Tiket Kereta Api Melepas Kenangan




Tiket kereta api berada di tangan, apa yang akan kauputuskan? Segera berlari menuju stasiun lalu pergi atau masih harus berpikir ribuan kali? Kau bilang, kekecewaanmu pada kota ini sudah berlapis-lapis. Kenangan tak menyenangkan membuatmu ingin lari. Kau ingin maju, namun juga takut hancur. Patah hatimu di masa lalu adalah sumbu pemicunya. Semenjak hatimu patah dibawa perempuan yang tak kutahu namanya itu, senyummu menjadi gersang.

Kaubilang, kesedihan adalah kekuatan terbesar seseorang untuk bisa hidup ataupun mati.

''Kapan kau akan pulang?" tanyaku padanya, menahan mata agar tidak berkabut.

''Hmm, belum tahu, Silvi,'' jawabmu singkat.

Andai aku punya keberanian untuk menahan kepergianmu, apakah kamu akan batal pergi? Tiket kereta api yang kaugenggam apakah akan kausobek? Di saat kau bercerita jika perempuanmu telah bersanding dengan pemuda lain, matamu tak bercerita. Sepi dalam duka. 

''Hati-hati,'' kataku lirih.

Lalu kau pun berangkat, tanpa kutahu kapan akan pulang. Kepergianmu adalah perjuangan untuk tetap hidup. Walau ada seseorang yang luruh dalam kematian, perlahan. 

Satu minggu, satu bulan. Kini aku yang menggenggam tiket kereta api di tangan. Aku ingin berjuang melepas kenangan tentangmu dan kisah persahabatan kita yang tak pernah berujung rindu. Tadi pagi sepucuk surat sampai di rumah menjelang keberangkatanku. Itu darimu. Sial!! Pertahananku selama sebulan hampir saja goyah. Kumasukkan suratmu ke dalam tas, akan kubaca setelah aku sampai tempat tujuan. 

Tak lama. Kakiku sudah mencapai kota yang baru. Ada ayah dan ibuku juga ada dia. Aku melanggar janjiku sendiri, kubaca suratmu sebelum kereta berhenti.


Dear, Silvi.
Maaf baru mengabarimu. Aku tersadar jika menyesali patah hati adalah hal yang sia-sia. Besok aku akan pulang. Di saat aku jauh, aku malah kangen dengan senda gurau kita, bukannya pada perempuan yang sudah membuat hatiku patah. 
Tunggu aku. Aku ingin menemuimu dan tak ingin pergi lagi.
Aku pulang.

Salam
Bima 


''Sayang, syukurlah kamu sudah sampai dengan selamat,'' dia, lelaki yang sudah berjuang merebut hatiku sejak setahun lalu, kini berdiri dengan sumringah. Aku baru saja menerima pinangannya.

Apakah kamu masih akan pulang?

Tidak ada komentar