Advertisement

Main Ad

Bukan Tips Tentang Mengejar Passion


 

tips mengejar passion

Saat ini saya sedang membaca 'Don't Follow Your Passion' karya Cal Newport yang populer oleh Deep Work-nya. Sebagai orang yang sering disebut beruntung bekerja sesuai passion, saya memiliki argumen sendiri. Dan artikel ini tidak sedang membicarakan tips mengejar passion.

 

Sebelum membaca buku tersebut, saya selalu menekankan, jangan karena ingin mengejar passion maka kamu harus terbebani utang, hidup kelaparan, sampai jatuh di jurang kemiskinan. Itu bukan semangat, saya sebut kebodohan.

 

Menerapkan Pola Pikir Seorang Perajin

Di dalam buku 'Don't Follow Your Passion', penulis menyebutkan bahwa pola pikir perajin yang bisa membuat seseorang sukses. Ada sebagian kecil orang yang hidup dengan passion dan sukses, ini biasanya terjadi pada para atlet. 

Sebagian besar lainnya, menjadikan passion sebagai alasan hingga malas untuk berusaha maksimal dan mudah putus asa ketika sedang mendalami sesuatu.

Seorang atlet umumnya digembleng sejak masih usia dini. Saat ia tahu apa tujuan dan juga passion-nya dalam salah satu cabang olahraga, maka wajar jika hidupnya didekasikan untuk berlatih. 

Ini beda halnya bagi kita yang saat ini sedang mencari tujuan hidup dan berpikir untuk mengejar passion. Stop, tunggu dulu sebelum kamu impulsif mengambil jalan hidup sesuai passion.

 

mengejar passion
Unsplash (@jeshoots)

Pola pikir perajin adalah berusaha semaksimal mungkin pada hal yang sedang dilakukan dan berusaha memberi value pada apa pun pekerjaannya. 

Jikalau ada passion lain pun, selama pekerjaan utama tidak terlalu menjengkelkan dan masih bermanfaat, maka tetaplah hidup dalam dua dunia. Bekerja untuk membayar tagihan sambil membangun karir sesuai passion.

 

Berarti Harus Stuck di Tempat yang Tidak Sesuai Passion?

Susah? Jelas iya. Kalau saja saya mengejar karir menulis sejak awal, mungkin saya tidak akan pernah punya Wordholic Class. Lewat belajar bahasa asing, saya bekerja di perusahaan dengan aktif berbahasa Jepang dan sesekali Inggris.

Soal administrasi kantor itu tidak terlalu saya suka, tetapi selama saya bisa membangun networking dan punya tim yang suportif, hal ini tetap menyenangkan. Side job sebagai penulis, saya bangun pelan-pelan.😊

Bukan berarti ketika merasa stuck lantas tidak boleh pindah. Yang terkandung di dalam buku ‘Don’t Follow Your Passion’ ini adalah sebagai berikut:


·         Berikan value pada pekerjaan

Merasa salah jurusan di kuliah? Coba cari teman yang mau menjelaskan materi-materi sulit dengan asyik. Coba untuk membaca literatur yang akan mendukung pemahaman materimu. Give your best effort! 

      Namun, kalau memang sudan mentok, coba diskusikan dengan orang tua dan katakana dengan jujur alasanmu ingin pindah jurusan. Tentu saja, kamu sudah harus punya planning lengkap tentang rencana selanjutnya. (Baca juga: Tips Menulis Konten Media Sosial)

Dalam pekerjaan malah usahamu harus lebih kuat lagi. Lakukan sesuatu untuk menunjukkan kontrol dalam tugas. Berikan ide dan pendapat untuk memperbaiki cara mengerjakan tugas. Seringlah bertanya pada senior atau atasan untuk menambah wawasan. Bangun hubungan baik dalam tim.

Kalau sudah dilakukan semaksimal mungkin dan kamu masih merasa stuck, carilah tempat baru sampai dapat atau siapkan dana hidup beberapa bulan dulu baru mengajukan resign.

Tunjukkan kesungguhan dan temukan hal menarik dalam pekerjaan, sambil mengejar passion. Networking juga bisa kita dapatkan dari kantor lama.

mengejar passion
Unsplash (@alexbrecken)


·       Asah komitmen sebagai modal membangun impian

Ingin jadi penulis keren atau musisi andal? Ingat, untuk menggantungkan hidup sepenuhnya dari jalur kreatif, kita akan melewati jalan terjal.

Usia bertambah, tanggung jawab tentu tidak ringan. Ada tagihan yang harus dibayar. Mungkin ada keluarga yang kita tanggung.

Jangan mematikan impian, tetapi bekerjalah dulu untuk memenuhi biaya sehari-hari sambil membangun pondasi impian. Kembangkan keahlian untuk membuka kesempatan lebih luas. Seperti saya saat ini, bekerja sebagai pekerja kantoran sambil menulis buku dan artikel.

Memang cukup menyita waktu, tetapi saya bisa mengatur waktu istirahat dengan dana cukup. Lebih pusing jika uang habis dan tagihan tidak terbayar daripada menunda menulis puluhan halaman.

Unsplash (@whitfieldjordan)


·         Pondasi kuat? Maka bertanggungjawablah

Sudah membangun pondasi bisnis atau karir sesuai passion dengan cukup kuat, maka sekarang saatnya take action. Ingat, karir yang sesuai passion sekalipun tetap akan menjengkelkan jika dilakukan sebagai pekerjaan utama.

Jadi cari hobi lain yang tidak perlu dipusingkan untuk di-monetize. Kalau saya, saat capek menulis, hiburannya ya olahraga dan nonton drakor. (Baca juga: Menjadi Penulis Oportunis)

Bertanggungjawablah. Saat belum menemukan passion, eksplorasi sebebas mungkin setiap kesempatan. Jangan lupa tetap gunakan logika. Jangan sampai hanya mengandalkan euforia emosi sesaat, apalagi kalau hanya sekadar silau dengan keberhasilan orang lain.

Pesan menarik dari buku

Beberapa kisah di dalam buku tersebut juga saya alami. Clueless dan belum tahu arah hidup mau dibawa ke mana. Yang saya tahu, saya akan bekerja untuk belajar sambil membangun karir menulis.

Pola pikir saya terapkan dalam pekerjaan hingga mendapat banyak ilmu di luar menulis. Ini menjadi modal untuk membangun soft skill sebagai writing coach dan founder Wordholic Class.

 

Bagi teman-teman yang ingin menjadi penulis, tetapi masih butuh menopang hidup, maka jangan mengejar passion sampai lupa mengenyangkan dan menenangkan diri sendiri. Bangun passion pelan-pelan, sambil melatih skill lain yang bagus untuk menopang karir impian sesuai passion.

 

 

Posting Komentar

1 Komentar

Arif Rudiantoro mengatakan…
Wah wah wah, saya pun merasakannya saat sudah separuh waktu q jalani rutinitas pekerjaan ternyata ada yg ganjal sepertinya ini belum seperi keinginan, makanya agar nggak terlalu kecewa, nyambi dg pekerjaan lain tentunya dg membebaskan hobi seperti menulis ini.