Monday, 20 November 2017

Mengupas Strategi Kaya dari Menulis Indie

November 20, 2017 4 Comments

Di hari Minggu lalu tepatnya tanggal 19 November 2017, FAM Surabaya menyelenggarakan launching 4 buku tunggal dan juga talkshow bertajuk ‘Strategi Memasarkan Buku Indie’ bersama Ma’mun Affany. 4 buku yang dilaunching juga diperkenalkan secara singkat oleh masing-masing penulisnya antara lain; saya yang menulis kumpulan cerpen ‘Perempuan dengan Sayap di Tubuhnya’, Yudha Prima menulis ‘Kun Muhibban’, Suprapno penulis buku ‘Di Batas Waktu’ dan Agus Salim yang menulis ‘Jihad Bil Qalam’.


25 orang yang hadir di event tersebut mengikuti acara dengan asyik. Ma’mun Affany membagikan secara komplit perjalanannya menjadi penulis indie sukses yang bahkan salah satu karyanya sudah diangkat menjadi film di layar lebar. Selama ini buku dari terbitan indie seringkali dipandang sebelah mata, berbeda dengan buku mayor yang selalu dianggap lebih keren.

“Jika ingin cepat terkenal, berkaryalah di penerbit mayor, namun jika ingin mendapatkan keuntungan lebih banyak, maka terbitkan karya secara indie.” Kira-kira seperti itulah pesan dari penulis 9 buku tersebut. Karena jika menjadi penulis mayor, maka potongan pajak yang diterima pasti lebih banyak dibandingkan dengan menerbitkan karya sendiri.

Berlokasi di ruang dongeng Perpustakaan Provinsi Surabaya, penulis jebolan Gontor tersebut menyebutkan salah satu kunci utama mengapa karyanya selalu laris. Walaupun diterbitkan sendiri, seorang penulis indie harus membuat karyanya secara profesional. Jangan asal memilih editor dan juga perhatikan kualitas packaging buku yang akan diterbitkan.

“Penulis harus sabar dalam menjalani prosesnya. Setelah sebuah karya selesai dibuat, penulis harus memikirkan bagaimana desain kover yang tepat dan juga judul apa yang kira-kira menarik pembaca. Idealis dalam berkarya boleh, namun jika ingin karya kita menarik minat banyak pembaca, maka kita harus pintar-pintar memperhatikan target pasar yang ingin dimasuki.

4 penulis FAM Surabaya

Beberapa tips penting yang dijelaskan oleh Ma’mun Affany supaya buku terbitan indie bisa laris manis antara lain sebagai berikut.


Bersama Mas Ma'mun Affany

1. Rencanakan target pembaca
Setelah sebuah buku selesai ditulis, penulis wajib memikirkan kira-kira dari usia berapa maka karya tersebut akan menarik perhatian. Ma’mun Affany membagi menjadi empat jenis genre buku dengan masing-masing kekurangan serta kelebihannya. Empat genre buku yang sering dipasarkan di Indonesia adalah buku ilmiah (buku bahan ajar), pengetahuan sekilas, pengetahuan yang menghibur dan hiburan. Usia pembaca dari 15-25 tahun disebut sebagai usia yang paling mudah membelanjakan uang untuk membeli buku favoritnya,”Dan hingga saat ini pasar terbesar dunia perbukuan kita adalah dari genre hiburan yaitu novel. Novel akan selau dicari pembaca apalagi jika sudah menjadi bestseller. Novel akan selalu abadi meski sudah berganti zaman.” Ujar penulis bestseller ‘Kehormatan di Balik Kerudung’ tersebut.

2. Perhatikan momentum
Cerdaslah memilih momentum yang pas saat akan meluncurkan buku. Jika buku kita bernuansa religi, bisa dicoba untuk mempublikasikannya di saat Ramadan. Momentum yang pas, akan mendorong psikologi calon pembaca untuk membeli.

