Kita berdiri di dua tempat berbeda. Pada awalnya, kita berjanji untuk terus berjalan bersama, namun entah mengapa terkadang yang kurasakan adalah ada riak bimbang di wajahmu.

Jarak yang membuat kita jarang bertemu, apakah sangat berpengaruh besar? Rindu yang senantiasa kusenandungkan, apakah kesaktiannya masih mandraguna?

Terkadang kau sehangat mentari, tapi tiba-tiba saja emosimu dapat rapi tersembunyi. Kita pernah melalui masa terberat hingga benang merah itu sempat retas, namun akhirnya erat kembali. Lantas, mengapa hatimu masih sungkan untuk kuintip sedikit saja?

Bukankah penanda tahun sudah menjadi sejarah kita? Seharusnya kita saling membuka diri, selayaknya kita tak saling berlomba adu gengsi.

Sebab rindu itu berhak kita sematkan, jangan sampai baranya padam. Sayang, aku masih menyimpan senyummu dalam sudut hatiku yang terkadang kau kunjungi. Elegi.