Banyak yang mengatakan jika film kartun Crayon Sinchan adalah film kartun yang kurang mendidik sehingga anak-anak dianjurkan tidak terlalu sering menontonnya. Memang tokoh Sinchan yang nakal dan berlaku tidak sesuai usianya (bersikap genit dan sok tahu), adalah contoh kurang baik bagi anak-anak. Akan tetapi, sesungguhnya banyak hal positif yang bisa dijadikan renungan oleh para orang tua dari film kartun yang selalu tayang tiap Minggu pagi di salah satu stasiun televisi swasta tersebut.



Dari Crayon Shinchan, kita dapat mengetahui sistem pendidikan yang ada dalam keluarga Jepang serta budayanya. Misalnya, Misae, ibu Shincan, yang berdedikasi dalam keluarga dan selalu berusaha mengajarkan kedisiplinan pada putranya yang nakal. Seorang anak akan menjadikan orang tuanya sebagai orang pertama dalam proses meniru dan menjadi sesuatu. Lihat saja pada kegenitan Shincan yang diwarisi dari sifat genit Papa dan kakeknya. Memang anak-anak harus didampingi saat menonton film kartun tersebut, namun pesan-pesan implisit bagi orang tua juga sangat layak untuk diperhatikan. Sebelum menuntut anak kita bertindak baik, maka perbaikilah dulu sikap kita sendiri. Bagaimana seharusnya kita menyayangi hewan peliharaan, bersemangat menangani hambatan dan budaya menghormati yang lebih tua, juga dimasukkan dalam tayangan Crayon Shinchan.

Sinetron remaja Indonesia yang ditayangkan hampir tiap channel televisi, sebenarnya jauh lebih berbahaya dibanding Crayon Hinchan. Sinetron yang diperuntukkan untuk anak SD dan SMP seringkali diselipi unsur cinta-cintaan serta gaya berpakaian yang berlebihan. Anak-anak kecil zaman sekarang mudah sekali untuk bicara soal pacaran dan sejenisnya. Sama sekali tidak ada unsur budaya lokal di dalamnya. Jauh lebih tidak mendidik bukan?