.comment-content a {display: none;}

Sunday, 6 April 2014

Menyelami Perasaan Perempuan Kedua

Diposkan oleh Reffi Seftianti di 22:59
Response 

Apakah hatimu serapuh itu taktala kebahagiaan yang kau rengkuh, berasal dari tangis wanita lain. Aku mendapat kabar dari beberapa kawan, tentang perempuan kedua dalam rumah tangga atau hubungan romantis mereka. Atas nama cinta yang kau puja bak berhala, kau yang juga golongan mereka, tega berdansa di atas duri kemunafikan.

Ya, urusan hati itu tidak berhak dicampuri siapapun. Namun, apakah kau rela jika suatu hari nanti, lelakimu yang akan memposisikanmu di bangku cadangan? Keelokanmu yang serupa para perempuan kedua itu, kaubanggakan dengan rentetan pujian yang berasal dari para pria bajingan.

Ah, kadangkala cinta itu omong kosong. Kita mengaku terpanah, dan mau dibuat mabuk olehnya. Kau menyalahkan bujuk rayu para pria itu, tapi sebuah hubungan tidak akan terjalin tanpa adanya kesepakatan, bukan?

Kau cemburu saat kekasihmu hanya mengunjungimu dalam gelap. Kau marah ketika lelakimu sedang memadu rindu dengan kekasih, istri atau anak-anak utama mereka. Kau tak berhak murka. Posisimu tetaplah yang kedua atau mungkin di peringkat paling bawah.

Dengan sebuah keberuntungan, mungkin kau akan memperoleh kedudukan utama. Ah, Tuhan sungguh murah hati, sayang. Yang kau dapatkan dengan menginjak hati orang lain, suatu hari nanti akan membunuhmu balik. Seorang pria yang bisa dicuri, memang sesuai dengan perempuan hipokrit sepertimu atau mereka yang bangga menjadi pendusta.

Kau tidak bisa memilih kapan dan dengan siapa hatimu akan jatuh. Yang wajib kausadari, apakah perjuangan cintamu itu sudah tepat? Bedakan antara suara hati dengan perasaan egoismu. Antara cinta dan obsesi, terkadang setipis batas antara malaikat dan setan dalam tempurung kepalamu.

Carilah pria yang benar-benar memperjuangkanmu sebagai satu-satunya pelitanya. Jikalau kau dijodohkan dengannya, pasti kalian akan bertemu dalam posisi sendiri dan hati tidak sedang terbagi. Jatuhnya hatimu itu bukan dosa. Mencintai bukan berarti bertindak bodoh. Sibuklah mencintai dirimu terlebih dahulu dan kejarlah impianmu. Kesalahan lalu jadikanlah pendewasaanmu. Lihat, cinta yang berkilau sudah disiapkan untukmu. Selama kau teguh, pada prinsip baikmu.


2 komentar:

dirikedua on 7 April 2014 at 02:50 said...

Harus dibaca ulang, dan ternyata itu cinta lagi, keren tulisannya :)

Reffi Seftianti on 7 April 2014 at 07:11 said...

trims berat... semoga menghibur ^^

Post a Comment

mohon memberi komentar dengan sopan dan tidak mengandung SARA .. terima kasih telah berkunjung ^_^


 

Kata Reffi Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos

badge