Kamu mengaduk cokelat panasmu dengan adukan cepat. Sesekali bibir seksimu komat-kamit menggumamkan sesuatu. Pasti itu lagu favoritmu yang terbaru.

"Minumlah, nanti keburu dingin," saranku.

Gelengan kepala singkat lalu senyuman mencibir terulas di rekah bibirmu.

"Mas nggak pernah ngerti aku. Biar cokelat ini dingin pun, aku pasti akan tetap minum."

Ya, kamu menuduhku tidak pengertian lagi. Buatmu, laki-laki seharusnya bisa membaca pikiran wanita pujaannya. Soal cokelat panas dan lainnya, bisa membuatku dongkol, sebal, seperti sekarang.

"Senja, lihat senjanya bagus banget," dirimu bersorak gembira, lupa jika beberapa detik sebelumnya sempat manyun gara-gara aku mengomentari gaya minummu.

Ah iya aku ingat. Perempuan memang bisa berubah menjadi begitu gembira atau sedih karena coklat, hujan dan senja. Tiga hal yang paling mudah membangkitkan ribuan kenangan.

"Dari atas puncak gedung ini, aku merasa dekat sekali dengan senja," katamu lagi, kali ini sembari memejamkan mata.

Dan kamu sama sekali lupa jika aku yang mengajakmu kemari. Aku diam saja, menahan sebal sekali lagi.

"I always here, dear. Bukan sebagai pangeran idealmu, tetapi sebagai sosok nyata yang berusaha mengerti meski masih saja sering disalahkan," batinku.

Kamu pasti tak mendengar. Bagimu sekarang, senja lebih indah daripada genggaman tanganku. Kuharap kamu mengerti. Iya, sama seperti tiap kali keluhanmu padaku. Sialnya, aku tak bisa marah padamu. Because, I love you.