Suatu sore saat saya sedang menikmati waktu berleha-leha di kamar kos, sambil memasang headset untuk mendnegarkan musik, saya terpikir sebuah pertanyaan. Kebetulan lagu yang saya dengarkan adalah lagu yang bertema patah hati, orang ketiga, kerinduan hingga move on. Pertanyaannya adalah apakah saya sudah melakukan hal yang benar dalam hidup saya? Apakah saya sudah tepat dalam mengambil keputusan? Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, akhirnya kembalilah saya merenung dan merefleksikan kembali semua momen  yang berpengaruh dalam perkembangan pribadi saya.

Seringkali kita disodori pilihan antara ‘ya’ dan ‘tidak’, atau pilihan yang beragam hingga kita dibuat bingung. Bahkan terkadang karena takut salah mengambil keputusan, kita cenderung tidak memilih apapun. Menurut saya tidak memilihpun juga merupakan suatu pilihan, kita memilih untuk tidak memilih. Apa yang dirasa saat tidak memilih? Bisa saja muncul rasa waswas, penasaran, tidak enak makan, hingga paling ekstrim berujung penyesalan.

Pilihan menunjukkan standar pibadi kita. Itupun saya setuju. Dari pilihan yang kita buat, bisa saja kita mendapat pengalaman baru, pelajaran, kegagalan atau keberhasilan. Walaupun pilihan yang kita pilih terkadang tidak mengenakkan, tetapi hati akan lebih lega dan kuat tentunya. Jika pilihan itu berefek baik, diri akan bertumbuh dewasa dan kualitas diri meningkat namun jika pilihan itu ternyata berdampak buruk, kita tetap bisa belajar. Kesalahan dalam menentukan pilihan adalah pembelajaran kedewasaan dalam kehidupan.

Lalu bagaimana agar kita terhindar dari kesalahan menentukan pilihan? Dari pengalaman saya pribadi, kata hati atau intuisi menentukan arah pilihan saya bahkan ketika dihadapkan dengan pilihan yang sama-sama tidak mengenakkan. Biasanya saya akan memberi pertanyaan pada diri, jika saya memilih A atau B, efek apa yang akan saya dapat dan pilihan mana yang efeknya bisa saya tanggulangi atau hadapi. Saya akan berkonsultasi dengan sahabat atau orang yang lebih tua untuk menerima pandangan dari sudut pandang lain. Membaca buku atau artikel yang berkaitan. Berkomunikasi dengan Tuhan juga sangat dianjurkan, bukankah Tuhan akan selalu ada dimanapun kita berada, asal kita percaya. Berikutnya bertualang dengan pilhan yang dibuat dan siap bertanggungjawab atas apa yang dipilih. 
lpwa.org

Bukankah pribadi kita terlahir dari sebuah pilihan? Pilihan orang tua kita untuk memiliki keturunan. Pilihan kita untuk bersekolah. Pilihan kita untuk sukses atau gagal. Pilihan kita untuk berbohong atau mendua. Pilihan kita untuk memilih karir atau pendidikan, dan sebagainya. Jadi, kuatkan saja insting, kepekaan pada diri sendiri dan orang lain, siapa tahu kita juga bisa mengambil pelajaran dari pengalaman orang lain mengenai sebuah pilihan. Life is a choice.