawan kantor atau freelancer apapun seperti freelance designer dan lainnya. Kemampuan menulis proposal, email bisnis dan business pitching (apalagi bagi kaum freelancer yang ingin mencari klien) mutlak diperlukan. Cara pemilihan kata supaya meyakinkan tapi tetap sopan dan pengolahan data sebagai bahan tulisan itu juga perlu dipelajari.

tips menulis blog kata reffi




Itulah beberapa profesi yang membutuhkan skill menulis. Saya memiliki kawan di kantor yang pusing tiap kali diminta membuat laporan mingguan karena dia merasa sulit merangkai kata. Nah, rajinlah menulis apa saja dari sekarang supaya bisa menaklukkan segala jenis pekerjaan yang berkaitan dengan tulisan.

Monday, 21 May 2018

Apa Saja Yang Dibutuhkan Untuk Membuat Konten Blog Berkualitas

May 21, 2018 2 Comments
tips menulis blog kata reffi



Ngeblog adalah salah satu aktivitas menulis yang mengasyikkan. Kita bisa menuliskan hal-hal yang disukai sekaligus berinteraksi langsung dengan banyak orang. Yang lebih  menyenangkan lagi, jika blog kita berkualitas dan memiliki traffic yang bagus, bukan hal mustahil jika bisa di-monetize, atau menghasilkan uang.

Banyak cara agar blog kita bisa di-monetize antara lain dengan menggunakan teknik optimasi SEO, mereview produk, jasa blogpost artikel klien, atau memasang adsense. Namun dari berbagai teknik tersebut, seharusnya seorang blogger juga memperhatikan kualitas konten. Meski tidak terlalu paham SEO dan Adsense, blog juga bisa menarik brand untuk meminta blogger menuliskan tentang produknya. Atau bisa jadi kita diundang dan dibayar dalam sebuah event agar diulas di blog.

Inilah beberapa poin yang dibutuhkan  agar konten blog kita bergizi serta menarik pengunjung agar betah berlama-lama membaca artikel-artikelnya.

 1. Pilih Tema yang Kita Kuasai
 Tulislah hal-hal yang kita kuasai atau dekat dengan kehidupan sehari-hari. Anda bisa menulis serba-serbi merawat anak, menulis tentang buku, membuat cerita perjalanan atau motivasi. Jangan memaksakan diri untuk menulis sebuah topik yang sangat tidak dikuasai. Jikalau ingin menulis tema yang tidak terlalu dipahami, lakukan riset sederhana
 agar tidak terkesan mengada-ada.

2. Tambah Referensi Bacaan yang Berkaitan 
Seringlah membaca, itu kunci agar konten blog menjadi lebih berisi. Kalau Anda suka menuliskan hal-hal berbau parenting, bacalah juga blog yang isinya sejenis. Sesekali buatlah artikel tips supaya bisa menambah atensi pembaca. (Baca Juga: Tips Mengembangkan Ide Cerita dari 5W+1H)

3. Perhatikan Typo dan Struktur Kalimat 
Anda bisa menggunakan gaya bahasa santai dan tidak formal di dalam blog pribadi. Tetapi tolong jangan sembarangan menggunakan tanda baca hingga penggunaannya tidak tepat dan jangan banjir typo. Struktur kalimat yang tidak runtut akan membuat pembaca merasa lelah. Gaya bahasa story telling juga menjadi favorit kebanyakan blogger, namun blogger profesional sangat rapi dalam memilih tanda baca dan menghindari typo.

 4 Sudut Pandang Unik 
 Anda bisa menulis artikel dengan tema yang ditulis banyak orang, tetapi sentuhlah dari sudut pandang yang berbeda. Misalnya, jika orang lain banyak yang mengulas pernikahan Pangeran Harry dan Meghan Markle dari gaya fashion, list acara sampai tamu undangannya, Anda bisa mengambil dari sudut pandang orang lokal. Bisa saja Anda menuliskan bagaimana pernikahan mereka dari sisi pariwisatanya dan manfaatnya  buat Inggris. Hal apa saja yang terjadi sebelum hari pernikahan tiba di sekitar kerajaan. Sumber informasi sudah banyak tersedia, tinggal Anda harus bersabar dan mau menggali info yang dibutuhkan.

 5. Hindari SARA 
 Boleh saja Anda menulis opini tentang kondisi politik terkini, tetapi jangan sampai Anda menjelek-jelekkan nama tertentu apalagi sampai menyinggung SARA. Ingat, sudah banyak pengguna medsos yang tersandung masalah hukum karena status bernada kebencian. Buatlah konten yang cerdas dan tetap dalam etika yang baik.   (Baca Juga; Tips Mendapat Ide Menulis di Tengah Kesibukan)


Sudah tergambar apa saja yang ingin dituang di dalam blog? Tuangkan ide dan pengalaman Anda di dalam blog agar bisa dibaca banyak orang.