3. Jangan terlalu percaya diri sebelum dites
Tes ini maksudnya, berikan karya yang akan kita terbitkan pada beberapa pembaca untuk dinilai. Kita bisa meminta tolong rekan atau sahabat yang pasti bisa menilai secara kritis, tak hanya sekadar bagus atau jelek. Paling tidak ada 5 orang yang mengatakan baik, maka kita baru bisa menerbitkan karya tersebut. Jika banyak yang menilai itu kurang, jangan terlalu kaku mempertahankan pendapat, maka segeralah memperbaiki atau menulis ulang. Terapkan mindset jika kita menulis untuk pembaca, bukan untuk diri sendiri, sehingga usahakan membuat karya terbaik sesuai dengan saran dan kritik yang diterima dari para pembaca pertama.

4. Judul menarik dan unsur buku profesional
Semua buku karya Ma’mun Affany dibuat tidak asal-asalan. Menurutnya, buku indie yang diedit oleh editor andal, memiliki desain kover dan layout yang menarik serta kualitas cetak layaknya buku mayor, akan menaikkan nilai buku secara tidak langsung. Judul yang baik tidak selalu bombastis, namun menggelitik hati calon pembaca untuk membeli buku kita dan tergerak untuk segera membacanya.

5. Penulis perlu juga belajar marketing dan internet branding 
Penulis masa kini tidak boleh berpangku tangan setelah karyanya terbit. Terutama penulis indie. Kita harus belajar membuat cara promosi yang menarik dan juga melek internet branding. Buat buku indie kita memiliki gaung di internet, bisa dengan memperbanyak review di banyak blog atau sering promosi di media sosial.



Inilah beberapa tips bermanfaat yang dibagi Ma’mun Affany dalam sesi talkshownya. Penulis indie juga bisa mendapat rezeki berlimpah jika paham triknya. Tetaplah menulis dan terus berlatih menjadi penulis sekaligus marketer andal untuk karya kita sendiri.

Thursday, 16 November 2017

Kalau Sedih Jangan Menyebalkan (Etika Curhat)

November 16, 2017 6 Comments

Curhat adalah kebutuhan dasar manusia sebagai makhluk sosial. Seperti halnya makan dan minum, curhat dibutuhkan agar tumpukan keruwetan pikiran tidak membusuk di dalam kepala dan jiwa hingga menjadi penyakit. Bisa dibilang, terkadang menceritakan masalah itu tidak bertujuan untuk mencari solusi tetapi hanya untuk mengosongkan sampah pikiran.

Mencurahkan isi hati bukan hanya milik kaum perempuan, laki-laki juga ada kalanya butuh momen curhat dengan orang terdekat. Nah bagi kita yang memiliki sahabat, pasti pernah melakukan curhat atau justru sering menjadi tempat curhat. Ada yang perlu digarisbawahi. Pendengar yang baik akan dipilih banyak orang untuk menjadi tempat curhat, tetapi pernah tidak kita berempati kepada sahabat atau kenalan yang jarang curhat namun malah menjadi penampungan cerita orang lain? Pasti juga ada waktu di mana muncul perasaan sebal dengan tingkah pihak yang sedang bercerita banyak hal pada kita?

Beberapa hal di bawah ini sebaiknya kita perhatikan agar saat curhat pun tetap beretika.

1.     Lihat situasi dan kondisi
Mungkin sahabat kita itu adalah orang paling sabar dan tidak pernah mengeluh, tapi please jangan asal pilih waktu dan memaksanya di saat tidak tepat. Misalnya, menelepon di tengah malam padahal besok sahabat kita harus ke kantor pagi-pagi. Apalagi jika dia sudah berkeluarga, kalau memang sangat butuh tempat pelampiasan untuk bercerita namun situasi belum memungkinkan, cobalah untuk menulis jurnal. Menulis sudah terbukti secara ilmiah dapat meringankan beban pikiran. Jangan asal membuat status sembarangan di saat emosi sedang labil. Pernah dengar kasus penulis status facebook dipolisikan karena menyindir atasannya tanpa disensor? Itulah contoh cara curhat yang ngawur. Dan pilihlah sosok yang tepat ya. Batasi curhat kepada lawan jenis yang bukan pasangan kita, terutama jika masing-masing sudah menikah. Jangan sampai gara-gara keseringan curhat malah menumbuhkan benih-benih cinta terlarang.

