Kita hidup di dunia yang tidak adil. Menurut keyakinan saya sebagai seorang muslim, hanya Allah SWT sajalah yang memegang keadilan mutlak, begitu pula dengan Tuhan dari tiap keyakinan lainnya. Namun, ada satu hal yang saya pelajari selama menumpang hidup sementara di dunia ini yaitu belajar mengenali ketidakadilan yang kita izinkan.
Justru dengan ketidakadilan, saya merasa inilah keindahan sesungguhnya.
Yang kaya belajar mengasah empati sehingga mau belajar berbagi, yang masih kurang kekayaannya belajar untuk bekerja keras. Keduanya pun harus sama-sama melepas ‘kemelekatan’ karena sewaktu-waktu nyawa bisa diambil, kekayaan bisa terenggut tanpa aba-aba, orang yang dicintai bisa pergi entah karena meninggal dunia atau hatinya beralih.
Semakin melekat pada sesuatu, maka akan semakin sengsara.
Kita sudah lihat contoh sederhana dari para pesohor di Barat dan negeri ini. Kemelekatan pada kecantikan fisik membuat selebritas jadi kecanduan operasi plastik. Alhasil, wajahnya malah semakin mengerikan dan tidak natural. Yang melekat pada status politik, ketika kalah sebagai caleg, bisa masuk rumah sakit jiwa.
Seizin Tuhan dan Yang Kita Izinkan
Kita sering mendengar bahwa tidak ada hal yang terjadi di dunia ini tanpa seizin Tuhan. Bahkan, daun yang jatuh pun atas seizin-Nya. Ya, saya pun percaya itu. Kelahiran, kematian, perpisahan, jatuh-bangun itu terjadi karena kita masih punya nyawa di dunia. Inilah izin Tuhan yang terbentuk.
Namun, bagaimana kita menjalani hidup sepenuhnya bergantung pada apa-apa yang kita izinkan. Alasannya, tentu karena kita punya akal-pikiran yang hanya diberikan Tuhan kepada kita.
Yang kita putuskan akan membentuk atau memutus lingkaran
Tulisan ini saya buat terutama setelah terpancing dengan sebuah pertanyaan dari seorang kawan penulis.
“Kak, saya belum dibayar klien padahal fee yang kuberikan nggak mahal.”
Saya membaca perlahan sambil mengelus dada. Sebelumnya, kawan saya ini menanyakan kira-kira rate dengan harga berapa yang pantas ia tawarkan untuk sebuah project. Saya menyarankan harga yang pas melihat kemampuan dan pengalamannya tak diragukan lagi.
Beberapa minggu berselang, kawan saya mengirim chat yang membuat saya kaget. Ternyata, dia menerima job dengan rate yang jauh di bawah pasaran, bahkan sangat mengenaskan hanya karena si pemberi job ini berasal dari keluarga agamis terpandang.
“Kenapa aku kok ketemu klien seperti ini lagi, ya, Kak?” tanyanya.
Saya jawab, “Ya, ini ada kesalahanmu juga. Kenapa malah menerima fee dengan harga nggak masuk akal? Orang munafik itu contohnya menggunakan dalil untuk memberi kewajaran atas perilaku salah yang dia lakukan.”
Sekali dimanipulasi, itu memang apes, tetapi kalau terjadi berulang kali dengan kasus sama meski pelakunya berbeda, berarti ada yang salah di dirimu.
Lingkaran setan yang terjadi karena kita tidak mau bilang ‘tidak’, tertawa dengan candaan seksis atau menghina, merasa bahwa semua orang yang terlihat agamis itu layak dikultuskan, maka inilah awal bencana. Pantas saja kalau misalnya kamu jadi korban manipulator.
Jika kamu berani bertindak dan menolak untuk menjaga harga dirimu yang hendak diinjak orang lain, barulah lingkaran bisa diputuskan. (Baca Juga: Pentingnya Pikiran Stoic Bagi Pikiran yang Sehat)
Bertanggungjawablah pada setiap pilihan
Ketika mendapatkan musibah atas pilihan kita, belajarlah bertanggung jawab. Jangan lari. Inilah yang saya dapat dari orang tua. Mau baik atau buruk, kita tidak bisa terhindar dari sebab-akibat. Memilih untuk tidak bertindak pun bisa menimbulkan dampak.
Kita kenyang, karena makan. Kita lapar, makanya mencari makanan. Kita mengantuk, makanya tidur. Tidurnya kurang bagus, badan pun sakit. Hidup kita tidak lepas dari hukum kausalitas itu.
Betapa banyak orang yang usianya dewasa, tetapi memiliki mental seperti anak TK. Kesalahan dan kegagalan dianggap semuanya atas kesalahan orang lain. Beda halnya soal musibah dan bencana alam. Kesalahan yang kita alami karena memang kurang wawasan di awal, adalah hal yang tetap harus kita terima. Akui kalau kita memang tidak pintar memilih lalu belajar agar bisa memilih lebih baik.
Orang lain yang menjahati kita layak untuk ditinggalkan. Lalu bagaimana kita menjalani kehidupan setelahnya, itu sepenuhnya menjadi tanggung jawab kita, bukan mereka yang jahat.
Kesimpulan
Mungkin kita perlu menangis hingga perlu pergi ke psikolog. Trauma juga tidak mudah disembuhkan, tetapi tindakan-tindakan kecil yang kita lakukan saat ini akan menjadi fondasi seperti apa yang kita dapat di masa depan. Minimal, jadi lebih pintar, tidak bodoh, dan mudah dimanipulasi lagi.
Belajar mengenali ketidakadilan yang kita izinkan akan menjadi hal yang seumur hidup harus kita hadapi. Manusia tidak bisa ditebak hatinya, tetapi kita yang paling paham seperti apa diri sendiri ingin menjalani hidup.



Tidak ada komentar
Posting Komentar