Bullying pada anak


 Mengikuti kasus Audrey, seorang remaja SMP yang diberitakan dirisak oleh segerombolan anak perempuan, membuat saya menangis. Meskipun pada perkembangannnya banyak simpang siur yang menambah berita ini semakin ricuh, yang saya temukan adalah betapa mahalnya untuk menjadi diri sendiri saat ini.

 Kita terpapar dengan banyak film, acara, sinetron yang mungkin tidak bagus ditonton seorang remaja. Katanya, anak-anak yang menjadi terduga perundung ini marah karena kalimat yang diucapkan Audrey juga. Ya, kita belum tahu duduk permasalahannya namun satu hal yang pasti, kalimat dan tindakan buruk dilakukan sebab menjadi seorang yang ‘bad’ terlihat lebih keren daripada ‘good’. 

 Saya pun pernah menjadi seorang abege. Insecurity adalah tema besar yang menjangkiti sebagian abege, selain masalah pencarian jati diri. Saya heran melihat ada anak-anak lain yang punya selera pakaian bagus, saya kagum dengan mereka yang mudah sekali berganti-ganti pacar, saya ternganga melihat mereka yang mempunyai fisik cantik atau tampan dan memiliki barisan pengagum. Lalu, saya merasa jika tak ada yang bisa dibanggakan dari diri saya yang berpipi tembam, tidak berkulit putih cerah dan lebih menyukai perpustakaan ketimbang hang out ke mal. 

Ada masa di mana saya tak sepenuhnya percaya arti persahabatan. Ya ada kejadian-kejadian tidak enak, hingga akhirnya saya terbiasa memasang pagar tinggi. Di masa SMU, baru saya beruntung bisa bersahabat dengan 3 orang perempuan yang tidak pernah memandang saya aneh. Mereka tidak menertawakan saya yang begitu mencintai buku dan bermimpi menjadi penulis.

 Saya bahagia karena tak pernah malu menjadi kutu buku, namun saya juga besyukur karena saya beruntung. 

Barangkali, Audrey yang katanya memicu amarah anak-anak perundung, tidak tahu cara terbaik untuk mengekspresikan ketidaksukaannya secara pas di media sosial. Mungkin, anak-anak yang katanya main keroyok ini akan gemetar hebat jika tidak datang beramai-ramai. Mereka merasa benar dengan tindakan maisng-maing, walau tetap saja mengeroyok dan merundung bukanlah sebuah tindakan yang bisa dilewatkan. Hukum harus berjalan, namun bisakah kita yang dewasa ini tidak turut menambah runyam? 

Andai saja saya tak bertemu sahabat-sahabat saya di masa SMU, mungkin saya masih menjadi kutu buku yang tak punya kehidupan sosial. Mungkin bisa jadi terjadi sebaliknya, karena merasa malu dengan kebiasaan cupu dan ingin dianggap keren, saya ingin menjadi sosok lain yang bukan diri saya sebenarnya.

 Ada yang bunuh diri karena putus cinta. Ada yang merelakan kesuciannya demi tidak kehilangan kekasih. Ada yang membunuh karena sakit hati. Dan saat ini sudah sering terjadi di dunia remaja. Mengerikan, bukan? 

Bullying pada anak
Mungkin kita yang menjadi
 contoh buruknya 


Kita Bisa Saja Menciptakan Monster 

Jangan menyalahkan satu sama lain, karena keacuhan kita dan omongan kita yang tidak enak barangkali menancap di hati seseorang hingga membuat dia dendam. Siapa yang tidak pernah sebal dan kesal? Namun, perkara membiarkan dendam itu menjadi bibit kejahatan adalah hal yang sangat berbeda. Kita marah pada suatu tindakan kejam, namun apakah kita tidak pernah melakukan hal yang kejam pada seseorang? Itulah sebabnya dulu saya takut untuk berteman, karena bagi saya manusia adalah makhluk kompleks yang punya banyak topeng, termasuk topeng monster. 

 Mencintai Diri Sendiri Bukanlah Kejahatan 

Tetapi mengisolasi diri bukanlah jalan terbaik. Lewat berteman dengan sahabat-sahabat terbaik, saya belajar untuk mengenali karakter yang sangat berbeda. Mereka mengajari saya untuk memaafkan, untuk menangis, untuk saling marah namun tidak saling membenci. Sebelum bertemu mereka, saya setengah mencintai diri saya sendiri, tetapi setelah berjumpa mereka saya merasa lebih banyak dicintai selain oleh keluarga. 

Jadi buat kalian yang saat ini diajak teman untuk memukuli seseorang, melabrak seseorang atau tawuran bersama atas nama pertemanan, maka itu bukanlah persahabatan sesungguhnya. 



Kalau mereka yang mengaku temanmu, namun mengejek impianmu, melarangmu untuk mencintai passionmu karena dianggap tidak keren, jauhilah mereka dan jadilah orang keren untuk diajak berteman oleh kawan positif lainnya. Orang yang lebih tua, bukanlah musuh yang harus dihindari. Mereka juga pernah seusiamu, pernah menghadapi masalah-masalah remaja sepertimu, jadi coba dengarkan ketika mereka mulai berbicara. 

Mencintai diri sendiri bukanlah kejahatan, selama kamu tidak menganggap dirimu paling baik dan mereka yang tidak sepertimu itu menyebalkan. Mencintai diri berari tahu, kapan saatnya tinggal dengan teman yang memberimu pengaruh positif, dan meninggalkan mereka yang mengajakmu bertingkah buruk. 

Takut tidak akan memiliki teman? Mungkin mainmu kurang jauh dan kamu kurang membuka diri pada banyak komunitas menarik yang menawarkan banyak sosok muda berbakat. 


Dunia bukan hanya tentang keren dan tidak keren, cantik atau kurus, modis atau cupu. Dunia adalah wahana bagi kamu yang masih berusia muda untuk belajar sebanyak-banyaknya, termasuk pembelajaran untuk tidak menyakiti orang lain.