Yoga, Melambatkan Raga dan Melejitkan Karya







Sejak masih remaja, saya sangat menyukai aerobik. Dentuman musik yang sangat riang membuat saya lupa waktu dan begitu menikmati semua gerakan. Napas terengah-engah, tetapi tubuh segar. Mungkin ini juga karena saya melihat Mama berolahraga aerobik sejak saya masih balita. Jadi, saya terbiasa dengan musik riang dan ketika dewasa, saya tidak suka musik atau lagu balada.

Saya sering bercerita di kelas-kelas menulis tentang bagaimana saya harus belajar melepas keserakahan dan ego ketika suatu hari tubuh saya mendadak cedera karena terlalu lama dipakai menulis tanpa pernah olahraga pada 2016. 

Titik Awal Mengenali Perlambatan

Tangan kiri yang sakit dari pangkal lengan hingga ujung jari harus diperban pada 2016. Saya mengabaikan alarm tubuh ketika pinggang dan tangan mulai agak nyeri tiap dipakai mengetik. Dengan ego tinggi, saya terus menerima job menulis padahal di pagi hari saya juga bekerja sebagai penerjemah bahasa Jepang di sebuah perusahaan pembuatan baja.

Dokter saraf bilang kalau saraf saya mengalami kelelahan akut ditambah saya punya sudut skoliosis kecil yang baru ketahuan ketika lengan cedera. Otomatis selama dua bulan, saya mengetik menggunakan tangan kanan. 

"Hindari lari, lebih bagus berenang atau yoga," kata dokter waktu itu. Untungnya, sudut skoliosis saya tidak besar dan memang tidak mengganggu. Itu terjadi karena bawaan lahir dan tidak mempengaruhi postur tubuh.

Saya muak melihat laptop. Sisa tugas menulis untuk klien saya selesaikan lalu saya tidak menulis sama sekali. Sepertinya, saya juga tidak menulis tulisan panjang, hanya puisi saja.

Melambat itu adalah kata yang tidak saya sukai. Saya masih ingat kalau dulu waktu umur 10 tahun pernah marah-marah waktu diopname selama hampir seminggu karena demam berdarah. Saya marah pada diri sendiri karena tidak bisa belajar dan hanya tiduran saja.

"Kamu harus sabar. Orang sakit itu tidak boleh emosi. Ditunda dulu belajarnya."

Rasanya, saya seperti terlempar ke masa kecil. Oh, sekarang saya harus mulai belajar memahami seni melambatkan diri. Ternyata, saya berjalan terlalu cepat sampai abai dengan tubuh dan hati.

Tahapan Menuju Perlambatan Diri

Ketika dokter menyarankan saya untuk melakukan yoga, saya berpikir apa enaknya olahraga yang tidak ada lagu menghentak dan lambat begitu? Saya pun hanya mengiyakan tanpa pernah mencoba. 

Sampai suatu hari saya jengah melihat tumpukan buku yang saya beli, tetapi belum sempat terbaca. Mungkin ini sekitar tahun 2022 kejadiannya. Akhirnya, saya memutuskan hal yang radikal. Saya tidak lagi berusaha mengikuti tantangan membaca seminggu sekali dan berambisi membaca lebih dari 52 judul per tahun. (Baca Juga: Hidup Kita Itu Sangat Romantis)

Membaca dengan lambat, menemukan hal baru

Rasanya memang sangat sulit sekali untuk berhenti membeli buku tiap gajian. Saya mulai dari hal ringan yaitu Book Buying Ban Challenge selama tiga bulan. Tiap pergi ke mana pun, saya membawa buku fisik hingga tas terasa cukup penuh. Ini lumayan memupuskan hasrat saya tiap kali ingin membeli buku baru.

Saya putuskan untuk membaca dua buku tiap bulan. Satu buku topiknya terkait dengan tantangan kreatif saya dan satu lagi buku bebas. Misalnya, saya sedang ingin meningkatkan skill SEO, maka satu buku pasti terkait topik tersebut. Sisanya, buku bebas bisa novel atau self-development.