Sunday, 20 May 2018

Bagaimana Mengembangkan Ide Cerita dari 5W+1H

May 20, 2018 2 Comments
Tips menulis fiksi


Konsep 5W+1H adalah konsep dasar agar tulisan kita memiliki isi yang pas. Seringkali konsep ini lebih banyak ditekankan pada tulisan reportase, liputan atau artikel lainnya. Hal ini tentunya sudah sesuai dengan kaidah jurnalistik agar tulisan tidak kehilangan arah dan tidak terlalu bertele-tele.


Padahal meski lebih banyak ditekankan pada konsep penulisan artikel reportase atau berita, 5W+1H ini juga bisa menjadi kerangka ide dasar yang membantu sebelum kita membuat cerita fiksi.

 1. What (Apa)
 Apa yang ingin Anda tulis? Cerita tentang apa? Apa yang menjadi tema utama dan pesan utama ceritanya? Apa genre ceritanya? Apakah ingin menulis cerita romance, fantasi, atau lainnya? Hal ini menjadi bagian pertama ketika Anda ingin menulis sebuah cerpen, novel atau  flash fiction misalnya.

 2. Who (Siapa)
 Siapa saja tokoh yang akan muncul di dalam cerita? Siapa yang menjadi tokoh utama dan tokoh sampingan? Siapa yang menjadi tokoh antagonis, protagonis, atau malah tokoh dibuat berkarakter abu-abu? Tokoh memegang peran penting dalam sebuah cerita fiksi. Dee Lestari pernah mengatakan bahwa tokoh adalah dutanya cerita. Isi tersampaikan lewat karakter, dialog, dan monolog tokoh selain juga dari narasi.

3. When (Kapan)
Kapan cerita ini terjadi? Waktu yang dijelaskan di dalam cerita bisa berupa latar pagi, sore dan malam. Bisa juga dijelaskan dari aturan jam atau situasi saat tokoh sedang beraktivitas, contohnya cerita tokoh bertemu kekasih saat hendak berangkat kerja.

 4. Where (Di mana)
 Di mana cerita ini berlangsung? Penulis bisa mengembangkan lokasinya sebagai penguat deskripsi cerita. Biasanya penulis novel akan menjelaskan suasana tempat sampai suhu udara untuk menjelaskan sebuah kondisi lokasi. Hal ini akan memudahkan pembaca larut dalam cerita.

 5. Why (Mengapa)
 Mengapa masalah itu terjadi? Mengapa harus tokoh utama yang kalah? Mengapa harus terjadi di tempat itu? Kata kunci ini biasanya saya gunakan untuk menggali lebih dalam ide cerita yang saya dapat. Kata tanya ini juga menjadi kunci sebab akibat dalam cerita, terutama dalam cerita yang memiliki banyak bab. Buatlah list mengapa sebanyak mungkin, lalu rangkai menjadi gagasan cerita secara berkesinambungan.

6. How (Bagaimana)
Bagaimana cerita bermula? Bagaimana konflik berawal? Bagaimana masalah selesai? Bagaimana tokoh saling bertemu? Bagaimana sudut pandang cerita yang ingin digunakan? Kata tanya ini akan menjelaskan cara kita mengeksekusi cerita.

Tips menulis fiksi


Itulah kegunaan 5W+1H yang bisa kita pakai untuk membuat premis, sinopsis dan outline cerita. Bahan dasarnya jika sudah diolah secara matang, maka mengembangkan ide menjadi cerita fiksi pun tidak akan terlalu sulit lagi. Selamat mencoba!

Saturday, 19 May 2018

Bagaimana Mendapatkan Ide Menulis di Tengah Kesibukan

May 19, 2018 4 Comments


Menulis adalah aktivitas yang menyenangkan. Kita tidak perlu membutuhkan modal besar untuk menulis. Sebagian orang berpendapat, jika dengan menulis maka perasaan akan jauh lebih tenang. Atau jika memiliki ide yang berkelesatan di kepala, maka dengan menuliskannya ide tersebut tidak akan lekas hilang.

Masalahnya, bagaimana jika ide itu tidak kunjung ditemukan? Misalnya, kita ingin membuat cerita fiksi, bagaimana cara menangkap ide yang bagus jika tidak punya stok cerita menarik?

Inilah beberapa cara yang biasa saya lakukan ketika ide menulis mendadak buntu di tengah jalan

 1. Membaca Buku
 Seorang penulis wajib membaca. Pilih bacaan yang menarik hati dan tema bacaan yang jarang kita pilih atau tidak kita suka. Saya lebih senang membaca novel petualangan, fantasi atau thriller serta buku motivasi, namun demi menambah asupan gizi ide, maka sesekali saya beli novel romance yang bagus.

 2. Menonton Film 
Menonton film yang berkualitas akan menggiring kita untuk mempelajari alur cerita, karakter dan ending. Ini sangat bagus untuk membuat sebuah cerita fiksi. Kadang saya memilih untuk menonton film-film pendek di Youtube jika sedang kering ide.