cara curhat yang baik



2.     Mendadak merasa jadi pusat perhatian
Pernah tahu kenalan atau sahabat yang bilang begini di kala curhat?

"Kamu itu nggak ngerti apa yang kurasain. Jadi nggak usah deh sok menasehati.” 

Atau bisa jadi justru kita yang tanpa sadar pernah melontarkannya? Sebenarnya, kalimat itu bermakna egois lho. Seseorang yang peduli dan sayang pada kita, pasti akan ikut sedih jika kita mengalami kesedihan atau kegagalan. Menjadi pendengar yang baik itu memang sulit, setidaknya kita bisa menerima saja saran mereka. Untuk dipakai atau tidak saran tersebut, ya itu kembali kepada diri kita. Coba bayangkan posisi si tempat curhat. Bisa jadi kita sering curhat soal masalah yang sama, kebodohan yang sama dan juga kesalahan yang itu-itu saja. Namanya manusia pasti ada enegnya. Jadi, tahan diri untuk berkomentar pedas ketika mereka memberi saran.

cara curhat yang baik



3.     Kalau curhat, sesekali juga harus mau menjadi tempat curhat
You are not a center of stage in this world! Dunia ini tidak berpusat di diri kita. Sudah tahu istilah take and give, bukan? Jadi kalau sudah sering curhat sama seseorang, berilah mereka perhatian dengan kalimat begini,”Makasih udah mau dengerin curhat recehku, kalau kamu ada masalah, kamu bisa cerita apa aja ke aku.” Apalagi jika sahabat kita termasuk orang yang sangat tertutup. Lihatlah kegelisahan di mata dan kesehariannya, jangan memaksa dia untuk bercerita, namun coba hibur agar dia bisa tertawa. Dan pastinya jadilah orang yang bisa dipercaya, bukannya ember.

Menjadi pendengar yang baik memang tidak mudah. Setidaknya mulai sekarang coba kita merenungkan hal-hal yang sudah disebutkan di atas. Jadilah tukang curhat yang bisa menjaga etika. (Baca Juga: I Am A Woman, Not A Merchants's Goods)

Thursday, 9 November 2017

Detektif Tak Sempurna dengan Cerita Luar Biasa

November 09, 2017 0 Comments

Cerita detektif adalah cerita yang membuat rasa penasaran kita bangkit, pusing menebak siapa pelaku kejahatannya dan juga berusaha menerka bagaimana langkah si detektif dalam membongkar sebuah kasus. Menariknya lagi, cerita dan film detektif itu punya basis penggemar yang rata-rata loyal. Sebut saja  tokoh fiksi detektif seperti Sherlock Holmes karya Sir Arthur Conan Doyle dan juga kisah-kisah detektif karya Agatha Achristie, mempunyai fans setia sejak zaman baby boomers sampai generasi milenial masa kini.

Dari dunia anime, kita juga pasti tidak asing dengan Detective Conan. Tokoh anime Shinichi Kudo yang menyusut menjadi anak kecil itu selalu membuat Detective Mori tertidur dengan jarum biusnya, lalu mulai membongkar kasus. Uniknya, anime tersebut juga dibuat katanya karena terinspirasi dari Sherlock Holmes. Ini salah satu bukti jika ketenaran Sherlock Holmes telah menginspirasi para kreator untuk membuat cerita detektif versi baru.

