Kita pasti sering mendengar komentar atau kata-kata seperti ini
“Universitas A itu universitas paling bagus, nggak kayak kampusmu yang namanya aja aku nggak tahu,” (case 1)
“Kalau nggak kerja di perusahaan X, aku nggak bakalan sukses soalnya di situ gajinya gede,” (case 2)
“Kamu kok nggak gaul ih, masa nggak update tongkrongan keren dan lagu-lagu yang ngehits sekarang? apaan tuh sobatan malah sama buku, kuno!” (case 3) dan lain sebagainya.

Sungguh pasti sangat menyenangkan sekali jika kita bisa bersekolah ditempat yang bagus, elit dan bonafid, atau bekerja di perusahaan multinasional dengan gaji selangit- namun sayangnya virus kesombongan mulai menjangkit.
Memang benar, untuk bisa menjadi pribadi yang berhasil kita harus memiliki ambisi serta goal yang tinggi, tetapi apakah ada tambahan agar kita selalu berusaha rendah hati? Sebut saja misalnya, kita lolos diterima di sebuah perguruan tinggi negeri favorit lalu tanpa kita sadari kita meremehkan kawan kita yang berkuliah di universitas swasta. Kita tidak bersyukur saat sudah diterima bekerja karena perusahaannya bukan termasuk BUMN atau perusahaan kelas wahid dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Berhati-hatilah dengan virus tinggi hati yang bisa menjangkit saat kita mulai menapaki tangga kesuksesan. Coba buka cakrawala pandang kita, banyak lho yang lulusan SMA atau kampus ‘biasa’ namun prestasinya bisa menembus kancah internasional. Ada juga yang terlahir memiliki kekurangan fisik, namun dapat membuka lapangan kerja mandiri dan kekayaannya melebihi karyawan BUMN. Dan setelah kita meresapi diri sendiri, ternyata kita tidak ada apa-apanya dengan orang-orang hebat namun rendah hati tersebut.

Bagi remaja atau kaum muda yang sekarang sedang galau karena menerima label ‘biasa, cupu, old school’, jangan khawatir. Tetap belajarlah dengan tekun, bina hubungan baik dengan sesama, tempa kerendahan hati, karena kesuksesan terbaik adalah ketika kita bisa berkarya untuk kebaikan sesama. Tidak perlu muluk-muluk berpikir harus jadi presiden untuk bisa mengubah dunia, lakukan saja apa yang kita bisa dan dari apa yang kita punya. Berbagi waktu untuk saudara dan keluarga, membantu teman yang kesulitan, bermain musik atau menghasilkan karya tulis yang menghibur dan mencerahkan, serta banyak hal sederhana lain yang dimaknai dengan hati.


Uang dan kedudukan memang sebuah label yang berkilau di mata masyarakat, tapi lihat betapa banyak pejabat yang cerdas namun akhirnya terbelit kasus korupsi karena tidak memiliki kemurnian hati. Ingat, kehidupan adalah cermin diri sendiri. Tertawalah, berbahagialah, menangislah namun jangan lupa tetap rendah hati sebagai makhluk mulia Sang Pencipta.