Mendengar kata penjara, pasti akan terbayang di benak kita sebuah lingkungan yang terisolasi dari dunia luar, dikelilingi jeruji besi dan berada dalam pengawasan ketat petugas keamanan. Orang yang tinggal di penjara atau kita sebut narapidana, memperoleh cap negatif dari masyarakat. Memang tindak kriminal yang dilakukan para narapidana atau napi tersebut merugikan korbannya. Namun, mereka juga memiliki kesempatan kedua agar bisa menjadi manusia yang lebih baik meski kini sedang mendapat hukuman.
Berbeda dengan Titin Agustina, founder Kraviti, sebuah UKM yang membuat produk handicraft. Titin, panggilan akrab untuk  Titin Agustina, memiliki niat baik untuk memberdayakan narapidana wanita agar bisa mempunyai kegiatan bermanfaat meski sedang menjalani masa hukuman. Titin yang sejak kecil sudah akrab dengan masalah sosial di sekitarnya, berkeinginan agar narapidana wanita tidak kehilangan  harapan untuk mengembangkan kemampuannya.

Kraviti berdiri pada tahun 2009 dengan produk utama pengolahan kain perca batik menjadi home textile. Kraviti juga memberikan pengayaan pada pekerjanya agar ahli menguasai pengolahan bahan bakunya. Seiring berjalannya waktu, sekitar tahun 2012, Titin membawa usaha yang dipimpinnya menuju lapas wanita Bandung. Bekerjasama dengan organisasi internasional Junior Chamber International (JCI), Titin mengajak narapidana perempuan untuk meningkatkan keterampilannya mengolah bahan baku menjadi produk yang siap dijual melalui Kraviti.

Tujuan dari pemberdayaan perempuan ini adalah agar ketika mereka bebas nanti bisa membuka usahanya sendiri dan setidaknya memiliki skill keterampilan yang bermanfaat jika ingin bekerja kembali di dunia kerajinan maupun tekstil. Titin Agustina yang bertekad menjadi sociopreneur, memiliki impian mulia dalam berbisnis. Harapannya agar narapidana wanita tersebut bisa menyimpan hasil penjualan produk yang dibuatnya dan meningkatkan kepercayaan diri bagi mereka. 

Seorang narapidana juga berhak untuk memulai kehidupan barunya sebagai masyarakat yang patuh pada norma. Stigma negatif dari masyarakat pada bekas narapidana, sering menyulitkan mantan napi untuk hdup dan bekerja secara normal. Berbekal kemampuan dan keterampilan yang diperoleh dari Kraviti, Titin ingin menolong para napi tersebut. Titin menjadi sosok sociopreneur yang harusnya semakin bertambah di negeri kita. Seorang entrepeneur yang peduli dengan masyarakat bawah akan menciptakan sinergi harmonis dalam dunia bisnis, yang mayoritas berfokus pada peningkatan profit.