Tokoh-tokoh detektif seperti Shinichi Kudo, Sherlock Holmes dan Hercule Poirot memang punya gaya sendiri dalam  memecahkan suatu kasus, namun mereka memiliki kesamaan dalam pengembangan karakter. Tokoh detektif memiliki daya ingat tajam, bisa menerka alur sebuah kasus hanya dari detil-detil terkecil, lalu menganalisa dengan canggih. Masalahnya, hal tersebut memang membuat cerita menjadi seru tetapi rasanya agak mustahil jika diaplikasikan di dunia nyata.

Dan Robert Gilbraith, nama lain dari JK Rowling, berani mendobrak monotonnya karakterisasi tokoh detektif lewat tokoh fiksi ciptaannya, Cormoran Strike. Debut novel seri detektifnya, Cuckoo’s Calling menjadi hits di pasaran. Meskipun ia dikenal sebagai penulis fantasi, teryata tangan dingin JK Rowling berhasil meramu cerita detektif menjadi lebih humanis.

Cormoran Strike digambarkan memiliki tubuh tinggi besar, memakai satu kaki palsu dan juga sensitif. Bagi yang menjadi penggemar Sherlock Holmes pasti tahu bagaimana karakter si detektif cerdas itu sangat jauh dari kisah cinta. Detektif seolah-olah ‘dihukum’ tidak memiliki kekasih hati. Cormoran Strike malah kebalikannya. Ia masih sulit move on dari mantan tunangan yang mencampakkannya demi lelaki lain dan juga harus bersusah payah untuk bekerjasama dengan beberapa pihak jika sedang melakukan penyelidikan. Menurut saya, usaha dari Cormoran Strike terlihat lebih manusiawi dan membuat rasa penasaran lebih besar. Detektif berkaki palsu sebelah itu juga memiliki ciri khas detektif andal, seperti daya ingat tajam dan pandai menganalisa sebuah rangkaian peristiwa kunci.
cuckoos calling cover
sumber gambar: Google


Asisten detektif nyentrik ini malah seorang perempuan bernama Robin. Robert Gilbraith a.k.a Rowling menitipkan pesan kesetaraan gender lewat tokoh Robin. Meski awalnya hanya menjabat sebagai sekretaris Cormoran Strike, dengan upaya dan juga keingintahuan tinggi, Robin pun dipercaya untuk ikut menyelidiki kasus kejahatan. Konflik lainnya pun muncul ketika tunangan Robin cemburu pada sang detektif.

Ketidaksempurnaan sifat dan perilaku Cormoran Strike memang kadang menyebalkan, tetapi inilah yang membuat saya jatuh hati. Detektif secerdas apapun juga manusia biasa yang punya perasan dan ego. Detektif tak sempurna itu menggulirkan nafas baru di dunia spionase. Yang sempurna kadang muncul dari perbedaan serta keunikan.

Wednesday, 1 November 2017

Kisah Patah Hati yang Menimbulkan Ketegangan

November 01, 2017 0 Comments


resensi The Groom



Judul                     : The Groom
Penulis                  : Heru Tjokro Pram
Jumlah Halaman   : 282 Halaman
Tahun Terbit          : Cetakan Pertama, April 2017
ISBN                     : 978-602-60841-1-8
Penerbit                 : Loka Media
Harga                    : Rp 62,000

Ditinggalkan kekasih tepat di hari pernikahan, siapa yang tidak sakit hati? The Groom adalah novel yang menceritakan patah hatinya Wilda, seorang penulis terkenal yang hidupnya mendadak kolaps pasca ditinggalkan Edgar, calon suaminya. Patah hati dan juga stres berat menjurus depresi membuat kehidupan Wilda super kacau, dan lewat novel ini, penulis mengajak kita ke dalam cerita bernuansa gloomy tapi juga penuh suspense. Bukan lelehan air mata yang akan menjadi daya tariknya, namun justru ketegangan di tiap bab yang cukup membuat penasaran.

