Sunday, 21 December 2014

Surat Terbuka untuk Mama

Dear, my beloved Mama

Saat aku menulis surat ini, apa yang sedang Mama lakukan? Pasti Mama sedang menyiapkan sarapan pagi untuk Papa danAdik dari pukul empat pagi tadi. Mama juga pasti setelah itu mempersiapkan pakaian seragam Papa sambil memastikan tidak ada barangnya yang terlupa.
Mama adalah ibu paling nyentrik di dunia.

Sejak aku kecil, Mama tidak pernah mengajarkanku untuk menjadi anak yang rewel. “Jika kamu menginginkan sesuatu, kamu harus berusaha keras. Jangan manja!” pesan Mama padaku. Itulah sebabnya aku selalu belajar keras supaya Mama tersenyum tiap kali mengambil rapor kenaikan kelas. Senyum bangga yang terbit di bibir Mama, mendorongku untuk semakin tekun belajar dan berprestasi.

Tetapi, kadangkala aku merasa bila gaya didikan Mama itu sedikit otoriter. Tidak jarang Mama berteriak keras dan mengomel jika aku tidak mematuhi perintah Mama. Di masa kanak-kanak, aku sudah harus mematuhi jadwal yang dibuat Mama. Dulu aku merasa sedikit tidak bebas.

Di waktu kecil, Mama ingin agar aku tepat waktu tidur siang, belajar dan mengaji. Aku sendiri tak merasa keberatan dnegan jadwal belajar atau mengaji, tapi Ma, adakalanya aku ingin bebas bermain seperti anak-anak yang lain. Dari situlah aku mulai menumpahkan unek-unekku lewat catatan sederhana di buku tulis tak terpakai.

Yang tak kuduga, Mama menemukan buku catatan harian itu dan mengatakan langsung padaku. Tahukah perasaanku saat itu, Ma? Aku takut Mama akan mengomeliku lebih keras lagi. Tapi ternyata di luar dugaan, Mama berbicara padaku dengan penuh sikap pengertian.

You enlighten my world, Mama.

Mama memberi cahaya di hidupku. Ajaran dan didikan Mama selalu terpatri di sudut hatiku. Jika orang tua lain sering memberi perintah anaknya tanpa teladan, Mama akan memberi contoh nyata dari kegiatan sehari-hari yang Mama lakukan. Mama adalah teladan bagiku.

Mama, you are my best teacher.

Tak seperti ibu lainnya, Mama akan menasehatiku sesuai perkembangan usiaku. Setelah beranjak dewasa, Mama sering mengajakku berbincang selayaknya kawan sebaya. Aku sangat nyaman untuk bercerita segala hal dengan Mama. Aku selalu rindu gelak tawamu, senda guraumu dan juga gelegar suaramu ketika mendisiplinkan aku.

Sekarang di saat aku sudah bekerja dan belajar hidup sendiri, aku jadi tahu betapa berharganya didikan tegas Mama. Aku memiliki semangat untuk mengejar mimpi, prestasi gemilang bisa kuraih, dan tentunya bisa belajar menjadi pribadi yang memiliki integritas seperti Mama.

My wonderful Mama, putrimu ini pasti akan menjadi wanita tangguh sepertimu. Kelak akan kudidik anak-anakku dengan teladan seperti

Mama. Thank you, Mama. I love you

Best Regards,

Putrimu yang jahil, Reffi

2 comments:

mohon memberi komentar dengan sopan dan tidak mengandung SARA .. terima kasih telah berkunjung ^_^