3. Memekakan Kelima Indera
Ini yang paling penting. Pekakan kelima indera ketika kita ada di mana pun. Saat sedang mengobrol dengan tukang sayur, perhatikan cara bicaranya dan gerak-geriknya, itu bisa jadi referensi salah satu tokoh cerita. Ketika sedang naik angkot, coba dengarkan dialog orang-orang di dalamnya. Saat ada sahabat yang curhat, lebih banyaklah mendengar dan serap semua ceritanya.



Ide bisa ditangkap di mana saja, bukan? Segera bawa catatan atau tulis saja di notes smartphone agar ide yang mendadak muncul tidak akan lenyap begitu saja. 

Tuesday, 8 May 2018

Sepenggal Perjuangan Sederhana Seorang Gadis di Desa Tembakau

May 08, 2018 3 Comments


Judul : Genduk
Penulis : Sundari Mardjuki
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan ke :1
Jumlah Halaman : 219 halaman
ISBN : 978-602-033-219-2


Memotret kondisi masyarakat di sebuah desa yang diceritakan berlokasi di tepat paling puncak Gunung Sindoro, tahun 70-an, bukanlah hal yang mudah. Namun Sundari Mardjuki, si penulis novel Genduk ini berani  menyampaikan ketimpangan sosial dan juga apa  yang membuat masyarakat desa  kesusahan pada masa itu lewat novelnya. Walau bukan untuk pertama kali tema sosial seperti ini diangkat, namun penulis tetap membawa warna baru lewat potongan-potongan bab yang dihadirkan.


Anisa Nooraini, nama asli Genduk, tokoh sentral novel ini, dikisahkan sebagai gadis yatim yang tidak pernah bertemu dengan Pak’e, sebutan untuk ayah kandungnya. Yung, sebutan Genduk untuk ibunya, selalu terlihat emosi saat Genduk menanyakan perihal ayah kandungnya. Saat si gadis mencari kebenaran lewat orang-orang sekitar, tetap saja tidak ada gambaran jelas. Genduk tumbuh besar dengan kerinduan berat kepada Pak’e.

“Mungkin Pak’e sedang bekerja entah di mana. Mengumpulkan duit buat kita,” kataku lirih,
Yung terkekeh,”Kamu terlalu polos, gendukku... bapakmu menghilang setelah sekian lama tanpa tahu rimbanya. Meninggalkan kita dalam ketidakpastian,” (halaman 26)


Kepolosan Genduk dan harapan tentang kepulangan ayahnya selalu dicibir bahkan oleh ibunya sendiri. Walaupun begitu, dari Genduk ini kita akan diajak untuk bersyukur karena keluarga yang lengkap dan harmonis bisa menjadi sumber kecemburuan untuk anak-anak yang keluarganya tidak lengkap. Genduk seringkali iri pada kawan-kawannya yang bisa bercengkerama hangat dengan ayah masing-masing. Kerinduan itu juga mendorongnya untuk berpikiran positif dan terus maju supaya suatu hari bisa bertemu dengan ayah kandungnya lagi.
Lewat kehidupan sehari-hari dari tokoh Genduk, kita akan diajak berkenalan dengan perjuangan hidup para petani tembakau di Desa Ringinsari. Sebagian besar penduduk di desa itu menggantungkan kehidupan kepada penjualan tembakau. Kekejaman tengkulak yang membeli dengan harga terlalu murah lalu dijual ke pedagang pasar dengan harga tinggi, juga disisipkan lewat novel ini. Kita bisa mengetahui fragmen kehidupan wong cilik para petani tembakau yang mungkin prakteknya masih ada hingga sekarang.
Ada beberapa kelebihan yang bisa dilihat dari novel ini. Yang paling menonjol adalah kekuatan riset yang cukup mendetil mengenai kehidupan petani tembakau. Penulis melakukan riset di Desa Mranggen Kidul, Temanggung, Jawa Tengah demi bisa mengetahui bagaimana proses penanaman bibit tembakau sampai dijual kepada para juragan tembakau.


Gundukan-gundukan panjang yang didatangkan dari Kota Parakan pun semakin memadati desa. Keranjang berepok-kepok pun ditata dengan rapi, dialasi dengan daun pelepah desa kering, dan gulungan tembakau pun diletakkan dengan penuh khidmat. (Halaman 95)

Bagi pembacaa awam yang tidak pernah mengetahui bagaimana asal mula tembakau itu dibuat, pasti akan lebih bersimpati dan menghargai etos kerja mereka. Selain menghadapi cuaca yang berpengaruh terhadap pertumbuhan tembakau, mereka juga harus menghadapi fluktuasi harga pupuk yang sudah cukup memusingkan, ditambah kehadiran tengkulak yang curang. Genduk, hadir sebagai tokoh remaja yang meskipun harus melewati pengalaman getir demi keberhasilan ibunya menjual tembakau, tetap berusaha berpikiran ke depan dan memberikan jalan yang yang tak hanya baik untuk ibunya tetapi juga untuk petani tembakau di desanya.


