.comment-content a {display: none;}

Sunday, 23 March 2014

Satu Pilihan Mengubah Hidup (Komen Film Divergent)

Diposkan oleh Reffi Seftianti di 06:51
Response 



Satu lagi film memukau dengan tokoh seorang gadis muda yang tiba-tiba saja hidupnya terdesak dan harus menanggung beban sebagai seorang pahlawan.  Divergent, film besutan Summit Entertainment yang juga sukses memproduksi film fiksi ilmiah laris seperti Twilight, Warm Bodies dan Hunger Games, ini memberikan sebuah cerita yang tak baru, namun memberikan kesegaran berbeda dari film-film sebelumnya.

Kisah dibuka dengan penjelasan singkat jika Dunia baru saja melalui pertempuran hebat dan hampir seluruh bagian dunia luluh lantak akibat perang. Satu abad setelahnya, dunia dibagi dalam beberapa golongan (di sini saya tidak menyebutkan istilah Inggrisnya karena terlalu sulit). Golongan itu dibagi menjadi si Cerdas, si Penegak Keadilan, si Penjaga Keamanan, si Baik Hati, si Penjaga Kesuburan dan golongan yang tidak termasuk kelompok manapun. Tiap kelompok telah memiliki tugasnya masing-masing dan tidak boleh mencampuri urusannya masing-masing. Saat itu, pusat pemerintahan Dunia yang baru terpusat di kota Chicago dan dipimpin oleh kelompok Baik Hati. Tokoh utama film Divergent ini berasal dari golongan si Baik Hati bernama Beatrice, dimana ia juga putri dari seorang anggota Dewan.

Cerita mulai menuju suspense yang lebih tinggi setelah Beatrice melewati pengujian diri. Dalam pengujian diri tersebut, Beatrice akan dicek  termasuk kelompok yang mana, sebelum akhirnya ia memutuskan sendiri kelompok yang akan ia masuki. Keanehan terjadi, si penguji melarang Beatrice menyebutkan hasil ujiannya, rupanya frekuensi otaknya memiliki gelombang yang tak terdeteksi, ia dinyatakan sebagai Divergent (kelainan).

Di hari pemilihan, Beatrice memilih kelompok Penjaga Keamanan (Dauntless) sementara kakak kandungnya Caleb memilih masuk dalam kelompok Penegak Keadilan (Erudite). Sekali mereka memilih kelompok di luar kelompok asal, maka siapapun tidak dapat kembali menemui keluarganya. Di sini saya jadi teringat dengan acara pemilihan bagi siswa baru Hogwarts. Masing-masing siswa baru akan dipilih dengan Topi Ajaib yang menentukan mereka akan masuk di kelompok asrama mana. Baik dalam film Divergent maupun Harry Potter, masing-masing  kelompok memiliki cirri khas masing-masing, tetapi Divergent lebih unik karena kelompok dalam Divergent mempunya dress code tersendiri.

Jika Hunger Games menceritakan betapa mengerikannya dunia ketika kapitalisme dijadikan dewa, Divergent mengisahkan betapa menderitanya manusia saat mereka diwajibkan terjebak dalam sebuah kelompok dan harus menghapus pelan-pelan jejak keluarga serta masa lalu mereka. Film ini menyelipkan pesan bahwa kita harus siap menghadapi kesulitan terbesar tanpa melarikan diri. Beatrice yang di tengah cerita mengganti nama menjadi Tris, sempat kebingungan karena cara berpikirnya bebreda dengan para Dauntless. Di uji gelombang pikiran, tiap kadet  harus ketakutan terbesar mereka,(sebutan bagi para Dauntless), sebagai seorang Divergent, Tris bias mengubah cara berpikirnya dan menganggap jika tantangan di hadapannya hanyalah imajinasi belaka. Four, senior kadet yang melatihnya, berusaha melindungi Tris karena divergent sedang dikejar-kejar oleh kaum Erudite dan Dauntless. Divergent dianggap sebagai ancaman, otak mereka tidak mudah dimanipulasi dan memiliki campuran bakat dari tiap kelompok.

Tris yang hanya mengikuti kata hatinya. Tris dan Four tidak ingin dikotak-kotakkan dalam satu kelompok tertentu, mereka ingin bebas bergaul dan berkomunikasi dengan siapapun. Pemimpin Erudite yang ingin membunuh mereka bahkan siap melakukan hal lebih kejam lagi. Para Dauntless diberi serum pengendali untuk membunuh kaum Baik Hati. Kedamaian menurut Erudite adalah keadilan tanpa belas kasih seperti yang ditunjukkan kelompok Baik Hati selama ini.

Film ini berjalan dalam alur yang logis dan tidak mudah tertebak. Tris juga tumbuh semakin kuat seiring latihan-latihan fisik yang ia terima dan berbagai masalah yang tak berhenti menyerangnya. Film yang diadaptasi dari novel best seller ini menyelipkan pesan utama,”Jadilah dirimu sendiri, jangan takut menjadi berbeda, 

2 komentar:

Fandhy Achmad Romadhon on 23 March 2014 at 17:41 said...

Wahh jadi penasaran nih film nya kayak gimana ... B)

Reffi Seftianti on 24 March 2014 at 16:01 said...

buruan nonton, dijamin seru ^_^

Post a Comment

mohon memberi komentar dengan sopan dan tidak mengandung SARA .. terima kasih telah berkunjung ^_^


 

Kata Reffi Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos

badge