Sebenarnya, terlambat banget saya nulis soal perjalanan di Melaka ini. Saya melakukan solo trip ke KL-Dalat, Vietnam-Malaka Januari 2025. Nulisnya malas, jadi mohon maklum, ya. Perjalanan solo trip terakhir di Melaka menjadi penanda saya berhasil menyelesaikan jalan-jalan setengah nekat ini dengan sukses.
Jujur saja, badan mulai capek karena saya melakukan perjalanan dua negara dalam waktu lima hari sendirian. Tidak ada teman bercanda seperti biasanya (karena saya selalu bepergian berdua bersama sahabat kalau ke negara tetangga) dan ada acara tersesat beberapa kali baik di Vietnam maupun di KL. (Baca Juga: Solo Trip KL-Dalat-Malaka Tidak Disengaja)
Kalau mau solo trip lagi, saya tidak akan nekat lagi seperti perjalanan tahun lalu, deh. Mending menikmati satu kota dalam satu negara dengan maksimal. Apalagi kalau cuacanya kurang bersahabat. Penginnya nangis mulu, hahaha.
Melaka Tidak untuk Setengah Hari
Jadi, saya berangkat dari Surabaya ke KL untuk menginap semalam lalu besok paginya meluncur ke Dalat, Vietnam. Di Dalat pun saya hanya menginap semalam alias hanya dua hari saja.
Dari Dalat, saya kembali ke KL untuk menginap semalam lagi sebelum keesokan pagi buta menuju Melaka naik kereta komuter disambung naik bus. Saya berada di Melaka hanya setengah hari. Sebenarnya, ini kurang puas banget apalagi di bulan Januari itu masih musim hujan. Berbeda dengan Vietnam bagian selatan seperti Ho Chi Minh dan Dalat, Januari justru asyik di sana karena tidak hujan.
(Baca Juga: Terpesona Estetika Dalat yang Dingin Penuh Kejutan)Melaka dan Pesonanya
Melaka mencuri hati saya seperti Penang. Keduanya sama-sama termasuk kota bersejarah yang sudah diakui Unesco. Kalau saya bisa memilih untuk tinggal di luar negeri, saya pasti memilih Malaysia secara kulturnya mirip, kesejahteraan lebih bagus dari Indonesia, dan banyak kota-kota indah bersejarah terawat dengan baik.
Perjalanan Darat Asyik
Untuk mencapai Melaka, saya memilih naik bus dari terminal Bandar Tasik Selatan (TBS) yang saya pesan secara online. Tiket yang saya pilih berangkat pukul 07.30.
![]() |
| Nahan kantuk berangkat pagi buta |
Untuk mencapai TBS, ya perlu naik KTM Komuter dari KL Sentral pukul 5.30. Sebenarnya, perjalanan dari KL Sentral ke TBS itu hanya sekitar 15-20 menit, tapi saya sadar kalau belum pernah ke TBS jadi lebih baik berangkat lebih awal. Saat itu, penumpang komuter hanya beberapa orang dan saya sendirian di dalam gerbong.
Benar saja, sesampainya di terminal TBS, saya melongo sambil menahan tawa. Terminalnya besar dan megah. Saking besarnya, saya perlu jalan naik turun tangga dari tempat pemberhentian komuter menuju bangunan terminal bus utama selama 30 menitan. Mungkin karena saya baru pertama kali ke TBS, makanya jadi tidak bisa cepat.
![]() |
| Belum naik bus, badan udah lelah, wkwk |
Meskipun pesan tiket bus online, saya harus antre lagi untuk validasi tiket dan mengetahui berangkat dari peron nomor berapa. TBS sangat bersih dan super padat. Walaupun masih pukul 6 pagi, sudah banyak calon penumpang yang menunggu jam keberangkatan sampai ada yang tidur di kursi.
Tepat pukul 7.30, bus saya datang tepat waktu. Saya hanya menunggu beberapa menit lalu berangkat menuju Melaka. Perjalanannya menghabiskan waktu sekitar 1,5 sampai 2 jam. Di sinilah saya baru bisa tidur sepuasnya. Busnya nyaman, bersih, dan ada musik yang diputar pelan. Sayup-sayup lagu Michael Learns to Rock mengiringi saya ke dunia mimpi.
Dari Melaka Sentral ke Pusat Kota
Bus berhenti di Melaka Sentral. Nantinya, saya juga akan kembali ke Melaka Sentral menuju TBS pukul 16.30.
Berbeda dengan KL Sentral yang lebih modern dan tertata, Melaka Sentral ini masih terasa nuansa jadulnya. Dari sini, saya memilih untuk menjelajah dua area saja yaitu Jonker Street dan Dutch Square yang bertetangga. Waktu menjelajah di Melaka hanya setengah hari lalu terpotong naik bus, jadi saya tidak berambisi ke banyak tempat.