Novel ini memiliki dua tokoh utama yaitu Wilda dan juga sahabatnya yang juga tinggal bersama, Marsha. Wilda dan Marsha bersahabat sangat dekat seperti selayaknya saudara sendiri. Akan tetapi, Marsha menentang pernikahan Wilda, karena semuanya terkesan serba mendadak. Edgar dan Wilda baru dekat selama sebulan lalu rencana pernikahan sudah dibuat. Ditambah lagi Marsha tidak pernah diperkenalkan dengan Edgar. Gadis itu takut jika sahabatnya hanya akan dipermainkan.

Karena dibutakan cinta, Wilda tetap bersikukuh untuk menikah sementara Marsha sudah memastikan tidak akan bisa menghadiri pernikahan sahabatnya. Sebenarnya sejak awal sudah terlihat keanehan dari diri Edgar. Lelaki itu tidak mengundang satupun anggota keluarganya. Ditambah Wilda sempat mengangkat telepon dari seorang perempuan dari ponsel Edgar. Perempuan asing itu hanya dberi nama ‘A’. Edgar bersikeras jika perempuan itu hanyalah salah satu kenalannya saja. Pernikahan mereka tetap bisa berjalan tanpa ada gangguan dari pihak ketiga.

Dan pernikahan gagal terlaksana. Edgar mendadak meninggalkan altar pernikahannya tanpa ada sebab yang jelas. Shock mendapati kepergian Edgar yang begitu mendadak, membuat Wilda tidak bisa terima dengan kenyataan. Ia bersedih selama berhari-hari, bahkan Marsha pun tidak bisa menghiburnya. Parahnya, kesedihan itu perlahan membuat Wilda jatuh pada fase depresi. Hanya ada nama Edgar dan perempuan asing bernama huruf ‘A’ saja yang ada di kepalanya. Penjualan bukunya yang terbaru terus merosot tajam, ikut menambah kekesalan Wilda. Lambat laun Wilda sering histeris dan bertindak kasar, tak jarang jika kekesalannya memuncak, ia bisa membayangkan untuk membunuh orang lain. Wilda mulai kesulitan membedakan kehidupan nyata dan imajinasi di kepalanya.

The Groom adalah novel dengan genre Psychological Thriller yang sukses membuat pembacanya penasaran di tiap bab. Tiap kali Wilda melakukan suatu tindak kejahatan, kita jadi bisa ikut menebak, apakah itu sungguh-sungguh terjadi atau apakah hanya fantasi di kepala Wilda yang mulai terkena gangguan jiwa? Penulis juga cukup lihai membangun suasana tegang dengan baik. Seperti mendengarkan musik, saat di intro pembaca masih bisa merasakan santai, memasuki bagian refrain maka alur akan semakin menegangkan dan juga sekaligus menumbuhkan simpati. Usaha Marsha untuk membantu Wilda bahagia lagi juga cukup menggugah. Prolog sudah dibuat dengan sangat baik karena langsung membuat pembaca penasaran. Kover yang mayoritas berwarna hitam sudah sangat mewaikili suasana ceritanya.

  Salah satu bagian cerita yang membuat saya jadi membayangkan adegan pembunuhan adalah saat Wilda membunuh seorang sopir taksi.


Melihat Wilda yang belum kunjung keluar dari taksi, sopir itu kembali hendak menengok ke belakang. Tapi belum sampai kepalanya berputar, Wilda lebih dulu membekap mulutnya dari belakang menggunakan tangan kiri. Sementara tangan kanannya menancapkan pena ke leher sopir taksi dalam-dalam dan kemudian merobeknya. (Halaman 164)


The Groom layak dibaca oleh pembaca di atas tujuh belas tahun. Banyaknya adegan menegangkan dan juga bumbu kekerasan, tidak cocok jika dikonsumsi anak-anak. Membaca novel ini seperti menonton film. Sangat mudah memancing imajinasi dan sekaligus ikut bermain teka-teki.

