Sekitar tahun 2012 ketika masih menjadi
mahasiswa, saya membuka koran Jawa Pos. Mata saya tertumbuk pada tajuk yang
membahas Teh Indari Mastuti dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Saat itu, saya
belum menjadi penulis profesional. Menulis hanya menjadi hobi sampai suatu hari
saya nekat untuk sekalian berenang di
dunia kepenulisan secara serius.
Meskipun sudah menjadi hobi sejak kecil
dan punya impian untuk menjadi penulis profesional, saya masih punya keraguan
yang sangat hebat. Padahal, saya pernah berjualan cerita yang ditulis sendiri
saat SD dan menjuarai kompetisi storytelling sampai menulis review film dari SD
hingga SMP.
Ada sebuah keraguan yang membuat saya
akhirnya fokus menekuni passion saya yang lain yaitu bahasa Inggris dan Jepang,
hingga sebuah artikel yang saya baca di Jawa Pos pada 2012 menjadi titik balik
dari keraguan itu sendiri.
Benih yang Tumbuh Karena IIDN
Menjadi anak kuliahan yang juga ngekos itu
tidak mudah. Waktu itu, ekonomi keluarga sedang mepet banget ditambah adik juga
masuk SMA yang lumayan mahal di kota saya.
Setelah membaca artikel tentang IIDN, ada sebuah
ide yang menggelitik kepala. Makanya, saya bergabung ke grup IIDN di Facebook dan
melihat aktivitas di grup itu.
“Keren banget, ini ibu-ibu produktif
semua,” batin saya setelah menjadi anggota grup IIDN.
Mulai ada yang mengusik
Teh Indari Mastuti yang menjadi founder
sekaligus penulis adalah sosok yang membuat saya semakin penasaran dengan IIDN.
Ternyata, setelah saya melihat aktivitas di dalam grup, banyak sekali ibu-ibu
di seluruh Indonesia yang kiprahnya luar biasa sebagai penulis.
Ada rasa malu di dalam hati. Mereka saja yang sudah sangat sibuk dalam mengurus bisnis atau menjadi IRT yang pastinya luar biasa capek masih bisa aktif menjadi penulis serius, kenapa saya malah gini-gini aja?
Sampai suatu hari, saya mendapatkan
informasi lomba novel nasional dari AG Publishing pada 2013. Benih semangat
yang tumbuh karena aktif membaca konten grup IIDN membuat saya memberanikan
diri untuk ikut lomba novel.
Ini pengalaman gila kalau saya ingat lagi.
Menulis novel pertama
Saya tidak punya pengalaman menulis novel.
Saat itu, saya hanya menulis puisi, artikel, dan cerpen karena belum sanggup
menulis lebih panjang. Tahu-tahu, saya menyusun kerangka tiap bab untuk novel Triangle’s
Destiny. Tenggat waktunya sekitar dua bulan.
Tiap kali saya ingin menyerah karena tugas kuliah Sastra Jepang semakin berat dan usaha saya berusaha mempertahankan nilai untuk beasiswa, apalagi saya sedang berusaha menyelesaikan novel itu, saya buka grup IIDN. Setelah naskah dicetak, saya kirimkan ke penerbit.
Sambil menunggu pengumuman, saya terus
membaca konten-konten di grup IIDN. Selama itu, saya hanya menjadi pembaca pasif,
tetapi saya menyerap energi positif dari anggota lainnya. Dan kejutan itu
datang. Novel perdana yang saya tulis tanpa pernah ikut kelas menulis itu
terpilih menjadi finalis dengan sembilan naskah lainnya.
Akhirnya, saya memang tidak menjadi pemenang utama, tetapi 10 finalis berhak diterbitkan indie secara gratis. Saya menangis saat membaca pengumuman itu. Yang saya ingat tentu saja semangat yang saya serap dari grup IIDN. Mungkin Teh Indari dan kawan-kawan di IIDN tidak tahu, tapi novel perdana itu terbit setelah semangat saya tumbuh.
Evolusi Sebagai Penulis
Ketika masuk ke semester akhir, saya sadar
kalau dana yang dibutuhkan untuk bimbingan skripsi sampai acara wisuda itu
tidak sedikit. Saya pun bertanya ke senior yang sedang bimbingan skripsi.
“Siapin enam sampai tujuh juta, deh, Ref.
Tapi ini juga bisa lebih, tapi nggak sampai 10 juta kok,” kata salah satu
senior.
Waduh, uang beasiswa sudah terpakai untuk
bayar kos dan juga beli buku-buku kuliah. Bahkan, saya juga harus membeli kamus
Jepang-Indonesia seharga 400 ribu waktu itu. Sebenarnya, orang tua sudah punya
persiapan untuk wisuda. Mama mau menjual beberapa perhiasan emasnya untuk saya,
tapi saya sadar kalau setahun berikutnya adik saya akan masuk kuliah.
Mungkin karena saya merasa sebagai anak
sulung, makanya saya tidak ingin terlalu membebani orang tua.
Akhirnya, saya berpikir untuk mencari
pekerjaan sambilan. Namun, saya kepentok masalah baru.
1. Pekerjaan mengajar bahasa Jepang
offline lokasinya jauh dari kampus. Tahun 2013 belum ada ojek online di Surabaya. Kalau naik angkot, bisa setahun baru sampai di tujuan.
