Bermimpi itu ibarat kita membeli rumah dengan menggunakan fasilitas kredit KPR dari bank. Kita bisa gratis memilih mimpi, sama juga halnya ketika memilih rumah yang akan kita tempati. Namun, untuk benar-benar mewujudkan impian atau rumah itu, ada hal-hal yang harus kita cicil.

Saya bermimpi menjadi penulis sukses yang karyanya bisa menyentuh hati pembaca. Jadi, rutin menulis di sela kesibukan merupakan cicilan rutin demi mengasah kemampuan sekaligus terus berkarya. Sama halnya kita harus menyisihkan gaji tiap bulan demi membayar cicilan KPR rumah.

Jikalau rumah sudah dimiliki, dan hutang KPR telah terlunasi, keinginan akan muncul kembali. Merenovasi rumah atau memiliki fasilitas selain rumah. Begitu juga dengan pencapaian mimpi. Satu mimpi dicapai, maka kita harus bergerak menuju mimpi berikutnya.

Bedanya, jika di tengah perjalanan mimpi kita gagal, kita masih bisa berdiri dan mengulang sampai sukses. Berhutang di bank lalu tidak kita lunasi, tentu akan mendatangkan sanksi tersendiri.

Jadi, jangan mengecilkan mimpi. Targetkan setinggi mungkin lalu bekerjakeras tiap hari. Ada kenikmatan dari proses pembelajarannya.