Selain itu, penulis cukup berani mengulik sisi kejawen dari penduduk desa yang dalam beberapa hal cenderung bertentangan dengan syariat agama Islam. Tokoh Pak’e, saat masih di Desa Ringinsari, adalah seorang yang getol memberi pencerahan kepada penduduk desa agar meninggalkan tindakan ritual yang tidak diajarkan Rasulullah dan tidak tercantum di dalam Alquran. Tentu saja gesekan dari para tetua desa membuat tokoh Pak’e tidak terlalu disukai. Yung dan Pak’e menikah tanpa restu kakek Genduk. Sang Kakek melarang putrinya menikah dengan seorang alim ulama yang mengancam kepercayaannnya.


Namun ada beberapa hal yang mengganggu dari novel ini. Banyaknya istilah bahasa Jawa memang menunjukkan kekentalan budaya dan sanggup menghidupkan cerita, namun karena keterangan artinya diletakkan di halaman paling belakang, pembaca yang tidak paham bahasa Jawa harus membolak-balik ke belakang baru kembali ke halaman yang sedang dibaca sehingga tidak praktis. Akan lebih baik jika arti kata diletakkan di catatan kaki supaya lebih mudah.  Dan alur yang agak dibuat terlalu cepat di bagian Genduk kabur dari desa untuk mencari jejak Pak’e, seolah dibuat terlalu mudah dan serba kebetulan. Karena Genduk seumur hidup tidak pernah meninggalkan desanya, tentu pergi ke kota yang lebih ramai tidaklah semudah itu.  Untungnya, penulis memperbaikinya dari bagian klimaks menuju akhir yang lebih kuat secara alur.

Novel ini layak dibaca apalagi oleh generasi muda yang hidup di masa serba modern dan mudah. Perjuangan dan kesabaran Genduk sangatlah menginspirasi.


 

Saturday, 28 April 2018

Pengalaman Warna-Warni dengan Canva

April 28, 2018 4 Comments

Menulis adalah salah satu passion dan sarana saya untuk meluapkan ide. Isi kepala saya yang kecil ini mudah sekali terpantik untuk nyinyir atau mengomentari apa saja yang memang memicu untuk dikomentarin. Dan lewat tulisan, salah satunya via blog, semua kenyinyiran itu ada wadahnya dan bisa ditumpahkan lebih elegan.

 Coba saja kalau misal pas saya nyinyir sama orang yang drama-queen di status FB, pasti pecah nih perang komen di akun saya. Kalau ada hal yang memancing emosi atau curiosity, biasanya saya akan mencari artikel yang membahas tentang topik itu, gali lagi dari tanya-tanya ke orang  yang juga pernah mengalami hal yang sama, lalu cari gambar di Google.

Apa hubungannya antara ide, sumber informasi dan gambar?

Jelas ada. Kalau mau membuat tulisan yang bergizi sekaligus eye catching, saya pasti akan mencari gambar pendukung yang bisa dicari di internet. Hobi saya adalah mencari foto quote yang ada hubungannya dengan isi tulisan. Hal yang sangat wajar jika di dalam artikel blog, segi visual itu juga harus diperhatikan. Minimal ada satu atau dua gambar, kecuali kalau saya memang sedang malas dan hanya menulis untuk menumpahkan ide tanpa berharap ada banyak yang baca. Artikel yang berupa opini atas masalah tertentu, tips dan review pasti akan saya selipi gambar. Dan setelah mengenal Canva setahun lalu, kini saya bisa berkreasi dengan banyak elemen, bentuk serta warna untuk mendesain gambar quote yang saya inginkan hingga membuat ebook.

Sebelumnya saya sama sekali buta soal Canva dan baru setelah membaca salah satu ulasan di blog seseorang, saya mencoba untuk membuat akun dan mengutak-atik fiturnya. Amazing! Saya yang tidak jago photoshop tapi punya sense of colour yang lumayan, bisa mendesain banner buat workshop sendiri, bikin kover simple di online novel hingga yang paling favorit adalah bikin quote dari tulisan sendiri. Yang dibutuhkan hanyalah kesabaran untuk belajar mencoba berbagai tools dan fitur Canva dan juga kuota internet karena editingnya berbasis online.

 Enaknya Menggunakan Canva
Canva sudah menyediakan layout dan template gratis yang bisa dijadikan background gambar atau kita bisa juga mengupload foto pribadi untuk diberi font-font menarik sesuai keinginan.  Yang mulanya saya hanya mencomot background gratis, kini bisa juga membuat desain dari awal. Asyik deh saya bisa membuat ebook untuk keperluan workshop atau bisa juga buat infografis  yang mungkin akan saya gunakan.