Tanpa terasa, kebiasaan ini membuat saya belajar menekan hasrat yang ternyata tumbuh karena semasa kuliah saya sering menekan keinginan membeli buku demi mencukupkan uang saku. Saya baru sadar kalau hobi membeli buku berlebihan ini juga sama beracunnya dengan hobi belanja baju, hanya saja saya mengkamuflasekan kebiasaan baca buku adalah hal positif sebagai justifikasi pemborosan saya.

Membaca lebih lambat dan sesuai tujuan juga meningkatkan kebiasaan Mindfulness lebih baik. Ujung-ujungnya, saya mulai menikmati aktivitas yang lebih lambat.

Yoga menjadi sebuah pembuka perspektif baru

Sejak dua tahun lalu, saya mencoba IF ringan. Karena punya GERD yang cukup sensitif (karena kebiasaan lupa makan tiap kali baca atau belajar), saya pun mencoba IF ringan 12:12. Kejutannya, saya tidak lagi batuk kering tiap kali mau jam makan atau sesudah makan. 

Dari hobi membaca artikel kesehatan, saya akhirnya mulai latihan mandiri angkat beban menggunakan dumbell dan kettle bell. Tentu saja, saya tetap selingi dengan aerobik dan zumba. Olahraga angkat beban melambatkan kebiasaan olahraga yang butuh gerakan cepat. Inilah awalnya saya mulai terbiasa melambatkan gerakan olahraga.



Suatu hari, saya melihat unggahan tentang kelas yoga oleh Coach Rina Debora di Threads sekitar bulan April 2026. Yoga dan pilates mulai menjadi tren 2-3 tahun ini, tapi saya baru tertarik ketika mencoba yoga dengan Coach Rina.

Tidak saya sangka, Coach Rina yang mendapat lisensi yoga di India memperkenalkan yoga lewat filosofi gerakan serta sejarah. Jelas ini nyambung dengan hobi saya yang memang suka mencari makna filosofis dan tempat-tempat bersejarah.

Contohnya, gerakan melipat punggung dan kepala menunduk memiliki makna untuk merendahkan ego. Ada pula gerakan-gerakan untuk menyehatkan organ reproduksi dan hormon. Saya pun rajin ikut kelas online-nya. Ketika mencoba ikut kelas yoga berkelompok lebih besar dengan coach lain, saya merasa ini hanya mengejar gerakan tanpa meditasi cukup dan fokus mengejar pose.

Yoga membuat saya memahami batasan tubuh. Coach Rina bilang, "Jangan memaksakan diri kalau merasa sakit. Berusaha terlalu keras membuat fokus kita rusak. Usaha maksimal, tapi rasakan sampai tubuh tidak merasa dipaksakan."

Dari kebiasan yoga dengan fokus yang baik dan pose yang tidak dipaksakan, saya pun mulai memperhatikan hal lainnya. Tiap kali tubuh terasa capek, saya tak lagi menyalahkan diri. Waktunya mengantuk, segera akhiri kegiatan menulis dan tidur. Kalau mau beli buku berlebihan, saya pun mulai mencatat apa saja yang bisa saya pelajari dari buku lain.

Ketika saya tidak lagi rajin ikut kompetisi, menulis sesuai kebutuhan, dan fokus pada aktivitas membangun Wordholic Class lebih tekun, saya mendapatkan banyak hal. 

Desember 2026, novel lama yang saya edit memenangkan kompetisi novel Diandra. Saya pun mulai menerbitkan ebook di Google Playbook, klien pun terus waiting list, sampai saya mendapatkan kontrak menulis artikel selama satu tahun dengan sebuah lembaga kursus bahasa asing. 




Yoga telah melambatkan raga saya yang haus dengan kegiatan serba cepat. Kini, saya bisa melejitkan karya sesuai tujuan yang bukan hanya karena FOMO saja, tetapi benar-benar lahir dari hati dan apa yang benar-benar saya butuhkan sesuai momennya.

Tidak ada komentar