Thursday, 26 October 2017

Menjadi Travel Agent Pribadi dengan JadiPergi.com

October 26, 2017 2 Comments

Perjalanan adalah sebuah fase yang harus dilakukan banyak orang. Manusia itu memang pada dasarnya suka hidup berkoloni sambil menetap di suatu tempat, namun pada hakekatnya manusia juga tak bisa terlalu lama diam. Hasrat untuk melakukan perjalanan tak harus selalu dilihat dari perpindahan satu tempat ke tempat lain, tetapi juga dari satu fase pemikiran lama ke pemikiran yang lebih baik. Pengalaman hidup juga bisa kita sebut sebagai sebuah perjalanan.

Namun buat saya, diam di satu tempat yang sama sembari mengalami kejadian dan impian saja tidaklah cukup. Akan ada satu waktu khusus di saat saya melakukan perjalanan keluar dari kota yang saya kenal menuju kota baru untuk melepas penat. Tempat yang dituju bisa jadi sama, tetapi perubahan tiap tahun pasti tetap ada apalagi jika melihat perkembangan dunia pariwisata Indonesia yang terus mengalami perbaikan. Tiap kali sesudah melakukan suatu perjalanan, yang terlintas di kepala saya adalah pertanyaan ini,”Kapan saya bisa bepergian lagi?”



Banyak orang-orang di sekitar saya yang bilang, buat apa terus memikirkan liburan atau traveling kalau kamu bisa menghimpun uang lebih banyak? Kebiasaan saya untuk menyisihkan dana untuk bepergian, dianggap sebagai pemborosan. Beberapa malah menyebutkan, jika sebaiknya saya membeli pakaian lebih banyak, perlengkapan make up yang lengkap dan juga melakukan perawatan kulit supaya terlihat lebih feminin serta menarik. Buat apa saya membeli baju baru kalau baju lama saya masih layak dipakai? Sementara pengalaman dalam sebuah perjalanan belum tentu bisa saya dapatkan tiap hari. Jadi, cibiran tersebut saya abaikan, saya gunakan uang yang saya miliki sesuai dengan apa yang saya rencanakan.

Melakukan perjalanan adalah sebuah petualangan, tak hanya untuk mengeksplorasi tempat baru, tetapi juga mengungkap sisi lain dari diri sendiri yang bisa jadi teruji di tengah melakukan perjalanan.

Tetapi meski sudah direncanakan, tetap saja ada masalah kantong jebol di saat bepergian, bukan? Untuk membeli oleh-oleh misalnya.

Tak hanya orang lain yang beranggapan seperti itu, saat awal-awal mulai sering bertamasya ke kota lain pun saya harus menabung beberapa bulan sampai dana pun tercukupi. Tak jarang ketika sudah traveling, overbudget pun terjadi. Dan hadirnya situs JadiPergi.com, menjawab kebutuhan saya untuk mengatur budget traveling.

JadiPergi.com merupakan pilihan yang tepat untuk saya yang ingin merasakan pengalaman seru di kota baru namun tetap ingin menggunakan paket wisata murah. Kalau kata iklan, murah namun tidak murahan. Dan bisa saya katakan jika situs ini merupakan situs yang memiliki paket wisata online terlengkap. Jika ingin tahu lebih lanjut mengenai pilihan lengkap JadiPergi.com, cobalah anda menyelami satu per satu bagiannya.

pantai di lombok
pantai di lombok (sumber:JadiPergi.com)

Pertama kali masuk ke halaman websitenya, saya langsung bisa melihat jendela navigasi yang bisa dipilih antara lain tujuan wisata, pembelian tiket pesawat atau kereta api, pemesanan hotel hingga pemesanan travel. Tak seperti situs travel lain yang hanya menyajikan fitur pembelian tiket pesawat, kereta dan hotel, kita akan menjadi arranger bagi perjalanan kita sendiri tanpa harus meminta bantuan travel agent.