Contoh ebook saya 
Contoh kutipan online novel saya


Aplikasi ini jadi sangat penting karena:


1. Bisa membantu internet marketing

Misalnya kita mau berjualan online via Instagram atau mengadakan seminar, pasti butuh membuat desain banner yang menarik calon pembeli. Promosi buku pun sekarang dibutuhkan lewat Instagram dan Pinterest. Banyak penulis atau pecinta buku yang membuat kutipan dari buku untuk dipajang di media sosial. Ini bisa menjadi alat promosi menarik buat karya kita.

2. User friendly

Seperti yang saya tulis di atas, untuk membuat desain apa saja dari undangan, banner, kover buku, ebook, kover blog, instagram quote dan lain-lanya sangatlah mudah. Berbasis fitur drag and drop jelas sangat user friendly. Canva model aplikasi android bisa dilihat di video singkat di bawah ini.





3. Bahasa bermacam-macam

Salah satu kekhawatiran yang biasanya muncul dari pengguna adalah  fiturnya yang berbahasa Inggris. Aplikasi yang lahir dari Australia ini memiliki ratusan bahasa dan salah satunya dalam bahasa Indonesia. Kita bisa mengunduh aplikasi Canva berbahasa Indonesia di Playstore, jadi jangan cemas dengan kendala bahasa bagi pengguna non-English. Peluncuran Canva untuk pengguna di Indonesia juga menjadi bagian promosi yang dilakukan oleh head of management team-nya. Aplikasi bisa diakses via komputer dan smartphone berbasis iOS serta Android.

4. Hemat

Buat yang tidak jago Corel dan Photoshop, Canva akan sangat membantu user hingga memangkas tenaga, hemat waktu dan gratis. Memang ada beberapa fitur layout yang harus dibyar, tapi masih banyak ribuan lainnyayang cuma-cuma. Kita tak perlu membayar orang untuk jasa membuat banner atau layout ebook contohnya.


Dengan Canva, saya bisa berkreasi dengan banyak warna juga bentuk yang menunjang hobi menulis saya. Coba saja berkunjung ke websitenya untuk mengintip sedikit dan bisa jadi kamu akan jatuh cinta.

Tuesday, 24 April 2018

Perempuan Itu Mahadaya

April 24, 2018 2 Comments

Sejenak saya berpikir apakah judul tulisan kali ini terlalu puitis atau malah terlalu berlebihan? Mahadaya berarti memiliki segala kelebihan. Tapi di sini yang akan saya tekankan adalah kelebihan untuk membagi waktu dan energinya pada segala hal yang menuntut fokus secara bersamaan. Bagi ibu rumah tangga adalah pembagian waktu dan energi untuk mengurus suami, mendidik anak, memikirkan besok akan masak apa, atau semacam menghitung duit belanja apakah akan cukup untuk seminggu ke depan. Perempuan yang masih lajang dan baru membangun karir akan dihadapkan pada bagaimana meladeni tuntutan  lingkunganya yang terus-menerus  meneror dengan pertanyaan kapan menikah dan juga materi meeting yang harus disiapkan di kantor.


Bukan berarti laki-laki tak memiliki tantangan, tetapi buat perempuan yang hidup di negara setengah maju setengah patrilineal ini, maka tentu akan selalu muncul sindiran negatif jika ada yang dinilai tidak sesuai kodrat. Tiap hari akan selalu saja muncul kontroversi apakah seorang perempuan boleh bekerja atau mengurus rumah tangga saja. Jikalau seorang adis meneruskan untuk melanjutkan pendidikan sampai S2 apalagi sampai S3 maka yang ditakutkan adalah akankah ada lelaki yang berani melamar?


Kesetaraan yang sudah diteriakkan oleh banyak pihak, sayangnya masih sebatas pada praktek kulit luarnya saja. Saya pun setuju jika seorang perempuan itu wajib menjadi madrasah pertama buat anak-anaknya, tetapi juga bukan hal yang salah jika ada seorang ibu yang tetap ingin berkarir. Tentu saja pilihannya akan menjadi semakin berat karena ibu harus membagi waktu yang seimbang antara pekerjaan dan keluarga. Melihat dan mengamati betapa mahalnya harga kebutuhan saat ini dan juga biaya pendidikan yang selangit, saya jadi berpikir bahwa perempuan tak boleh hanya duduk manja di rumah tanpa menghasilkan apa-apa.


Banyak bisnis online yang bisa dijalankan dari rumah dan mengandalkan gawai. Saat ini menjadi mompreneur adalah hal yang tak asing di telinga. Kita tak pernah tahu bagaimana kondisi keuangan keluarga. Seorang ayah tetaplah menjadi tulang punggung utama buat keluarga, hanya saja di zaman serba sibuk  seperti sekarang maka istri yang memiliki sumber penghasilan sekunder bisa membantu ketika ada darurat keuangan melanda. Minimal jika ada penghasilan meski tak sampai gaji UMR, perempuan bisa membeli perawatan kecantikan lebih baik buat dirinya sendiri atau sesekali memberi hadiah buat orang tua di ulang tahun mereka. Menjadi  berdaya bukan berarti jadi tak menghormati laki-laki. Dan seharusnya laki-laki justru mendukung perempuan untuk berkarya, bukannya serba takut atau malah rendah diri. Ibu yang cerdas akan mendukung anaknya agar tahu apa yang mereka mau serta mengarahkannya menjadi manusia yang punya cita-cita tinggi.


