4 Manfaat Menjadi Penulis Oportunis

penulis oportunis


Kalau mendengar kata oportunis, tidak selalu kesan yang diterima itu positif. Oportunis identik dengan suka memanfaatkan kesempatan, apapun kondisi dan situasinya. Namun, bagi saya ada sisi menarik jika ingin menjadi penulis oportunis. 


Blog tanpa niche khusus

Sering saya mendapat pertanyaan dari kawan-kawan bloger pemula.

"Kak, kalau mau ngeblog itu cara menentukan niche-nya bagaimana? Kalau blog dengan satu niche pasti lebih mudah monetizingnya kan."

Saya selalu tersenyum karena blog saya wordholic.com itu sudah hidup 7 tahun ini tanpa niche dan semua baik-baik saja. Saya juga tidak menggunakan Google Adsense karena blog dengan satu niche lebih mudah diterima. Saya jawab saja begini.


tips menulis konten
Image: Unsplash @firmbee



"Hai, saya adalah brandnya, makanya blog ini diputuskan fokus pada kekuatan konten. Kamu akan melihat kategori berbeda di blog saya dan semuanya saya suka."

Seiring berjalannya waktu, saya pun membuat satu blog lagi khusus untuk film dan serial di moviereffi.com dan membuat akun di Medium khusus untuk tulisan berbahasa Inggris. Wordholic.com tak lagi ada tulisan cerpen karena saya fokus non-fiksi. Tulisan fiksi saya pindahkan ke platform semacam Storial. Maka ketika ditanya saya bloger macam apa, saya jawab, "Bloger, content writer, penulis buku, Japanese Interpreter, Kamu bisa menyebut saya wordpreneur."


Tidak ada salahnya menjadi oportunis

Penulis oportunis? Iya memang. Namun saya tahu area mana yang saya kembangkan dan area mana yang tidak saya utak-atik. Saya tidak akan menerima job menulis otomotif dan agama misalnya, karena itu bukan 'genius zone' saya. (Baca Juga: Beda Mindset Penulis Fiksi dan Content Writing)

Seperti halnya saya tidak akan membuat novel komedi dan religi karena ide saya kering di area tersebut. Saya oportunis, tetapi realistis. Tulisan-tulisan itu menjadi portofolio dan membentuk identitas saya sebagai Wordpreneur.

Image: Unsplash @etiennegirardet



Bagaimana menjadi penulis oportunis yang realistis?

  1. Tahu Area Genius Zone

Menurut John Steimle di blognya https://www.joshsteimle.com/influence/how-to-find-your-genius-zone.html 

When you’re in your genius zone, are in what author Mihaly Csikszentmihalyi calls “flow.” You’re taking advantage of your natural talents and doing what you earnestly enjoy.

Ketika kita berada di area genius zone, kita mengerjakan sesuatu dengan begitu mudah, ada semacam 'inner calling', panggilan dari hati dan pikiran yang menganggap pekerjaan atau aktivitas tersebut menyenangkan. Semacam bakat, tetapi bakat ini telah terasah dengan baik hingga menjadi maksimal.

Bahkan kita begitu bahagia ketika mengerjakannya meski tahu nilai nominalnya tidaklah tinggi. Ketika diseriusi, bisa menjadi menakjubkan. Genius zone saya adalah menulis konten blog sesuai minat. Lalu saya fokuskan menjadi sumber penarik materi. Saya amati jenis tulisan mana yang menjadi area termudah ketika saya menulis. Untuk fiksi, saya fokus pada genre yang saya suka sehingga saya tahu jenis tulisan apa yang mudah dikembangkan.

2. Ikuti Rasa Ingin Tahu dan Pelajari Serius 

Punya bakat saja tidak cukup. Maka saya biarkan rasa ingin tahu bekerja dengan mengikuti banyak kelas menulis. Makin banyak belajar, saya makin tahu tema tulisan apa yang tidak saya seriusi, dan mana yang butuh dipoles lebih banyak. 

Seperti halnya ketika memutuskan serius belajar bahasa Korea. Sebelumnya saya sempat membeli buku bahasa Prancis dan Jerman. Ternyata bahasa Korea yang membuat saya tahan lama belajar (setelah Inggris dan Jepang). (Baca Juga: Ketahui Cara Optimasi Blog Lewat Twitter)


3. Jeli Menangkap Kesempatan


Jika ingin serius dari menulis, maka bangunlah insting oportunis. Ada kesempatan menulis artikel dengan fee murah? Jika masih pemula maka ambil saja. Bangun ototnya, genius zone butuh dilatih agar terampil. Anggap saja sebagai penulisan artikel blog sendiri, dan uang receh sebagai bonus. Ini melatih attitude kita sebagai 'pemilik bisnis jasa menulis' kepada klien.

Saat ini sudah banyak penulis yang juga membuat produk digital. Baca kembali apa saja yang menjadi keahlianmu lalu jadikan online course atau eBook. Karena kamu harus bersinggungan dengan content marketing atau strategi digital lainnya, kamu juga perlu terus belajar.

4. Promosi


Sudah tahu area mana yang ingin dikuatkan dan bahan belajarnya? Berikutnya lakukan promosi. Promosi itu dengan cara share link tulisan terbaru, rutin buat status yang menunjukkan kualitas berpikir kita, dan tulis skill kita di bio medsos. 

Menemukan genius zone mungkin butuh waktu, tetapi prosesnya ini jadi tidak terlalu melelahkan karena kita suka. Boleh-boleh saja belajar hal baru lain, tetapi jika ingin memaksimalkan nilai jual skill, utamakan genius zone terlebih dahulu.

Jeli melihat kesempatan dan terus berlatih untuk membangun kesiapan diri saat kesempatan itu datang adalah modal keberuntungan. 

Ingin menambah kesempatan dengan menembus penerbit mayor seperti karya saya di Mizan dan BIP jalur ebook? Ikuti kelas ini dengan memesan buku terbaru saya lewat PO cetak. Versi digitalnya bisa kamu baca di Gramedia Digital. Harga belum termasuk ongkir, silakan kirim pesan via DM Instagram @reffi_dhinar. 




Note: Artikel ini pernah saya publikasikan di grup Indscript Writing pada 1 Juni 2020 dan diupdate pada 6 Juni 2024

2 komentar

Reffi Dhinar mengatakan...

Makasii ya.

Ceritaku mengatakan...

Terima kasih sharing ilmunya, Kak Reffi. Sangat bermanfaat bagi saya yang pemula ini🙏