Pagi ini ada sebuah pemandangan menarik yang saya tangkap dari balik jendela kamar kos. Seorang gadis cilik, mungkin berusia sekitar enam tahunan sedang berlatih menaiki sepeda. Sudah seminggu lebih saya bertemu dengan gadis cilik manis itu, tiap pulang kuliah di sore hari atau saat pagi hari begini, dia selalu gigih belajar mengendarai sepedanya.

Ingatan saya melayang ke masa kanak-kanak dulu. Saat saya berusia lima tahun, Papa membelikan sepeda baru dengan roda empat agar saya mau belajar naik sepeda. Biasanya sepeda yang diperuntukkan bagi anak gadis pasti yang berntuknya imut dan mudah dinaiki dengan hiasan keranjang di depannya. Tapi yang membuat saya terkejut, Papa justru membelikan saya sepeda untuk anak laki-laki, tanpa keranjang, dan tingginya sedikit lebih tinggi dibanding tinggi tubuh saya.

Saya sempat protes waktu itu, karena melihat tinggi dan bentuk sepedanya saja membuat saya takut untuk menaikinya. Kata Papa,"Ya sudah dinaiki aja, kan udah ada empat roda, jadi kamu nggak perlu takut jatuh, makanya belajar supaya bisa naik,"



Halaman rumah yang waktu masih cukup luas menjadi tempat saya belajar naik sepeda. Sungguh luar biasa menakutkan ketika saya baru belajar menaikinya. Sepeda itu memang untuk anak-anak usia SD, apalagi modelnya yang macho menjadi tidak matching ketika harus dipasangi dua roda kecil di belakang. Walaupun merasa takut, tapi saya juga merasa tertantang untuk menaklukkan si Sepeda Macho.

Dua minggu sudah saya belajar, lalu Papa melepas roda kecilnya dan menyuruh saya berlatih dengan dua roda saja. Keringat dingin mengucur deras,"Kamu harus bisa naik sepeda ini, supaya bisa berangkat ke sekolah sendiri," ujar Papa. Waktu itu memang saya dan keluarga akan pindah dari rumah kontrakan ke rumah milik kami sendiri, alhasil jarak dari rumah dan SD akan bertambah jauh. Mau tidak mau saya akhirnya harus belajar naik sepeda tersebut.

Saya belajar dalam waktu yang sangat lama, karena kalau sudah terjatuh saya takut untuk mencoba lagi sampai berhari-hari bahkan pernah sampai berminggu-minggu. Dengan perlahan akhirnya saya bisa menaiki sepeda, karena adik laki-laki saya yang waktu itu usianya masih balita, sudah berani naik sepeda roda empat dan semakin jago menaikinya, bisa-bisa dia lebih cepat pandainya daripada saya.

Papa Mendidik Bukan Dengan Imbalan
Gaya mendidik Papa memang sedikit berbeda dengan Mama. Mama lebih telaten dalam mendidik anak-anaknya walau tetap dibarengi dengan disiplin yang keras. Papa akan memberikan sebuah tantangan langsung di depan mata dan saya harus bisa menaklukkannya.

Hal itu terasa hingga saya masuk kuliah. Kondisi ekonomi yang sederhana sempat membuat saya pesimis untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Tapi saya tetap menyemangati saya dan berkata kalau saya harus menunjukkan keberhasilan dalam studi agar kuliah saya berjalan lancar.
loving Daddy

Saya memilih masuk jurusan sastra jepang yang terkenal sulit dan mampu mengeliminasi banyak mahasiswa angkatan tahun pertama hingga berikutnya. Sudah menjadi rahasia umum bila pelajaran yang diberikan, akan bertambah sulit tiap tahunnya, bahkan semua senior saya juga berkata tentang hal yang sama. Jadi sudah biasa bila pertama kali yang masuk bisa mencapai puluhan orang, tapi seiring berjalannya waktu, jumlah mahasiswa bisa mencapai belasan saja dalam satu kelas.

Saya tetap berusaha belajar sampai kadang tidak mempedulikan kesehatan. Tiap kali selesai ujian serigkali penyakit maag saya kambuh dan membuat sekujur tubuh menjadi sakit. Tapi hal itu tidak menghalangi saya untuk belajar. Hasilnya, alhamdulillah sejak semester pertama hingga semestertujuh IP saya selalu di atas 3,5, bahkan sayab sempat dua kali mendapatkan IP 4,00 sempurna ^_^.

Saya juga mendapatkan beasiswa dari Japan Club serta mendapatkan beasiswa dari perusahaan Papa. Papa selalu bilang,"Kalau nilai kamu bagus, kamu pasti bisa mendapatkan beasiswa lagi. Jadi harus bagus ya!" Bukan pujian atau hadiah buat saya, tapi semangat kerja keras dalam mencapai impian, itulah yang selalu diajarkan Papa dan juga Mama. Saat ini saya meretas mimpi saya yang lain yaitu ingin menjadi penulis. Papa selalu menyemangati saya dan memberi contoh beberapa pengarang Best Seller yang usahanya sangat keras. Terim kasih papa, berkat pendidikan dan nasehatmu aku bisa mengalahkan keterbatasanku. Kesulitan ekonomi atau hambatan lainnya bukanlah alasan untuk kita menyerah dan mundur karena kalah, kesulitan itu adalah pelecut semangat agar kita mampu menaklukkannya dan mencapai tujuan kita. Semua berawal dari sebuah sepeda,, ^^