Orang tua saya adalah contoh bagus bagaimana kerjasama antara perempuan dan laki-laki berjalan suportif tanpa ada  maksud  saling mengungguli. Ayah menjadi pencari sumber nafkah utama dan  selalu mendukung ibu saya untuk berkegiatan sosial di desa. Ibu memang tidak bekerja, namun sejak kecil beliaulah yang mengajarkan saya membaca dan berhitung untuk pertama kali. Ibu jugalah yang melecut sikap saya yang pesimis agar menjadi lebih berjiwa besar lagi. Dan masih banyak hal lainnya yang saya pelajari dari kedua orang tua tersayang.

Selain peran orang tua, saya juga memiliki idola di bidang perempuan inspiratif. Di antara banyak  perempuan yang saya kagumi, ada dua nama dari Indonesia yang saya amati kiprahnya dan bisa menjadi inspirasi buat perempuan masa kini. Mereka adalah Indari Mastuti dan Aulia Halimatusadiah atau sering disapa Ollie.

Indari Mastuti 
Sumber gambar: https://indscriptcreative.com/

Indari Mastuti adalah seorang penulis puluhan judul buku dan artikel di berbagai media dan kini menjadi seorang entrepeneur sukses. Saya tertarik untuk mengikutinya di Facebook setelah membaca satu artikel di Jawa Pos tentang grup Ibu-Ibu Doyan Nulis. Indscript Creative adalah bisnis pertama yang ia bangun dan berkonsentrasi sebagai agensi naskah yang memeprtemukan penulis dengan peenrbit. Bisnisnya sempat mengalami masa surut, namun dengan semangat kuat ia berhasil bangkit.

Indari Masuti adalah seorang pebisnis sekaligus ibu rumah tangga. Ia memiliki jadwal dan disiplin baik agar bisa membagi waktu antara membesarkan bisnisnya dan mengurusi keluarga. Saya mulai mengikuti training onlinenya yaitu Writerpeneur dan mendapat job di blog pertama setelah mengikuti serta memenangkan kompetisi One Day One Article.

Torehan prestasi berhasil ia peroleh seperti Perempuan Inspiratif Nova 2010, Juara 3 Kartini Awards 2012 dan lain-lain. Ia terus mengembangkan tim Indscript sampai memiliki program pemberdayaan perempuan untuk berbisnis dan menulis. Training-training online yang berkaitan dengan teknis berbisnis dan menulis telah banyak membantu perempuan agar bisa berkarya dan menghasilkan uang dari rumah.

Aulia Halimatussadiah
Sumber gambar: www.bintang.com 

Saya mengagumi perempuan yang juga dipanggil Ollie ini semenjak mengetahui berita tentang Nulis Buku. Nulis Buku adalah platform online pertama yang menjadi wadah bagi siapapun untuk bisa melakukan penerbitan bukunya sendiri (self publishing). Sempat bekerja di dunia IT, Ollie sukses mengkolaborasikan dunia tulisan yang ia cintai dengan teknologi. Penulis yang aktif menerbitkan buku ini terus berkarya dan salah satunya yang menjadi karyanya adalah mendirikan Zetta Media, sebuah digital network yang membawahi portal-portal website berbasis konten informatif serta bermanfaat. Ia menjadi contoh buat perempuan muda yang berani berkarya di dunia maskulin. IT atau teknologi selama ini dikenal lebih banyak dikuasai  oleh laki-laki, dan Ollie berhasil menggusur stigma itu. Ia juga aktif di komunitas Girls in Tech. Ollie berani  menantang dirinya untuk terus belajar hal baru dan berusaha memberikan solusi lewat bisnis yang ia kembangkan.

Inspirasi bisa dilakukan oleh siapa saja termasuk dari  seorang perempuan. Saya ingin menjadi perempuan yang berdaya tanpa takut menghasilkan karya. Siapapun kita dan apapun yang kita kerjakan, maka lakukanlah dengan  sepenuh hati dan CINTA.

Wednesday, 11 April 2018

Menjadi Wordpreneur Telah Mendobrak Keterbatasan

April 11, 2018 4 Comments

Tak banyak orang paham dengan apa makna wordpreneur yang sering saya sebutkan. Kebanyakan mengira jika seorang wordpreneur hanya berkutat di bidang tulis-menulis saja. Padahal, wordpreneur yang saya maksud di sini adalah sebagai seorang penyuka beragam bahasa dan juga tentunya dalam dunia menulis. Wordpreneur adalah jiwa saya.


