Insight Bergizi TedX Jalan Tunjungan: World Strategist



Saya adalah pecinta video Ted Talk. Maka ketika tahu jika ada komunitas resmi TedX yang menjadi penyelenggara event Ted Talk seperti di video-video yang saya suka saat berselancar di Youtube ada di Surabaya, wajar saja jika saya berminat mengikuti acaranya langsung. Sejak medio akhir 2018 sampai 2019 ada beberapa acara TedX Jalan Tunjungan yang saya ikuti, tetapi karena pandemi Covid 19 menyerang Indonesia, maka semua acara TedX pun dijalankan secara daring.

Mengikuti webinar, mengajar atau belajar, sampai sekadar kopdar melalui aplikasi Zoom dan Google Meet adalah sebuah bentuk kenormalan baru (new normal) yang dilakukan selama masa pandemi. TedX Jalan Tunjungan pun melakukan inovasi yang sama. Di acara Xplore mereka kali ini tidak diselenggarakan secara tatap muka langsung melainkan melalui Zoom. Tema yang diangkat di acara pre-event 21 Agustus dan eventnya pada 22 Agustus 2020 lalu bertajuk World Strategist. Dua kata yang sering saya dengar dan baca, hanya saja maknanya belum sepenuhnya saya cerna

 

.

Beruntungnya, setelah menjawab beberapa pertanyaan di form pendaftaran event, saya terpilih sebagai salah satu penerima event scholarship sehingga bisa mengikuti acara utama secara gratis. Dalam pre-event, peserta diajak untuk latihan membuat konsep event. Kami dibagi dalam beberapa kelompok kecil dengan tema tertentu lalu merancang konsep sebuah acara, serunya waktu diskusi pun sangat terbatas. Inilah esensi cara membuat strategi paling dasar. Strategi untuk memecahkan masalah tak hanya butuh satu kepala pintar, sinergi bersama tim yang solid dan kompeten adalah kunci utamanya.

 



Dua Pembicara yang Membuka Kebuntuan Soal Masalah Dunia

Dalam event utama pada 22 Agustus, saya menyerap banyak ilmu bergizi dari video dua pembicara yang membahas isu berbeda. Fiona Terry membicarakan isu yang dihadapi organisasi kemanusiaan sedangkan Dambisa Moyo mengangkat topik yang bersilangan erat dengan Emerging Country. Saya baru tahu jika istilah emerging country atau negara udaya adalah sebuah negara yang tidak lagi negara berkembang namun setingkat di bawah negara maju. Indonesia sendiri kini digolongkan sebagai negara udaya pada MIKTA.


 


 

Fiona Terry membicarakan masalah organisasi kemanusiaan yang mendapat hambatan karena kurangnya undang-undang untuk melindungi kegiatan mereka, terutama dari campur tangan politik. Contoh kasus yang disebutkan ada di Somalia. Ketika organisasi kemanusiaan memberikan bantuan untuk Somalia, ternyata tak semua rakyatnya menerima sesuai dengan apa yang disumbangkan. Bantuan telah dipergunakan oleh oknum tidak bertanggung jawab.

Kejadian di Afghanistan juga tak kalah sedih. Negara yang luluh-lantak akibat perang sipil dan kekacauan lokal tersebut juga menjadi tujuan banyak badan kemanusiaan untuk mendapat bantuan. Nyatanya, bantuan kemanusiaan dipergunakan sebagai alat untuk memenangkan hati rakyat. Ada unsur politis yang tidak tulus.

Menurut Fiona, seharusnya organisasi kemanusiaan haruslah netral. Ia mempertanyakan bantuan yang diberikan memang berada di tangan yang sesuai. Jika ada undang-undang yang mengatur kode etik selama bertugas, mungkin saja kejadian-kejadian menyedihkan di Somalia dan Afghanistan tidak akan terungkit. Saya sangat suka sesi ini.  Selama ini saya kira jika organisasi kemanusiaan mudah mendapat akses ke negara-negara yang sedang berkonflik, ternyata tantangannya juga sangat beragam.

Saya jadi ingat kasus ledakan Beirut bulan lalu. Ketika banyak orang membuka link donasi, penduduk Beirut mengingatkan untuk lebih waspada sebelum berdonasi. Lebih baik jika menyalurkan dana ke organisasi internasional daripada badan yang dibentuk pemerintahnya karena sering banyak kasus korupsi dana bantuan yang membuat hasilnya tidak tersalurkan pada rakyat. Fakta yang cukup mengejutkan, bukan?

 

Belajar Dari Cina Sebagai Negara Udaya

Kata pepatah, tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina. Kini sepertinya bukan menjadi isapan jempol belaka. Dambisa Moyo, salah seorang pakar ekonomi terkemuka, menyampaikan pendapatnya bagaimana seharusnya negara-negara di dunia mau belajar dari perkembangan pesat ekonomi Cina. Ia juga menjelaskan perbedaan sistem liberalisme dan komunisme dalam ekonomi.

Dulunya inovasi dan pencapaian Amerika Serikat menjadi contoh banyak negara. Private capitalism dan juga demokrasi dianggap sangat penting. Lalu Dambisa memberikan contoh, “Bagaimana kita akan berpikir soal demokrasi jika kita hidup dengan gaji di bawah standar dengan tanggungan yang berat? Kita akan lebih berpikir tentang bagaimana cara bertahan hidup daripada berpikir soal voting untuk pemilu.”

 


 

Cina dengan sistem kapitalisme publiknya yang berlawanan dengan sistem private capitalism ala Amerika, sukses membangun kemakmuran rakyatnya. Ada hajat-hajat hidup yang dikontrol oleh negara sehingga pemerataan kemakmuran bisa dicapai. Kita seharusnya belajar, bahwa untuk masa depan bukan soal teknologi dan inovasi saja yang seharusnya diperhatikan sebuah negara tetapi juga bagaimana negara itu berperan aktif dalam menyelesaikan masalah di dunia. Dan juga bagaimana infrastuktur dibangun untuk membantu rakyat di negaranya.

Acara berikutnya juga tak kalah seru. Bulan depan akan ada event TedX Jalan Tunjungan Countdown: Zero Carbon World. Masuk ke website TedX Jalan Tunjungan

Saya  mendapat event scholarship juga nih, yuk kita bertukar ide di eventnya bulan depan :) 

Image

 

Post a comment

0 Comments