Kebetulan salah satu tujuan wisata impian saya adalah Lombok. Kota yang dikenal dengan keindahan pantai dan juga koleksi wisata alam yang menakjubkan itu sangat menarik untuk dijelajahi. Apalagi melihat teman-teman yang baru pulang dari Lombok selalu membawa cerita yang menarik. Maka saya coba ketik ‘Lombok’ sebagai tujuan wisata di situs JadiPergi.com. Tak butuh waktu lama, setelah saya ketik akan muncul banyak ragam pilihan paket wisata dari open trip, paket wisata dengan travel dan juga sewa kendaraan untuk menjelajahi Lombok. 

Halaman pertama JadiPergi.com

Kita bisa melakukan filter pencarian dari range harga paket wisata yang dapat disesuaikan budget, berapa hari akan bepergian, fasilitas dan jenis wisata apa yang ingin dinikmati. Menyusun itinerary pun bisa dilakukan lebih cepat dan mudah. Buat saya yang sama sekali belum pernah pergi ke Lombok jadi bisa memilih tempat mana saja yang akan saya kunjungi. Ini sangat menguntungkan dan juga bisa memberi gambaran jelas tanpa harus galau menimbang terlalu banyak pilihan.

Kita bisa memilih dengan filter pencarian di situs JadiPergi


Saya ketik 'Lombok' lalu muncullah pilihan wisatanya



Menjadikan Jadipergi.com sebagai sahabat untuk persiapan traveling adalah pilihan yang pas buat saya. Mau traveling ala flashpacker atau backpacker, semua bisa dilakoni. Saya pun bisa lebih meminimalisir masalah kantong bolong saat liburan. Selain itu, sering melakukan reservasi tiket dan hotel yang mudah hanya di JadiPergi, juga memberi keuntungan yang asyik karena tiap transaksi yang dilakukan otomatis akan mendapat cashback. Kalau semua sudah bisa tercukupi hanya dalam satu situs, jadi kapan mau pergi lagi?


Salah satu pilihan paket wisata yang menarik saya


Wednesday, 18 October 2017

I am A Woman, Not A Merchant’s Goods

October 18, 2017 4 Comments



In one fine day, I met with my Dad’s friend. Dad was having a small talk then  we went home. I did not recognize what was the two old friends spoke about, because I was busy to chat my bestfriend.  After a few days, my Dad told me,”Do you know, dear? My friend said if your face is too plain. He asked me about your occupation, and I answered that you work as a HR staff also Japanese interpreter. But he told me if it was the first time he met with a HR staff who didn’t use make up on her face. He suggested me to ask you for applying make up.”

Fortunately, I have supportive parents who never get upset with my outer appearance. Dad replied to his friend,”I think my daughter is good with her performance now. She combs her hair tidily, she wears a clean shirt, her face also fresh. When she was a undergraduate student, she was seldom to use face powder. So according to me, she is better now. She looks professional and great.”

Therefore, it is so funny how people nowadays still value someone from their red lips and the colourful eyelids. I just apply facepowder and lip gloss on my face, and a man who doesn’t know about my character can give a mark just because my plain face. When I go to a wedding ceremony or a party, many people will express their compliment,”How beautiful you are. You look prettier if you use the make up kit.” Or a loony comment like this,”Dear, I am very suprised. I think you are a tomboy girl who is ignoring the lipstick and mascara.” But the worst statement is,”You are a single girl. So put on your make up in order the man will attract to you. Girl is like a merchant, she should create a best wrapping to catch a man’s eyes.”



I hate people who often say that. Are women bornt as a mistake? We should be not fat, diet is a must. We can not be too thin, adding up our muscles and  fleshy body to have a curvy side, and many kinds of bully.

Everyone, men and women should take care their healthiness. We maintain our appearance and accustome the good behaviour. A woman can use the complete make up because they want, not for entertaining others. In the other hand, a lady who chooses to use sunscreen only, has their own beauty too. Woman is not a merchant. We are be able to work, studying new things, growing respect and reach many goals. Woman is a human who has brain and heart, not only created for beauty outside.