2. Saya tidak punya motor karena memang
tidak bisa mengendarainya.
Pilihan untuk kerja sambilan di luar kos
tidak bisa saya ambil. Saya pun mencari informasi di Facebook sampai menemukan
lowongan freelance writer untuk sebuah agensi. Saya kirim contoh artikel dan
akhirnya resmi menjadi penulis selama hampir setahun di media itu.
Kemudian, saya mendapat job menerjemahkan
dokumen manual Jepang. Alhamdulillah, meski harus tidur 4 jam sehari sampai
GERD dan sinus memburuk, saya bisa membayar biaya bimbingan skripsi sampai
wisuda dengan biaya sendiri. Apalagi saya menjadi lulusan terbaik seangkatan
dan terbaik kedua di Fakultas Sastra Universitas Dr. Soetomo.
Sebelum lulus, saya juga sudah diterima menjadi Japanese Interpreter di sebuah perusahaan baja besar. Perjalanan saya baru dimulai.
Mengikuti kelas Writerpreneur
dan ODOA
Meskipun sudah merasakan job sebagai
freelance writer, saya sadar kalau masih butuh tambahan asupan. Menjadi penulis
profesional itu butuh keahlian yang lebih baik lagi.
Tahun 2013, saya membuat blog dengan
alamat newreffi.blogspot.com. Ya, ini sebagai sebuah evolusi baru buat diri
saya yang semakin ingin serius di dunia kepenulisan.
Saya pun bergabung di komunitas blogger sambil
terus mengisi blog. Mulai, deh, muncul keinginan untuk mendapatkan job dari
blog. Untungnya, semesta mendukung. Lewat pengumuman di grup IIDN, saya tahu
jika indscript membuka kelas Writerpreneur sekaligus tantangan One Day One Article (ODOA).
Supaya lebih serius, saya membeli domain
dan akhirnya blog gratisan itu menjadi wordholic.com pada 2014. Ini berdekatan
dengan waktu saya mengikuti kelas Writerpreneur.
Di dalam kelas Writerpreneur, saya belajar dari para mentor yang sangat detail dalam memberikan koreksi tugas dan menantang peserta. Kami diminta menulis artikel tiap hari selama satu bulan di blog dengan kata kunci dan topik yang sudah ditentukan.
Sekali lagi, saya harus lumayan kerja
keras karena saat itu saya baru menjadi karyawan serta masih adaptasi di dunia
kerja sambil menulis di blog.
Hasilnya? Horee, saya menjadi juara
pertama ODOA.
Saya juga mengikuti tantangan ODOA kedua
serta menjadi juara kedua. Asyiknya lagi, job pertama di blog itu saya dapatkan
dari Indscript. Tugas saya adalah menulis artikel review untuk kiprah para
tokoh. Fee yang saya dapat untuk tiap tulisan jauh lebih besar dari job
freelance writer saat masih kuliah.
Semakin lama, saya semakin jatuh cinta
dengan blog. Blog itu masih ada hingga kini dan sudah bekerja sama dengan
banyak brand dari transportasi online, kosmetik, dan travel. Ilmu yang saya
dapat dari kelas Writerpreneur membuat skill content writing semakin terasah.
Status baru sebagai partner
IIDN dan grup
Indscript Creative lainnya masih menjadi salah satu sumber semangat menulis
saya. Dari menang ODOA, saya pun terus rajin ikut kompetisi baik artikel dan
novel.
Satu per satu
buku saya terbit dan karier sebagai content writer juga terus berjalan meskipun
saya juga kerja kantoran sebagai Japanese Interpreter.
Suatu hari, sekitar
tahun 2018, Indscript meminta saya untuk menjadi mentor editor fiksi. Saya sudah
berteman dengan Teh Indari dan kawan-kawan IIDN lainnya di Facebook. Tidak saya
sangka jika aktivitas menulis saya juga dipantau.
Kelas online pun
berjalan dan saya juga menjadi tim editor di Indscript sejak saat itu. Saya pun
bergabung dengan Joeragan Artikel untuk kelas novelet , mengedit buku-buku antologi
di Indscript, hingga yang terbaru menjadi mentor di kelas Fiksimini kolaborasi
Indscript dan Joeragan Artikel pada 2025.
Tidak ada yang
menyangka jika sebuah artikel tentang Teh Indari Mastuti dan IIDN di koran
menjadi pemantik saya untuk menulis lebih serius. Perjalanannya panjang dan
kadang saya menangis ketika badan sakit sementara banyak deadline tulisan.
IIDN kini berulangtahun
yang ke-16. Ternyata, IIDN dan Indscript sudah menjadi bagian dari perjalanan saya
sebagai penulis profesional sejak awal. Duh, jadi terharu. Bagi kalian—terutama
perempuan—yang punya impian sebagai penulis, jangan putuskan asa itu.
Ibu-Ibu Doyan
Nulis (IIDN) dibuat untuk mendukung perempuan penulis agar bisa berkarya dari mana pun.
Terima kasih, IIDN dan Indscript. Semoga semakin banyak penulis perempuan yang
berhasil karena inspirasimu, IIDN. Saya jadi penulis premium karena tempaan di IIDN dan Indscript.
#IIDNAnniversary
#AnniversaryWritingJourney
#IIDN





.png)
.png)
.png)

Tidak ada komentar
Posting Komentar