Bukankah berbicara pun merupakan bagian dari berkomunikasi? Seharusnya kita tak mengkotak-kotakkan kata wordpreneur dalam seni menulis saja, seseorang yang juga mahir mengolah kata secara verbal atau lisan seperti public speaker dan interpreter pun sepatutnya disebut juga sebagai wordpreneur. Dan saya tak bisa lepas dari bahasa asing maupun menulis. Lewat dua hal itulah saya mengalami perjalanan yang luar biasa serta mengatasi keterbatasan dalam pendidikan hingga mencari nafkah.

image source: Women.com

Saya menguasai dua bahasa asing yaitu bahasa Inggris dan Jepang, serta masih akan mempelajari bahasa-bahasa asing lain. Mulanya ketika mempelajari bahasa Jepang di masa kuliah, banyak orang yang mencemooh pilihan studi saya.

“Bahasa asing yang utama itu bahasa Inggris aja. Emang lulusan Sastra Jepang bisa kerja apa? Siapa yang mau nerima lulusan Sastra Jepang? Mau jadi TKW?”

Komentar-komentar miring itu tak membuat saya surut dalam belajar. Saya berusaha dua kali lebih keras dari kawan-kawan yang lulus dari jurusan bahasa di SMU-nya. Beasiswa yang saya peroleh adalah pada mulanya, hingga saya bisa mencari kerja sambilan di semester akhir dan terjun di dunia interpreter yang semula saya pikir akan sangat sulit dicapai. Kondisi ekonomi keluarga yang kencang di segala sisi, membuat saya tak ingin menjadi sarjana gagal yang kesulitan mencari kerja. Saya bertekad untuk menjadikan bahasa yang saya pelajari dan dunia menulis yang saya cintai sejak kecil akan menjadi ladang keberkahan. Dan itu tak semudah yang saya kira.


Awal Mula Menjadi Interpreter
Semula saya pikir jika menjadi English atau Japanese Intrepreter akan berpakaian formal dan dalam situasi meeting yang tenang. Ternyata setelah terjun di dunia interpreter yang sesungguhnya, saya harus beradaptasi dengan beragam karakter klien yang tak selalu mudah dan belajar berada di lingkungan yang tak selalu kondusif, serta mempelajari hal-hal yang semula saya hindari. Di tahun terakhir kuliah, saya mengumpulkan dana untuk skripsi, biaya bimbingan dan persiapan wisuda. Dan job sebagai Japanese Interpreter adalah sumber dana yang sangat lumayan waktu itu.

Lokasi job pertama berada di sirkuit balap motor yang juga menjadi event nasional pada 2013. Saya harus bisa bertahan di tengah cuaca Surabaya yang super panas dan menjadi satu-satunya perempuan di sirkuit. Selama kuliah, saya belajar soal budaya dan sastra, bukan soal mesin motor. Saya tak suka dengan onderdil, bahkan mengendarai sepeda motor pun tak becus, tapi kali ini saya dipaksa untuk memahami sistem kerja mesin motor serta bagian-bagiannya dalam bahasa Jepang. Apalagi saya adalah interpreter kedua, menggantikan orang sebelumnya yang demam tinggi setelah dua hari terpapar panas di sirkuit.

Blog Kata Reffi
di hari terakhir, baru ada teman perempuannya


Rasa tak percaya diri dan takut harus saya kalahkan. Jika tidak bertanya kepada teknisi dan tim lokal di situ, mana bisa saya paham dengan sistem sebuah mesin motor untuk balap? Rasanya saya ingin lari dan tidak kembali, tetapi lagi-lagi karena terdesak kebutuhan saya tak mau menyerah di tengah jalan. Jelas saja banyak sekali suara-suara menggoda dari pekerja pria, ingin mengajak saya berkenalan hingga memandang dengan sorot mata ingin tahu hanya karena saya satu-satunya perempuan. Tapi saya berusaha acuh. Malah saya merasa nyaman dengan tim klien pertama waktu itu. Karena saya dianggap sebagai tim, tak ada yang memandang saya remeh. Mereka bilang,”Meski mbak ini satu-satunya perempuan, tapi posisimu penting di sini. Teknisi utama dan pembalap kami dari Jepang. Jika kami tak bisa bekerjasama karena kendala komunikasi, maka kami sudah kalah sejak awal.”

Blog Kata Reffi
Menerjemahkan sampai malam 

Ternyata saya semakin menikmati pekerjaan sebagai interpreter di dunia yang sangat maskulin. Selepas wisuda, saya diterima bekerja di sebuah perusahaan peleburan baja. Bayangkan saja yang menjadi tempat kerja saya lingkungannya sangat panas dan juga hanya saya yang menjadi satu-satunya perempuan di lapangan. Bekerja di lingkungan yang challenging membuat saya lebih memperhatikan kondisi tubuh. Saya jadi rajin olahraga agar tidak mudah keok saat lama berdiri mendampingi tenaga kerja asing di lapangan, rajin minum air putih karena bahaya kalau sampai dehidrasi, serta belajar untuk membawa diri di tengah dunia maskulin. Rekan kerja  saya pun bersikap profesional.

