Ekonomi Sirkular Indonesia Dimulai dari Membersihkan Sampah di Rumah






Membersihkan sampah di rumah menjadi kegiatan yang dulunya saya pikir tidak menyenangkan. Sampai akhirnya saya menyadari filosofinya dan dampaknya yang bisa berpengaruh ke dunia ekonomi sirkular Indonesia.


Namun, sebelum jauh ke dampak sosial masyarakat, soal sampah ini juga sebaiknya menjadi perhatian dari ruang lingkup terkecil yaitu rumah.


Aroma yang pastinya tidak sedap dan membuat saya harus mencuci tangan berkali-kali sampai puas dengan aroma di tangan, mendorong saya kurang menyukai aktivitas itu. Namun, seiring dengan bertambahnya usia, saya sadar kalau membersihkan sampah itu membawa dampak psikologis yang sama bagusnya.


Tiap Orang Harus Siap Membereskan ‘Sampah’

Membuang sampah termasuk dari kegiatan rumah tangga yang harus dilakukan dari tahap pikiran. Wah, apa maksudnya?


Saya menyadari hal ini ketika sedang belajar tentang Mindfulness. Salah satu prinsip agar hidup lebih mindful itu kita perlu belajar membangun kesadaran diri dan memeluk semua kelebihan serta kekurangan. Setelah sadar, baru memikirkan tindakan untuk memperbaiki diri.


Detoks pikiran dan perasaan menjadi kegiatan yang saya lakukan dengan lebih serius. Tidur cukup, olahraga, mencari lingkungan pergaulan yang positif dan tidak menghakimi adalah kegiatan yang saya lakukan untuk membereskan sampah di dalam diri yang masih ada.


Kalau kita tidak rajin membersihkan sampah, maka tubuh dan pikiran menumpuk hal-hal yang membuat pusing, marah, ragu, dan segudang perasaan lain. Stres berlebih di tubuh dan pikiran pun memicu insomnia, imunitas menurun, hingga penyakit lain. Kalau tubuh saja perlu ‘dibuang’ sampahnya, apalagi rumah kita.


Diri yang bebas dari sampah pun akan menarik banyak kesempatan baik. Manusia adalah pelaku ekonomi, maka tidak ada salahnya kalau pengelolaan sampah pun mulai dilihat dari kacamata ekonomi.


Apa Itu Ekonomi Sirkular Indonesia?

Secara sederhana, ekonomi sirkular adalah upaya memutar kembali siklus pemanfaatan suatu produk. Alih-alih membiarkan sisa produksi dan konsumsi mengendap menjadi limbah di TPA, sistem ini berusaha menahan nilai material serta produk selama mungkin di dalam rantai ekonomi.

Prinsip utamanya bertumpu pada tiga hal dasar:

  1. Mengeliminasi limbah dan polusi sejak tahap perencanaan atau desain awal.

  2. Menjaga produk dan material tetap berputar dalam tingkat kegunaan tertinggi.

  3. Membangun sistem yang meragenerasi alam, sehingga bumi memiliki ruang untuk memulihkan dirinya sendiri.

Kalau diri sendiri saja sudah dibereskan dengan rajin, selanjutnya kita perlu membereskan sampah di sekitar. Decluttering dan membuang sampah yang tertimbun di sudut-sudut ruangan sebenarnya tidak hanya bagus untuk kebersihan rumah, tetapi juga mampu menjernihkan pikiran.





Namun, bagaimana caranya agar bisa menjadikan kebiasaan membuang sampah ini bisa berhubungan dengan ekonomi sirkular? Yayasan Solusi Bersinar Indonesia (YSBI) bisa menjadi salah satu solusinya.


Komitmen Pemberdayaan Masyarakat Lewat Pengelolaan Sampah

Yayasan Solusi Bersinar Indonesia (YSBI) bersama Bank Sampah Induk Bersinar merupakan organisasi sosial yang didirikan oleh Ibu Fifie Rahardja sedang menargetkan pembentukan 1.000 Bank Sampah Unit (BSU) sebagai bagian dari penguatan gerakan ekonomi sirkular berbasis masyarakat. 


Gerakan ini merupakan bagian dari upaya membangun Ekonomi Sirkular Indonesia melalui Pentahelix Indonesia Bersinar





Buat kita yang sangat tertarik untuk ikut serta dalam pengembangan ekonomi sirkular Indonesia lewat pengelolaan sampah, maka mengikuti program Bank Sampah Unit ini juga bisa menjadi salah satu acuan. Apa saja yang termasuk di dalam programnya?


1# Edukasi lingkungan di tengah masyarakat

YSBI memberikan edukasi lewat sistem model pemberdayaan masyarakat. Seperti apa, nih? Jadi, YSBI berniat untuk menciptakan sebuah ekosistem yang menghubungkan Bank Sampah Induk Bersinar, Local Education, dan Lumbung Mandiri.


Di tengah isu perubahan ilklim yang semakin gencar, mempunyai kedalaman wawasan lingkungan menjadi sebuah hal yang tidak bisa dihindari. Dengan belajar di program YSBI, kita pun belajar tentang cara menghubungkan pengelolaan sampah, pendidikan lingkungan, hingga ketahanan pangan.


2# Meningkatkan perekonomian masyarakat lewat sampah

Sejak berdiri pada 2014, Bank Sampah Induk Bersinar kini memiliki dampak langsung untuk mendorong masyarakat tidak hanya belajar mengelola sampah, tetapi juga menjadikannya punya manfaat ekonomis.



Masyarakat belajar memilah sampah sesuai dengan prinsip 3R dan lewat pendampingan berkala, hingga di pertengahan 2026, terdapat 547 Bank Sampah Unit (BSU) yang tergabung dalam jaringan Bank Sampah Induk Bersinar. Gerakan tersebut kini sudah bertumbuh di berbagai wilayah Kabupaten dan Kota Bandung.


3# Sinergi dengan dunia edukasi

Tidak hanya menggerakkan masyarakat untuk bisa lebih berdaya lewat pengelolaan sampah, tim YSBI juga melaksanakan program belajar ke Living Lab Telkom University untuk memahami model pengelolaan kawasan yang mensinergikan pendidikan, penelitian, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.






Dari kunjungan tersebut, disusunlah sebuah laporan yang menjadi salah satu referensi dalam pembuatan Master Plan Living Laboratory Ekonomi Sirkular Indonesia yang akan dikembangkan lebih lanjut di kawasan Oxbow.


Berkaca dari program-program yang sudah dilaksanakan, kita jadi tahu jika pengelolaan sampah kini tak lagi hanya berdampak untuk kesehatan lingkungan, tetapi berpengaruh pada ekonomi sirkular Indonesia. YSBI pun menjadi inisiator Pentahelix Indonesia Bersinar, gerakan kolaboratif antara pemerintah, akademisi, entrepreneur, dan komunitas untuk bekerja sama dalam kegiatan positif berbasif lingkungan, pendidikan, serta pemberdayaan masyarakat.




Tidak ada komentar