.comment-content a {display: none;}

Saturday, 14 February 2015

Takdir Tidak Pernah Salah

Diposkan oleh Reffi Seftianti di 09:19
Response 


Judul : Separuh Bintang
Penulis : Evline Kartika
Tebal : 313 halaman
Tahun Terbit : Cetakan kedua, Agustus 2009
ISBN : 978-979-22-4545-5
Penerbit        : PT Gramedia Pustaka Utama

“Mulai sekarang, jangan panggil gue Chiara,” itulah yang dikatakan Chiara di prolog awal novel ini. Gadis ini telah kehilangan satu per satu keluarganya lewat peristiwa yang begitu tragis. Papanya pergi meninggalkan rumah setelah menyebutkan Chiara sebagai anak haram, kakaknya ditemukan meninggal overdosis sedangkan mamanya pun akhirnya ikut meninggalkan Chiara akibat penyakit jantung yang diderita. Novel ini menceritakan kekalutan seorang gadis remaja yang berusaha menghadapi kehancuran hidupnya dan menghadapi dunia dengan tawa.

Setelah menjadi anak sebatang kara, Chiara yang mengubah panggilannya menjadi Ciya, diadopsi oleh keluarga kaya raya yang memiliki satu orang putra. Enrico Leman yang dipanggil Rico, menganggap Ciya sebagai pengganggu di dalam rumahnya. Meskipun Ciya kini tinggal di rumah megah dan dipenuhi segala kebutuhannya, ia tidak menemukan kehangatan seperti di rumah lamanya. Orang tua angkatnya terlalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing sedangkan Rico yang terkenal playboy kelas kakap itu juga tidak berhenti merecokinya.

Ciya memiliki teman-teman yang selalu mendukung di sekolah barunya. Aldy, sahabat kecilnya juga terus menjaga dirinya. Tapi Ciya merasa kosong. Di balik tawanya yang sering diumbar, sesungguhnya ada bagian yang hilang. Bagian yang paling besar itu sudah dibawa oleh Billy, kakak yang juga dicintainya sepenuh hati. Billy adalah anak angkat dari paman dan bibinya, sedangkan ia sendiri disebut sebagai anak haram. Takdir seolah mempermainkan hidup Ciya. Ia hanya bisa menatap bintang-bintang di langit tiap malam untuk bisa mengenang Billy.

Novel ini menyuguhkan keceriaan sekaligus kemuraman secara menarik. Karakternya begitu melekat dan hidup. Sosok Ciya yang di luar terlihat ceria tetapi sebenarnya sangat rapuh, sukses mengaduk emosi pembaca. Perkembangan psikologis tokoh pun dibuat secara detil dan menyentuh. Tiap kejadian membawa dampak baru menuju kematangan pikiran masing-masing tokoh. Rico yang mulai menghilangkan sifat playboynya semenjak bertemu dengan Ciya, dan Ciya yang mulai melepaskan rasa sakitnya sejak mengizinkan Rico masuk dalam dunianya.

Hubungan antara Rico dengan Ciya mulai mengalami perubahan semenjak ada rasa-rasa baru yang mewarnai hati mereka. Hubungan mereka juga tidak berjalan mulus karena ada Aldy yang sudah menyayangi Ciya sejak masih kanak-kanak dan Sha-Sha cinta pertama Rico. Dua anak muda itu tidak ingin menambah luka di hati orang lain yang menyayangi mereka. Takdir mulai berbicara dengan caranya.

Meski dari awal endingnya bisa ditebak bahwa Ciya pasti akan memilih Rico ketimbang Aldy, ada beberapa misteri yang membuat novel ini memiliki sisi misteriusnya. Masa lalu orang tua Ciya dan juga penyebab bunuh dirinya Billy, mengungkapkan rahasia besar yang membuat Ciya semakin kalut. Kocaknya kawan-kawan Ciya dan Rico turut menyegarkan nuansa cerita.

Lewat karya perdana Evline Kartika ini, kita bisa belajar dari contoh sederhana hakekat takdir sesungguhnya. Kehidupan bisa berjalan tidak sesuai keinginan dan menimbulkan penderitaan, tetapi takdir jugalah yang akan membuktikan jika semua perjuangan dan kesedihan akan diganti dengan kebahagiaan. Sebuah kalimat manis di epilog novel yang dituturkan Rico pada Ciya memberikan satu bukti lagi jika cinta memang mampu mengobati tiap luka.

“I don’t know why I’m falling in love with you. But one thing that I know is... I need you,”

2 komentar:

i Jeverson on 14 February 2015 at 22:01 said...

kayaknya keren...
teenlit ya?

Anonymous said...

nama tokoh utamanya kok mirip nama rekan kerjanya ya.. :)
jadi penasaran pengen baca. :D

Post a Comment

mohon memberi komentar dengan sopan dan tidak mengandung SARA .. terima kasih telah berkunjung ^_^


 

Kata Reffi Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos

badge