Beberapa tahun bekerja di perusahaan peleburan baja, saya pindah ke sebuah perusahaan Jepang yang memproduksi part mesin traktor. Meski tak sepanas di tempat kerja pertama, saya harus sering naik turun tangga untuk mengecek kondisi lapangan dan menyelesaikan pekerjaan berbau administrasi di kantor. Saya tak hanya menjadi interpreter tetapi juga mempelajari bidang kerja lain seperti soal General Affair dan Purchasing. Jelas saja ilmu saya makin bertambah. Uniknya, ketika menjadi pekerja, saya jadi lebih jarang sakit ketimbang saat masih kuliah. Mungkin karena menyadari jika lingkungan kerja sangat menantang, maka saya jadi tak sembrono soal kesehatan

Blog Kata Reffi
Maskulin banget ya seragam kerja saya, di kantor terkini :D


Menulis Membawa Petualangan Baru
Menulis telah membawa saya ke banyak petualangan baru. Tak hanya merasakan senang ketika buku atau artikel terbit lalu disukai pembaca, tetapi juga saya bisa menjadi seorang trainer di dunia yang saya sukai. Beberapa kesempatan menarik seperti menjadi trainer untuk mengajari anak-anak menulis, menjadi trainer online kepenulisan fiksi atau bisa berinteraksi dengan pembaca lewat blog adalah hal-hal yang saya impikan. Dulu saya bepikir jika untuk menjadi trainer harus menunggu umur lebih tua, tetapi saya kini bisa merasakan menjadi seorang writing trainer di usia yang terhitung masih muda.
Blog Kata Reffi
Menjadi writing trainer Kumon English di Surabaya

Saya yang dulu sempat menjadi pemalu tapi punya ide berlebih yang menunggu dibicarakan, kini juga bisa menyalurkan semua ide serta pengalaman lewat sharing kepenulisan. Saya menjadi lebih percaya diri dan bersemangat untuk terus menulis agar memiliki pengalaman yang bisa dibagikan. Tak harus menunggu usia tua untuk memberi pelatihan.

Blog Kata Reffi
Menjadi pembicara di sharing session Polyglot Surabaya tentang Interpreter

Itulah pengalaman saya menjadi wordpreneur. Ada yang mengira saya bekerja sebagai full-time writer, ada pula yang penasaran saya ini bekerja sebagai interpreter di perusahaan apa karena saya tak pernah menyantumkan nama perusahaan di medsos,  kecuali akun LinkedIn. Memang saya ingin dikenal dari kemampuan saya berbahasa asing serta menulis, bukan dari bekerja di perusahaan tertentu.  Keterbatasan bisa saya atasi dengan tak takut untuk belajar dan menghadapi kesulitan dengan semangat. Perempuan pun bisa berkarya pada bidang apapun yang ia cintai.


Penulis:
Reffi Dhinar, seorang wordpreneur (Japanese Interpreter, blogger, public speaker, writing trainer, penulis buku). Tulisan ini diikutkan dalam kompetisi Perempuan Juara di Lingkungan Kerja.

Sunday, 8 April 2018

Mini Ebook: How To Be The Interpreter

April 08, 2018 6 Comments

Apakah kamu suka belajar bahasa asing? Tidak salah memang jika kemampuan bahasa asing disebut sebagai salah satu skill yang dibutuhkan di zaman globalisasi saat ini. 

Bagaimana jika kamu sudah menguasai satu atau dua bahasa asing lalu ingin mengubahnya menjadi pekerjaan? 

Peluang karir terbuka lebar buat kamu yang gemar dan piawai berbahasa asing, saya pun sudah merasakan banyak manfaatnya. 

How to be interpreter

Manfaatnya antara lain: 
 1. Bisa membuka kursus bahasa asing. Ini cocok sekali buat kamu yang punya jiwa entrepeneur dan buat perempuan yang nantinya ingin membuka bisnis dari rumah. 
 2. Menjadi interpreter. Saya sudah merasakan banyak manfaat ketika terjun menjadi seoran interpreter. Pekerjaan satu kece lho, dan buat yang menjadi freelancer interpreter berpengalaman bisa dapat banyak rupiah per harinya. Atau jika bekerja di perusahaan, bisa menambah skill ilmu lain di luar bahasa asing. 
 3. Menjadi translator. Banyak buku asing, film dan serial yang butuh translator untuk menerjemahkan. Kesempatannya pun terbuka lebar.

Oke kan? Nah lewat artikel ini, saya akan berbagi salah satu materi saya tentang pengalaman merintis karir sebagai seorang Japanese Interpreter. Materi ini sudah pernah saya sampaikan di acara meet up Polyglot Surabaya tahun lalu. 
(Baca Juga: Interpreter Journey)  

Silakan download di sini buat kamu yang ingin tahu rahasia menjadi interpreter ya. Kalau ingin bertanya bisa juga tuh kirim email ke saya, ada di kolom contact blog ini ya. ^_^