Review Cinta dan Kesialan-kesialan

Judul: Love & Misadventure. Cinta & Kesialan-Kesialan
Penulis: Lang Leav
Jumlah halaman: 167 halaman
Tahun terbit: 2016
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama



Puisi adalah ungkapan singkat namun bisa tinggal lama di benak. Walau huruf-hurufnya lebih singkat dari cerpen dan novel, namun kata-kata tersebut akan menancap di tiap kita membaca. Dan itulah yang saya rasakan ketika membaca buku kumpulan puisi ini.
Lang Leav bukanlah penulis puisi yang hobi memakai metafora sulit. Tak perlu membaca berulang kali untuk memahami maknanya, namun inilah letak kelebihannya. Bahasa yang sederhana, malah cenderung seperti sedang bercerita, membuat saya bisa duduk termenung ketika sedang meresapi karyanya. Sebagian besar puisi-puisi karya peraih penghargaan Qantas Spirit of Youth ini mengangkat tema cinta. Meski judulnya mengungkit kata 'Kesialan-kesialan', bukanlah kegagalan dan patah hati yang menjadi spirit utama. Cinta bertepuk tangan, kehilangan dan perpisahan juga ditulis sama romantisnya dengan puisi yang merangkum perasaan berbunga-bunga saat sedang jatuh cinta.
Ada beberapa sajak yang dibentuk dalam paragraf, mungkin bisa disebut prosa liris. Memikat dan menarik.
Puisi yang menggambarkan gelora jatuh cinta yang paling saya sukai ada di halaman 21.
Ketika Cinta Menyerang Jantungmu
Cinta itu baik,
            tidak pernah tidak--
            tapi ia mampu membuatmu meledak!
Ketika kepadamu ia diserahkan,
           dalam jutaan serpihan serentak.
Namun ada satu hal yang mengganjal dari beberapa puisinya. Tak semua puisi memiliki penutup yang menghentak atau berkesan. Malah ada yang seolah menggantung begitu saja. Seperti puisi berjudul 'Gadis yang Ia Cintai' di halaman 99.
Pernah ada seorang pria,
            bagiku tiada yang selain dirinya.
            Saat ia nyaris mencintaiku ia pun tumbuh,
            semakin dalam ia mencintaiku semakin jauh ia tumbuh.
Aku mencoba mencintainya sebagai sahabat,
         lalu menyerahkan diri sebagai kekasih;
         tapi ia tak balas mencintai pada akhirnya--
         hatinya milik orang lain.
Di satu sisi, buku ini tetap layak menjadi koleksi pencinta puisi. Bagi yang tidak menyukai sajak-sajak yang kalimatnya sulit dipahami, cobalah untuk membaca buku ini.

Tidak ada komentar