TedX Dedicated: Potret Impian dalam Tangguhnya Dedikasi




Pada 7 September 2019 lalu, saya merasakan euforia membahagiakan. Setelah absen beberapa bulan tidak bisa mengikuti event bulanan TedX Jalan Tunjungan, akhirnya saya bisa menghadiri acara tahunannya dengan tema besar Dedicated. Sebagai seorang penggemar video TedX, saya ingin merasakan langsung aliran ide inspiratif dari para pembicaranya.


Pertama kali menginjakkan kaki di auditorium besar di Gedung Q UK Petra Surabaya yang megah, mata saya terpaku pada karpet lingkaran merah di panggung utama. Dan acara pun dimulai dengan meriah. Tarian kreasi Surabaya membuka rangkaian acara yang berlangsung sejak sekitar jam 9 pagi hingga setengah 5 sore.


Bisa saya tarik kesimpulan jika event TedX kali ini terbagi dalam dua topik utama yaitu kesehatan atau lingkungan hidup dan dunia kreatif yang masih bersinggungan dengan humanisme. Para pembicara terpilih tak hanya membuka wawasan saya, namun juga berhasil membuat mata berkaca-kaca saat mendengar rangkaian perjalanan mencapai impian mereka masing-masing.
(Baca Juga: Inspirasi Positif dari TedX Jalan Tunjungan Bekraf)

Para Pejuang Lingkungan dan Kesehatan

Di sesi pertama, topik yang dibahas berasal dari para sosok inspiratif yang memiliki concern tinggi di bidang lingkungan dan kesehatan. Pembicara pertama adalah Bayu Dwi dari Yogyakarta. Ia mengusung ide Pertanian Cerdas yang telah membantu petani di daerahnya memanfaatkan teknologi untuk menghindari risiko gagal panen.


Perubahan iklim global mempengaruhi pertanian di Indonesia dan dari data yang Bayu peroleh, sekitar 20% sawah mengalami puso atau gagal panen. Hatinya lalu tergerak untuk menciptakan alat berupa sensor cuaca dan sensor tanah. Sensor tanah dapat menganalisa kondisi PH, suhu, hingga kelembaban yang informasinya langsung tersambung di ponsel pintar para petani.


Tak puas dengan sensor saja, untuk meningkatkan produktivitas dan membantu petani dalam memutuskan apa yang ahrus dikerjakan di sawahnya di keesokan hari, Bayu berinovasi dengan Drone untuk mengumpulkan informasi pertanian lebih spesifik. Teknologi yang ia ciptakan telah banyak membantu para petani untuk menghadapi perubahan iklim.

Dari bahan baku pangan, kita diajak bergeser untuk memperhatikan apa yang masuk ke dalam tubuh kita. Chef Indawati Kusuma mengajak untuk lebih fokus pada makanan olahan rumah, bukannya fast food. Budaya makan cepat saji ternyata juga berpengaruh dengan kebiasaan hidup yang lain.


Solusi yang diberikan oleh Chef Indawati juga merujuk pada kebiasaan positif seperti perbanyaklah untuk membeli produk lokal berkualitas semacam makanan tanpa pemanis dan pengawet buatan, bagikan wawasan terkait Slow Food Movement (tidak makan cepat saji) kepada sekitar dan lebih banyak lagi makan masakan rumahan dengan bahan dari rumah yang kita tanam sendiri.


Kemudian kita bergerak pada tema food waste. Eva Bachtiar, founder Garda Pangan, menceritakan bagaimana sisa makanan yang kita buang juga dapat berpengaruh pada perubahan iklim. Indonesia termasuk negara penghasil food waste terbesar nomor 2 di dunia. Food waste berkorelasi pada economic loss dan jika dibuang di tanah akan menghasilkan gas metan.


Dengan gerakan non-profit Garda Pangan, Eva dan tim volunteernya memberikan edukasi agar kita tidak menyia-nyiakan makanan di saat ada saudara di daerah lain yang masih kelaparan. Sering juga Garda Pangan diundang di acara hajatan seperti pernikahan untuk membereskan sisa makanan pengunjung. Dan sistem pengolahan food waste tersebut tentu diolah dengan baik.



