Bersembunyi di Genteng, Walking Tour Surabaya Penuh Memori



Di era Hindia-Belanda, Jalan Gubeng dulu disebut Genteng Straat, tapi tidak ada yang tahu asal katanya dari mana. Kami berjalan memasuki perkampungan yang asri. Jujur saja, kalau tidak ikut walking tour, mana pernah saya akan mampir blusukan di daerah Genteng dan perkampungan yang ada di belakang Siola ini.

Dalam rute Bersembunyi di Genteng ini, saya dan rombongan akan melalui beberapa gang perkampungan, pasar tertua, dan sebuah tempat hiburan yang menyaingi Balai Pemuda di era kolonial.

Dari sini, saya menemukan banyak cerita dan juga bangunan-bangunan lama nan cantik. Ada yang masih berpenghuni dan ada pula yang dibiarkan tanpa perawatan lebih lanjut. Inilah beberapa tempat yang masuk catatan dan kamera saya.


Kampung-Kampung dengan Cerita Tersembunyi

Saya kagum dengan perkampungan yang ada di kawasan Genteng ini. Tempatnya bersih dan bebas polusi. Mungkin juga karena saat itu cuaca di Surabaya sedang syahdu dan tidak ada panas menyengat, makanya saya jadi menikmati perjalanan. 


Di kampung Genteng Sidomukti yang pertama kami kunjungi, saya jadi tahu kalau di sana dijadikan kampung percontohan untuk pengolahan limbah. Balai RW-nya juga menjadi proyek percontohan dengan dilengkapi Taman Baca Masyarakat yang masih aktif hingga saat ini.


Andai saja Sidoarjo mau meniru, pasti lebih asri lagi hasilnya. Proyek percontohan untuk desa atua kampung di Surabaya itu belum pernah saya dengar di Sidoarjo, setidaknya di desa saya yang ada di kawasan Kecamatan Candi. Surabaya punya banyak Taman Baca Masyarakat (TBM) yang membuat saya iri.

Dari Genteng Sidomukti rute jalan-jalan bergerak ke kawasan kampung lainnya. Saya lupa mencatat nama-namanya. Di kawasan perkampungan daerah Genteng ini mata saya menangkap beberapa bangunan lawas yang masih berdiri, contohnya ada rumah jadul yang berdiri sejak 1880. 


Tegel rumah lama biasanya berwarna kuning atau merah. Di salah satu rumah yang ada di kampung ini ada bekas tempat tinggal Cak Durasim. Beliau pernah menghebohkan era penjajahan Jepang karena membuat parikan atau pantun yang menyindir pemerintahan Jepang kala itu. 

Cak Durasim dipenjara di Kalisosok hingga meninggal di sana dan dimakamkan di Makam Tembok. Dulu, Cak Durasim dikenal sebagai tokoh ludruk legendaris asal Surabaya dengan nama lemgkap Durasim Gondoredjo. Ia dikenal sebagai seniman yang berkomitmen menjaga sekaligus mengembangkan kesenian tradisional Jawa Timur, terutama ludruk.


Sepanjang hidupnya, Cak Durasim lahir, besar, hingga mengembuskan napas terakhir di Surabaya. Oleh karena itu, sosoknya begitu menyatu dengan identitas dan kebudayaan Kota Pahlawan. Setelah peristiwa penangkapan Cak Durasim, keluarganya meninggalkan Surabaya dan rumah lamanya berganti pemilik tanpa adanya hubungan keluarga.


Peninggalan Sistem yang Masih Bisa Kita Lihat Hingga Kini

Dari walking tour ini saya jadi tahu kalau peninggalan pemerintahan kolonial Belanda dan Jepang menyisakan sistem yang masih digunakan di masyarakat modern. Apalagi di kala penjajahan Jepang, tidak ada bangunan khas yang didirikan seperti masa Hindia-Belanda. Siapa sangka, sistem yang ada di Jepang ada yang kita anut hingga saat ini.

Yang pertama adalah ketika menemukan sebuah gang kecil yang ternyata punya sejarah. Gang kecil semacam itu disebut Brand Gang (dari istilah Belanda) yang fungsinya dipakai untuk jalur evakuasi ketika dibutuhkan. Kalau di Surabaya, istilah jalan gang semacam itu disebut 'lengkong'.