Jonker Street yang Estetik
Dari Melaka Sentral, saya naik taksi Grab menuju Jonker Street. Mata saya langsung terpana melihat bangunan serba merah di Jonker Street. Mural estetik membuat saya mengambil beberapa foto.
Jonker Street punya nama lain yaitu Jalan Hang Jebat. Kalau dari sejarah pendek yang saya baca, jalan ini dibangun pada masa kolonial Belanda di abad ke-17. Melaka ditaklukkan Belanda pada 1641.
![]() |
| Di depan gerbang Jonker Street |
Mulanya, kawasan Jonker Street itu termasuk pemukiman elit warga Tionghoa Peranakan (Baba-Nyonya). Rata-rata mereka adalah pedagang asal Tiongkok yang akhirnya menetap dan budayanya berasimilasi dengan budaya Melayu.
Karena kedatangan saya berdekatan dengan perayaan Imlek beberapa minggu lagi, Jonker Street dipenuhi lampion dan terasa banget nuansa Tionghoa-nya. Banyak kafe cantik dan bangunan estetik yang membuat saya tak berhenti mengambil foto. Saya mampir ke salah satu kafe buat makan siang. Hmm, capek juga jalan kaki keliling begini.
Dutch Square Jadi Favorit
Hanya berjalan kaki sekitar lima menitan dari Jonker Street, saya mencapai Dutch Square. Yang mengejutkan, bangunan-bangunan bersejarah di Dutch Square ini rata-rata bercat merah bukan karena untuk merayakan Imlek, ya. Sebagai penggemar warna merah dan cokelat, saya tak berhenti mengagumi area ini. Jujur saja, kala itu Dutch Square menjadi tempat favorit.
Wilayah Dutch Square ini dulu dibangun di kisaran abad ke-17 dan 18 oleh pemerintah kolonial Belanda setelah merebutnya dari Portugis.
Saya ingat pelajaran Sejarah waktu SD soal Melaka yang menjadi jantung transit perdagangan di Asia Tenggara, makanya daerah ini menjadi rebutan para penjajah. Area Dutch Square ini juga menjadi pusat administrasi pemerintah kolonial Belanda di Melaka serta menjadi simbol kekuasaan di Asia Tenggara.
Saya berfoto di dekat Christ Church dan Stadthuys. Betewe, Christ Church ini disebut sebagai gereja Protestan tertua di Melaka, lho. Meskipun cuaca mulai mendung manja dan kadang turun gerimis di sela acara jalan-jalan, saya masih bisa menikmati suasana dengan gembira. Stadthuys ini dulunya digunakan sebagai balai kota Belanda dan sekarang jadi museum.
![]() |
| Depan Christ Church |
Ada satu spot yang tidak bisa saya dapatkan fotonya karena terlalu banyak orang di situ. Apalagi saya jalan sendiri, jadi lebih sering menggunakan tripod mini atau minta tolong orang lewat yang kelihatan senggang. Spot ini adalah air mancur kecil di tengah-tengah Dutch Square yang disebut Queen Victoria Fountain. (Baca Juga: Susahnya mencari Makanan Halal di Dalat Vietnam)
Di dekat Dutch Square dan Jonker Street ada sungai kecil yang super bersih. Saya meluruskan kaki di atas rumput dekat sungai sambil bengong menikmati cuaca sore hari. Kalau kamu suka naik becak, di dekat Dutch Square kamu bisa keliling area naik becak warna-warni yang dikendarai sambil memutar musik ceria.
![]() |
| Becak unyu bermusik |
Setelah membeli beberapa suvenir dekat Dutch Square, saya kembali naik taksi Grab menuju Melaka Sentral. Sisa satu jam lagi sebelum jam keberangkatan bus menuju TBS. Meski hanya bisa mampir ke dua area, saya tetap puas. Pastinya, saya ingin kembali ke Melaka dengan waktu lebih lama. Bangunan-bangunannya masih terawat apik seperti di Penang.
Perjalanan solo trip terakhir di Melaka ini menjadi pengalaman sangat berharga tahun lalu. Tahun ini, saya belum punya rencana bepergian ke luar negeri lagi di tengah situasi dunia belum menentu. Tidak apa-apa. Sambil menunggu tiket pesawat stabil, saya bisa ikut walking tour dan jalan-jalan ke kota terdekat. Ya, yang penting tidak malas menuliskannya, haha.












.jpg)


.jpg)
.jpg)



Tidak ada komentar
Posting Komentar