Setelah pembahasan dari makanan, Verena Lindra, founder dari WARP, menjelaskan bahaya sampah plastik untuk bumi kita. Dunia sedang membahas soal bahaya sampah plastik ini untuk lingkungan hidup serta kesehatan manusia. Lewat gerakannya, Verena mengajak kita untuk lebih sadar dalam mengurangi penggunaan plastik serta mulai peduli dengan kegiatan daur ulang. Plastik juga telah diubah Verena menjadi produk bernilai ekonomis.


Dunia Kreatif dan Humanis

Setelah jeda makan siang dan beribadah, sesi kedua dimulai dengan pembahasan terkait Kampung Dolanan oleh Mustofa Sam. Rata-rata semua pembicara ini memang berdedikasi dengan pilihan hidupnya dan dedikasi tesebut terpicu dari keresahan yang menyentuh sisi humanismenya. Mustofa sedih melihat anak-anak lebih banyak bermain dengan gawai, maka lewat kampung Dolanan ia mengajak anak-anak untuk mencintai permainan tradisional yang mengasah kerja sama, melatih adu strategi hingga meningkatkan kesehatan karena banyak bergerak secara fisik.




Disambung lewat pembicara paling senior, Eyang Wiwik Juwono yang di usia 76 tahun, masih enerjik mendedikasikan hidupnya di dunia pendidikan, khususnya untuk anak-anak berkebutuhan khusus.

Saya terharu saat Eyang Wiwik menjelaskan jika banyak orang masih memandang sebelah mata anak-anak berkebutuhan khusus ini, padahal mereka bisa berkarya sama baiknya dengan kita yang memiliki fisik sempurna.


Kita harusnya bersahabat dengan mereka tanpa memandang remeh atau rendah. Bahkan bukan tidak mungkin anak berkebutuhan khusus berprestasi gemilang seperti Marquel yang menjadi model setelah menyabet juara Mr Deaf Star 2018. Pemuda ini mengalami perundungan di masa sekolah dasar karena kondisi telinganya yang tidak bisa mendengar. Saya sampai menitikkan air mata mendengar ceritanya yang dibantu narator. Dengan dorongan sahabat dan orang tua, Marquel berani untuk kuliah dan mencoba peruntungannya di dunia modeling. Siapa sangka ia kini juga bekerja sebagai salah satu ASN di kota Malang.


Tiga pembicara berikutnya mengajak otak kita untuk berimajinasi serta mau meliarkan ide. Akbar Maulana yang ahli membuat Projection Mapping telah membangkitkan cita rasa tradisi lokal Surabaya lewat teknologi gambar bergeraknya. Lintu Tulistyantoro turut memajukan batik tradisional Pamekasan yang rupanya mendapat pengaruh dari budaya Jepang di masa penjajahan di Indonesia. Kini batik Pamekasan bernilai minimal belasan juta untuk satu kain. Dan Johan Ishii yang mengajak tubuh bergerak lewat olahraga capoeira. Filosofi capoeira membuat Johan Ishii mendalami makna kehidupan lebih baik serta mendalami keunikan seni di dalam bela diri khas Brazil tersebut.



Selain dari acara utamanya, TedX Jalan Tunjungan Dedicated juga membuka stan yang disebut TedXperience. Peserta bisa bertemu dengan para pengisi stan untk menambah wawasan, bermain hingga belajar membatik. Sebuah pengalaman lengkap untuk saya. Saya juga senang melihat persiapan TedX Jalan Tunjungan yang memfasilitasi pengunjung berkebutuhan khusus dengan penerjemah bahasa isyarat serta teknologi live interpreter.


Sesuai ekspektasi, TedX Jalan Tunjungan membuka pemahaman saya pada dunia yang mungkin tidak pernah saya pikirkan. Orang-orang yang berdedikasi ini layak disebut sebagai pahlawan, mereka berjuang bukan hanya untuk kepentingan pribadi melainkan juga untuk lingkungan dan sesamanya. Sanggupkah saya menjadi orang yang berdedikasi? Tak perlu muluk-muluk, cukup bergerak dari apa yang saya bisa dan saya pahami. Everyone can become a dedicated person with knowledge and kindness.



0 Comments