Sunday, 15 October 2017

Berpikir Seperti Orang Aneh Itu Dianjurkan

October 15, 2017 2 Comments

Review Think Like A Freak



Judul Buku: Think Like A Freak
Penulis: Steven D. Levitt & Stephen J. Dubner
Penerjemah: Adi Toha
Jumlah Halaman: 253 halaman
Tahun Terbit: Cetakan ke-3, Agustus 2016
ISBN: 978-602-385-007-5
Penerbit: Noura Books

Bagaimana caranya menjadi orang yang bisa berpikir out of the box? Kita sering mendengar atau membaca tagline tersebut. Slogan untuk  bergerak dari comfort zone lalu memiliki pemikiran yang di luar kotak, adalah ciri-ciri orang kreatif yang haus tantangan. Banyak sekali artikel dan juga buku yang menyarankan hal tersebut, namun tidak memberi cara konkret bagaimana menjadi orang yang memiliki sudut pandang tidak biasa.

Buku Think Like A Freak ini menjawab pertanyaan saya. Memang tidak semua pertanyaan di dunia akan dijawab dalam buku terjemahan ini, tetapi kedua penulisnya memberikan semacam tuntunan supaya nalar kita tidak terkungkung dalam dogma masyarakat yang cenderung mengajarkan kita sebagai penerima teori, bukannya penggali keingintahuan apalagi pencipta. Membaca buku ini dari bab awal hingga bab akhir membuat pembaca manggut-manggut bahkan kadang tersenyum geli. Memaki diri sendiri karena kenapa bisa ada pertanyaan yang muncul di kepala aneh mereka?

Banyak sekali kalimat yang menyindir kecerdasan teoretis yang sering diagung-agungkan para ekonom, ahli analisa dan lain-lainnya secara langsung dipertanyakan oleh kedua penulis. Usia dewasa tidak seharusnya menghapus rasa ingin tahu yang besar seperti anak kecil. Usia dewasa membuat kita tidak berani untuk berpikir sedikit di luar kewajaran. Bukan berarti anda harus menjadi berandal atau pelanggar norma, melainkan beranikanlah untuk tak hanya manut-manut saja pada hal-hal yang sudah dianggap wajar. Orang lain bilang dan sepakat mengatakan A, anda boleh bilang Z jika memang ada kemungkinan yang kuat untuk mendasarinya. Menjadi follower terus-menerus akan mematikan kreativitas kita.

“Orang-orang cerdas suka membuat prediksi yang kedengarannya cerdas, tidak peduli betapa salah mereka ternyata nantinya.” (Halaman 27)

Tiga kata yang sulit dikatakan dan diakui banyak orang dewasa adalah mengatakan.”Saya tidak tahu.” Padahal menjadi tidak tahu dan tidak merasa diri ini terlalu pintar adalah kunci supaya pikiran kita bisa berkembang di luar kotak. Kunci itulah yang menjadi hambatan jika kita ingin lebih kreatif lagi. Di dalam buku ini juga diceritakan banyak fakta dan tips yang dianggap orang awam sebagai tindakan gila, namun dilakukan sebuah instansi guna mencapai tujuan yang lebih besar serta tepat sasaran. Contohnya perusahaan besar bernama Zappos yang menawari karyawan barunya untuk berhenti bekerja dengan imbalan 2000 dolar, tujuannya untuk menguji kadar kepedulian dan sikap loyal mereka terhadap perusahaan.

Meski terdengar aneh dan memboros-boroskan uang, rupanya cara tersebut lebih hemat dibanding mereka merekrut karyawan baru hingga menjadi karyawan andal lalu di tengah-tengah mendadak resign begitu saja. Biaya training itu lebih mahal dibanding ongkos 2000 dolar. Karyawan baru yang tak materealistis bisa dijaring sejak awal. 

Pembaca dari berbagai disiplin ilmu perlu membaca buku ini. Wawasan yang ditawarkan benar-benar segar dan menampar ketidaktahuan kita. Setelah membaca, mungkin di kepala ini akan muncul rasa rendah hati untuk mengakui,”Oya, saya tidak tahu, jadinya saya harus belajar.”