Wednesday, 1 November 2017

Kisah Patah Hati yang Menimbulkan Ketegangan



resensi The Groom



Judul                     : The Groom
Penulis                  : Heru Tjokro Pram
Jumlah Halaman   : 282 Halaman
Tahun Terbit          : Cetakan Pertama, April 2017
ISBN                     : 978-602-60841-1-8
Penerbit                 : Loka Media
Harga                    : Rp 62,000

Ditinggalkan kekasih tepat di hari pernikahan, siapa yang tidak sakit hati? The Groom adalah novel yang menceritakan patah hatinya Wilda, seorang penulis terkenal yang hidupnya mendadak kolaps pasca ditinggalkan Edgar, calon suaminya. Patah hati dan juga stres berat menjurus depresi membuat kehidupan Wilda super kacau, dan lewat novel ini, penulis mengajak kita ke dalam cerita bernuansa gloomy tapi juga penuh suspense. Bukan lelehan air mata yang akan menjadi daya tariknya, namun justru ketegangan di tiap bab yang cukup membuat penasaran.

Novel ini memiliki dua tokoh utama yaitu Wilda dan juga sahabatnya yang juga tinggal bersama, Marsha. Wilda dan Marsha bersahabat sangat dekat seperti selayaknya saudara sendiri. Akan tetapi, Marsha menentang pernikahan Wilda, karena semuanya terkesan serba mendadak. Edgar dan Wilda baru dekat selama sebulan lalu rencana pernikahan sudah dibuat. Ditambah lagi Marsha tidak pernah diperkenalkan dengan Edgar. Gadis itu takut jika sahabatnya hanya akan dipermainkan.

Karena dibutakan cinta, Wilda tetap bersikukuh untuk menikah sementara Marsha sudah memastikan tidak akan bisa menghadiri pernikahan sahabatnya. Sebenarnya sejak awal sudah terlihat keanehan dari diri Edgar. Lelaki itu tidak mengundang satupun anggota keluarganya. Ditambah Wilda sempat mengangkat telepon dari seorang perempuan dari ponsel Edgar. Perempuan asing itu hanya dberi nama ‘A’. Edgar bersikeras jika perempuan itu hanyalah salah satu kenalannya saja. Pernikahan mereka tetap bisa berjalan tanpa ada gangguan dari pihak ketiga.

Dan pernikahan gagal terlaksana. Edgar mendadak meninggalkan altar pernikahannya tanpa ada sebab yang jelas. Shock mendapati kepergian Edgar yang begitu mendadak, membuat Wilda tidak bisa terima dengan kenyataan. Ia bersedih selama berhari-hari, bahkan Marsha pun tidak bisa menghiburnya. Parahnya, kesedihan itu perlahan membuat Wilda jatuh pada fase depresi. Hanya ada nama Edgar dan perempuan asing bernama huruf ‘A’ saja yang ada di kepalanya. Penjualan bukunya yang terbaru terus merosot tajam, ikut menambah kekesalan Wilda. Lambat laun Wilda sering histeris dan bertindak kasar, tak jarang jika kekesalannya memuncak, ia bisa membayangkan untuk membunuh orang lain. Wilda mulai kesulitan membedakan kehidupan nyata dan imajinasi di kepalanya.

The Groom adalah novel dengan genre Psychological Thriller yang sukses membuat pembacanya penasaran di tiap bab. Tiap kali Wilda melakukan suatu tindak kejahatan, kita jadi bisa ikut menebak, apakah itu sungguh-sungguh terjadi atau apakah hanya fantasi di kepala Wilda yang mulai terkena gangguan jiwa? Penulis juga cukup lihai membangun suasana tegang dengan baik. Seperti mendengarkan musik, saat di intro pembaca masih bisa merasakan santai, memasuki bagian refrain maka alur akan semakin menegangkan dan juga sekaligus menumbuhkan simpati. Usaha Marsha untuk membantu Wilda bahagia lagi juga cukup menggugah. Prolog sudah dibuat dengan sangat baik karena langsung membuat pembaca penasaran. Kover yang mayoritas berwarna hitam sudah sangat mewaikili suasana ceritanya.

  Salah satu bagian cerita yang membuat saya jadi membayangkan adegan pembunuhan adalah saat Wilda membunuh seorang sopir taksi.


Melihat Wilda yang belum kunjung keluar dari taksi, sopir itu kembali hendak menengok ke belakang. Tapi belum sampai kepalanya berputar, Wilda lebih dulu membekap mulutnya dari belakang menggunakan tangan kiri. Sementara tangan kanannya menancapkan pena ke leher sopir taksi dalam-dalam dan kemudian merobeknya. (Halaman 164)


The Groom layak dibaca oleh pembaca di atas tujuh belas tahun. Banyaknya adegan menegangkan dan juga bumbu kekerasan, tidak cocok jika dikonsumsi anak-anak. Membaca novel ini seperti menonton film. Sangat mudah memancing imajinasi dan sekaligus ikut bermain teka-teki.

No comments:

Post a Comment

mohon memberi komentar dengan sopan dan tidak mengandung SARA .. terima kasih telah berkunjung ^_^