                          Brand  Gang 

Apakah di desa atau pemukima yang kamu tinggali masih punya sistem Siskamling? Ternyata, Siskamling atau kita sebut ronda itu adalah sistem warisan Jepang. Keamanan lingkungan tidak hanya dilakukan oleh aparat, tetapi juga dari keikutsertaan warga. 

Satu lagi yang membuat saya terkejut. Semasa SMP dan SMA dulu--mungkin masih berlanjut hingga sekarang--sekolah saya rutin menyelenggarakan class meeting. Ketika class meeting, antarkelas berlomba menjadi juara untuk banyak kompetisi. Biasanya kompetisi olahraga. Class Meeting ini peninggalan Jepang, lho. Dulu, tujuannya adalah untuk merayakan ulang tahun kaisar Jepang.
Rumah khas Belanda dengan bangunan-bangunan ala zaman dulu yang masih dipertahankan menambah seru suasana perjalanan saya kala itu. Rumah-rumah lama itu menjadi saksi perubahan era dari masa penjajahan, kultur budaya pop, pandemi, hingga tahun 2026. Kalau mereka bisa diajak ngobrol, pasti ada banyak hal yang bisa kita dapatkan. Mungkin cerita cinta para pejuang atau ketakutan yang terekam selama penjajahan. 

Pasar Genteng yang kami kunjungi juga punya sejarah panjang karena termasuk sebagai salah satu pasar tertua di Surabaya. Ketika melihat perbandingan foto lama dengan bangunannya saat ini, saya jadi berpikir kalau area pasar ini juga pasti menyimpan banyak bisik-bisik masyarakat sebagai tempat perdagangan sekaligus tukar informasi antarpejuang. Rasanya jadi terharu.

Dua Area Unik yang Punya Ceritanya Sendiri

Dua spot terakhir yang bagi saya berkesan adalah Hotel Paviljoen dan Balai Sahabat. Keduanya punya cerita tersendiri yang menarik untuk ditelusuri.

Hotel Paviljoen

Hotel Paviljoen ini berdiri tahun 1917 di saat Surabaya menjadi pusat perdagangan dan militer era Hindia Belanda. Pendirinya adalah pasangan dari Jerman dan Denmark. Bangunan hotel dibuat dengan gaya Eropa dan segmentasinya adalah untuk kaum kelas menengah. 

Selama era perjuangan mempertahankan kemerdekaan, khususnya saat tahun 1945, Hotel Paviljoen menjadi saksi bisu pertempuran sengit arek-arek Surabaya melawan Pasukan Sekutu termasuk ketika pidato Bung Tomo membakar semangat para pejuang dan terjadinya perobekan bendera Belanda di sekitar wilayah Genteng. Hotel ini menjadi tempat peristirahatan pejuang dan masyarakat sipil di tengah kekacauan perang.

Balai Sahabat

Kalau orang-orang Belanda di Surabaya punya Balai Pemuda sebagai klub elit untuk tempat hiburan seperti berdansa dan acara lainnya, orang Jerman tidak mau kalah. Mereka mendirikan Deutscher Verein sebagai bangunan hiburan untuk orang Jerman pada 1920-an.


Arsitektur bangunan ini mengikuti gaya Eropa nan megah. Pada 9 Juni 1946, gedung ini dibeli dan diserahkan ke Perkumpulan Lien Huan She (LHS) yang kemudian dikenal sebagai Balai Sahabat, dan menjadikannya sebagai ruang berkumpul yang lebih inklusif bagi berbagai komunitas di Surabaya. 
Karena nilai sejarah dan arsitekturnya, Balai Sahabat termasuk bangunan cagar budaya di Surabaya melalui SK Wali Kota tahun 2009.

Hingga masa kini, Balai Sahabat terus berfungsi sebagai wadah komunitas dan kegiatan budaya di Surabaya. Selain tetap menjadi tempat pertemuan komunitas dansa, gedung ini juga menjadi lokasi kegiatan sosial, olahraga ringan seperti tenis atau bridge, serta aktivitas kreatif lain yang melibatkan masyarakat setempat. 


Rute Bersembunyi di Genteng ini membuka acara walking tour yang sempat beberapa bulan tidak saya ikuti karena kesibukan. Kalau kamu ingin mampir sambil mendengarkan cerita dari storyteller yang tidak kamu temukan di buku sejarah, cek saja Instagram Let's Walk dan ikuti acara walking tournya.

Tidak ada komentar